AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Sssssttttttsss Jangan Bergerak


__ADS_3

"Awassss Juni,,," teriak saga sambil mendekati Juni memberitahukan istrinya kalau dibelakangnya ada sebuah piano agar Juni tak menabrak. Saga menarik tangan Juni, tapi kaki Juni malah menginjak botol wine bekas yang Juni minum alhasil tubuhnya terjatuh tepat menindih badan Saga.


"Jun, kamu gak apa- apakan?" tanya Saga


Juni melihat wajah Saga yang dia tindih sambil berkata "Mata om indah"


Saga terbelalak mendengar perkataan Juni, dia merasa Juni sangat lucu kalau sedang mabuk. Mendengar perkataan Juni senyum tersipu milik Saga merekah diujung bibirnya.


"Stssssssss, stop om jangan gerak" kata Juni


"Kenapa Jun? " tanya Saga


"Mana dia? tadi ada sesuatu yang indah yang pernah aku lihat" merasa heran kehilangan sesuatu diwajah Saga.


"Apa dan dimana?" tanya Saga.


"Senyum, disini" Juni menunjuk arah bibir Saga dengan jari telunjuknya. Juni yang sedang mabuk berhasil membuat Saga kembali lagi tersenyum karena perkataannya.


"Diem om" kata Juni lagi.


"Kenapa?" tanya Saga.

__ADS_1


Juni mendekatkan bibirnya kearah bibir Saga. Saga sangat yakin malam itu, walau Juni tak begitu sadar dengan perbuatanya, saga merasa Juni akan mencium dirinya. Saga melihat mata Juni sudah terpejam, bibirnya yang mungil sudah mengerucut dengan sendirinya. Juni sudah medekatkan lagi bibirnya kearah bibir Saga. Sontak Saga ikut memejamkan kedua matanya berharap kalau Juni melakukan itu lagi setelah ciuman mereka digudang sekolah milik Juni.


"Uuuuuuuueeeeekkkkk" tiba-tiba sebuah cairan keluar dari mulut Juni tepat dileher Saga.


"Ahhhhhhhhh" Saga berteriak, bukan mendapatkan ciuman yang dia bayangkan akan melayang dibibirnya malah muntahan dari mulut Juni yang seketika membasahi leher hingga bajunya. Saga mendorong tubuh Juni yang menindih dirinya hingga tergeletak dipasir pantai.


"Mau sadar atau pun gak sadar tetep aja ngerjain aku" kata Saga sedikit agak kesal. Kesalnya Saga bukan karena muntahan Juni yang mengenai dirinya tapi karena angan-angannya terlalu tinggi bisa mendapatkan ciuman malah dibanting jatuh oleh Juni.


Saga segera bangun dan mengangkat tubuh Juni yang malah tertidur setelah muntah. Saga menggendong tubuh Juni berjalan menuju kediamannya.


"Juni, Juni kebanyak ngelawan suami kayaknya ini sampai badannya berat banget" kata Saga


"Kamu makan apa?" lanjut tanya Saga yang terlihat berat mengangkat beban tubuh Juni.


"Masih gak sadar aja bisa ngelawan" Saga tersenyum sambil terus melangkah meninggalkan area pantai untuk menuju kedalam ruamahnya. Di kediaman Saga sudah tidak ada para pelayan yang berkeliaran, jadi tidak ada yang bisa membantu Saga malam itu untuk membawa Juni. Namun saga merasa sangat senang walau Juni hanya bisa menyusahkannya.


Tibalah Saga didalam kamarnya, Saga tak lantas membawa Juni dipembaringan dia membawa Juni kedalam kamar mandi. Saga meletakkan Juni di bathup kamar mandinya yang kering. Showernya dia hidupkan sampai mengguyur badan Juni yang kotor penuh dengan muntahan dirinya sendiri.


"Ini siapa yang bakalan buka bajunya?" tanya Saga pada dirinya sendiri. Saga mengingat Bik Tika yang sekarang ada dirumahnya. Saga melangkah akan memanggil Bik Tika dikamarnya, namun langkahnya terhenti tak kala dia memikirkan ulang "Bentar dulu, kayaknya bakalan aneh kalau aku memanggil Bik Tika cuman buat melepaskan baju Juni. Diakan istri aku" Saga baru menyadari kalau Juni istrinya yang tak pernah menganggap dirinya suami.


