
Saga yang sudah balik kerumahnya segera bergegas membersihkan diri untuk bersiap- siap pergi menepati janji hari itu untuk menemui ayah mertuanya.
Saga yang sudah siap memakai baju olahraganya dan membawa lengkap peralatan olahraganya hari itu.
Saga menuruni anak tangga sambil terus melihat jam tangan mewahnya.
Saga berharap semoga dirinya tak terlambat kelapangan golf dan dia ingin kalau dirinyalah yang lebih dahulu sampai disana, karena merasa tak sopan kalau harus membiarkan ayah metuanya yang menungguinya.
Saga yang turun dari tangga menemukan bibik pengasuhnya ada di bawah.
"Oh Bik Tika, aku pergi dulu mau olahraga" kata Saga yang berpamitan kepada Bik Tika
"Den Saga gak makan? makanan udah siap lho dimeja makan" kata Bik Tika
"Gak usah Bik, aku makan diluar saja" kata Saga
"Hammmm dari pada makan itu mubajir bibik bagi- bagi aja sama karyawan rumah yang lain" lanjut imbuh Saga.
"Aku udah telat bik" kata Saga sambil terus melihat jam tangannya merasa dirinya akan telat kalau tak berangkat sekarang.
"Mang ujang mana bik?" tanya Saga untuk pertama kalinya memanggil supir pribadinya.
Setelah menikah Saga memang selalu kemana- mana tanpa diantar oleh supir pribadinya. Pekerjaan yang paling lenggang adalah menjadi supir pribadi Saga.
"Kayaknya ada didepan den, lagi nyuci mobil" kata Bik Tika menjelaskan dimana Mang Ujang.
"Oke, aku langsung cari Mang Ujang aja Bik. Aku jalan Bik" kata Saga.
"Iya den" jawab Bibik Tika.
Saga berjalan mencari supir pribadinya Mang Ujang, dan tanpa susah- susah saat Saga keluar dari rumah dirinya sudah mendapati Mang Ujang sudah berada didepan matanya sedang memandikan mobil merah kesayangan Saga.
"Mang Ujang" panggil Saga.
"Iya den"sahut Mang Ujang.
"Aku minta tolong dong" kata Saga
"Apa den" sahut Mang Ujang.
__ADS_1
"Tolong anter aku ke lapangan golf yang biasa" pinta Saga.
"Ayolah den,, " kata Mang Ujang.
Mang Ujang membukakan pintu belakang kepada tuannya dan Sagapun masuk memasuki mobil dipintu belakang yang sudah Mang Ujang bukakan. Mang Ujang berlari kepintu kemudinya dan segera menyalakan mobilnya untuk mengantar Saga ketempat yang dia inginkan.
Didalam mobil, Saga mengirimi pesan kepada Juni. Sebuah pesan yang mengatakan kalau hari itu Saga akan berangkat menuju lapangan menemui ayah mertuanya.
Saga seakan melaporkan semua yang dia lakukan hari itu.
Saga tak berharap mendapatkan balasan dari Juni karena dia tahu itu adalah jam dimana pelajaran disekolah pasti sedang berlangsung.
Namun tak begitu lama, pesan balasan dari Juni dia dapatkan.
Pesan Juni berisikan hanya kata "Ok" tapi yang membuat Saga senang adalah pesan itu diikuti dengan emoji senyum dengan pipi memerah. Betapa senangnya Saga dan berharap semua yang terjadi hari ini bukan sekedar mimpi.
"Mang Ujang, nanti kalau sudah sampai tolong bangunin aku ya" kata Saga.
"Iya den" jawab Mang Ujang.
Selama perjalanan menuju lapangan golf yang biasa Saga datangi, Saga tertidur terlihat sangat lelah. Mang Ujang yang melihat tuannya tertidur sangat lelap sengaja mencari jalan yang tidak rusak karena tak.l ingin membuat Saga terbangun dari tidurnya yang mungkin tidak lama.
