
Juni sedikit lega dengan perkataannya yang terdengar menjadikan Saga sebagai penyebab terkunci dirinya diruangan pendingin, yang membuat Saga tak lagi bertanya tetang kenapa dan bagaimana bisa dirinya berada didalam pendingin.
Juni merasa tak harus berbicara jujur kepada Saga karena ini masih tentang kakaknya.
Jika nanti Saga tahu kalau kakaknya yang telah membuat dirinya berada didalam ruang pendingin
, Juni masih khawatir kalau Saga membalas perbuatan Lisa padanya.
Dan akhirnya, sudah pasti keluarganya terutama kedua orang tuanya akan menanggungnya juga.
Didalam mobil tak ada lagi suara dari mulut Saga yang terdengar.
Sejak mendengar jawaban Juni, membuatnya benar dirasuki perasaan bersalah yang luar biasa.
Saga hanya menatap arah depan jalan sambil sesekali melihat arah spion kanan dan kiri mobilnya.
Dua orang yang berada didalam mobil tak saling pandang, yang satu tak memandang karena merasa bersalah dan yang satu lagi karena dirinya memang sangat membenci dan tak ingin menatap wajah suaminya.
Keadaan didalam mobil dengan dua orang manusia yang sudah menjadi pasangan sudah bisa ditebak terasa sangat tidak nyaman terutama untuk Juni.
Juni memilih untuk merentangkan kakinya untuk memposisikan dirinya tidur dan memejamkan kedua matanya daripada harus melihat suaminya.
Selang beberapa jam dari perjalan menuju kediaman rumah mereka, Saga sesekali melihat dan menatap dalam wajah istrinya yang sudah tertidur.
Tangan Saga mengusap wajah yang sempat membuatnya panik karena kejadian kemarin.
Kebohongan yang dia lakukan, walaupun tak dia inginkan dan rencanakan membuat hubungannya bukan tambah romantis tapi malah berakhir dengan kemarahan Juni yang tak pernah terlihat diraut wajahnya.
Ini pertama kali buat Saga melihat Juni semarah itu.
Saga di dalam mobil mencoba menghubungi Angga. Panggilan pertama yang Daga lakuakan tak kunjung mendapat jawaban dari Angga.
"Dia kemana? tumben gak langsung ngangkat telepon aku" kata Saga sambil mencoba menghubungi lagi Angga.
Panggilan keduapun tak langsung dijawab oleh Angga.
Saga memutuskan untuk tak mencoba menghubungi Angga dengan melakukan panggilan ketiga, pikir Saga mungkin saja temannya lagi tak membawa ponsel karena jika Angga membawa ponsel tak pernah dia tak menghiraukan panggilan dari Saga.
Saga terus mengemudikan laju mobilnya menuju kediamannya.
__ADS_1
Dan akhirnya, merekapun sampai didepan gerbang kediaman Saga.
Para satpam yang menjaga gerbang rumah Saga memberikan hormat setelah melihat mobil milik bosnya memasuki gerbang rumah.
Saga menghentikan mobilnya yang sudah melewati gerbang rumah dan tepat berhenti didepan pintu rumah.
Saga mematikan mesin mobil, dia melihat samping tempat duduknya.
Matanya mendapati sosok Juni dengan masih mata terpejam.
Juni tertidur sangat lelap sehingga tak menyadari kalau dirinya sudah sampai dirumah Saga. Walaupun pada dasarnya Juni sungguh tak ingin balik ke rumah itu apalagi harus bersama Saga.
Saga yang tak ingin kalau harus membangunkan tidur istrinya, dengan sangat pelan membuka pintu mobil.
Saga hendak keluar tanpa membangunkan Juni. Saga berjalan menuju pintu samping tempat duduk Juni, dia membuka pintu milik Juni secara pelan.
Tangan Sagapun mendekat kearah tubuh Juni yang masih tertidur untuk membopong tubuh istrinya setelah berhasil membuka pintu mobil secara perlahan.
Saga merasa kuwalahan karena posisi tubuh istrinya tak gampang untuk di raih.
Dia membenarkan posisi tangannya mencari-cari cara agar lebih gampang membawa tubuh istrinya supaya dia tetap tak bangun dari tidurnya.
Tangan kirinya bersender diatas rangka mobil mecari posisi yang tepat.
