AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Pergi diam- diam


__ADS_3

"Mana om?" Juni mendekat kearah jendela. Juni memperhatikan jendela diruangan itu dan melihat kearah luar jendela.


Diluar jendela tumbuh sebuah pohon mangga yang cukup besar. Pohon itu sangat dekat dengan jendela "Wah pas," gerutu Juni.


Saga tak mendengar apa yang Juni ucapkan namun dia melihat bibir Juni bergerak seolah sedang berbicara karena Saga tidak berada di belakang Juni akan tetapi berada berdiri disamping Juni hingga dia bisa melihat bibir Juni bergerak.


"Kamu ngomong apa Juni?" tanya Saga sambil mendekatkan wajahnya ikut melihat arah luar jendela.


Juni memasukkan wajahnya kembali kedalam jendela.


Dirinya yang sudah tidak melihat keluar jendela menoleh kesamping tepat tempat Saga berdiri.


Matanya terbelalak ketika wajahnya mendekat kewajah Saga yang juga saat itu sedang ingin melihat luar jendela menatap apa yang Juni sedang perhatikan.


Tak terelakkan lagi wajah mereka berdua tak sengaja bertatapan satu sama lainnya.


Saga menatap wajah Juni secara dekat dan Juni yang tak mengetahui kalau wajah Saga berada disamping membuat dirinya kaget dan mau tidak mau ikut menatap wajah Saga.


Mereka saling tatap sejenak, mata bertemu dengan mata dan kondisi itu membuat jantung Saga berdebar- debar. Wajahnya berubah menjadi merah.


Telingannyapun bergerak-gerak, itu selalu terjadi jika Saga merasa malu dan kejadian yang sedang dia alami sangat membuatnya malu.


Namun tidak dengan Juni, Juni segera menjauhkan wajahnya dari wajah sagaa.


Tanpa juni sadari saat dia berusaha menjauhkan wajahnya, kepala belakang Juni membentur lemari. Dan dia tak menyadari kalau saat Juni membentur lemari, ada sebuah kotak sepatu yang ikut jatuh.


Kotak itu jatuh tepat dikepala Juni namun saat kotak itu akan membentur kepala Juni dengan sigap tangan Saga mengambil kotak itu yang membuat kepala Juni tak dijatuhi oleh kotak sepatu.


Juni merasa kaget untuk kesekian kalinya.


Saga membuang kotak sepatu yang sudah dia tangkap ditangannya.


"Kamu gak apa-apa jun?" tanya Saga


"Gak om," sahut pendek Juni dengan masih kaget tentang apa yang akan terjadi dengannya.

__ADS_1


"Hanya kaget saja" lanjut Juni menjawab Saga.


Juni melangkah menghindari lagi Saga yang merasa terlalu dekat dengan dirinya, Juni berjalan keluar ruangan lemari pakaian dan terus berjalan menuju kamarnya diikuti dengan sagaa dari belakangnya.


Juni memilih duduk diranjang dan berusaha melepaskan kerudung (Veil) yang ada dikepalanya. Saga yang memperhatikan saat Juni kesusahan untuk melepaskan kerudung yang ada dikepalanya ingin membantu Juni melepaskan veilnya.


"Aku bantu jun" kata Saga


"Gak usah om aku bisa sendiri," kata Juni


Saga yang kebingungan harus melakuakn apa, karena Juni tidak mau dibantu melepaskan kerudungnya yang ada dikepalanya.


Saga bertanya kepada jini "Kamu gak mandi ju?"


"Lagi bentar om habis melepas ini," Juni menunjuk kerudung yang sedang berusaha dia lepaskan.


"Om kalau mau mandi, mandi aja duluan!" suruh Juni dengan suara termanisnya.


"Hmm ya sudahlah aku duluan mandi" kata Saga sambil melangkah menuju kamar mandinya.


Saga akhirnya masuk kedalam kamar mandinya.


Juni dengan cepat membuka kerudung yang sebenarnya sudah sedari tadi dia bisa lepas namun dirinya berpura-pura didepan Saga kesusahan dalam melepaskan kain kerudungnya. Juni yang mendengar kalau Saga sudah menyalakan shower kamar mandinya, segera Juni berlari menuju ruang lemari yang tadi Saga tunjukan.


