AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Tidur Tertundanya...


__ADS_3

Saga berjalan terus sambil sesekali berlari untuk mencari Juni.


Saga yang tak tahu lagi harus berbuat apa hanya bisa mengingat satu nama yang bisa membantunya yaitu Angga.


Saga harus menghubungi Angga pagi itu untuk membantunya mencari istrinya sendiri.


Saga merogoh kantong celananya dan untung saja sebelum keluar dari ruang klinik dia ingat membawa ponsel.


Dengan cepat jari tangannya menekan tombol layar ponselnya mencari nama kontak Angga dan sambil berjalan tetap mencari istrinya.


"Haloo Sag" sapa Angga yang ada di sambungan seberang sudah menerima panggilan dari Saga.


"Kamu dimana Angga? " tanya Saga sebelum menjelaskan maksudnya menghubungi Angga.


"Lagi dirumah Saga, aku baru bangun dan dering ponsel dari panggilanmu berhasil menjadi alarm buat aku. Makasi udah bangunin aku" kata Angga yang sebenarnya sedikit kesal pagi- pagi buta sahabatnya menghubunginya.


"Maaf brow, aku ganggu kamu pagi-pagi" kata Saga.


"Hmmmmm,,, kamu kenapa?" kata Angga.


"Aku mau minta tolong" kata Saga.


"Kenapa lagi Saga, " terdengar suara Angga panik karena kalau sudah mendengar kalimat minta tolong dari Saga, sudah pasti sahabatnya itu sedang dalam kesusahan.


"Aku mau minta tolong Angga, tapi susah aku jelasin. Panjang banget" kata Saga ragu.


"Intinya aja" Angga penasaran, dia duduk dari rebahan manisnya di ranjang.


"Ok,,, Aku mau minta tolong" kata Saga lagi.


"Bisa gak kamu langsung ke intinya, aku jadi tambah bingung denger kamu dari tadi ngomong minta tolong tapi gak jelasin kamu lagi kenapa" kata Angga mulai sedikit kesal antara dia panik dan penasaran sahabatnya lagi kenapa.


"Si Juni..... " kata Saga.


"Si juni kenapa lagi" tanya Angga.

__ADS_1


"Si Juni hi.......... " Saga yang ingin mengatakan kalau Juni hilang, sontak menghentikan langkah dan kata-katanya tak kala matanya tertuju pada sosok wanita berpakaian baju pasien yang sangat dia kenal sedang duduk dipemberhentian bus sambil terlihat sedang melamun.


"Kok gak jadi ngomong, si Juni hi....... hi apa?" tanya lagi Angga yang penasaran tentang apa yang akan dikatakan Saga karena suaranya tiba-tiba tertahan di kata yang belum lengkap keluar dari mulut Saga.


"Emmmm,,, gak jadi Angga sudah ketemu. Makasi ya!!!" kata Saga kepada Angga disambungan telepon dan langsung mematikan panggilan telepon karena istrinya yang dia cari sedang ada didepan matanya.


"Tut,, tut,, tut,,, " suara sambungan telepon yang terputus setelah Saga mematikan langsung panggilan yang dia lakukan dan meninggalkan Angga disambungan seberang.


Angga yang belum mendengar dari mulut Saga langsung, tentang apa yang terjadi sebenarnya, merasa sudah tahu kejadian yang sedang menimpa sahabatnya itu apalagi kalau bukan perselisihan kecil dengan sang istri.


Angga tersenyum manis dengan dua ujung bibirnya melebar. Karena Angga merasa sudah tak khawatir lagi dengan Saga dia kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Angga masih merasa ngantuk. Tadi malam dia pulang sangat larut malam sekali apalagi sampai dirumah dia tak langsung istirahat. Angga meluangkan waktu lagi untuk menghubungi Rose. Angga dan Rose saling chat hingga kantuk benar- benar menghinggapi mereka berdua dan alhasil paginya Angga bukannya bersiap-siap untuk pergi bekerja malah dia melanjutkan tidurnya yang tertunda.


Diseberang sana masih ada Saga yang melihat Juni terduduk, Saga menghampiri Juni yang masih terlihat pucat. Dari arah samping, Saga memanggil Juni seolah menyadarkannya dari lamunannya.


"Yank" panggil Saga yang sudah berdiri dan berada disamping Juni. Juni sontak kaget dan menoleh kearah atas. Juni tak jelas melihat wajah Saga karena sinar matahari pagi tepat berada diatas kepala Saga sehingga wajah Saga terlihat hitam. Namun dari suaranya, Juni tahu kalau itu suara suaminya yang tak ingin dia lihat dan orang yang sangat dia ingin hindari hari ini.


