AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Ikhlas dan Berserah


__ADS_3

Tak terasa tangisnya malam itu membuat dirinya merasa lelah hingga matanya tertidur dengan sangat lelapnya. Juni tertidur dengan sesekali masih sesegukan dalam tidurnya. Kamarnya yang tadinya sangat rapi dipenuhi dengan tisu yang berserakan bekas mengusap air matanya.


Saking lelahnya Juni malam itu hingga tak mendengar kalau mami dan ayahnya mencoba menggedor-gedor pintu kamarnya. Orang tuanya yang tidak mendapatkan respon dari Juni akhirnya memutuskan diri untuk kembali kekamar mereka.


Suami istri berbaring dalam ranjangnya dan masih membicarakan hal yang membuat mereka merasa aneh


"Yah, dari mana Pak Saga tahu kalau Juni adalah anak kita" kata Mami Sintia kepada Ayah Bram yang sedang melihat lampu yang berada dilangit-langit kamarnya.

__ADS_1


"Entahlah ma, setahu ayah. Ayah tidak pernah cerita kepada semua orang dan mama tahu Juni juga tidak mau kalau dirinya terexpos" ayah menceritakan tentang dirinya yang tidak sekalipun membagi cerita keluarganya dengan siapapun kecuali memang keluarganya yang lain sudah tahu dan juga sudah diwanti-wanti oleh Juni untuk tidak menceritakan kisah hidupnya, Ayah Bram menengok kearah istrinya yang ada disamping pembaringannya.


Selama ini, keluarga Bramanto tidak pernah mengungkapkan kalau mereka punya dua anak dari ibu yang berbeda. Bukan karena Bramanto malu atas aib perbuatannya dimasa lalu yang mungkin tidak diketahui orang lain tapi lebih kepada permintaan Juni yang memang tidak ingin kalau semua orang tahu dan membicarakan perbuatan ayahnya dibelakang.


Juni juga tidak mau kalau nanti banyak orang menggunjingkannya sebagai anak haram karena menurutnya baik itu didalam pernikahan ataupun diluar pernikahan tidak ada anak yang pantas disebut haram, yang haram itu bukan seorang anak yang terlahir tapi perbuatan ibu dan bapaknya yang harusnya tidak dibenarkan. Walaupun kenyataannya Almarhum ibunya dan ayahnya sempat menikah dan Juni terlahir dari hasil sebuah pernikahan tapi tidak semua orang akan tahu kejadian yang sebenarnya dengan backgraund Almarhum ibunya yang adalah orang ketiga dalam pernikahan Ayah Bram dan Mami Sintia.


Itulah yang juga menyebabkan Juni tidak pernah mau menghadiri acara-acara besar yang menyakut keluarganya. Juni juga tahu kalau banyak orang yang mengenal dirinya sebagai anak dari Baramanto dengan ibu yang bukan dari Mami Sintia mungkin Almarhum ibu kandungnya juga akan dicap sebagai perempuan yang suka menyakiti istri pertama dan itu tidak dia inginkan sama sekali.

__ADS_1


"Ya udah lah ma, kita tidur saja malam ini besok kita bicarakan lagi dengan junj" Ayah Bram menarik selimutnya dan menutup hampir semua tubuhnya namun setelah dia mengatakan hal itu bukan malah langsung memejamkan matanya, matanya tetap terbuka masih tersadar sembari melihat didalam selimut yang menutupi kepalanya.


Pikirannya sangat kacau sampai tidak bisa sama sekali tidur, dibukanya selimut yang menutupi kepalanya dan sudah mendapati sang istri tercinta telah tertidur dengan pulas. Dipandang wajah istrinya yang terlihat lelah dengan kriput tipis yang menggarisi wajahnya.


Wajah istri yang tidak pernah Bramanto rasakan sudah pernah dirinya membahagiakan istrinya itu. Wajah yang sangat sering dia sakiti tapi tetap saja menemaninya disaat masa masa sulit hidupnya salah satunya saat sekarang dirinya mendapatkan masalah. Bram mengusap pelan wajah istrinya agar tidak terbangun karena belaian suaminya.


Sesekali dirinya melihat kearah jam dinding yang ada diatas dinding sebelah kanan tempat tidurnya. Saat itu jam sudah menunjukan pukul 04.00 dini hari dan dirinya masih tidak bisa tertidur karena masih mengingat perkataan Pak Saga yang memberinya waktu hanya sampai pukul 12.00 siang nanti.

__ADS_1


Walapun pikirannya sudah bulat bahwa tidak akan menerima syarat Pak Saga untuk menikahkan Juni dengan bos yang menaungi tempat toko dan stand pakaian serta sepatu di Mentari Departemen Store milik Pak Saga. Kepalanya masih buntu memikirkan cara yang lain, segala cara sudah dilakukannya dan setelah terus berusaha berpikir dirinyapun mengiklaskan apapun yang Tuhan hendaki. Ikhlas dan berserah adalah jalan terakhir yang Bram ambil setelah sudah melakukan segala cara yang dia bisa tapi tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.


Apapun yang akan terjadi semoga itu jawaban dari Tuhan atas semua yang terbaik yang didapati keluarganya. Jam sudah menunjukan pukul 05.15 dan Bram memutuskan untuk berusaha memejamkan matanya. Mata tua itupun terpejam dengan sendirinya saat rasa ikhlas dan berserah dia tanamkan dalam hati dan pikirannya.


__ADS_2