
Saga tiba dilantai paling atas tempat kantornya dengan berjalan riang. Dari sejak masuk ke gedung hingga akan masuk ke dalam ruangan kantor semua mata karyawan tertuju hanya kepada Saga.
Hal yang sangat aneh yang mereka rasakan. Bagaimana tidak seorang Saga yang sedari dulu selalu dijaga satpam jika berada dikeramaian, namun ini malah tidak ada penjagaan dan Saga melewati jalan yang tidak biasa dia lewati. Tentu saja perasaan senang para karyawan Saga terlihat sangat jelas hari itu.
"Lihat bosss berjalan tanpa penjagaan" ucap salah satu karyawan Saga kepada temannya yang melihat dengan jelas Saga yang berjalan santai di kerumunan orang. Karyawan yang dia ajak berbicara hanya melotot senang melihat sang Bos.
Setibanya di depan pintu kantornya, Saga membuka pintu ruangan kantornya dan berhasil mengagetkan seorang Angga yang berada didalam ruangan.
"Kapan datang Saga?" tanya Angga.
"Baru aja Ngga,,, Gimana kabar kantor bisa di kontrol kan? " tanya Saga sambil membuka jasnya dan menaruh jasnya di kursi duduknya seraya langsung duduk dikursinya sambil terus tersenyum bahagia.
"Santai bosss,,,, bisa diatur semuanya" kata Angga sambil berdiri dan membawa beberapa tumpuk laporan untuk ditanda tangani oleh seorang Saga.
"Ini apa? " tanya Saga.
"Laporan yang butuh sesegera mungkin untuk ditanda tangani" sahut Angga.
"Oooh Ok" ucap Saga
"Kamu kenapa hari ini bahagia banget kelihatannya, si Juni itu hebat bisa bikin senyam senyum seorang Saga" ucap Angga
Mendengar nama Juni disebut sontak membuat muka bahagia seorang Saga kembali bersedih.
Saga yang tadinya tersenyum karena bahagia penyakit teromanya sembuh tiba-tiba di ingatkan lagi masalahnya dengan seorang Juni.
Wajah Saga berganti jadi sedih.
Dia terdiam melihat laporan yang sudah dia buka. Saga menarik nafas dan meletakkan kembali pulpen silvernya.
"Lah kenapa ini,,, kok muram gitu tuch muka?" tanya Angga
__ADS_1
Saga hanya diam, tak berkata apa apa dia manatap Angga yang memasang wajah heran.
"Jangan bilang kalian belum baikkan" ucap Angga yang membuat Saga tambah bersedih.
"Astaga kalian kenapa sich..... laki bini sama aja" lanjut ucap Angga.
"Dia marah Ngga,,, masalah aku bohongin dia. Dia beneran dengerin kita ngomong dan marah sampai sekarang. Dia gak mau bukain aku pintu kamar. Aku pusing, tadinya aku gak mau kerja tapi percuma juga dirumah kalau dia diemin aku" kata Saga
Angga sudah tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya mendekat ke arah Saga dan menepuk pundak sahabatnya itu. Seolah memberikan kekuatan kepada sahabatnya.
"Sabar,,,, semua badai pasti akan berlalu Sag, yang penting sekarang cara kamu menunjukan rasa cintamu kepada Juni dan lanjutkan perjuangan" kata Angga.
"Iya Ngga, aku pasti akan berusaha agar dia memaafkan aku memulainya dari awal " kata Saga.
"Terus sekarang gimana? " tatap Angga tepat di mata Saga yang juga melihatnya.
Saga tak menjawab dia hanya mengangkat bahu bidangnya seolah mengatakan kalau dia juga tidak tahu apa yang harus dia perbuat selanjutnya.
"Kalau aku tahu udah aku lakuin, masalahnya si Juni udah gak mau lihat muka aku" kata Saga.
"Ya udah,,, semua emang gak bisa diselesaikan secara cepat. Semua butuh proses" jawab Angga menenangkan sahabatnya. Tangan Angga menunjuk arah laporan yang sudah dia berikan tepat berada didepan Saga sambil berbicara "Tapi kalau masalah ini, yang butuh tanda tangan kamu udah gak bisa di tunda lagi. Harus segera ditanda tangani"
Saga melihat tumpukan berkas yang memang banyak menumpuk di hadapannya. Saga tertegun sejenak, matanya melirik kearah kanan dan mencari senjatanya hari itu yaitu pena bertinta hitam emas yang memang menjadi ciri khasnya jika ingin meninggalkan coretan dikertas berkas yang memang menunggu untuk Saga setujui.