"Yank,,, pulang yuk..! " ajak Saga yang masih tak tahu maksud Juni menghilang tiba-tiba dari pandangannya.


Juni berdiri dengan wajah merah, warna wajahnya berubah merah karena menahan amarah dirinya. Tanpa suara dan jawaban atas ajakan Saga, Juni berbalik arah sambil melangkahkan kakinya ingin meninggalkan Saga.


"Lepasin" teriak Juni sembari tangannya menghempas tangan Saga yang memegang pergelangan tangannya.


Saga kaget, reaksi dari Juni sama sekali tak dia prediksi akan semarah itu padanya.


"Kenapa yank" Saga bertanya sambil kembali lagi meraih pergelangan tangan istrinya yang terhempas. Saga seakan tak tahu alasan kemarahan Juni, padahal yang Saga takutkan adalah saat Juni marah dan kembali membencinya.


"Jangan pegang aku Om" ucap Juni marah.


"Ok,, Ok,,, Ok,,, kamu kenapa sampai kayak gini" ucap lagi Saga.


"Masih sempat Om nanyak sama aku" kata Juni.


"Pikir sendiri" lanjut imbuh Juni dengan raut wajah marah dan membuang muka pada Saga.


"Iya kamu kenapa marah?" tanya Saga.

__ADS_1


"Hehh" Juni tersenyum sinis, "Om pikir aku gak bakalan marah kalau Om bohongin kayak gitu" imbuh Juni lagi.


"Aku bisa jelasin yank" kata Saga mulai membungkuk dan memegang dua pergelangan tangan Juni.


"Lepasin" teriak Juni lagi.


Saga melihat area sekitar dan masih tak ada orang yang terlihat didekat mereka. Saga berkata "Aku jelasin semua tapi gak disini, ikut aku ayok" ajak Saga.


"Aku gak mau" kata Juni.


"Yank, gak usah kayak gini. Kita bisa ngomong baik -baik" ucap Saga halus.


"Aku gak mau lagi mendengar alasan bohong untuk menutupi kebohongan Om yang lain" Juni menunjuk jari telunjuknya lagi tepat diwajah Saga.


"Aku sempat bilang kalau aku gak suka dibohongi. Aku muak sama Om" Juni melangkah lagi ingin kembali meninggalkan Saga.


Saga berlari dan mendahului langkah Juni, dia membalik badannya setelah berada didepan Juni. Sekarang mereka berhadapan.


"Ok,,, aku minta maaaf, aku gak bakalan kayak gitu lagi. Aku terpaksa bohong biar kamu itu nerima aku dan itu cara terakhir aku buat kita bisa jadi saling sayang"


"Dengan bohongin aku,,, lucu Om" kata Juni. Saga kembali memegang pundak Juni yang ada dihadapannya.


"Plakkkk" tamparan keras terdengar dari pipi Saga. Juni menampar pipi Saga sangat keras hingga membekaskan warna merah dipipi kanannya.


"Aku udah bilang jangan sentuh aku. Aku gak suka dan aku benci Om" ucap Juni kepada Saga yang masih terdiam karena tamparan keras Juni padanya.


Sambil menunduk Saga berkata "Haruskah kayak gini Jun"


"Om yang bikin semuanya jadi kayak gini dan aku gak suka" kata Juni kembali berteriak didepan Saga dan refleks saking marahnya tangan Juni mendorong dada bidang Saga hingga membuat Saga terjatuh. Entah kenapa seorang Saga seolah tak punya tenaga karena mendengar perkataan Juni padanya walau dorongan Juni sangat lemah.


Dorongan tangan Juni malah membuat Juni kaget, dia tak bermaksud membuat Saga sampai terjatuh dan tersungkur ditanah seperti yang dia lihat sekarang. Namun dia juga tak mau menolong Saga yang terjatuh oleh dorongannya. Tanpa berpikir panjang lebar, Juni melangkah dan hanya melewati Saga yang masih duduk dibawah.


Melihat langkah Juni hanya akan melewati dirinya, Saga tak tinggal diam. Saga meraih satu kaki milik Juni dan memeluknya sambil berkata "Yank,,, maaf. Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan. Itu semua aku lakukan karena aku beneran cinta sama kamu dan itu juga aku tak sengaja melakukannya. Kebohongan itu semua memang tanpa rencana"


"Lepasin gak Om" kata Juni.

__ADS_1


"Aku cuman niat buat ngerjain kamu, tapi aku juga gak tahu expresi kamu bakalan percaya seperti itu. Demi apapun aku beneran cinta sama kamu yank. Maafin aku" ucap Saga lagi merasa. menyesal dan bersalah.


__ADS_2