
Mendengar perkatan Bramanto, Saga merasa sangat bersyukur mendapatkan seorang ayah mertua yang seperti Bramanto. Awalnya Saga merasa sangat ragu menceritakan hal yang telah terjadi namun mertua dari Saga ternyata tidak berpikiran sempit.
"Yah, jadi kalau aku ngerjai Juni sedikit, menurut ayah gak apa- apa" tanya Saga
"Gak apa -apalah kalau itu bikin si Juni nurut sama suaminya" kata Bramanto yang sudah tak tertawa lagi.
"Sebentar nak, tadi kamu sempat bilang kamu punya penyakit agrophobia. Itu penyakit apa nak?" tanya Bramanto.
"Oh itu, penyakit ganguan panik. Aku sempat mengalami trauma karena ditinggal meninggal oleh kakek yang sudah menjadi ayah, ibu, sekaligus seorang teman" kata Saga.
"Kejadiannya waktu....... " lanjut imbuh Saga sambil menceritakan awal dirinya terkena penyakit yang belum sembuh sejak dirinya ditinggal kakeknya.
Bramanto yang mendengar kisah Saga merasa sangat kasihan kepada menantunya itu. Pikirnya pantas saja selama ini Saga di Mentari Departemen Store seperti sudah dijaga sekali oleh semua karyawannya. Bramanto sempat mendengar tentang penyakit Saga namun itu tidak serinci yang Saga ceritakan kepadanya.
Mereka berbicara sudah selayaknya seorang teman tidak seperti antara pembicaraan mantu dan mertuanya.
Entah kenapa saat Saga bercerita kepada ayah mertuanya rasa penat dihati yang dia rasakan menjadi lega.
Tak terasa hari itu sudah sangat siang, waktu berpisahpun tak terelakkan lagi.
Ayah Bramanto mengajak Saga untuk diantar pulang karena sebelumnya Saga bercerita kalau Mang Ujang si supir pribadinya sudah dia suruh pulang.
Saga menolak ajakan ayahnya karena tak mau merepotkan ayah mertuanya. Dia malah menyarankan Ayah Bramanto agar cepat pulang jika memang ada kegiatan lain yang harus dilakukan.
"Terus kamu, pulang sama siapa nanti nak? " tanya Ayah Bramanto.
"Kalau aku gampang yah,," kata Saga.
"Ayah bisa antar kamu pulang kok nak" kata Bramanto.
"Tenang yah,, aku mau mampir ke hotel depan, mau istirahat sebentar" kata Saga.
"Kenapa malah kesana nak?" tanya Ayah Bramanto.
"Numpang mandi yah" kata Saga sambil tertawa pelan.
"Ooo, ya udahlah kalau Nak Saga memang maunya seperti itu" ucap Bramanto yang sudah mengambil tas yang berisikan peralatan golfnya.
"Ayo yah, kita sama-sama keluar" kata Saga.
Mereka berduapun perlahan dengan terus berbincang- bincang melangkah meninggalkan cafe yang ada didalam kawasan lapangan.
Setelah tentunya Saga membayar terlebih dahulu nota pesanan mereka.
Saga mengantar Bramanto mencari mobilnya, dia memastikan ayah mertuanya memasuki mobil dan hilang dari pandangan Saga.
Saga yang sudah melihat mertuanya pergi dari penglihatannya yang menggunakan mobilnya, lantas berjalan keseberang jalan mencari hotel terdekat. Saga memasuki area dalam hotel melalui pintu belakang.
Saga hanya melakukan satu kali panggilan ponsel langsung dengan pihak manajer hotel dan tentu saja permintaan Saga untuk melakukan pemesan kamar segera di ladenin manajer hotel.
__ADS_1
Saga diperlakukan khusus oleh pihak hotel karena di hotel citylink Saga juga mempunyai saham yang cukup banyak.
Saga tidak hanya sekali dua kali menginap disana, kalau merasa sudah lelah bermain golf Saga akan beristirahat dihotel tersebut.
Manajer hotel sudah berada didepan kamar yang diperuntukan untuk Saga dengan membawa sebuah kunci kamar ditangannya. Dan saga berjalan melalui pintu belakang hotel yang sering dipakai karyawan.
Memang pada saat itu para karyawan sedang tidak menggunakan jalan belakang. Mereka sudah dintruksikan oleh pihak hotel untuk mengosongkan sementara jalan itu agar bisa digunakan oleh Saga yang juga adalah pemilik saham hotel.
Saga yang sudah diberitahukan oleh manajer hotel melalui sambungan telepon dimana tempat kamar yang ditempati saga segera meluncur ke kamar yang manajer maksudkan. Didepan kamar sudah ada manajer hotel menyambut kedatangan Saga.
Saga sudah diberikan kunci kamar.
Niat saga hari itu hanya untuk numpang mandi dan numpang istirahat karena sebenarnya dirinya sudah sangat lelah.
Setelah berada didepan kamar hotel, Saga mengucapkan banyak terimakasi kepada manajer hotel karena sudah membantunya menuntun Saga mencari kamar hotel.
Saga memasuki kamar hotel. Didalam kamar hotel Saga tak lantas beranjak membersihkan dirinya terlebih dahulu, dirinya malah memilih untuk tidur mengistirahatkan tubuhnya.
