AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Mengancam dan tawaran


__ADS_3

Seminggu kemudian terhitung dari saat kejadian yang menimpa Saga, Saga sangat gencar mendekati salah satu orang tua dari Juni yaitu Pak Bram. Usahanya memang tidak pernah akan mengingkari hasil, slogan itu sangat tepat menggambarkan kegigihan Saga.


Saga berhasil mendekati ayah dari Juni, Bramanto yang tidak tahu kalau sebenarnya ada maksud tersembunyi Saga sang pemilik Mentari Departemen Store mendekati Bramanto tidak lain dan tidak bukan adalah semua tentang Juni. Bramanto yang tadinya tidak mudah untuk bertemu dengan pemilik Mentari Store, akhir- akhir ini menjadi sangat gampang untuk Bramanto temui tidak merasa ada hal yang aneh.


Saga sengaja memberikan kelonggaran hanya kepada Pak Bram tentang isi dari syarat perpanjangan kontrak toko dirinya yang baru. Pak bram yang terlihat sangat memuja kebaikan dari Saga tidak mengetahui kalau sebenarnya kebaikan yang ditujukan kepada Pak Saga semata-mata karena anaknya Juni.


Sesuatu yang dia inginkan harus dia dapatkan dengan cara apapun yang membuatnya bersemangat dalam menjalankan tantangan dan itulah kegigihan yang Saga junjung hingga sampai bisa sukses seperti saat ini.


Saga dan Bram sesekali terlihat berbincang namun tak jarang Saga mengajak Pak Bramanto


untuk pergi melakukan aktivitas yang menurut Saga bisa mempererat hubungan mereka yaitu berolahraga golf. Antara Saga dan Bramanto mereka sama - sama mencintai olah raga golf.


***


Dua bulan kemudian tepatnya dihari minggu yang cerah, saat Saga ada janji temu dengan beberapa rekan kerjanya yang lain terutama Bramanto dilapangan golf tempat mereka sering bermain


Saga yang masih berada didalam mobilnya dengan Angga melihat kalau saat itu Bram ditemani oleh gadis yang masih tidak Saga tahu namanya yang hingga saat ini membuat pikirannya dipenuhi oleh wajah dari Juni.


"Saga lihat itu!" kata Angga mengagetkan Saga yang sedang membaca sebuah koran didalam mobil yang sedang berhenti menunggu lampu lalulintas berubah warna. Angga yang melihat dispion mobilnya sosok Bram yang saat itu ditemani anaknya.


"Apa? kamu bikin aku kaget saja" saga melipat lagi koran yang hampir habis dirinya baca dan meletakkannya disamping tempat duduknya sembari menoleh belakang mobilnnya ke arah pandangan yang diarahkan Angga. Saga tak percaya melihat sosok Juni lagi setelah dari kejadian yang lalu.

__ADS_1


Juni yang duduk dibelakang kemudi mobil berdampingan dengan ayahnya terlihat sedang gembira sambil tertawa dengan perbincangan yang terjadi antara ayah dan anak. Entah perbincangan apa yang sedang mereka bicarakan saga hanya bisa melihat pesona tawa manis Juni dari kejauhan.


"Ooo, Gadis itu!" kata saga kepada Angga yang ada dikemudi mobil saat itu. Saga masih tidak mengetahui nama dari sosok gadis yang dilihatnya lagi itu.


"Kamu yakin aku gak mau cari lebih dalam lagi informasi tentang gadis itu" Angga bertanya kepada Saga menunjuk arak Juni yang ada dibelakang mobilnya dengan menaiki mobil hitam.


"Gak usah lah, aku sudah deketin bapaknya tinggal ngomong dikit aja jadi deh" rasa percaya diri seorang Saga tentang cara dirinya akan mendekati anak dari Bramanto yang terlebih dahulu mendekati bapaknya.


"Cara jadul masih kamu pakai Saggg" Angga tersenyum mendengar perkataan Saga yang masih terus melihat Juni.


"Iya lah. Kalau mau masuk ke rumah wajib dapetin kunci rumah dulu" imbuh Saga yang mengumpamakan kalau mau dapetin anaknya harus dapetin ayahnya dulu.


"Udah lah Saggg, jangan liatin gitu amet ntar leher gak balik balik kayak semula" sahut Angga meledek temannya yang masih menoleh kearah belakang. Saga hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Angga yang meledek dirinya.


Saga yang berpikir kalau mungkin Juni akan ikut menemani ayahnya bermain golf, pikirnya itu saat dirinya berkenalan dengan Juni secara resmi. Namun pikiran Saga tentang hal itu hilang seketika tak kala mendapati panggilan dari Pak Bram yang menghubunginya. Pak Bram yang saat itu minta maaf terlebih dahulu karena tidak bisa hari itu ikut bermain golf dikarenakan ada hal yang akan dia lakukan dengan anaknya.


