
Saga akhirnya setuju dengan perkataan Angga karena perkataan Angga ada benarnya, yang sekarang dia lebih fokuskan adalah bagaimana cara menemukan Juni.
Saga beralih dari monitor rekaman CCtv lantai atas kantornya ke rekaman lantai gedung yang lain untuk menemukan keberadaan jejak Juni.
Saga dan Angga berpikir tidak mungkin kalau Juni keluar dari gedung karena hujan diluar gedung masih sangat lebat dan deras. Mereka mempunyai satu pemikiran yaitu Juni masih didalam gedung namun mereka harus bekerja keras untuk mencari dimanakah posisi terakhir Juni sekarang.
Waktupun terus berjalan dan tak terasa sore sudah berganti dengan gelapnya malam. Saga terus saja mencari jejak Juni namun karena begitu banyak rekaman yang harus mereka lihat, oleh karena itu belum ada titik terang dari keberadaan Juni.
Hingga salah seorang kepala satpam yang menghadap Saga dan Angga diruang keamanan.
"Pak Saga,, " panggil kepala satpam yang sudah memberanikan diri untuk masuk menghadap Saga dan Angga.
"Iya, apa sudah ketemu jejak gadis itu" tanya Angga. Saga masih terus fokus melihat minitor rekaman Cctv.
"Maaf pak, saya kesini karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan" kata kepala satpam yang sedang berbicara dengan Angga.
"Ada apa pak,,?" kata Angga yang kembali menoleh kearah layar monitor yang juga dilihat Saga.
"Ini pak,, salah satu anak buah saya pernah berbicara sama gadis yang bapak cari " kata kepala satpam. Saga dan Angga segera menoleh arah kepala satpam yang baru saja berbicara dengan mereka.
"Terus dimana orangnya sekarang?" tanya Saga.
"Dia lagi nunggu diluar Pak" kata kepala satpam.
"Suruh masuk cepetan" ucap Angga.
"Sebentar Pak,, saya panggil masuk orangnya" kata kepala satpam sambil segera berjalan keluar ruangan untuk memanggil anak buahnya.
Setelah beberapa menit kepala satpam dan seorang satpam lainnya datang menghadap Saga dan Angga. Dua satpam yang sudah berada di ruangan berdiri didepan Saga. Salah satu dari mereka yaitu satpam yang mengaku pernah melihat Juni, melangkah lebih dekat lagi dihadapan Saga dengan maksud untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin saja menjadi titik terang dalam pencarian gadis yang dimaksudkan bosnya.
"Malam Pak" kata satpam itu memulai percakapan.
__ADS_1
"Dimana kamu melihat gadis in?" tanya Saga langsung. Satpam itu akhirnya menceritakan awal dirinya berjumpa dengan gadis itu kepada Saga, kalau dia sempat ditanya oleh Juni tentang arah kantor Pak Saga. Dan satpam itu mengatakan arah jalur mana yang diambil untuk menemukan kantor Saga dengan cepat.
"Cuman itu saja, apa gak ada petunjuk yang lain? " Saga bertanya setelah kembali melihat satpam itu selesai berbicara.
"Gini pak,,, sorenya saya sempat lihat dia dilantai bawah tapi saya gak terlalu perhatiin. Yang saya lihat jelas kalau dia mengikuti seseorang" kata satpam.
"Kamu terakhir lihat dia dilantai satu?" tanya Saga.
"Iya pak" kata satpam.
"Kamu yakin lihat dia dilantai satu" kata Saga.
"Yakin Pak,,,," kata satpam.
"Angga kita fokus cari kelantai satu" kata Saga yang langsung menoleh dan menghadap Angga yang juga mendengarkan satpam itu bercerita.
"Ok Saga" Angga segera keluar dari ruangan Cctv dan menyuruh kepala satpam untuk lebih fokus mencari Juni dilantai satu dan juga mengintruksikan kepala satpam agar memerintahkan anak buahnya untuk mengerahkan anak buahnya dilantai satu. Seisi ruangan yang ada disana keluar untuk membantu mencari Juni. Hanya tinggal Saga yang masih berdiri tak bisa berbuat banyak, walaupun dirinya sangat ingin Saga kembali mondar- mandir diruangan sendirian.
Hari itu sudah malam dan Saga tak kunjung juga mendapatkan kabar dari Angga akan keberadaan istrinya. Itu membuat Saga frustasi. Harusnya dia yang ikut mencari Juni juga, namun berada terus didalam kantor dan tak berbuat apa- apa sungguh terasa amat membuatnya tambah khawatir dan kecewa.
