AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Aku Cinta Dia


__ADS_3

Saga menyuruh juni agar memberitahukan kepada Ayah Bramanto untuk datang menemui dirinya dikediamannya membahas tentang rencana yang akan besok mereka lakukan.


"Bapak yakin kalau nikahnya besok pak" tanya lagi Juni masih berharap kalau Saga akan melangsungkan pernikahannya tidak secepat itu.


"Iya" kata Saga meyakini keinginannya.


"Kalau kamu gak mau kamu bisa batalin semua, gak masalah bagi aku" imbuh Saga yang membuat Juni merasa tidak bisa lagi berbuat apa-apa.


Juni akhirnya pasrah dengan semua yang memang sudah menjadi keputusannya.


Juni sudah memutuskan panggilan yang dia rasa sudah cukup untuk dibicarakan dengan Saga.


*


*


*


Juni berbalik arah mencari ayahnya dan memberikan lagi ponsel yang ayahnya punya. Juni dihadapan ayahnya sangat terlihat tegar tanpa ada terlihat raut wajah kesedihan.


"Ayah, Pak Saga akan berbicara hal yang lebih lanjut lagi mengenai pernikahan yang akan dilakukan besok. Lembaran surat yang berisikan syarat aku mau melakukan pernikahan jangan dibawa." Juni berbicara dihadapan ayahnya dan juga tak lupa dirinya memberitahukan agar ayahnya datang menemui saga dikediamannya.


"Apa besok" Mami Sintia kaget bukan main karena secepat itu kah pernikahan akan dilakukan.


"Iya mami, besok Pak Saga akan menikahi aku"


"Kenapa kamu harus berbuat seperti ini Juni?" tanya ayahnya


"Udahlah yah, ini jalan satu satunya kita buat menyelamatkan usaha yang ayah sudah rintis dari awal dan menyelamatkan kehidupan orang orang yang bergantung dari usaha ini" kata Juni


"Tapi Juni? " Bramanto tetap merasa bersalah kepada anaknya itu tak seharusnya juni berbuat sampai sejauh ini demi melindungi dirinya dan orang lain yang belum tentu dirinya kenal.

__ADS_1


"Udahlah yah, ini keputusan aku jadi aku mohon ayah merestui keputusan aku" Juni memberikan kunci mobil kepada ayahnya agar ayahnya langsung bergegas pergi kerumah Saga dan membicarakan hal yang akan dipersiapkan.


Ayah Bram akhirnya mengalah dengan perkataan Juni, dirinya berpamitan kepada istrinnya dan Juni kemudian melangkah keluar rumahnya meninggalkan dua orang yang paling dia sayang.


Suara mobil dari Ayah Bram yang sudah pergi terdengar meninggalkan rumah kediaman mereka dan saat itu lah Juni menangis sejadi jadinya memeluk maminya. Mami Sintia merasa aneh kenapa Juni sampai menangis seperti ini, padahal sedari tadi dirinya sangat terlihat kuat dan sudah seperti orang dewasa namun saat Juni menangis Mami Sintia melihat anaknya memang masih sangat kecil.


"Kenapa Nak? " tanya Mami Sintia sambil mengelus- elus rambut panjang sang anak dan sesekali menepuk nepuk punggung Juni yang masih memeluk dirinya sambil menangis.


Juni masih tetap tak menjawab pertanyaan maminya dia terus saja menangis seperti sedang memangku beban yang sangat berat.


"Kenapa Nak, cerita sama mami" kata Mami Sintia untuk kedua kalinya.


Juni melepaskan pelukannya kepada maminya dan merogoh kantong celananya dan menyerahkan sebuah kertas yang terlihat dilipat rapi kepada Mami Sintia sambil berkata "Mami, mami baca dan aku mohon mami rahasiakan ini dari ayah"


"Apa ini? " Mami Sintia melihat surat yang diberikan Juni tanpa terlebih dahulu membuka surat itu.


"Mami buka saja" pinta Juni kepada maminya agar membuka isi surat yang dia berikan.


"Maksud kamu apa Nak?" Mami Sintia masih tidak mengerti dengan surat yang diserahkan Juni yang membuat dirinya menangis seperti itu.


