AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Saga dan Juni keluar kamar mandi bersamaan. Saga berusaha menghilangkan pikiran kotornya saat melihat istrinya hanya dibalut handuk yang melilit tubuhnya.


Saga memilih untuk berbaring santai diranjang. Saga mengambil ponselnya dan membuka aplikasi laporan penjualan semua cabang Store miliknya. Disela-sela waktu, Saga selalu sempat mengecek semua usahanya.


Juni membuka lemarinya dan mengambil baju miliknya. Saga sesekali mengintip Juni sedang sibuk wara wiri didepannya.


"Duh yank,,,, kamu sengaja atau memang gak tahu. Kamu tuch kayak lagi ngetes aku" kata Saga dalam hati yang melihat ponselnya lagi. Saga kembali berusaha tak menghiraukan Juni.


"OM, OM gak mandi? " tanya Juni.


"Gak yank, tadi siang dihotel aku udah mandi" jawab Saga.


"Itukan masih siang, sekarang udah malam Om" kata Juni.


"Gak usahlah yank, aku gak bawa baju ganti lagi." jawab Saga. Saga yang melihat Juni kembali lagi kedalam kamar mandi membawa baju dan perlengkapan yang lain yang dia ambil dilemari bertanya lagi "Kamu mau kemana yank? "


.


"Ke kamar mandi Om. Mau ganti baju" jawab Juni.


"Ganti baju di kamar mandi?" tanya Saga heran.


"Iya Om" jawab Juni. Jawaban Juni membuat Saga sangat kecewa, dia pikir istrinya itu akan ganti baju didepannya tapi Juni malah memilih untuk ke kamar mandi.


"Tunggu bentar Om" Juni melangkah lagi menuju kamar mandi.


Saga yang melihat Juni melangkah masuk kamar mandi merasa sangat kecewa.


Di yang berbaring menelungkupkan badannya dan membuat badannya kaku.


Dia gemas. Ranjang dia pukul-pukul pelan dengan tangan kanannya.


Tangan kirinya menjambak rambutnya sendiri.


Saga merasa sudah seperti lelaki yang melihat bidadari menggoda dirinya namun tak bisa Saga belai. Usahanya selalu gagal saat dirinya berusaha menggoda istrinya sendiri.


Saga yang sudah kecewa hanya bisa memainkan ponselnya saja. Dia yang sudah merasa bosan terus saja gagal menggoda Juni membuka aplikasi game online yang menjadi favoritnya.


\=\=> CONTOH VISUAL JUNI HANYA PAKAIAN DAN RUPA BUKAN GAYA BERPOSE



Juni keluar dari kamar mandi sudah dengan berpakaian cantik.


Baju biru dipadu padankan bawahan rok putih membuat dirinya terlihat sangat girly dan cantik.

__ADS_1


Rambutnya disibakkan ke arah kanan.


Tanpa polesan make-up saja sudah membuat Juni terlihat cantik.


Mata saga terbelalak lagi melihat istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.


Tak henti-henti Saga terus melihat Juni dari saat dia keluar kamar mandi sampai juni duduk didepan meja hiasnya.


\=\=> CONTOH VISUAL TANGAN JUNI



Juni yang sudah duduk didepan cermin hiasnya mengambil bedaknya. Ia membuka bedak dan akan menggunakannya. Tanpa polesan bedakpun, sebenarnya Juni sudah bisa membuat Saga terpesona. Juni yang sudah selesai berdandan menatap Saga yang juga mencuri-curi pandang melihat Juni tanpa sepengetahuan Juni. Saat Juni melihat Saga, saga berpura-pura tak melihat Juni.


"Kok Om gak lihat aku yang udah cantik gini" kata Juni dalam hati.


Tak lama Saga yang memainkan game onlinenya berbicara "Yank,,, sini" sambil menepuk ranjang sampingnya agar Juni mau juga ikutan berbaring diranjang.


Juni segera beranjak dari kursinya dan mengikuti arahan Saga untuk tidur disampingnya sambil cemberut melihat Saga yang lebih mementingkan melihat ponselnya. Dan merekapun tetap berbaring diranjang Juni. Juni mengingat kalau masih ada hal yang perlu dia tahu yang juga membuatnya sangat penasaran.


"Om" panggil Juni.


"Iya yank" jawab Saga yang jari-jari tangannya masih menari dilayar ponselnya.


"Aku boleh nanyak gak? " tanya Juni.


"Masalah di hotel saat Om kayak mau pingsan didepan teman-teman aku" kata Juni.


"Ohh itu,,, Kamu juga sudah waktunya tahu" kata Saga.


"Tahu apa Om? " tanya Juni lagi.


"Tahu setidaknya sedikit tentang suami kamu" jawab Saga yang sudah tak memegang ponsel. Ponselnya dia taruh dimeja.


Saga menoleh Juni yang ada disampingnya. Pembicaran mereka saat ini akan menjadi pembicaraan paling serius yang pernah mereka lakukan sejak pernikahan terjadi.


"Aku siap dengerin Om, aku juga penasaran banget" kata Juni.


Saga memulai pembicaraannya menceritakan dirinya yang mempunyai phobia kalau dihimpit tiba-tiba oleh banyak orang.