Dia melepaskan gaun pengantinnya dan mengganti pakaiannya dengan mengambil satu pakaian yang ada dilemarinya.


Setelah sudah mengganti baju, juni tidak membawa apa-apa karena semua barangnya berada dikediaman rumah ayahnya bahkan ponselpun tidak dia bawa.


Juni yang hanya membutuhkan uang untuk membayar taksi yang akan dia gunakan pergi, dia tidak mungkin menggunakan bis karena bis tidak beroperasi selarut itu.


Juni kembali lagi kekamar Saga dan mencari-cari mungkin saja sa2ga menaruh dompet dikamarnya. Juni melangkah cepat dan mencari dompet Saga, setelah beberapa menit melihat seluruh ruangan kamarnnya dia mendapati dompet Saga berada di laci meja kecil sebelah lampu tidurnya.


Juni mengambil dompet Saga dan membuka dompet itu, dia hanya mengambil beberapa lembar uang dan tak lupa Juni membuat catatan kecil untuk dia tempelkan didompetnya. Catatan kertas kecil itu bertuliskan


Om, aku ambil uangnya 3 lembar pecahan Rp. 100.000 an nanti aku ganti dan pasti aku ganti"

__ADS_1


tertanda juni


Setelah menempelkan kertas kecil itu, Juni yang melihat ponsel Saga tergeletak diranjang mengambil ponsel Saga dan mencoba membuka ponsel Saga.


Juni berkata "Si om oneng, ponsel gak dikunci tapi makasi dah om gara-gara itu aku bisa nelpon dech" sambil tertawa Juni lekas menekan nomer taksi dan memesan taksi malam itu.


Tak lupa dirinya memberikan alamat kepada operator taksi yang sedang dia ajak berbicara disambungan teleponnya.


Setelah merasa sudah jelas memberikan alamatnya Juni mengatakan kepada operator taksi agar cepat menjemputnya karena dia sedang terburu- buru.


Operator taksi yang berbicara dengan Juni saat itu mengiyakan keinginan Juni dan mengatakan untuk mohon menunggu sebentar.


Juni menutup ponsel Saga dan berlari lagi keruangan lemari pakaian mencari jendela yang tadi dia sudah lihat.


Juni ternyata sudah merencanakan kalau malam ini dia harus pulang ke apartemen makanya Juni berpura-pura manis didepan Saga.


Dan itulah sebabnya hal pertama yang dia tanyakan setelah diajak kekamar Saga adalah jendela tempat dirinya pergi diam- diam tanpa ada yang tahu.


Juni sengaja pergi lewat jendela karena dirinya tidak mau kalau sampai para pegawai Saga yang masih bekerja dilantai bawah tahu dia akan keluar rumah.


Juni takut nanti salah satu pegawai yang melihat Juni keluar dari rumah akan berusaha melaporkan hal itu kepada Saga yang tentunnya membuat Juni tidak diijinkan keluar. Pikiran itu sudah dia bayangkan walaupun belum tentu terjadi seperti yang dia pikirkan.


Juni menaikin jendela dan untung disana ada pohon mangga jadi dia keluar tanpa harus menggunakan tali tambang seperti dirinya keluar diam- diam dikediaman ayahnya.


Juni yang keluar dari jendela dan menggunakan pohon mangga sebagai bantuannya.


Juni berhasil turun dari lantai kamar Saga dan mengendap-endap berjalan keluar dari halaman rumah Saga seperti yang dia lakukan semasih tinggal dirumah ayahnya saat ingin keluar malam- malam menemui Trala di Onyx Club Night.


Juni menunggu kedatangan taksi yang sudah dia pesan. Juni yang sedang menunggu kedatangan taksi mendengar suara deru ombak didekatnya berdiri.


"Suara ombak?" tanya Juni dalam hati. Juni melihat sekelilingnya namun hanya gelap yang bisa dia lihat. Pikirannya kembali lagi terfokus setelah tak begitu lama taksi yang dia pesan datang menghampirinya.


Juni segera masuk kedalam taksi dan menyuruh untuk pak supir bergegas pergi dari kediaman Saga.


Junipun sangat senang ketika sudah berhasil meninggalkan rumah Saga.

__ADS_1


__ADS_2