
Situasi didalam kamar hotel yang hanya ada dirinya dan sang istri membuat keinginan Saga untuk mencumbu istrinya muncul secara tiba-tiba.
Saga yang masih memeluk punggung Juni mencium lagi punggung itu dengan pelan.
Tak ada respon penolakan dari Juni lagi.
Jantung Saga berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dia merasakan panas tubuhnya berjalan memenuhi setiap aliran darahnya.
Darahnya mendidih bergejolak merasakan sesuatu yang berbeda dihari itu.
Pikirannya sudah menginginkan sesuatu yang lebih dari Juni.
Keinginan yang setiap suami inginkan dari istrinya. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya hingga sampai dirinya menjadi seorang suami.
Saga ingin memastikan apakah Juni tidak akan keberatan dengan hal yang dia inginkan atau justru Juni akan menolak keinginan Saga.
Tangan Saga yang masih memegang tangan Juni dia lepaskan perlahan dengan maksud mencari tahu apa yang akan Juni lakukan.
Juni yang tahu tangannya sudah tak dipegangi oleh Saga tak berusaha berdiri dari pangkuan Saga.
Tubuh itu malah seakan pasrah dengan apa yang akan Saga lakukan padanya, tangan Juni diam tanpa ada gerakkan. Juni merasakan sesuatu bergerak menyentuh bokongnya. Namun Juni masih tak tahu itu apa.
Saga meletakkan tangannya tepat diatas paha Juni. Saga yang tak berani mendapatkan penolakan dari Juni malah tak bergerak sama sekali.
"Yank... " panggil Saga.
"Iya Om" jawab Juni
"Aku.. aku" kata Saga terbata- bata memberanikan mengatakan pertanyaan kepada Juni.
"Apa Om? " tanya Juni.
"Kita disini berdua. Dalam satu kamar" kata Saga
"Aku boleh minta sesuatu gak sama kamu sebagai istriku. Hmmmmmm,, " perkataan Saga terhenti. Dia tak mau melanjutkan pertanyaan yang menurutnya tak perlu ditanyakan.
"Om mau minta apa? " tanya polos Juni namun dari gerakan tangan Saga, sebodoh apapun seorang wanita pasti tahu maksud dari seorang lelaki.
Saga tak menjawab pertanyaan Juni. Saga lebih memilih menggerakkan lagi tangannya mengelus-elus paha Juni daripada menjawab pertanyaan Juni.
Juni tak bergerak lagi, meronta atau menepis tangan suaminya yang bermain diarea paha miliknya.
"Apa artinya ini? " tanya Saga dalam hati yang tak mendapatkan penolakan dari Juni setelah tangannya tak bisa diam dipaha Juni.
"Kalau aku ingin tahu aku harus mencari tahu" imbuh kata Saga lagi dalam hati.
Saga memainkan tangannya keatas lagi mencari perut Juni.
Juni tak bergeming lagi. Saga mencium lagi punggung Juni dengan pelan lagi sembari tangannya menggaruk- garuk pelan bagian perut Juni. Saga merasakan kulit Juni sangat halus. Dingin. Membuat hasratnya yang malu untuk muncul, ingin segera dia lampiaskan.
Juni yang alhirnya tahu keinginan suaminya, masih terdiam membiarkan saja tangan Saga terus bermain ditubuhnya. Juni terus memejamkan matanya seakan dirinya juga takut dengan kegiatan yang Saga akan lakukan padanya.
Tak terasa tangan Saga sudah memasuki area dalam baju seragam yang masih digunakan Juni. Tangan Saga bergerak membentuk lingkaran dibagian perut Juni.
Saga menemukan lubang dangkal diarea perutnya. Saga memainkan jari tangannya dan meraba pusar Juni
__ADS_1
Setelah merasa bosan berada diarea itu, tangan Saga bergerak kebawah perut Juni dan akhirnya tangan Juni menghentikan tangan Saga yang sudah akan masuk kedalam roknnya dan meraba sesuatu miliknya.
"Om hentikan" kata Juni dengan nafas yang sudah turun naik dengan cepat.
