
"Cincin kamu mana?" kata Saga.
"Tuhan, gimana ini? " kata Juni dalam hati dan mengingat kalau terakhir dia menaruh cincinnya ditas, namun tasnya sedang berada dikursi yang dijaga Trala.
"Eeeeeeee,," kata Juni tak berani memberitahukan Saga yang sebenarnya kalau sebenarnya dia sengaja melepas cincin agar tak ditanya-tanya oleh orang karena letak cincin itu dijari manis Juni.
"Apa? mana cincin kamu? " Saga sudah merasa sangat kesal dengan istrinya terus saja mendapati Juni menambah kesalahan demi kesalahan.
"Cincin kamu mana?" teriak Saga. Saga untuk pertama kalinya berteriak dengan Juni bukan karena masalah bunga dibanting lalu dirusak atau masalah cincin yang gak ada dijari manis Juni tapi kemarahan Saga sebenarnya saat Juni membiarkan teman lelakinya menyentuh roknya. kesalahan itu yang membuat Saga marah.
Saga tak mendengar kata jawaban yang terdengar dari mulut Juni, Saga mengambil lengan Juni dan mendorongnya ke dinding dengan sedikit kasar.
"Auuuu om sakit" kata Juni.
"Aku bingung sama kamu, aku sudah gak tahu harus bersikap apa sama kamu" Saga memegang erat pergelangan tangan Juni.
"Aku udah melakukan syarat yang kamu berikan tapi apa yang aku dapatkan, cuman pertahanan diri dan penolakan kamu yang terlihat sedikit nyakitin aku" kata Saga dengan emosinya yang sudah akan meluap tapi masih bisa tertahan.
"Syarat apa? Om tidak mengikuti syarat yang aku ajukan. Semua itu cuman kebohongan" kata Juni
"Kamu minta empat syarat dan aku sudah berikan" kata Saga dengan matanya yang merah.
"Kamu minta terus sekolah dan sekarang buktinya kamu sekolah memakai seragam" Saga memegang baju seragam Juni untuk memperlihatkan syarat yang dia berikan sudah saga lakukan.
"Kamu minta untuk merahasiakan pernikahan, sampai sekarang aku gak ngomong sama siapa-siapa" lanjut lagi Saga
"Om lupa" kata Juni
"Apa?" tanya Saga
"Empat syarat yang aku inginkan dari Om tapi hanya satu yang tidak Om bisa berikan. Syarat ke tiga yang bilang kalau masing- masing tidak boleh ikut campur dengan urusan pihak lainnya tapi apa? Om selalu ikut campur masalah aku dan selalu ngikutin aku"
__ADS_1
"Itu karena syarat kamu yang itu berbanding terbalik dengan satu syarat yang aku berikan" kata saga.
"Aku hanya ingin kamu menjadi istri yang baik, itu saja" lanjut Saga dengan kemarahan yang sudah terlihat dimatanya.
Juni terdiam tak bisa membalas perkataan Saga dengan jawabannya. Saga kembali lagi ke pokok inti masalah yang dia permasalahkan.
"Istri baik apa yang ngebuat seorang laki-laki yang bukan suaminya menyentuh roknya" kata Saga.
"Kapan?" tanya Juni setelah mendengar perkataan Saga.
"Kamu kira aku buta, aku lihat kamu tadi kayak gimana sama teman pria kamu" kata Saga.
Juni mengingat lagi kejadian dirinya yang tertumpah minuman botol yang Tomi berikan tapi dia tidak tahu Saga tahu kejadian itu dari mana. Kalau Saga melihat kejadian itu berarti Saga berada dalam aula yang sama dengannya.
Juni tidak peduli dengan perkatan Saga, dia meronta minta tangannya dilepaskan Saga. Saga mendorong lagi Juni didinding, pergelangan tangan Juni diangkat keatas kepala Juni. Juni yang merasa kalau Saga yang dia sering kerjai tidak seperti Saga yang sebelumnya. Mata Saga memerah. telinga Saga juga memerah. Sorot matanya sangat menakutkan.
"Om mau apa?" tanya Juni
"Kamu nanyak lagi suami kamu mau apa?" jawab Saga dengan pertanyaan lagi.
"Aman" kata hati Juni yang sudah berprasangka kalau Saga akan melakukan sesuatu kepada dirinya saat itu. Namun Juni tidak benar-benar merasa aman tak kala Saga menuntunnya kearah yang tidak mungkin orang datangi. Arah gudang sekolah yang berada dibelakang toilet perempuan.
"Kita mau kemana? " tanya Juni.
"Kamu nanyak aku mau apa sama kamu" kata Saga.
