
Didalam perjalanan, Saga membuka percakapan dengan Juni yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Tangan Juni mengotak- atik sebuah aplikasi mangatoon, membaca sebuah novel dengan judul "Aku Cinta Om Dono"
"Yank.... " panggil Saga yang memperhatikan Juni sedari tadi hanya tersenyum sendiri sambil terus menggeserkan jari jempolnya membaca sesuatu yang terlihat sangat menyenangkan.
"Iya om," kata Juni menyahuti panggilan Saga namun tetap tak melihat wajah suaminya kerena Juni sedang asik membaca novel.
"Aku bakalan ketemu ma Ayah Bramanto nanti" kata Saga
"Kita udah janjian untuk main golf hari ini" lanjut imbuh Saga yang sudah melihat Juni memandangi dirinya.
"Kenapa om gak bilang" kata Juni
"Ini aku udah bilang" kata Saga
"Tapi telat, tahu gitu aku mening bolos aja hari ini, aku pingin ikut. Kangen sama ayah" kata Juni.
"Kamu bisa ketemu lain waktu yank" kata Saga
Juni kembali lagi memalingkah wajahnya merasa sangat kecewa karena tak bisa menemui orang tuanya.
Saga melihat kekecewaan istrinya saat memilih memalingkan wajahnya yang tak menjawab perkataannya yang terakhir.
Dering ponsel milik Saga pun berbunyi memecah keheningan saat Saga memandangi wajah Juni yang kembali tertunduk dan melihat ponselnya.
Saga menyalakan spiker dimobilnya untuk menerima panggilan ponsel yang adalah dari seorang Angga.
"Halo ngga,, " sapa Saga dipanggilan telepon.
"Sag, kamu gak kerja hari ini. Meeting bulanan mengenai laporan tentang keuangan kantor sebentar lagi dimulai. Semua kepala karyawan dibidang keuangan sudah ada diruang rapat nungguin kedatangan kamu aja" kata Saga menjelaskan situasi yang dia alami dikantor.
"Astaga, aku lupa bilangin kamu Angga, kali ini kamu bisa gak wakilin aku buat ngecek laporan dari mereka?" tanya Saga
"Kenapa?" tanya Angga balik.
"Aku kayaknya gak bisa rapat sekarang, aku udah ada janji dengan mertuaku ngga. Dan gak bisa dibatalkan" kata Saga.
"Yakin gak bisa dibatalin, rapat ini penting lho" kata Angga
"Aku percaya kamu bisa wakilin aku" kata Saga
"Dan aku gak bisa batalin buat gak ketemu sama Ayah Bramanto. Ini juga jauh lebih penting Angga" kata Saga meyakinkan Angga kalau hari ini dia tidak kekantor.
"Ya udahlah kalau begitu" kata Angga
Saga mengakhiri panggilan dari temannya dan kembali lagi menatap arah depan jalanan, dan disampingnya sudah ada Juni yang sedari tadi mendengar percakapan Saga dan Angga.
Pikiran Juni mengetahui kalau acara dengan ayahnya yang juga adalah ayah mertua Saga jauh lebih penting dari acara rapat kantor yang jelas-jelas Angga sudah mengatakan kalau rapat kali ini penting.
Juni tahu kalau demi itu semua Saga rela tidak ikut rapat hanya untuk menemui ayahnya.
Juni sedikit terkesan dengan percakapan Saga, namun tetap tak memandang wajah Saga.
\=\=> CONTOH VISUAL SEKOLAH JUNI
__ADS_1
Mobil Saga sudah memasuki area halaman sekolah Juni. Saga menghentikan mobilnya tepat ditengah lapangan sekolah. Juni yang masih asik kemainkan jarinya keatas dan kebawah tak menyadari kalau sudah sampai disekolahnya.
"Yank" panggil lagi Saga.
"Sudah sampai" lanjut Saga.
Juni melihat sekitar dan sudah mendapati dirinya ditengah halaman sekokah. Juni melihat lagi Saga dan berkata "Om kita udah nyampe, aku langsung turun aja Om" kata Juni sudah membuka pintu mobil namun tak langsung bergerak turun.
Dia kembali melihat Saga dan mendapati Saga sudah menyodorkan tangannya agar Juni menggapai telapak tangan Juni dan menciumnya sebelum pergi.
Kali ini Juni tak seperti biasa dia sangat kenal kode itu dan segera memegang tangan Saga dan mencium punggung telapak suaminya.
Saga tersenyum melihat Juni sudah tak kasar padanya, dan kejahilannya membawa hasil yang sangat memuaskan untuk hubungan mereka berdua.
"Juni" teriak Trala sambil mengetok kaca pintu mobil yang terbuka. Trala tiba- tiba sudah ada didekat mobil merah yang masih ada Juni dan Saga saling berpegangan tangan.
Sontak Juni kaget dan segera melepaskan pegangan tangan Saga.
Juni menoleh kearah belakangnya dan benar saja sudah ada Trala yang suaranya sangat khas dan sangat Juni kenal ada diluar mobilnya.
Karena panggilan nama Juni diteriakkan oleh Trala membuat dua insan yang masih ada didalam mobil gelagapan.
Mereka salah tingkah. Takut ketahuan hubungan yang sudah mereka simpan rapat-rapat.
Juni segera keluar dari dalam mobil dan berpura-pura kaget melihat Trala didepannya.
"Sekolahlah say,,, emang aku kesini mau ngapain kalau gak sekolah" kata Trala menjawab pertanyaan Juni yang aneh.
"Siapa?" tanya Trala sambil menunjuk arah dalam mobil merah yang ditumpangin Juni.
"Oooooh itu anu, ini anunya" kata Juni yang tak tahu harus berkata apa kepada Trala.