Saga menghela nafas lagi. Nafasnya kembali dia atur agar tak terengah-eengah sambil bertanya pada istrinya "Kenapa yank? Kamu gak suka?"
"Bukan tapi... " kata bukan yang Saga dengar membuat Saga bukannya segera berhenti malah mengangkat tubuh Juni pelan.
Saga menidurkan tubuh Juni diatas ranjangnya. Juni yang sudah berada diatas ranjang hanya melihatkan expresi memejamkan matanya seakan masih tetap takut akan sesuatu yang Saga inginkan.
Tubuh Juni merasakan ada sesuatu yang menindihnya dan itu adalah badan dari Saga.
Saga sudah berada tepat diatas Juni.
Saga tersenyum melihat mata Juni memejam. Tangannya yang mengepal. Tubuh Juni yang kaku. Saga mencium bibir istrinya perlahan, ciuman pelan hingga ciuman Saga memanas dia layangkan kepada Juni yang masih memejamkan matanya.
Juni masih saja sama seperti pertama kali Saga cium dirinya digudang tanpa reaksi seolah memang Juni tak pernah melakukan itu.
Saga terus saja menciumi Juni diikuti dengan tangannya yang mengelus- elus wajah Juni, leher Juni.
Setiap sentuhan tangan Saga membuat Juni merasa sangat nyaman.
Walaupun sebenarnya dia tak berani membuka matanya dan melihat Saga sudah ada dihadapannya. Sangat dekat.
Bibir Saga mendekat kearah telinga Juni.
"Yank buka mata,. ini aku Saga suami kamu" telinga Junipun digigit pelan oleh Saga seakan memberikan rangsangan agar Juni mau mengikuti gerakkan badan dari Saga agar tubuhnya tidak kaku lagi.
Nampaknya yang Saga lakukan ternyata sia- sia saja, Juni tetap tak bergerak sama sekali. Tubuhnya masih saja diam tak bergerak. Walau perlahan Juni sudah berani membuka matanya, Kedua mata mereka saling pandang. Saga mencium satu persatu mata istrinya.
Saga kembali menggerakkan tangannya kebawah mencari bagian paha Juni.
Saga sangat gampang mendapatkan paha Juni karena saat itu Juni masih menggunakan seragam sekolahnya dan tentu saja Juni menggunakan roknya.
Tangan Saga kembali lagi mengelus bagian dalam paha Juni dan beralih lagi kebagian luar paha Juni.
Sambil terus menghujamkan ciuman kepada istrinya itu.
Juni sudah mulai terengah-engah dengan perbuatan Saga yang terus menyentuh tubuhnya dan menciumi bagian lehernya.
Saat tangan Saga akan meraba bagian atas paha disela-sela atas paha Juni sontak lagi -lagi Juni kaget, tangan Juni bergerak untuk menghentikan tangan Saga yang akan melakukan sesuatu pada daerah yang terlarang.
"Om,,, aku takut" kata Juni.
"Gak perlu takut, aku akan melakukannya secara pelan dan aku jamin kamu akan suka. Saga berusaha menenangkan istrinya, padahal dirinya sendiri sedikit agak gugup tapi berhasil tak.menampakannya didepan Juni karena memang merasa sudah tak tahan setiap melihat Juni. Janji yang dia juga sudah sepakati dengan Ayah Bramanto juga hanyalah kebohongan.
Saga membuka bajunya, bajunya dia lempar sembarang. Tangan Saga lagi dan lagi mencoba masuk keseragam Juni dari bawah. Sesuatu yang menggunung sudah berhasil dia genggam. Saga meremas pelan milik Juni dan kembali membuat suara erangan dari bibir Juni.
Suara dering ponselnyapun berbunyi mengganggu Saga dengan kegiatannya.
Saga membiarkan ponselnya terus berbunyi dan mati dengan sendirinya.
