AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Selamat pagi


__ADS_3

Catatan : Cuman bisa bilang "MAAF" lama menunggu. Makasi buat yang tetap dukung!!! ditunggu Vote, like, bintang, jantung dan koment. 🙏🙏🙏 (eitsss lupa,,,, ada yang bilang alur ceritanya lambat menurut kalian mau dipercepat atau biarin aja kayak gini. Koment ya enaknya dipercepat atau suka-suka yang bikin)


Dedaunan hijau masih basah oleh air hujan yang tadi malam turun sangat deras.


Tetes demi tetes air terjatuh dari dedaunan. Hembusan angin pagi, masih terasa sangat dingin.


Langit kala itu begitu terlihat jernih tanpa ada sedikitpun awan yang menutupi birunya langit. Matahari seakan sungguh bahagia memperlihatkan senyum penuhnya pada dunia pagi itu.


Dalam kamar pasien di klinik gedung milik Saga masih tertidur pulas dua pasang suami istri. Tangan Saga memeluk erat tubuh Juni.


Juni membuka matanya secara perlahan yang masih sangat berat itu disebabkan oleh cahaya luar yang menerobos dijendela kaca.


Tangannya mengusap usap dua matanya yang sedikit terpeham.


Entah apa yg dia lakukan tadi malam hingga tubuhnya terasa sangat lelah.


Juni kaget saat dia melihat ruangan yang terasa asing dipandangannya.


Terlebih lagi saat dia melihat sosok Saga berada disampingnya dengan tangan berada diatas perutnya.


Tangan Saga sedang memeluk dirinya. Kepala Juni terasa sangat pusing.


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak sambil mengingat apa yang tadi malam telah terjadi.


Juni kembali mengingat ingatan yang sama sekali tak dia ketahui hingga dirinya sampai berada didalam kamar yang asing, tapi sampai kapanpun dia mencoba mengingat tak akan dia temukan ingatan itu.


Terakhir yang dia ingat adalah saat kakaknya Lisa mengunci dirinya didalam ruangan pendingin seorang diri, serta saat dia terjatuh karena tertimpa sesuatu benda yang masih tak dia tahu benda apa yang menimpanya.


Namun sekarang dia sudah berada diatas ranjang bersama Saga.


Dia melepaskan tangan Saga dari perutnya dengan kasar, tapi Saga tak terbangun.


Juni melirik wajah suaminya dan mendapati senyum tipis dibibir Saga.


Juni beranjak membangunkan dirinya, walaupun kepalanya terasa sangat pusing tapi dia berusaha sekuat tenang ingin bangun dan pergi dari tempat itu sebelum suaminya bangun.


Juni yang masih terduduk menguatkan diri segera menggerakkan kakinya dan akan menuruni ranjang tapi ada sesuatu yang aneh yang dia rasakan. Tepat di daerah intinya dia merasakan sangat sakit dan perih jika kakinya dia langkahkan.


"Aaaaauuuu" teriak pelan Juni.


"Aku kenapa? kenapa saat berjalan terasa sakit" kata Juni lagi sambil terus memegang miliknya.


Juni melihat lagi Saga yang masih tertidur, disebelah Saga tidur dimana bekas dirinya berbaring Juni melihat ada bercak darah diranjang.


"Ini apa? " kata Juni sambil memegang bercak darah disprai. Juni kembali melihat celana yang dia pakai dan disana juga terlihat bercak darah dan yang dia yakini itu adalah bercak darahnya.


"Oooo mungkin datang bulanku keluar lagi" kata Juni yang hanya memikirkan kemungkinan itu saja.

__ADS_1


"Tapi kok sakit kalau jalan ya...?" kata Juni lagi.


"Ya udah,,, aku harus cepetan pergi dari sini. Aku gak mau hari ini melihat wajah manusia berengsek ini" kata Juni.


Dengan tertatih tatih dan merasakan sakit Juni berjalan dengan sangat pelan.


Dia ingin cepat- cepat keluar dari ruangan kamar itu.


Sebelum keluar dari kamar yang tak dia tahu itu tempat apa, dia melihat sebuah jaket kardigan panjang menggantung di dinding (milik dokter).


Juni segera mengambilnya untuk dirinya gunakan menutupi celananya yang terkena sedikit bercak darah.


Juni melangkah keluar perlahan, langkah demi langkah, dengan wajah yang menahan perih.


Sesekali giginya menggigit bibir bawah miliknya untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan pagi itu.


Dan akhirnya dia berhasil keluar tanpa membuat Saga bangun, pagi itu.


Kawasan didepan gedung masih sangat sepi karena Departemen Store itu belum mulai beroperasi. Apalagi hujan semalam yang sangat deras membuat orang orang lebih memilih untuk masih didalam rumah mereka ketimbang untuk berolahraga sejenak atau sekedar jalan- jalan pagi.


Juni yang sudah ada diluar gedung sedikit kesusahan karena sama sekali dia tak membawa uang ataupun ponsel.


Juni berjalan dari luar gedung hingga menuju tempat pemberhentian bus yang juga dekat dengan area gedung milik Saga.


Juni hanya bisa duduk di kursi tanpa bisa menaiki bus karena sama sekali tak membawa sepeser uang, apalagi ponselnya tak dia ketahuin berada dimana.