Saga keluar dari dalam mobil merahnya dan dengan senyum khasnya dia tersenyum kearah teman Juni yang memang penasaran dari tadi temannya sedang satu mobil dengan siapa. Trala yang sudah melihat saga tersenyum kearahnya menatap Juni seakan tatapannya penuh dengan pertanyaan.
Saga mendekat kearah Juni dan Trala sambil menyapa Trala pagi itu dengan hanya berkata "Haloo"
"Jun, inikan Om Saga teman mami kamukan?" kata Trala yang sudah menyodorkan tangannya kearah saga. Saga menggapai tangan Trala dan untuk secara resmi berkenalan disana "Aku Saga," kata Saga.
"Kalau Om dilihat dekat, ganteng juga ya! Aku Trala om. Panggilan di sekolah tralalala. Aku sahabatnya Juni. Salam kenal Om ganteng" jelaskan Trala tentang siapa dirinya didepan Juni yang hanya bisa terdiam tak tahu harus berkata apa- apa lagi.
" Jun, betulkan Om ini ganteng? " tanya Trala menoleh kepada Juni langsung yang memecah keheningan Juni yang hanya bisa melihat Saga dan Trala berkenalan hari itu.
"Oooooo iya" kata Juni cepat, perkataan Juni membuat Saga tersenyum karena sangat terlihat kalau Juni sudah pasti merasa sedikit takut. Takut ketahuan semua yang telah terjadi antara pasangan suami istri itu.
Juni menarik tangan Trala yang masih menjabat tangan Saga, dan mendorongnya pelan sembari berkata "Trala, kamu tunggu aku di kelas"
"Kenapa? Aku mau cuci mata dulu disini" kata Trala yang masih melihat Saga dengan ketampanannya walaupun Saga hari itu belum mandi tapi aura gantengnya masih bisa terlihat oleh orang-orang sekitarnya.
Dan hari itu tak hanya Trala yang menatap Saga, para murid yang ada dihalaman sekolah juga menjadikan Saga pusat perhatian saat itu.
"Udah, tunggu aku dikelas" kata Juni.
__ADS_1
Trala tak lantas menuruti apa yang Juni katakan, dirinya malah menarik tangan Juni sambil berkata "Kita ke kelas aja samaan. Susah amet sich"
Juni yang tangannya sudah ditarik Trala berkata kepada Om Saga "Om, aku pergi dulu kekelas"
Saga hanya mengangguk mengiyakan perkatan Juni yang sudah perlahan berjalan meninggalkannya.
Juni terpaksa mengikuti perkataan Trala sambil wajahnya menoleh terus kebelakang menatap Saga yang masih tersenyum melihatnya sembari berkata tanpa bersuara kearah Juni "Buka tas"
"Apa?" tanya Juni sambil memberikan kode kepada Saga kalau dirinya tak mendengar perkataan Saga dari jauh.
Saga hanya bisa berteriak kepada Juni agar bisa Juni dengar perkataan Saga. Saga meneriakkan kata agar Juni ingat membuka tasnya.
Mendengar teriakan Saga, Juni yang juga merasa malu segera memalingkan wajahnya kearah depan tanpa menoleh lagi melihat suaminya yang masih saja berdiri menyaksikan punggung istrinya perlahan pergi meninggalkannya. Punggung Juni sudah tak terlihat lagi dimata Saga.
Dari arah belakang ada sosok suara lelaki yang menegur Saga hari itu.
"Pagi om" sapa Tomi yang ada dibelakang Saga.
Saga hanya menoleh kearah belakangnya dan menemukan seseorang murid yang sempat berhasil membuatnya cemburu karena kedekatannya dengan istrinya.
"Oh kamu" kata Saga
"Iya om, saya Tomi om, teman sekelasnya Juni" kata Tomi yang sudah merasa sangat senang bisa bertemu lagi dengan om dari Juni. Tomi berharap kalau suatu saat nanti omnya akan merestuinya kalau-kalau Tomi berhasil menjadikan Juni sebagai pacarnya.
"Jadi nama kamu Tomi?" tanya Saga.
"Ya om," jawab pendek Tomi.
"Kebetulan sekali, sini tom! Om mau bilang sesuatu antara sesama lelaki" ucap Saga
"Apa om?" tanya Tomi.
"Om minta sama kamu tolong jagain Juni dari gangguan para cowok disekolah" kata Saga kepada Tomi. Mendengar permintaan Omnya Juni, Tomi sangat senang karena sudah diberikan kepercayaan untuk menjaga ponakannya.
"Siap om" kata Tomi.
"Om gak mau kalau Juni pacaran sama siapapun, Juni masih sekolah jadi tidak Om ijinkan untuk menjalin hubungan dengan siapapun" kata Saga. Perkatan Saga yang terakhir membuat Tomi merasa sedih karena dari mulut omnya Juni terdengar kalau Juni tak diberikan ijin untuk mejalin hubungan dengan semua pria.
"Kenapa om? " tanya om penasaran
"Sekali tak boleh, ya tetap tak boleh" kata Saga
"Dengan siapapun om?" tanya Tomi.
"Tanpa terkecuali dengan siapapun" kata Saga kepada Tomi yang terus saja terdiam mendengar perkataan Saga.
"Ya sudah masuk kelas sana," lanjut imbuh Saga.
"Iya om" jawab Tomi.
Saga masuk kedalam mobilnya dan merasa sangat senang karena bisa mengerjai Tomi, teman dari Juni yang Saga tahu kalau Tomi mempunyai rasa ketertarikan kepada istrinya. Mobilnyapun melaju meninggalkan area halaman sekolah.
Catatan : Jika berkenan mohon dukung dengan sekedar like, love, rate bintang dan vote. Dukungan kalian berharga guys.......
__ADS_1