Saga kembali menggeranyangi Juni dengan ciumannya. Ciuman Saga dia nikmati begitu juga dengan Juni yang tak sadar juga menikmati perbuatan Saga padanya. Bibir saga terus saja turun dari bibir, ke leher, perut dan terus turun
Tiba- tiba dari arah luar kamar Saga, ketukan pintu terdengar dengan teriakan pelayan yang berkata "Room servise"
__ADS_1
Ingin rasanya Saga tak menggubris teriakan pelayan yang sedang mengganggunya dengan Juni.
"Om, ada orang diluar" kata Juni menghentikan perbuatan Saga padanya.
Juni baru menyadari kalau dirinya sangat berantakan.
Dia berpikir kenapa dengan gampang dirinya membiarkan suaminya itu menyentuh dirinya. Sesuatu yang menakjubkan baru dia rasakan setelah tangan Saga menyentuh tubuhnya.
Juni menarik selimut putih dan menutupi tubuhnya.
Dia duduk dan bersender diranjang. Juni membenahi rambutnya yang berantakan.
"Aaaaa" teriak pelan Saga sambil mengacak-acak rambutnya, Saga sudah terlihat sangat kecewa dengan apa yang terjadi.
Selalu ada yang mengganggunya, dering ponsel berbunyilah dan sekarang ada pelayan yang berteriak-teriak mengantarkan makanan.
Saga sangat tahu kalau saat berada dihotel, ini adalah waktu pelayan mengirimkan makanan ke kamarnya. Dia lupa akan hal itu setelah asik dengan Juni.
Saga membuka pintu kamarnya dengan masih telanjang dada.
Pelayan hotel yang mengantarkan makanan untuk Saga adalah seorang wanita.
Pelayan itu melototkan matanya melihat dada bidang milik Saga.
"Hay mas,,, selamat sore." dengan suara genitnya pelayan itu menyapa Saga.
"Itu makanan mbak? " tanya Saga.
"Iya Mas, makanan khusus saya antar langsung dengan tangan sendiri kesini" kata pelayan.
"Iya mbak, taruh aja disana" kata Saga menunjukan meja tempat makanan agar mbak pelayannya menaruh makanan di meja.
Pelayan itu berjalan menuju meja makan yang ada diruangan Saga. Pelayan melihat Juni sudah berada duduk diatas ranjang.
"Mas itu adiknya ya? tanya pelayan
"Adiknya cantik mas kayak kakaknya ganteng dan manis" pelayan itu merayu Saga sambil meletakkan piring yang berisikan makanan keatas meja.
"Bukan mbak" kata Saga membantah asumsi pelayan.
"Ooo pasti ponakannya" kata pelayan mencoba menebak lagi sambil mengedipkan sebelah matanya kehadapan Saga.
Juni yang melihat kejadian itu tak tinggal diam dia mendekati pelayan genit dengan berkata "Aku istrinya mbak. Kalau sudah selesai mbak bisa keluar kamar. Terimakasi"
"Ohh maaf mbak, mantes cocok istri cantik dan suami ganteng" kata pelayan yang segera memuji Juni dan Saga. Pelayan itupun keluar dengan membawa kembali troly tempat meletakkan makanan Saga.
Kamar itupun sudah tak ada pengganggu, hanya ada dua orang yaitu Saga dan Juni.
Mereka berdua saling pandang mengingat sesuatu yang mereka lakukan tadi.
Juni tersenyum malu-malu dengan terus menunduk.
Saga seperti salah tingkah melihat arah Juni sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba merasa gatal.
Pelayan perempuan yang sudah meninggalkan kamar Saga menutup pintu kamar dan sejenak terdiam didepan pintu kamar yang sudah tertutup sambil berkata dengan dirinya sendiri "Ganteng sich! tapi masak pedofilia, doyannya ma anak kecil. Padahal yang kayak aku gini lebih menggoda sambil melihat dirinya disebuah cermin kecil yang baru saja diambil dari saku roknya. Dia membenahi rambutnya lagi. Memainkan bibirnya. Mengedipkan sebelah matanya lagi sebelum cermin miliknya dia simpan ketempatnya. Pelayan itu berbalik lagi melihat pintu kamar yang baru saja dia tutup dan memutuskan melangkah berjalan meninggalkan tempatnya berdiri sekarang.
__ADS_1