AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Menemani


__ADS_3

Juni menceritakan kronologi dirinya mendapati seseorang pria yang tidak dia kenal sedang tersender didinding lift dan saat ini sedang berada didalam ambulans yang akan membawa lelaki yang pingsan tersebut kerumah sakit terdekat.


"Lift mana mbak?" tanya Angga penasaran dalam kekhawatirannya tentang keadaan temannya


"Lift darurat mas," jawab Juni yang agak merasa heran bukannya menanyakan keadaan pasien malah menanyakan terlebih dahulu lift mana tempat kejadian itu terjadi.


"Lho bukannya lift itu khusus untuk keadaan darurat ya?" tanya Angga yang sudah tahu kalau lift itu sering digunakan turun naik oleh Saga karena lift itu memang dikhususkan untuk dirinya yang tidak suka keramaian.


"Iya masss kami dipindahkan kesana karena lift yang sebelah kanan deket post satpam tidak berfungsi dengan baik kalau gak salah sedang rusak" jelaskan Juni yang juga dipindahkan oleh beberapa pegawai gedung dan disuruh menempati lift darurat terlebih dahulu.


"Aduhhhh" kata Angga pendek.


"Terus sekarang pasien lagi mau dibawa kerumah sakit mana? " lanjut Angga bertanya kepada Juni

__ADS_1


"Kalau gak salah petugas ambulansnya bilang dirumah sakit HK (Harapan Keluarga)" kata Juni memberitahu bahwa lelaki yang sedang bersamanya akan dibawa ketempat itu.


"Ooo iya mbak,, makasi sebelumnya saya akan segera kesana" sahut Angga yang saat itu juga bergegas berlari menuju parkiran mobilnya untuk segera meluncur kerumah sakit yang sudah diberitahu oleh sosok gadis yang masih menemani Saga didalam mobil. Angga mematikan segera panggilan ponselnya setelah dirinya berkata seperti itu pada seorang perempuan yang dia ajak berbicara saat itu.


Ambulan sudah tiba didepan UDG rumah sakit, Juni terus mengikuti kemana pasien akan dibawa oleh para perawat. Saga sudah dimasukkan kedalam ruangan UGD dan salah seorang perawat mencegah Juni untuk ikut kedalam ruangan agar dokter bisa leluasa segera memeriksa pasien terlebih dahulu.


Juni duduk dikursi tunggu yang ada didepan ruangan UGD yang sudah disiapkan sebagai tempat tunggu keluarga pasien.


"Mbak ini siapa pasien?" tanya perawat wanita yang menggunakan seragam putih dengan sepatu juga yang berwarna putih, terlihat memang seperti perawat rumah sakit yang sudah senior. Perawat itu menunjuk kearah Juni yang sedang duduk melontarkan pertanyaan kehadapan Juni saat itu.


"Saya, keluarganya sus" jawab Juni yang tidak mengetahui harus menjawab apa, dirinya sontak menjawab seperti itu karena sudah merasa tak tahu harus bagaimana.


"Oooo iya, ikut kami sebentar untuk mengisi formulir rawat pasien" kata perawat yang menyuruh Juni untuk mengikutinya. Juni dengan polosnya mengikuti perawat yang menyuruhnya utuk mengisi beberapa formulir tentang pasien yang dia juga ikut antar. Untung saja Juni sempat mengambil dompet yang berisi kartu-kartu informasi dari Saga. Setelah Juni mengisi semua formulir yang dibutuhkan pihak rumah sakit yang diwakili perawat, dirinya segera kembali keruang tunggu dan tetap duduk didepan ruangan UDG.

__ADS_1


Selang beberapa lama setelah dirinya kembali dari mengisi formulir pasien, Dokter yang merawat Saga keluar dari ruangan itu dan menghampiri Juni. Dokter menjelaskan kepada Juni kalau pasien yang sudah diperiksa keadannya tidak terlalu mengkhawatirkan.


Pria yang didalam hanya pingsan dan Juni disuruh menunggu sebentar sampai pria yang ada diruanngan segera sadar. Tak lupa Dokter itupun berkata kalau pasien yang sedang ada diruang UGD akan segera dipindahkan keruangan rawat karena hanya akan menunggu sampai pasien sadar saja. Setelah mendengarkan penjelasan itu Juni merasa tenang karena tidak ada hal buruk yang terjadi dengan pria yang dia tolong itu.


Dokterpun meninggalkan Juni yang masih berdiri merasa lega akan penjelasan Dokter. Juni tak lupa mengucapkan banyak terimakasi kepada Dokter yang sudah melangkah pergi meninggalkannya.


Juni yang juga sudah menerima pesan dari maminya yang sudah menunggu dirinya di salah satu pusat pembelanjaan untuk membeli keperluan keluarganya. Juni sontak teringat dengan janjinya yang dia lupakan karena masalah yang tak terduga yang dia alami.


Juni segera membalas pesan maminya untuk menyuruh maminya memulai belanja tanpa dirinya, Juni mengatakan kalau nanti dirinya kan menyusul maminya ketempat yang sudah mereka janjikan berdua.


Juni tetap menemani pasien yang dia bawa setidaknya menunggu sampai pihak teman yang sedang dirawat datang, dan juga ingin mengembalikan ponsel serta dompet yang masih dirinya bawa digenggaman tangannya. Juni terus saja melihat arah jam dinding yang ada tepat diatas dinding dihadapannya. Tak terasa hari itu sudah sore, dia berpikir tidak akan bisa menyusul maminya yang sedang berbelanja tanpa dirinya.


Juni sesekali melihat hanya ada dirinya yang berada dilorong kamar rawat pasien. Dia sengaja menunggu diluar karena merasa tidak enak kalau harus menunggu didalam kamar, sedangkan dirinya tidak mengenal dengan pasti sosok pria yang dia antar kerumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2