Saga memberitahukan Juni kalau sampai itu terjadi dia akan bereaksi sama seperti pada saat Juni melihat dirinya dihotel saat semua teman- temannya menggerumuninya.


Saga tak menceritakan kalau itu bukan pertama kalinya Juni membantunya saat phobia Saga kambuh.


Juni menyela cerita Saga, dia sendiri malah menceritakan kalau dirinya juga pernah membantu orang dengan gejalan yang sama. Jadi pada saat Juni melihat suaminya dengan gejala itu Juni langsung menyuruh teman-temannya untuk menjauhi Saga dan memberikan ruang untuk Saga bernapas.

__ADS_1


Juni lagi-lagi menceritakan kalau orang yang dia tolong sempat dia bawa kerumah sakit. Mendengar itu Saga tersenyum karena yang Juni ceritakan itu adalah saat Juni menolong dirinya.


Saga tetap tak memberitahukan Juni bahwa yang Juni ceritakan itu ada disampingnya sekarang. Saga punya alasan untuk tak bercerita. Saga hanya ingin itu menjadi rahasianya sendiri tanpa perlu Juni mengetahuinya.


Juni baru menyadari itu sebabnya Saga keluar dari hotel, lebih memilih keluar dari pintu belakang karena kalau Saga keluar dari pintu depan sudah pasti akan bertemu dengan banyak orang.


Dan mungkin ceritanya akan berbeda lagi. Juni merasa sudah menjadi istri yang paling buruk. Juni tak tahu apapun tentang suaminya. Perasaannya sedih menatap Saga yang tak terduga mempunyai image sempurna ternyata punya phobia yang sangat simple.


"Om,, phobia Om ini mulai dari kapan dan kenapa?" Tanya Juni penasaran tentang suaminya.


"Ohhhh,, kalau aku cerita bakalan panjang yank satu malam kita disini mungkin gak bakalan cukup" kata Saga.


"Aku siap dengerin kok yank" kata Juni.


"Hmmmmmmm" Saga ragu-ragu.


"Ommmmmmmm" panggil manja Juni sambil menggenggam tangan Saga membuat suaminya itu luluh dan menceritakan awal mula dirinya terlahir sampai akhirnya harus berakhir hidup sendirian dengan hanya pengasuh dan temannya Angga di panti asuhan.


Cerita Saga sudah sangat berusaha dia singkat agar tidak terlalu panjang. Saga hanya menceritakan klimaks hidupnya. Kalau Saga menceritakan secara detail mungkin Juni akan sedih dan kasihan mendengar perjalanan hidup Saga yang tak mudah.


Tidak semua orang tahu perjalan hidup Saga. Hanya ada beberapa orang terdekat yang benar- benar tahu perjuangan hidup Saga. Sekarang bertambah satu lagi yang tahu kisah hidup Saga yaitu istrinya sendiri walaupun tak semua dan masih ada beberapa yang Saga tak ceritakan.


"Om" panggil Juni dengan sudah memegang erat tangan Saga dan memeluk tubuh suaminya.


"Iya" jawab Saga memandang jam dinding yang ada dikamar Juni. Saga berpikir sudah banyak waktu yang dia lalui sampai saat ini. Saga merasa sudah banyak kehilangan cinta dari orang yang dia sayang yang sudah mendahuluinya. Saga menatap Juni dan terlintas pikiran kalau dirinya akan berusaha untuk tidak merasakan kehilangan lagi khususnya rasa kehilangan untuk mencintai orang yang ada disampingnya yaitu istrinya sendiri. Saga mencium kening sang istri.


"Aku....." Juni yang ragu akan berbicara sesuatu memilih diam. Diamnya Juni tak melanjutkan kata dari mulutnya dibarengi dengan suara


"Tok,,tok,, tok" suara pintu diketuk oleh seseorang diluar kamar Juni.


"Siapa? " tanya Juni dalam kamar.


"Non ini Bibik, Tuan sama Nyonyah menyuruh Non dan Den turun untuk makan malam" kata Bik Oyah. "Makanannya sudah siap" lanjut imbuh Bik Oyah.


"Iya Bik, kita turun lagi bentar" jawab Juni.


"Om kita turun yuk" ajak Juni.


"Ayok, aku juga laper banget" kata Saga.


Merekapun beranjak dari ranjangnya dan segera turun keruang makan. Mereka turun dengan tangan yang saling bergandengan dan tak bisa terlepas. Mereka yang saling pandang melihat satu sama lain tanpa memperhatikan ruang makan.


Mami Sintia yang melihat anak dan mantunya turun dari atas langsung menyapa "Nak mari duduk, kita makan bersama"


Saga dan Juni kaget melihat sosok Lisa sudah duduk dimeja makan.

__ADS_1


"Hay,, adikku yang paling cantik. Kapan datang?" Lisa menyapa Juni yang baru turun dari lantai atas. Tentu saja Juni sontak merasa aneh. Masih jelas panggilan haram terdengar ditelinganya tapi sekarang Lisa sudah bersikap sangat manis padanya. Apalagi Lisa seolah-olah tidak pernah sama sekali berjumpa dengannya, padahal sore tadi mereka sempat bertemu dihotel.


__ADS_2