Lama Mang Ujang membangunkan Saga akhirnya Sagapun terbangun dari tidurnya dan segera bergerak keluar dari mobilnya sambil berkata kepada Mang Ujang "Mang Ujang, makasi. Mang Ujang balik aja, jangan tungguin aku. Aku juga kayaknya bakalan lama" kata Saga.
"Iya den" kata Mang Ujang yang langsung kembali menyalakan mobiknya dan berjalan meninggalkan Saga sesuai dengan perintah Saga.
Saga berjalan perlahan dengan menggedong tas peralatan olahraganya dipunggung.
Baru saja memasuki area lapangan, Saga sudah disambut oleh ayah mertuanya yang sudah ada disana.
"Nak Saga" panggil Ayah Bram.
"Lho, ayah sudah disini" kata Saga yang kaget mendapati ternyata ayahnya mertuanya yang menungguinya.
"Iya, ayah sengaja datang cepat, takut Nak Saga nungguin lama ayah" kata Bramanto.
"Aduh, yah maaf dah membuat ayah nungguin aku" kata Saga
"Gak apa- apa nak, ayah kok yang datang kecepatan" kata Ayah Bramanto.
__ADS_1
"Mari kita mulai saja" lanjut imbuh Ayah Bramanto.
Merekapun sudah berada ditengah lapangan golf untuk mulai bermain golf.
Mantu dan mertua itu bermain seperti biasa sambil berbincang tentang kabar masing-masing dan tentunya Ayah Bram yang tak pernah melihat Juni selama dia menikah menanyakan kabar Juni.
Saga menjawab semua pertanyaan ayah Bram sesuai dengan kenyataan yang terjadi, namun ada beberapa hal yang harus tetap Saga rahasiakan yaitu penolakan yang sudah dilakukan oleh Juni pada dirinya karena saat ini Juni sudah mulai bersikap baik terhadapnya itupun karena kejahilannya.
Tak terasa mereka sudah bermain selama 3 jam an dan terik matahari yang membuat akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti bermain. Saga mengajak ayah mertuanya untuk sekedar berbincang dicafe yang masih berada dikawasan lapangan itu.
Saga berniat ingin jujur tentang apa yang terjadi sebenarnya dengan ayah mertuanya. Merekapun sudah berada diarea cafe dengan sudah memesan makanan dan minuman.
Ayah Bramanto yang tidak tahu maksud Saga mengajaknya bermain lagi setelah sekian lama tak bermain golf.
Saga menenggak minuman dingin yang sudah dia pesan sembari mengumpulkan keberaniannya untuk membuka percakapannya dengan Ayah Bramanto.
"Yah" kata Saga
"Iya nak" jawab ayah mertuanya.
"Hmmmmmm" Saga sudah mulai ragu dan merasa takut karena apa yang akan dia katakan mungkin saja akan mengubah sikap ayah mertuanya kepada dirinya.
"Kenapa nak? ada masalah? " tanya ayah mertuanya.
"Gini yah, aku bingung mulai dari mana akan aku ceritakan" kata Saga.
"Apa itu nak, kalau ada hal yang ingin diceritakan. Ayah siap mendengarkan" kata Saga.
"Ayah ingat gak? waktu aku ingin menikahi Juni dengan syarat. Aku sempat bilang kalau aku gak siap buat cerita kejadian yang sebenarnya" kata Saga sudah mulai serius mengarah kepercakapan dengan ayah mertuanya dan ayah mertuanyapun mulai mendengarkan apa yang Saga akan katakan tentang semua yang terjadi.
"Iya, ayah masih ingat kamu sempat bilang gak siap buat cerita" kata ayah mertuanya.
"Sekarang aku siap yah" kata Saga.
"Maksud kamu Nak? Nak Saga mau cerita semuanya sekarang" tanya Ayah Bramanto.
"Iya yah, tapi aku bingung harus mulai dari mana dan sebenarnnya aku juga agak takut kalau-kalau ayah berubah sikap denganku setelah mendengarkan kejujuran dari aku" kata Saga.
"Kamu mau jujur apa Nak, ayah gak bakalan bisa berubah sikap jika ayah gak tahu apa yang sebenarnya kamu ingin ceritakan " kata Ayah Bramanto.
__ADS_1