"Aku akan bawa kamu" Saga yang sudah berada digudang. Gudang yang sangat gelap hanya ada sedikit cahaya disana. Gudang dengan di penuhi debu. Saga menarik pergelangan tangan Juni agar tubuh Juni mengikuti tarikkan tangan Saga yang seolah menyuruhnya masuk kedalam gudang yang gelap.
"Sumpah Om ini gak lucu, Om mau apa dari aku?" tanya Juni berteriak.
"Kalau kamu berteriak semua orang bakalan tahu kita berdua disini dan sudah pasti kamu harus siapkan sebuah alasan yang masuk akal" kata Saga
__ADS_1
"Aku gak mau" kata Juni sambil mencoba untuk melarikan diri berusaha keluar dari gudang dan berusa menghindar menjauhi suaminya.
Saga menarik lagi pergelangan tangan Juni mendekat kearahnya. Juni tetap tidak mau diam saja melihat Saga memperlakukannya seperti itu. Juni memukul perut Saga dengan tinjunya, tapi Saga lebih dahulu mengambil tinjuan tangan Juni dan menarik tubuh Juni mendekat dengannya
.
"Om mau apa? ini gak lucu om" kata-kata itu terus saja terulang dibibir Juni. Saga dengan rasa marahnya yang sudah benar-benar memuncak tetap memegang erat kedua pergelangan tangan Juni dengan dua tangannya. Sekuat-kuatnya Juni meronta masih bisa diimbangi oleh Saga. Setangkai bunga mawar yang masih saga simpan disaku celana belakang Saga yang harusnya menjadi kejutan terakhir dari Saga jatuh dilantai.
Saga dan Juni mendengar kalau ada sosok suara
pria yang memanggilnya. Juni tahu kalau pria itu adalah Tomi.
"Juni" panggil tomii
"Juni" panggil sekali lagi Tomi
"To...... " Juni berusaha berteriak memanggil nama Tomi, namun tangan Saga sudah berhasil menutup mulut Juni. Juni berusaha memanggil tomi untuk setidaknya bisa menolongnya dari Saga.
Saga berbisik "Kalau teriak lagi aku pastiin semua orang akan tahu kita ini suami istri" Saga mengancam lagi Juni. Juni diam mendengar ancaman itu namun dia tidak mau hanya diam dan menuruti perkataan serta ancamam Saga.
Juni berusaha berteriak memanggil nama Tomi agar bisa menolongnya dari suaminya sendiri.
"To....... " suara panggilan Juni terhenti saat Saga menyumpalnya dengan bibirnya sendiri. Saga mencium bibir Juni agar bisa diam dan tidak berteriak lagi.
Saga mendorong tubuh Juni kedinding sambil terus mencium bibir mungil Juni. Setangkai mawar merah milik Saga yang terjatuh dan ada dilantai terinjak-injak oleh sepatu dari Juni dan Saga. Saga terus mencium Juni hingga suara panggilan Tomi menghilang.
Juni kaget. Mata Juni melotot. Juni bengong. Expresi wajah datar, seolah tidak menyadari apa yang Saga lakukan pada dirinya. Pikiran Juni seolah bertanya "Ini apa".
Juni tetap berdiri tanpa suara, tanpa gerakkan seakan energi tubuhnya menghilang.
Mata Saga terbuka dari pejamannya tak kala dirinya tidak merasakan balasan ciuman dari Juni. Saga mendapati mata Juni melotot kearah matanya, Saga memejamkan matanya lagi dan menikmati sendiri bibir Juni. Tangan Saga dia lepaskan dari pegangan erat pergelangan tangan Juni karena tangan Juni tidak bergerak sama sekali. Tangan kanan Saga mengusap mata Juni agar bisa terpejam merasakan sensasi ciuman yang hanya dia rasakan sendiri, namun Saga tak mendapati bibir Juni bereaksi. Setelah mata Juni diusap Saga barulah dia menyadari sesuatu yang telah Saga lakukan padanya. Juni mendorong tubuh Saga menjauh dari dirinya. Kakinya menendang ******** Saga. Repleks Saga membungkuk berteriak kesakitan. Juni berlari keluar gudang dengan sudah air mata mengalir dengan derasnya.
__ADS_1
Saga berdiri lagi sambil memegang arah depan kelelakiannya dan melihat Juni pergi meninggalkannya sendirian di gudang. Saga mengusap bibirnya dengan sekali usapan. menggunakan punggung telapak tangannya membersihkan sisa kenikmatan bibir yang dia rasakan.
Saga berpikir kalau saat Juni dia cium seolah- olah Juni memperlihatkan expresi seorang gadis yang baru saja melakukan ciuman pertama.