*
*
*
*
Juni yang di intruksikan oleh Trala untuk mengajak Tomi jalan-jalan dan mengundur waktu sampai semua persiapan di hotel citylink siap. Juni hanya mengiyakan intruksi Trala karena memang dirinya juga harus ikut andil dalam perayaan kejutan hari jadi seorang Tomi.
Tomi yang diajak Juni makan kesebuah hotel merasa sangat senang karena hari itu menurutnya hari keberuntungannya.
Pikirnya untuk pertama kali seorang Juni mengajaknya makan jadi dia tidak akan menyia- nyiakannya.
Tapi Tomi tak akan mengira kalau itu adalah acara kejutan untuknya dari semua teman sekelasnya. Trala dan teman sekelasnya yang lain sudah terlebih dahulu berada dihotel dengan melakukan sedikit lagi persiapan kejutan.
"Jun, kita mau makan di hotel mana? " tanya Tomi yang sudah ada berdua didalam mobilnya.
"Kita ke citylink Tom" kata Juni
"Jauh amet Jun, kitakan bisa makan didekat sini" kata Tomi
"Ooo kamu gak mau makan sama aku" kata Juni
"Bukannya gitu Jun, aku malah seneng banget diajak makan berdua sama kamu tapi buat makan aja masak jauh banget" kata Tomi.
"Memang sengaja Tom, aku ada kupon gratis makan disana. Lagian ada teman aku yang lagi nginep disana dan aku udah janji juga dengan dia buat ketemu" kata Juni
"Tapi kalau kamu gak mau nganter, ya udah gak apa-apa. Aku bisa turun disini, nanti aku kesana pakai taksi aja" lanjut imbuh Juni memancing Tomi agar sedikit merasa bersalah kalau harus menurunkan dirinya dijalan seperti itu.
"Ngaco kamu Jun, aku jabanin ke ujung mana juga kamu mau pergi" kata Tomi.
__ADS_1
"Bisa aja lu" kata Juni menyahuti Tomi dengan perkatannya.
Mereka sudah tiba dihotel citylink, restauran dihotel tersebut segera mereka datangi dan seperti biasa Juni memesan makanan untuk mereka berdua.
Juni mengambil ponselnya dan menyadari kalau hari itu tidak ada sama sekali pesan untuknya.
Juni yang tak mendapatkan satupun pesan, menyadari ada sesutu yang kurang.
Juni belum sama sekali mengabari kalau dirinya sekarang sedang berada disalah satu restoran namun tak mengatakan kalau dia sedang bersama teman sekelasnya dihotel citylink. Juni berhasil mengirimi Saga pesan dan tiba- tiba pesan sms yang sudah terkirim itu dibarengi dengan batrai ponsel Juni yang habis.
"Jiah mati " kata Juni sontak membuat Tomi bertanya kembali.
"Apanya Jun" tanya Tomi.
"Ini" menunjukan ponselnya yang sudah gelap.
"Aku bawa cashan," kata Tomi menberitahukan Juni sembari mengambil tasnya dan hendak membuka tasnya mengambil cashan yang dia akan pinjamkan untuk Juni.
"Udah biarin ajalah, nanti ampe dirumah aku cash" kata Juni.
"Aku boleh minjem ponsel kamu gak buat hubungin seseorang" kata Juni
"Boleh lah, ini" Tomi memberikan ponselnya kepada Juni agar bisa dipakai Juni.
"Makasi Tomi ganteng" kata Juni sambil mengambil ponsel yang diberikan Tomi. Tomi tersipu saat Juni mengatakan dirinya ganteng.
*
*
*
Didalam kamar hotel yang sama, Saga yang sudah sedari tadi bangun dari tidurnya. Ia beranjak didalam kamar mandi untuk sejenak membersihkan dirinya dari beratnya rutinitas hari ini yang dia lakukan
Saga keluar dari kamar mandi dan hal pertama yang dia lakukan adalah mengambil hape dengan tujuan memberikan kabar kepada istrinya yang tak tahu kalau dirinya sedang berada disebuah hotel.
Saga malah menemukan sebuah pesan dari Juni untuknya yang mengatakan kalau istrinya sekarang berada disebuah restauran.
Saga tersenyum karena untuk pertama kalinya gadis yang dia cinta memberikan kabar dimana keberadaannya tanpa dipaksa oleh Saga.
Saga yang masih terus berbunga-bunga hanya mendapatkan sebuah pesan dari Juni, juga mengirimi Juni pesan.
Pesan yang Saga kirim untuk Juni adalah memberikan kabar balik kepada Juni mengatakan kalau dirinya sedang berada dihotel citylink ternyata masih terpending.
Saga tak lantas diam saja dia berusaha menelpon ponsel Juni namun ponsel Juni tentu saja tidak aktif.
"Kenapa gak bisa aku hubungi" kata Saga sambil terus mencoba menghubungi lagi istrinya. Usaha Saga tentu saja akan sia- sia.
Saga menyerah menghubingi Juni yang sama sekali tak bisa dia hubungi. Saga memutuskan untuk nanti dirinya akan mencoba lagi menghubungi istrinya. Ia menggunakan baju ganti yang sudah dia bawa sebelumnya dari rumahnya. Saga memilih untuk keluar dari kamar hotel sambil terus berusaha menghubungi Juni. Diluar kamar, tepatnya dilorong kamar Saga, ia duduk didepan pintu hotelnya berpikir kalau hari itu sangat susah menghubungi istrinya.
__ADS_1