"Dubrak" suara dirinya terjatuh, dan jatuhnya Saga tepat berada diatas tubuh sang istri dengan posisi wajah Saga menempel dibagian dada sang istri.
"Aauuu" repleks Juni bangun dari tidurnya dan matanya sudah mendapati suaminya berada diatasnya dengan wajah Saga menempel di area dadanya.
Juni kaget, matanya melotot.
Juni marah. Dia mendorong Saga menjauh dari tubuhnya dan keluar dari mobil.
"Aku bisa jelakkan yank" ucap Saga terbata-bata dan memang tak tahu harus menjelaskan apa karena sang istri tepat melihat dia hanya pada waktu wajahnya menempel diarea tubuhnya.
Juni berdiri, dan melangkah keluar mendekati Saga. Tak ada kata yang terucap dari bibir Juni namun tangan Juni dengan sangat keras melayang dan mendaratkan tamparan paling keras miliknya di pipi Saga.
"Plaaaaakkkkk,,,,," bunyi telapak tangan Juni yang menyentuh pipi Saga, membuat pipi Saga merah karena memang kulitnya yang putih.
"Dasarrrr laki" Juni dengan masih memendam amarahnya menatap sebentar wajah Saga yang masih menunduk kaget mendapatkan tamparan dari Juni.
__ADS_1
Juni memalingkan wajahnya dan melangkah meninggalkan Saga dengan perasaan kagetnya. Langkah kaki pertama Juni menyadarkan Saga, Saga berjalan cepat dan menarik tangan kiri Juni. Dia ingin menjelaskan sesuatu yang Juni salah pahami.
"Kejadiannya gak seperti yang kamu pikirkan, aku terpeleset saat....... "
"Plaaakkk" Saga yang masih memegang tangan kiri Juni dengan erat, tak menyadari kalau tangan kanan Juni bebas.
Al hasil tangan kanan Juni menampar lagi pipi Saga untuk kedua kalinya.
Tamparan itu membuat Saga melepaskan pegangan tangannya dari tangan Juni. Juni meninggalkan Saga masuk kedalam rumah, kejadian itu tepat didepan pintu rumah dengan banyak pasang mata yang melihatnya. Satpam dan para pelayan yang melihat itu merasa kasihan kepada bosnya. Satpam dan para pelayan yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya sebelum di lihat oleh Saga.
Mereka tidak lagi tertuju pada Saga yang menunduk, mereka tidak ingin membuat bosnya merasa malu karena melihat istrinya menampar Saga.
Setelah beberapa menit berdiri ditempat semula, akhirnya Saga ingin masuk kedalam rumah. Sebelum itu Saga memanggil Mang ujang yang juga saat itu melihat dan sedang bersembunyi disamping rumah agar tak terlihat oleh Saga karena tidak menginginkan Saga malu.
"Mang,,,, " panggil Saga.
"Iya pak"
"Tolong pindahin mobil ke garasi sebentar dong"
"Iya pak,,, kunci mana pak?"
"Masih di dalam mobil mang"
"Ok pak,,,. laksanakan" jawab Mang Ujang.
Mang ujang langsung berlari menuju dalam mobil dan saat dia masuk kedalam mobil, tiba-tiba suara dering ponsel milik Saga berbunyi.
Mang Ujang yang masih bisa melihat punggung Saga yang akan memasuki rumah memanggil bosnya.
Mang ujang berlari dengan membawa ponsel milik bosnya.
"Pak.... " teriak pelan Mang ujang sambil berlari dan memegang ponsel ditangannya.
"Iya mang" Saga menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Mang Ujang.
"Ada ponsel Pak Saga berbunyi dari tadi" sambil menyerahkan ponsel kearah Saga.
"Ooo iya Mang" tangan Saga meraih ponsel yang diserahkan Mang Ujang. Saga menekan tombol terima di ponselnya karena saat itu yang menghubunginya adalah Angga. Tak lupa Saga juga mengucapkan terimakasih pada Mang Ujang. Mang Ujangpun kembali menuju dalam mobil untuk memindahkan mobil Saga kedalam garasi. Didalam mobil Mang Ujang malah mengoceh.
__ADS_1
"Kenapa Non Juni kayak begitu sama Pak Saga"
"Pak Saga orangnya baik sekali, masih aja dikasarin. Wanita memang begitu, dikasi yang lembut malah disia-siakan. Dikasi nice boy mintanya bad boy" kata Mang Ujang sendirian.