
"Om kita udah nyampe" kata Juni. Tak terasa hari sudah gelap. Mereka sampai dirumah Bramanto tepat pukul 07.00 malam. Perjalanan pulang dari hotel memang sangat lama tapi dalam hati Saga berharap kalau mereka belum sampai dirumah ayah mertuanya karena perjalan berdua bersama istrinya sangat dia inginkan.
"Ohhh iya yang" kata Saga.
"Pak kita berhenti digerbang itu" lanjut imbuh Saga berbicara sambil menunjuk arah gerbang rumah ayah mertuanya kepada supir taksi.
"Siap Mas" kata pak supir yang dibarengi dengan kakinya yang lantas menginjak rem mobilnya untuk berhenti tepat digerbang yang dimaksud Saga.
"Oke kita udah nyampe" kata Saga. Saga bergegas turun dari mobil dan berlari menuju pintu sebelahnya membukakan pintu.
Pak supir turun dari mobilnya untuk berniat membukakan pintu mobil untuk Juni malah hanya bisa melihat Saga sudah berlari mendahuluinya lagi.
"Yang supir sebenarnya siapa?" tanya pak supir dalam hati saat melihat Saga selalu sibuk membukakan Juni pintu mobil taksi.
"Ya udah lah kerjaan ku malah lebih santai. Tinggal buka bagasi dan ambilin tas doang" lanjut imbuh pak supir dalam hati.
Saga dan Juni menunggu pak supir untuk mengambilkan dua tas mereka.
"Pak aku minta tolong bawain langsung kedalam ya!" pinta Saga kepada pak supir.
"Oo iya Mas" kata pak supir.
"Dalam mana Mas" lanjut tanya pak supir menatap Saga menunggu jawaban dari pertanyaannya sambil sudah menenteng dua tas ditangannya.
"Ikuti aku pak" ajak Saga. Juni sudah berjalan mendahului suaminya dan menunggu didepan pintu rumah kediaman Bramanto sambil memencet bel rumah lamanya untuk dibukakan pintu rumah.
Pintu rumah itupun terbuka, yang membukakan saat itu adalah Bik Oyah yang adalah asisten rumah tangga keluarga Bramanto.
"Ooh non Juni datang" kata Bik Oyah
"Iya bik" jawab Juni.
"Ayah dan mami ada didalam bik?" tanya Juni kepada Bik Oyah.
"Ada non lagi nonton tv" kata bik Oyah.
"Non Juni datang sendiri?" tanya Bik Oyah
"Gak bik. aku datang sama itu" jawab Juni sambil menengok belakang punggungnya.
"Oh sama Den Saga" kata Bik Oyah. Bik Oyah membuka lebar pintu kediaman rumah majikannya dan berkata "Ayok non masuk kedalam. Diluar dingin"
"Iya Bik, tunggu suami aku dulu" kata Juni.
Saga yang diikuti supir taksi melangkah mendekati juni yang berdiri melihat Saga berjalan.
"Udah pak, taruh dibawah aja" kata Saga sambil mengambil dompetnya dikantong celananya dan membuka dompet agar bisa membayar supir taksi.
__ADS_1
"Sini pak,, biar tak bawain kedalam" kata Bik Oyah yang segera mengambil dua tas dari supir taksi.
Saga melihat Bik Oyah dan mengucapkan terimaksi. Saga kembali fokus pada pak supir "Berapa pak?" tanya Saga.
"Om aku masuk duluan" kata Juni yang menepuk pundak suaminya. Juni langsung masuk kedalam rumah karena sudah melihat suaminya. Bik Oyah yang menenteng tas Juni kedalam mengikuti langkah Juni.
"Rp xxxxxx" jawab supir taksi
Saga menghitung lembar perlembar uang merah mudanya dan memberikan empat lembar warna merah muda kepada supir taksi.
"Oooo Mas, ini kebanyakan. Saya gak ada kembalian" kata pak supir.
"Gak apa-apa buat bapak semuanya" kata Saga.
"Beneran mas? tanya pak supir.
"Iya bener lah, ambil aja anggep rejeki keluarga dirumah" kata Saga.
"Makasi pak" kata supir taksi. Saat Saga akan masuk kedalam rumah pak supir taksi memanggil Saga lagi.
"Mas"
"Iya pak" Saga menoleh kembali kearah supir taksi.
"Saya doakan semoga langgeng sama istrinya" kata pak supir
"Lain kali kalau lagi pingin mening jangan ditaksi Mas" kata supir taksi sambil tersenyum melihat Saga yang berwajah kaget mendengar perkataan supir taksi. Saga tertegun sejenak berpikir ternyata supir taksi itu tahu apa yang sedang dia lakukan dengan istrinya. Saat Saga akan membantah perkataan sang supir, supir itu sudah berlalu meninggalkan dirinya dan sudah memasuki mobil taksinya.