"Terus gimana ini? masak aku yang buka" kata Saga lagi berbicara dengan dirinya sendiri. Entah kenapa akhir- akhir ini Saga sangat suka berbicara dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kalau bukan kamu, siapa lagi? masak aku suruh satpam yang bukain bajunya Juni" kata Saga sambil menjawab pertanyaannya sendiri.


"Kamu kan suaminya, jelas kamulah yang buka" kata Saga lagi.


"Aku suaminya" kata Saga dan melangkah mendekatkan diri kepada tubuh Juni yang masih tertidur pulas. Saga memegang baju jaket kardigan yang Juni kenakan saat itu. Saga membuka jaket Juni, air yang keluar dari shower kamar mandinya mengguyur tubuh Juni. Saga menggosok gosok punggung Juni dengan tangannya sendiri ( Eitsssss, jangan bayangin aneh aneh si juni masih pake thak top lho......).


Saga tak lupa membersihkan wajah Juni terkhusus bibirnya Juni dari bekas muntahan. Setelah merasa cukup untuk membersihkan istrinya, Saga mematikan showernya dan beranjak meninggalkan Juni untuk mengambil selimut yang berada dikamarnya. Tak lama meninggalkan Juni Saga kembali dengan sudah membawa sebuah selimut putih besar ditangannya.


Saga menyelimuti seluruh tubuh Juni dengan selimut putih yang dia bawa, setelah semua selimut melilit menutupi tubuh Juni, tangan Saga masuk kedalam selimut dan membuka perlahan baju dalaman Juni. Saga tak pernah mau mengambil kesempatan ketika Juni sedang tertidur akibat munuman keras. Dia juga tak bisa memanggil seseorang untuk membantunya melepasakan baju dalaman Juni dan itu pikirnya sangat aneh kalau seorang suami memanggil seseorang hanya untuk membukakan baju istrinya. Jadi jauh lebih baik dia membuka sendiri dengan bantuan selimut yang menutupi penglihatannya. Saga mau tak mau harus membuka baju yang Juni kenakan agar Juni tak kedingainan karena seluruh tubuhnya masih memakai baju basah. Saga merasa dengan mengganti sendiri baju Juni akan jauh lebih baik. Semua baju yang menempel ditubuh Juni sudah terlepas, saga mengangkat tubuh Juni untuk dia baringkan diranjangnya. Tubuh Juni sudah berhasil dibaringkan oleh Saga, saat Saga melepaskan tangannya dari tubuh bongsor Juni tiba-tiba repleks Juni memukul bibir Saga dengan sangat keras hingga tampak merah.


"Auuuu" jeritan suara Sagapun terdengar tak kala tangan Juni sudah berhasil membuat bekas luka di bibirnya.


"Masih tidur aja, ganasnya gak ilang-ilang" kata Saga


"Untung aja hati ini milik kamu" lanjut imbuh Saga menyentil hidung Juni yang masih tertidur.


Saga kembali ke kamar mandinya dan membersihkan semua bekas baju basah yang Juni pakai malam itu. Semua baju basah Saga letakkan di sebuah kotak baju kotor untuk besok dicuci oleh asisten rumah tangga Saga.


Saga juga tak lupa membersihkan dirinya dari bekas muntahan Juni.


Saga memutuskan untuk tidur disebelah Juni setelah membereskan semua sisa kekacauan yang Juni tinggalkan. Walapun sudah sangat mengantuk mata Saga tak bisa langsung dipejamkan. Dia melihat disebelah tempatnya tidur ada istrinya yang sekarang sedang tertidur dan ranjangnya tak kesepian lagi. Pikiran jahilnya mulai muncul ketika dia memandang terus wajah mungil Juni. Saga yang tak bisa tertidur segera beranjak mengambil lipstick yang ada dimeja rias.

__ADS_1


Saga memakaikan bibir Juni lipstik yang cukup tebal. Setelah menggunakan lipstick di bibir Juni, Saga kemudian dengan sengaja membuka bajunya dan mendekatkan dadanya yang bidang dibibir Juni seolah ingin membuat bekas ciuman dari bibir Juni di dadanya. Entah apa yang ingin Saga lakukan tapi malam itu Saga sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau kejahilannya berhasil mengerjai istrinya. Saga meletakkan kembali lipaticknya ketempat ia ambil. Kegiatan Saga yang sudah mendandani Juni membuat matanya mengantuk dan dirinya terlelap tidur tanpa bantuan obat tidur seperti yang sudah-sudah dia lakukan pada malam- malam sebelumnya.


__ADS_2