Terakhir yang dia ingat adalah saat diruang pendingin sebelum Juni terjatuh.


Dia kembali memikirkan dirinya yang berada di klinik gedung yang entah bagaimana caranya dirinya bisa berada disana tapi yang jelas dia tahu kalau kakaknya adalah orang yang paling bertanggungjawab sampai dirinya berakhir di kamar pasien.


"Kak Lisa..... tega banget sama aku" kata Juni merasa sedih karena ulah kakaknya kepadanya.


"Salah aku apa?" katanya lagi sambil menahan air mata yang akan menetes dipipinya.


Juni melihat arah atas agar air matanya tak mengalir.


Juni berusaha menguatkan dirinya agar tak terlihat seperti wanita yang kacau. Juni teringat lagi


"Apa mungkin kak Lisa memberitahukan Saga kalau aku ada disana (ruang pendingin)?" kata Juni berbicara dengan dirinya sendiri sambil melihat lagi pepohonan dipinggir jalan yang masih basah serta tangannya mengusap-usap rambutnya agar tak berantakan.


"Gak mungkin" Juni kembali menepis pikirannya sendiri karena yang dia tahu kalau kakaknya bukan tipe orang yang melakukan sesuatu setengah-setengah.


"Atau mungkin Saga tahu aku ada disana dan menolong aku dari ruangan pendingin itu tapi darimana dia tahu, sedangkan aku gak pernah memberitahukan kedatanganku" kembali Juni berbicara seorang diri.


"Ahhhhhh,,,, sudahlah pokoknya tidak akan aku maafkan semua kebohongan Saga terhadapku" kalimat itu terdengar dari mulut Juni sambil dibarengi dengan raut wajah yang sangat marah mengingat kebohongan suaminya padanya.


Dari sejak Juni bangun, hingga sampai pada saat dia duduk tanpa tahu harus berbuat apa di pemberhentian bus, Juni hanya berbicara seorang diri.

__ADS_1


Dia memikirkan betapa kejam suaminya yang sudah membohonginya.


Juni juga masih penasaran dengan siapa orang yang menolongnya dari ruangan pendingin.


Juni juga memikirkan betapa jahat kakaknya pada dirinya yang tega mengunci dirinya diruang pendingin.


Walaupun dirinya sudah berteriak dan meminta agar Lisa mengeluarkannya namun Lisa malah meninggalkan dirinya tanpa perasaan kasihan.


___________________________________________


Saga yang masih berada didalam ruangan terbangun, dua tangannya meraba raba sebelah ranjangnya mencari tubuh istrinya, namun tak sama sekali dia dapati Juni berbaring disana.


Saga membuka matanya dan melihat kalau benar saja Juni sudah tak ada disampingnya.


Saga bangun dari ranjangnya namun matanya malah melihat noda darah di spray putih ranjang tempatnya tidur. Saga kembali mengingat kejadian yang dia lakukan pada istrinya tadi malam dan itu membuat Saga tersenyum penuh arti dan merasa sedikit malu.


"Yank...... " panggil Saga.


"Juni" panggil lagi Saga yang tak mendapati sahutan dari panggilan pertamanya.


"Kemana dia? " tanya Saga dalam hati.


Saga yang tak kunjung mendengar sahutan dari Juni berjalan kekamar mandi dan mengetuk kamar mandi masih berpikir kalau mungkin saja Juni berada dikamar mandi.


"Took,, tok,, tok" tangan Saga mengepal dan mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada suara sahutan dari dalam kamar mandi.


"Juni,,,, aku buka pintunya ya!" kata Saga lagi.


Saga membuka pintu kamar mandi yang memang tak terkunci dari dalam karena memang tak ada seorangpun didalam kamar mandi.


Saga kaget karena tak menemukan sosok istrinya yang tak dia ketahui berada dimana dan tak kunjung dia temukan sejak bangun tidur.


"Kok,,, dia gak ada, kamu kemana Juni? jangan- jangan dia pergi" kata Saga kembali berbicara dalam hatinya sendiri.


Tanpa pikir panjang lagi, mengingat tentang kondisi lemah sang istri Saga yang tidak menemukan Juni didalam kamar dan dikamar mandi segera keluar dari klinik untuk mencari istrinya.


Saga yang terlihat sangat khawatir dan panik karena Juni entah pergi kemana, berlari untuk berusaha mencari Juni dan menyusul Juni.


Matanya terlihat sangat fokus mencari sosok Juni didalam gedung.


Setelah merasa kalau didalam gedung masih sepi dan tidak memungkinkan kalau ada Juni disana, Saga memilih untuk mencari Juni keluar dari gedung.


Saga berjalan pelan sambil terus menoleh kiri dan kanan mencari keberadaan Juni.


Saga merasa kecewa dan tak tahu lagi harus kemana karena orang yang dia cari tak kunjung dia temui.


"Kamu kemana sich yank? " kata Saga dalam hati lagi.

__ADS_1


"Tiba-tiba hilang begini" kata Saga lagi.


"Duhh,,, aku harus kemana nyari dia" sambil mengusap rambutnya dan sesekali menarik rambutnya sendiri karena merasa sangat frustasi.


__ADS_2