"Ya udah lah" kata Saga. Saga masuk kedalam rumah Bramanto.
*
*
*
Juni yang masuk terlebih dahulu langsung menuju ruang keluarga mereka mencari kedua orang tuanya dengan sangat semangat.
"Non" panggil Bik Oyah menghentikan langkah lari Juni. Juni menoleh kearah asisten keluarga ayahnya "Iya Bik"
"Bibik taruh dimana tasnya? " tanya Bik Oyah.
"Ooo taruh dikamar aku aja bik" kata Juni.
"Oh iya non, bibik tinggal keatas naruh ini. Ayah sama mami Non masih diruang keluarga kayaknya" kata Bik Oyah.
"Oh iya bik" jawab Juni. Bik Oyah meninggalkan Juni untuk naik kelantai atas ingin menaruh dua tas milik majikannya.
__ADS_1
Juni kembali lagi berjalan menuju ruang keluarga. Juni melihat punggung lelaki paruh baya yang sangat dia kangenin. Sang ayah sedang menonton berita di televisi.
Juni melangkah perlahan, langkah demi langkah agar tak didengar oleh ayahnya. Juni memeluk ayahnya dari belakang sambil berkata "Aku kangen"
Ayah Bramanto sangat kenal suara anaknya yang juga ingin didengar olehnya. Ayah Bramanto menoleh kebelakang dan benar saja wajah yang sangat dia rindukan sudah ada dibelakangnya. Ayah Bramanto berdiri dan memeluk anaknya sambil berkata "Kamu kapan datang?"
"Baru nyampe yah," jawab Juni.
"Kamu datang sendiri" tanya Ayah Bramanto.
"Gak yah, aku datang berdua sama suami" kata Juni.
"Ayah kira kalian gak jadi datang hari ini" kata Ayah Bramanto yang terus memeluk anaknya yang sudah lama sekali dia rindukan sambil sesekali mencium rambut Juni.
"Jadi dong yah,,,Om" Juni menutup mulutnya yang dia rasa sudah salah memanggil suaminya dengan sebutan Om.
"Om" kata Bramanto.
"Heheh, aku salah ngomong yah, maksud aku Mas Saga yah" jawab Juni lagi memperbaiki sesuatu yang salah dia katakan.
"Oooo ayah kira siapa" kata Bramanto.
"Terus suami kamu mana? " lanjut tanya Bramanto
Saga yang baru saja datang mendekati Juni dan Bramanto, ia berdiri tepat dibelakang Juni.
"Ini orangnya" kata Juni sambil menunjuk arah Saga yang tengah berdiri.
"Nak sini! ayah kira kamu gak jadi bawa Juni kesini" kata Bramanto.
"Jadi dong yah" Saga mendekat sambil menggapai tangan ayah mertuanya dan memeluk ayah mertuanya.
"Yah,,, mami mana? " Juni melirik semua ruangan yang ada dipandangannya tapi tak melihat maminya dimana -mana.
"Juni" teriak kaget Mami Sintia yang melihat kedatangan anaknya. Juni menoleh dan mendapati Mami Sintia sedang menatap kaget dirinya.
"Mami" Juni mendekat lagi kearah Mami Sintia dan merekapun saling berpelukan melepas rindu. Maklum pertemuan itu adalah pertemuan pertama mereka sejak Juni dilepaskan sang ayah untuk menikah.
"Kamu kapan datang? " tanya lagi mami sintia. Belum mendapatkan jawaban dari Juni, mata Mami Sintia memandang sosok Saga yang juga datang kerumahnya.
"Ooo ada Nak Saga" Mami Sintia melepaskan pelukan tangannya dari badan Juni dan mendekat memeluk lagi mantunya yang sudah dianggap anak karena sudah menikahi Juni.
"Udah,, udah. Peluk kangennya di tunda dulu. Mungkin mereka perlu kekamar dulu melepas lelah sejenak" kata Ayah Bramanto.
"Ooh iya mami lupa, kalian naik saja dulu kekamar. Mami bakalan siap-siap didapur buat makan malam" kata Mami Sintia.
Ayah Bramanto juga menyetujui usul istrinya. Dia juga menyuruh anak-anaknya untuk melepas lelah di kamar Juni. Juni yang juga merasa sangat lelah dengan perjalan panjang yang telah dia lewati segera. menyetujui ucapan kedua orang tuanya. Saga yang tak enak menolak usulan mami mertuanya hanya mengiyakan. Saga mengikuti langkah Juni yang naik keatas menuju kamarnya setelah sebelumnya mereka pamit untuk langsung kekamar.
__ADS_1