
Juni dan Tomi sudah berada didepan kamar hotel yang Trala sudah intruksikan.
Juni masih saja memikirkan tentang hal yang baru saja dia saksikan.
Juni masih penasaran dengan sosok pria yang sedang dipeluk oleh Lisa.
Juni sempat berpikir kalau melihat dari postur tinggi badan, pria itu sangat mirip dengan suaminya si Saga.
Namun lagi-lagi Juni menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran yang aneh dibenaknya.
"Tidak mungkin Saga seperti itu," Juni memikirkan kalau Saga sedang berada satu hotel dengan Lisa dan pasangan tadi yang Juni lihat adalah suaminya dan kakaknya sendiri.
Dari itu Juni menyesal tidak menerima pinjaman cashan dari Tomi, andaikan dia menerima mungkin ponselnya bisa dia gunakan untuk menghubungi suaminya saat ini.
"Jun, Jun" panggil Tomi menyadarkan Juni dari pikiran yang banyak terlintas tentang suaminya.
"Oooh iya. Ada apa Tomi?" tanya Juni.
"Kamu yakin ini kamarnya" tanya Tomi kepada Juni yang juga merasa tidak yakin.
"Kayaknya seperti itu. Ponsel kamu mana? " tanya Juni.
"Buat apa Jun? " balik tanya Tomi.
"Udah sini aja! Aku mau mastiin ini kamarnya udah bener atau belum? " kata Juni.
Tomi memberikan ponselnya kepada Juni dan dengan cepat tangan Juni sudah mengambil ponsel milik Tomi.
Juni mengotak atik ponsel Tomi mencari nomer kontak Trala dan mencoba menghubungi Trala tanpa sepengetahuan Tomi.
Juni mengabarkan kepada Trala bahwa mereka sudah ada didepan kamar hotel yang Trala katakan.
Juni juga menanyakan apakah didalam sudah siap menyambut kedatangan mereka berdua.
Trala segera membuka kunci pintu kamar hotelnya dari dalam agar Tomi bisa langsung membuka dan masuk kedalam kamar hotel.
Tomi yang ada disamping Juni masih tidak menyadari kalau hari itu dirinya akan diberikan kejutan.
Juni yang sudah tahu kalau didalam Trala dan kawan- kawan sudah bersiap menyambut kedatangan mereka akhirnya mengakhiri panggilan telepon.
"Gimana Jun,,?" tanya Tomi.
"Gimana apanya? " tanya lagi Juni.
"Ini benar gak kamar teman kamu yang kata kamu kenal sama aku" kata Tomi.
"Benerlah, Kamu gak denger apa tadi suara pintu dibuka. Kalau gak percaya buka saja sendiri. Dia udah nungguin kita didalam" kata Juni.
"Yakin Jun,,, " tanya Tomi.
"Yakinlah " jawab Juni.
Tomi meraih gagang pintu kamar dan membukanya perlahan. Tomi memasuki kamar yang gelap, Tomi masih saja ragu karena kamar itu tidak seperti ada penghuninya. Tomi berhenti sejenak dan menoleh kearah Juni yang ada dibelakangnya.
__ADS_1
*
*
*
Saga berusaha mencari kemana Juni pergi.
Dia mengejar kearah terakhir Saga lihat. Saga menelusuri lorong hotel yang dia pastikan kalau Juni melewati lorong itu. Dan akhirnya ia menemukan Juni dilorong hotel tepat disebelah lorong kamar hotel miliknya. Dari kejauhan Saga melihat Juni tersenyum dengan manisnya dan mendorong pelan tubuh Tomi untuk masuk kedalam kamar lebih dalam lagi.
"Apa-apaan si Juni, kenapa dia seperti itu" pikiran Saga sudah campur aduk antara tidak ingin mempercayai pikiran jahatnya tentang istrinya tapi juga tidak ingin langsung tidak percaya sesuatu yang dia lihat. Dengan langkah kaki yang sangat berat, Saga melangkah mendekati kamar tempat Juni masuk dengan Tomi.
"Ngapain Juni masuk kekamar hotel dengan Tomi," rasa cemburu sudah memenuhi isi kepalanya. Wajahnya memerah dipenuhi amarah. Jantungnya berdebar. Tangannya mengepal. Langkahnya terhenti sejenak sambil berkata dalam hati "Gak mungkin, istriku gak bakalan seperti itu"
Saga harus memastikan setengah isi kepalanya tidak benar adanya, dia harus melihat Juni didalam kamar dengan Tomi sedang apa. Kakinya kembali lagi bergerak mendekati kamar hotel.
Didalam kamar yang sudah tertutup rapat, Tomi merasa sangat aneh karena tidak ada sama sekali penghuni kamar yang menyambut dirinya dengan Juni, jangankan untuk menyambut untuk menyalakan lampu saja tidak ada.
"Juni, kita salah kamar kayaknya" kata Tomi. Perkataan Tomi itu dibarengi dengan nyala lampu kamar serta teriakan selamat ulang tahun dari para teman- teman sekelas Tomi.
Saat itulah Tomi baru menyadari dirinya sedang diberikan kejutan hari jadinya.
Tomi melihat sekelilingnya kalau para teman-temannya yang masih menggunakan seragam sekolah dilengkapi dengan segala atribut ulang tahun.
Terompet untuk merayakan ulang tahun Tomi berbunyi.
Trala mendekat diikuti teman kelas Tomi yang lain membawa sebuah kue ulang tahun dengan sudah dihiasi lilin yang menyala.
Semua orang disana menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepada Tomi.