Juni menceritakan kronologi dirinya mendapati surat itu di meja kerja ayahnya dan dengan ditahan oleh sebotol cairan pembersih lantai. Juni mengatakan kalau ayahnya mungkin akan mencoba berniat bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai. Juni juga sudah menyembunyikan pembersih lantai itu dibelakang lemari agar ayahnya tidak berbuat macam- macam lagi.


Mami Sintia yang mendengar perkataan Juni langsung menangis dihadapan Juni dan berpikir kalau semua yang Juni lakukan dengan menerima pernikahan itu adalah untuk menyelamatkan ayahnya agar tidak berbuat nekat seperti itu. Mami Sintia memeluk Juni dan merekapun menangis bersama sambil berpelukan.


"Mami akan tanyak langsung sama Ayah Bram, apakah memang dirinya tidak sayang keluarga sampai harus berbuat hal seperti itu" kata Mami Sintia kepada Juni.


"Jangan mami, aku gak mau kalau ayah merasa malu dengan hal ini" kata Juni


"Biarlah ini aku tanggung sendiri" imbuh Juni yang tambah membuat air matanya mengalir begitu deras.


Merekapun menangis berdua dengan waktu yang sangat lama sambil terus berpelukan satu sama lain seolah saling menguatkan diri.

__ADS_1


*


*


*


Dikediaman Saga sudah ada Ayah Bram yang disambut dengan sangat ramah oleh Angga. Angga menyuruh Pak Bram untuk duduk diruang tamu mereka. Para pelayan disuruh Angga untuk menyediakan kopi kepada tamu yang special yang berada diruang tamunya.


"Pak Bram, saya tinggal sebentar untuk memanggil Saga" kata Angga berpamitan kepada Pak Bram.


"Oooo iya silahkan" jawab pendek Pak Bram sambil melihat lihat dalam rumah Saga yang sangat besar dan mewah. Ini untuk pertama kalinya Pak Bram datang kerumah Saga. Dan rumah Saga adalah rumah yang paling mewah yang pernah dia lihat selama dirinnya hidup.


Setelah beberapa menit menunggu kedatangan Saga dan akhirnya Sagapun yang ditunggu datang menuruni tangga dengan menggunakan baju santai. Saga menggunakan baju kaos dan bawahan celana pendek namun dengan masih terlihat rambut klimis yang menjadi daya tariknya.


"Pak Bramanto, anda sudah datang" kata Saga menyapa tamu yang sangat spesial dan sangat ditunggu oleh Saga.


"Iya, Pak Saga" jawab Pak Bram yang langsung berdiri melihat kedatangan Saga.


"Gak apa- apa duduk saja Pak" kata Saga


"Dan mulai sekarang bapak tidak perlu memanggil saya dengan sebutan formal seperti itu cukup panggil saya Saga saja" imbuh Saga meminta agar dirinya tak dipanggil informal oleh calon mertuanya itu.


Pak Bram mengiyakan pinta Saga walaupun dirinya terlihat sangat canggung memanggil Saga dengan hanya sebutan nama saja namun perkataan Saga ada benarnya apalagi nanti Saga akan menjadi menantunya.


Saga tanpa basa basi memberikan surat kontrak kerjasama yang sudah dia tanda tangani dan memberikan sebuah kado besar untuk Pak Bram berikan kepada Juni anaknya. Saga mengatakan kalau peenikahan besok akan dilakukan dirumahnya dan hanya dihadiri oleh beberapa orang keluarga sesuai permintaan Juni dan memang Saga juga tidak bisa kalau harus mengundang banyak orang.


Saga mengatakan kalau semua persiapan pernikahan akan dirinya atur dan keluarga dari juni cukup hadir saja untuk menyaksikan. Saga meyakinkan Pak Bram untuk tidak perlu khawatir dirinya akan menjaga Juni dalam suka dan duka.


Mendengar perkataan itu keluar dari Saga, Pak Bram penasaran sebenarnya apa yang terjadi yang tidak dirinya tahu.


"Saga, kenapa harus menikahi anak saya" tanya Bram yang sontak membuat Saga terdiam sejenak.

__ADS_1


"Aku Cinta Dia" kata Saga dengan mata yang berbinar-binar dan pandangan tulus serta tatapan yang meyakinkan Pak Bram agar tidak merasa takut memberikan Juni kepada Saga.


__ADS_2