Saga dengan masalahnya berusaha untuk bersikap profesional, dia berusaha untuk tidak mengganggu pekerjaannya dengan masalahnya. Namun seorang Saga tidak bisa satu haripun tidak memikirkan istrinya. Walaupun dia sudah berusaha tapi tetap aja gak bisa tidak memikirkan Juni.
Sesekali Saga yang bergelut dalam kesibukannya menyempatkan diri menghubungi Bik Tika untuk memastikan apakah Juni sudah bangun, apakah Juni sudah makan, apakah Juni sudah keluar dari kamarnya dan apa yang sedang Juni lakukan didalam rumahnya.
Saga seolah olah menjadikan Bik Tika mata mata untuk mengintai Juni bukan karena Saga ingin mengekang Juni namun lebih kepada Saga sangat khawatir akan keadaan Juni. Angga yang masih diruangan kantor bersama bosnya itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya seolah dia tak percaya kalau sahabatnya sangat bucin kalau sedang jatuh cinta. Angga juga tidak terlalu heran dengan kebucinan Saga karena dirinya juga sedang terjangkit demam asmara dengan wanita yang memang dia sukai sejak pandangan pertama siapa lagi kalau bukan Rose, wanita yang berhasil membuat Angga patah hati hanya karena salah paham tentang status Rose dan seketika membuat dia juga berbunga bunga setelah tahu yang sebenarnya bahwa Rose belum pernah menikah.
Seolah-olah tidak mau kalah dari Saga, sesekali Angga juga berusaha menghubungi Rose sang pujaan hati.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, tak terasa bergelut dalam perkerjaan membuat mereka lupa waktu untuk mengisi perut, walau tak lupa urusan asmara.
Angga melihat Saga masih dihadapannya sedang tertegun, Angga kembali melihat ponselnya yang sudah menunjukan waktu berlalu begitu cepat. Angga menyadari kalau Saga belum sama sekali makan siang dan jam ponselnya seolah memperingatkan Angga kalau jam makan siang sudah lewat 2 jam yang lalu.
Angga kaget, dia juga merasa sedikit ceroboh karena hingga sore itu tidak mengingatkan Saga untuk makan dan istirahat.
"Bodoh,,. bodoh, bodoh. Ini jam kenapa berlalu begitu cepat dan aku sama sekali lupa menyiapkan makanan untuk Saga makan di dalam kantor" ucap Angga sambil menepuk keningnya berkali kali. Angga melirik Saga dan berkata dalam hati "Ini orang kenapa, sampai jam segini belum ada tanda tanda mau berhenti bekerja. Tuch perut gak laper!!!!"
"Sag,,, kamu gak laper? aku pesenin makanan ya? " ucap Angga.
"Pesen makanan!!! buat apa? " tanya Saga membalas tatapan sahabatnya.
"Buat kamu makan disini lah,,, masak buat aku. Gimana sich!!!" ucap Angga sedikit jengkel tentang pertanyaan Saga, padahal memang setiap hari Angga selalu memesankan makanan untuk Saga nikmati didalam kantor tapi kali itu Saga malah bertanya.
Saga berdiri dari kursinya, dia mengambil jas yang sebelumnya dia taruh di gantungan jas sebelahnya duduk.
"Ayuk,,,, " ajak singkat Saga sambil berjalan mendahului Angga yang masih duduk bengong melihat Saga.
"Ayuk kemana? " tanya Angga dengan nada heran temannya mau mengajaknya kemana.
"Tadi ngajakin makan,,, ayok kita makan" ucap Saga sambil berbalik badan dan melihat Angga dengan mata herannya yang menatap dirinya.
Angga berdiri dan berjalan mendekati Saga sambil berucap "Ok,,, tapi tunggu bentar aku kumpulin semua satpam kalau emang kamu mau makan diluar"
Angga mengambil ponselnya untuk memanggil bagian keamanan dalam rangka menjaga Saga yang ingin makan diluar.
"Udah,,, jangan" ucap Saga sambil menghentikan tangan Angga yang sudah akan memanggil keamanan lewat ponsel.
Saga berjalan keluar sambil tersenyum tipis, dia tidak langsung memberitahukan Angga kalau dia sekarang tak perlu dijaga karena teromanya yang selama ini diderita sudah tidak menghantuinya lagi. Angga panik sambil menghentikan langkah Saga yang sudah berhasil membuka pintu kantornya dengan menepuk pundak Saga namun tak direspon oleh Saga. Saga hanya ingin memberikan kejutan kepada Angga. Saga terus berjalan dan tepat setelah membuka pintu kantor Saga sudah disambut oleh kerumunan karyawan yang memang saat itu sedang lalu lalang bekerja seperti biasa.
"Kamu gak aaaa---- pa apa?" suara Angga melemah dan terbata bata melihat Saga tidak mengalami hal aneh seperti biasa dikerumunan orang.
__ADS_1