Permintaannya hanyalah untuk bisa menjadi kekasih dari Juni. Lilin yang masih menyalapun di tiup oleh Tomi dan semua teman- temannya ikut bersorak gembira.
Mereka satu persatu menyelamati Tomi dan Tomi juga tak lupa mengucapkan terimakasih kepada teman- temannya karena sudah mau merayakan hari jadinya.
Bel kamar hotel berbunyi. Trala dan Juni yang masih berdiri saling pandang.
"Kamu ngundang teman lagi Jun? " tanya Trala.
"Gak lah, semua teman kita udah disini semua kan. Mungkin room servise" kata Juni.
"Kalian ada yang mesan sesuatu gak? " tanya Trala sambil melihat teman- teman yang lain.
Teman mereka yang lain serentak menjawab tidak. Trala menaruh kue yang masih dipegang ditangannya dan akan berjalan melangkah membukakan pintu kamar, namun Juni segera mencegah temannya itu.
Juni mengatakan kalau Trala lebih baik duduk dan biar dirinya yang membuka pintu kamar hotel karena jaraknya dengan pintu lebih dekat.
Kecuali Juni, teman- temannya yang lain meneruskan acara yang sudah mereka persiapkan. Juni membuka pintu kamar hotel dan mendadak matanya melotot. Kaget. Ia melihat suaminya ada didepan pintu kamar dengan wajah yang terlihat tidak senang.
"Om Saga, ngapain disini" tanya Juni.
Saga yang akhirnya bertemu dengan Juni juga terlihat kaget, ternyata yang dia pikirkan salah. Juni tidak berdua didalam kamar dengan Tomi. Kamar itu dia lihat sudah dipenuhi banyak orang dan sepertinya sedang melakukan perayaan ulang tahun.
"Gak ada Jun, tadi aku lihat kamu jalan kesini jadi aku ikutin" kata Saga menjelaskan dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Tuhkan bener, aku selalu kamu buntuti" kata Juni.
Saga tak lagi mendengar apa yang diucapkan Juni. Ketakutan mulai menyerang Saga. Dia merasa agak khawatir melihat banyak sekali orang yang ada didalam kamar.
"Siapa jun? " tanya Trala yang mendekat kearah Juni.
"Ohhh Om Saga" kata Trala.
"Tomi, ada Om Saga disini" teriak Trala sehingga semua teman- teman sekelasnya memandangi arah luar pintu kamarnya.
Para wanita yang pernah melihat Saga merasa sangat senang karena sosok om ganteng ada dipintu kamar hotel.
Tomi mendekat kearah Saga, tidak hanya Tomi semua orang yang ada dikamar hotel berjalan mendekat kerah Saga.
Saga sudah merasa tidak nyaman dengan hal itu. Pikirnya tidak akan lucu kalau penyakitnya kambuh didepan bocah- bocah SMA.
Dia tentu akan membuat Juni malu.
Tangan Saga sudah menggapai tangan Juni agar Juni tetap berada didekatnya, kalau dirinya pingsan Juni bisa langsung membantunya lagi seperti sebelumnya.
Mata saga kembali melotot tak kala melihat dirinya sudah didekati oleh teman Juni.
Juni merasakan ada yang aneh dari diri Saga saat itu.
Tangan Saga yang sudah menggapai tangannya terasa sangat dingin. Juni melihat tangan itu juga gemetar. Semakin erat pegangan tangan Saga menggenggam tangannya.
"Om Saga" panggil sebagian teman perempuan Juni kepada Saga yang sudah berada didepan Saga. Semua orang sudah berdiri didepan Saga. Saga mulai menjauhkan dirinya agar tak didekati lagi oleh teman- teman Juni. Saga perlahan mundur sedikit demi sedikit. Keanehan itu diperhatikan oleh Juni yang masih tangannya digenggam erat. Semakin Saga mundur semakin membuat teman- teman Juni terutama perempuan mendekat kearah Saga.
Saga yang terus saja mundur sudah tak bisa menghindar lagi karena punggungnya sudah membentur dinding lorong.
Teman-teman Juni merasa sangat gemas dan terpesona melihat ketampanan Saga, mereka tak tahu kalau Saga mempunyai penyakit gangguan panik jika dihimpit.
Semua teman perempuan dari Juni berlari mendekat kearah Saga mereka bertanya dengan pertanyaan mereka masing-masing
Teman 1 : "Om udah nikah? "
Teman 2 : "Om udah punya pacar ?"
Teman 3 : " Om boleh minta nomernya gak? "
Teman 4 : "Om mau gak jadi pacar aku?"
Pertanyaan- pertanyaan itu memenuhi isi kepala Saga, Saga mulai mengeluarkan keringat dingin disekujur tubuhnya.
Nafasnya mulai sesak jantungnya berdebar cukup cepat.
Saga mulai lemas. Kakinya sudah tak bisa menopang tubuhnya untuk berdiri.
Juni yang sudah merasakan keanehan didiri Saga langsung menggenggam balik tangan Saga.
Tangan Juni di lingkarkan dipinggang suaminya untuk berusaha memberikan kekuatan kepada kakinya untuk tetap berdiri.
"Om, tenang ada aku disini" kata Juni
__ADS_1
Saga melihat mata yang berbicara memberikan kekuatan kepada dirinya kala itu. Entah kenapa rasa lemas, jantung yang berdetak tak terkontrol dan nafasnya yang sesak hilang dari diri Saga. Saga bisa bernafas seperti semula. Jantung Saga berdetak normal. Lemasnya tak terasa lagi dan timbul kekuatan dari kakinya untuk terus berdiri.