"Pak Saga, saya mohon maaf gak bisa ikut hari ini bermain golf" kata Pak Bram yang sudah melakukan panggilan telepon dengan bosnya itu. Pak Bram yang merasa sudah dekat dengan Saga tanpa perasann tidak enak dengan rekan kerjanya meminta agar Pak Saga tetap bermain golf dengan rekan kerjannya yang lain tanpa kehadirannya.


"Oooo padahal saya sudah mengajak beberapa orang untuk meramaikan permainan kita pak" kata saga yang terdengar kecewa bukan karena ketidak hadiran Bramanto lebih kepada hari ini dirinya tidak bisa bertemu dengan sosok Juni.


"Kenapa Pak Bram gak bisa ikut" lanjut Saga bertanya penasaran karena bram sempat menyinggung masalah anaknya yang mengakibatkan dirinya tidak bisa ikut bermain

__ADS_1


Bram menjelaskan kepada Saga kalau hari itu dirinya akan bertemu dengan keluarga Wijaya yang adalah rekan kerja dari Saga juga untuk menjodohkan dan mencarikan seorang tunangan untuk anaknya karena merasa anaknya sudah cukup dewasa untuk kejenjang yang lebih lagi.


Sontak penjelasan itu membuat Saga merasa kaget, dirinya berpikir Bramanto akan mencarikan tunangan anak gadisnya yang sudah dia incar untuk menjadi kekasih hatinya.


"Wijaya? bukannya pemilik restauran cina disamping toko sepatu Pak Bram" tanya Saga dengan suara seraknya. Suara serak Saga tiba-tiba muncul setelah tenggorokannya merasa kering mendengar perkataan Bram yang akan menjodohkan anaknya. Saga sempat berpikir sejenak pantes saja saat mobil mereka harusnya belok kearah kanan jalan tapi mobil Pak Bram malah terus melaju lurus.


"Iya pak, Wijaya yang itu" sahut Pak Bram.


Setelah lama berbicara ditelepon, Pak Bram mengakhiri panggilannya dengan Saga dan bergegas menyuruh supirnya untuk menuju restauran tempat dirinya bertemu untuk perjodohan anaknya dengan anak sulung keluarga Wijaya. Angga melihat Saga yang langsung terdiam saat sudah tidak berbicara lagi ditelepon dengan Pak Bram dispion depan kemudinya.


"Perjodohan perjodohan" kata-kata yang terus terucap oleh Saga sambil terus menggenggam erat ponselnya.


Agga berinisiatif meminggirkan mobilnya dipinggiran jalan dan melihat raut wajah Saga berubah ketika mendapati panggilan telepon dari Pak Bram. Saga menjelaskan apa yang baru saja dirinya dengar dari Bram. Saga menceritakan kalau Pak Bram hari ini tidak jadi ikut bermain golf dikarenakan kalau hari ini dia akan membicarakan perjodohkan anaknya dengan keluarga Wijaya.


Angga yang mendengar cerita dari Saga juga merasa kaget. Sontak Angga bertanya kepada Saga yang masih terlihat marah "Lalu sekarang apa yang harus kira lakukan?"


"Kita harus buat perhitungan sama keluarga Wijaya" Saga menjawab pertanyaan yang dilontarkan Angga.


"Hubungi keluarga Wijaya sekarang!" suruh Saga kepada Angga yang sudah bersiap dengan perintah yang diberikan oleh bosnya itu.


Angga mengambil ponselnya dan mencari nama dari Pak Wijaya lalu segera menghubunginya. Setelah merasa sudah tersambung Angga memberikan ponselnya kepada Saga agar Saga bisa berbicara ditelepon. Saga memulai pembicaraan teleponnya, menjelaskan kepada Pak Wijaya agar dirinya yang saat itu akan melakukan perjodohan dengan Pak Bram untuk segera membatalkan perjodohan itu kalau dirinya tidak mau kehilangan beberapa toko miliknya.

__ADS_1


Saga juga memberikan tawaran kalau Wijaya bersedia membatalkan perjodohan itu, kontrak toko yang dia punya di Mentari Departemen Store akan digratiskan selama 5 tahun. Pak Wijaya yang tergiur dengan tawaran itu menyanggupi perintah Saga untuk segera membatalkan perjodohan dan tidak akan membocorkan kalau sagalah yang menyuruhnya melakukan pembatalan perjodohan yang sebenarnya sudah Pak Wijaya sepakati jauh-jauh hari.


__ADS_2