Khawatir tentang keadaan Juni dan kecewa pada dirinya sendiri akan keadaannya yang tak bisa berbuat apa-apa.
z
z
z
z
z
__ADS_1
Hujan malam itu tak kunjung berhenti, walaupun gedung Mentari Departemen store sudah akan tutup. Juni masih tergeletak dilantai dengan sekujur tubuh yang sudah membeku.
Juni tersadar dari pingsannya namun hanya mata yang bisa dia buka dengan sangat pelan. Seluruh tubuhnya sudah ditumbuhi bunga es. Juni masih bingung, masih mengingat-ingat kenapa dirinya ada ditempat seperti itu. Dia masih tak bisa mengingat dengan jelas.
Ingin rasanya dia mengangkat seluruh tubuhnya yang tergeletak tapi tak ada sedikitpun kekuatan dari dalam tubuhnya untuk perlahan bangun karena tubuhnya yang sudah benar- benar kaku. Jangankan untuk bangun untuk menggerakkan sedikit tubuhnya saja, Juni tak bisa. Juni sudah sangat pasrah akan apa yang terjadi padanya namun dia tetap harus bertahan.
"Tuhan,,, jika ini sudah jalan ku dan ini adalah hari ku bertemu dengan Mu......." kata hati Juni.
"Aku belum siap,,,, masih banyak yang ingin aku lakukan Tuhan" lanjut imbuh Juni.
"Berikan hamba kekuatan agar bisa lepas dari tempat ini Tuhan"
"Hamba mohon,,,, mohon dengan sangat" pinta Juni yang terus meminta agar Tuhan membantunya saat itu.
Juni yang saat itu hanya menggerakkan bola matanya tanpa bisa menggerakkan tubuhnya melihat sekelilingnya dengan penglihatan yang sangat lemah. Dari ujung kakinya hingga ke lehernya sudah seperti mati rasa.
"Apa yang harus aku lakukan" kata Juni.
"Aku gak mau berakhir dengan cara seperti ini" lanjut kata Juni dalam hatinya dengan terus menggigil.
Detak jantungnya mulai terasa sangat lemah. Kulitnya sudah mulai berwarna merah terang. Pupil mata sudah terlihat melebar. Kantuk dan rasa lemas sudah menghampirinya.
"Aku gak boleh tidur" ucap Juni kepada dirinya sendiri.
Hanya satu yang terlintas dalam pikirannya yang sudah tidak ada kesadaran lagi yaitu menghubungi Saga. Dengan sekuat tenaga dia berusaha menggerakkan jari tangannya yang sudah kaku untuk menari dikeybord ponsel miliknya. Juni menggunakan tenaga terakhirnya untuk menggerakkan jari satu persatu dengan sangat pelan mencari nomer kontak sang suaminya.
Jari tangan Juni sudah berhasil menekan nomer Saga tapi panggilan itu tak bisa Juni lakukan karena sinyal didalam ruang pendingin tidak jelas terlihat.
"Kalau aku tak berusaha lagi, sudah pasti besok aku bakalan jadi es batu disini" ucap kata hati Juni. Juni kembali lagi dengan mengandalkan kekuatan jarinya untuk mengetik satu persatu huruf menjadi satu kata. Juni mengetik kata lagi menjadi tiga kata yang mudah untuk Saga mengerti. Juni hanya bisa menulis kata "Tolong, ruangan pendingin"
Tak banyak pikir Juni langsung menekan kata send pada layar poselnya. Padahal Juni sudah tahu disana tidak ada sinyal ponsel tapi itu adalah satu-satunya upaya yang bisa dia lakukan karena dia sadar akan tenaga dan kesadarannya yang akan segera hilang
__ADS_1
Juni yang sudah bener-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban. Berharap walaupun tak ada sinyal ponsel, pesannya bisa sampai pada Saga, Juni terus menggigil kedinginan. Matanya perlahan meredup lagi, detak jantungnya sudah sangat lemah, nafasnya pendek. Mata Juni akhirnya terpejam. Tak ada lagi suara menggigil dari mulut Juni, tak ada lagi getaran kedinginan dari tubuh gadis itu. Sekeliling Juni hanya ada suara mesin pendingin yang terus berbunyi tanpa mempedulikan ada sosok gadis yang ada didalam sana.