
"Juni kenapa dioperasi?" tanya Saga
"Suami macam apa yang lupa kalau hari ini anaknya lahir"
"Lahir"
"Iya anak kamu bakalan lahir hari ini, Juni operasi caesar hari ini"
"Haaaaaa" Saga terkaget kaget.
"Kok kaget? gimana sich!"
Saga dalam hati berkata "Gimana gak kaget, bikin aja baru kemarin, itupun masih kurang. Lah ini udah langsung lahiran"
Angga yang melihat dokter datang bersama para perawat yang akan menangani operasi Juni. Dokter dan para perawat yang akan mengoperasi Juni datang tanpa melihat dan memberikan keterangan kepada keluarga yang sedang menunggu diluar ruang operasi. Dan Saga merasa keanehan lagi terjadi saat para medis masuk kedalam ruang operasi tanpa membuka pintu, mereka berjalan menerobos pintu dan menghilang dibalik tembok dalam ruangan. Saga kaget, tapi bibirnya tak bisa bergerak. Ingin dia bertanya pada Angga keanehan yang hanya dia rasakan. Angga yang juga melihat keadaan seperti itu seolah biasa biasa saja.
Kejadian aneh muncul lagi setelah belum ada beberapa menit paramedis memasuki ruangan operasi tiba tiba mereka keluar lagi dengan memberitahukan kalau mereka sudah selesai melakukan operasi dan mengabarkan kalau anak Saga adalah seorang lelaki.
Dokter memberitahukan kepada Saga kalau dirinya boleh memasuki ruangan operasi untuk melihat anak dan istrinya.
Saga sangat bahagia mendengar ucapan dokter, dia antusias ingin segera melihat wanita yang dia cintai dan anak yang sudah dia dambakan. Setelah dokter selesai dengan ucapannya, diapun pergi berlalu meninggalkan Angga dan Saga.
"Anak aku lahir nggaa" dengan wajah yang sudah pasti berseri, suara Saga sangat bergembira, dia menatap pintu ruang operasi dengan kaki yang ingin segera berlari memasuki ruangan.
"Seorang lelaki, ponakan aku seorang lelaki. Kamu gak masuk Sag? " tanya Angga yang juga terlihat sangat bergembira atas kelahiran dari anak Saga.
"Ya aku harus masuk,,, " melihat tatapan Angga
"Ya udah,,, tunggu apalagi Saga. Sana masuk!!!" suruh Angga.
"Ayo kita masuk" ajak Saga
"Itu anak kamu, aku tunggu diluar saja"
"Hmmm, ya udah aku masuk sekarang" Saga menggerakkan langkah kakinya menuju ruang operasi, jantungnya berdegup kencang. Dia sudah tak kuasa lagi, air matanya menetes jatuh kepipinya. Sungguh moment yang sangat membahagiakan dan tentunya mengharukan baginya.
Kejadian yang menurutnya aneh sudah tak dia hiraukan. Saga masuk selayaknya manusia biasa. Berbeda dengan dokter yang bisa menerobos dan menghilang dibalik tembok ruangan. Saga membuka pintu, dia berjalan pelan dan terlihat cahaya putih menyilaukan matanya. Saga mengusap matanya dengan tangannya agar matanya tak silau dengan sinar yang entah datang dari mana didalam ruangan yang tertutup.
__ADS_1
Tiba tiba setelah dia berada didalam ruangan, tangannya sudah berisikan sesosok bayi lelaki mungil dengan rambut yang sudah lebat, bibir merah tipis, alis yang terlihat beriringan. Bayi yang tidak menangis dalam pelukannya. Bayi yang masih ada tali pusar dan dengan darah membasahi sekujur tubuhnya. Bayi yang hanya bisa menggerakan sedikit tangan dan kakinya seolah dia juga merasakan kalau ayahnya sedang mengendongnya.
Saga merasa sangat bahagia, tanpa sadar tetesan air matanya mengalir sangat deras. Tangisan kebahagiaan seorang ayah yang menantikan seorang anak, apalagi anak dari buah cinta dirinya dengan Juni, istri yang sangat dia cintai dengan segenap jiwanya.
Saga yang masih menggendong anaknya berjalan ingin mendekati wanita yang Baru saja melahirkan anaknya dengan selamat tanpa kekurangan apapun, dua langkah kaki yang dia gerakkan mengubah tempat dari ruang operasi berubah menjadi ruang rawat inap biasa dengan masih menggendong seorang anak ditangannya.
"Aku dimana lagi ini?" Saga kembali penasaran tiba tiba dirinya berpindah tempat lagi ketempat yang tidak dia masuki diawal tadi yaitu ruang operasi.
"Anakku masih disini, bersama aku. Dan ini masih seperti ruang inap biasa"
Saga kembali bertanya tanya kenapa bisa terjadi hal seperti ini. Saga kembali mendekati wanita seperti sosok Juni yang masih terbaring diranjang. Kakinya melangkah semakin dekat dengan Juni, Saga sudah melihat wanita yang masih terbaring diranjang namun anehnya wanita itu tanpa terlihat wajahnya, dari bentuk tubuh dan ciri cirinya memang sangat jelas kalau itu adalah Juni tapi Saha tak melihat wajah Juni yang terbaring.
Dia hanya melihat wanita dengan ciri ciri sama seperti Juni namun tanpa wajah. Saga kaget, langkahnya mundur sambil terkejut. Langkah mundur Saga juga disertai dengan tangannya yang tiba tiba kosong. Anak yang Saga gendong sudah tak ada lagi digendongannya. Saga kembali lagi terkejut
"Mana anakku?" sambil mencari cari disetiap sudut ruangan. Rasa bahagia yang tadi dia rasakan berubah menjadi sangat sedih dan terluka. Anak yang baru dia lihat menghilang begitu saja.
Saga kembali mendekat ketubuh Juni sambil bertanya "Anak kita kemana yank?"
Tak ada jawaban dari seorang wanita yang masih saja terbaring, Saga menggoyangkan kaki Juni agar dia terbangun dan bersama sama mencari anak yang baru saja dia miliki.
"Bantuin aku cari anak kita, yank" kata Saga sambil terus mencari dimana anaknya berada. Lama Saga mencari namun tak kunjung mendapatkan hasil yang dia inginkan, Saga kali ini benar benar sedih, air matanya terus mengalir
Suara dering ponsel terdengar tepat didekat Saga. Saga mencari sumber suara itu berasal. dia terus mencari dan tiba tiba Saga terbangun dari tidurnya.
Saga membuka matanya dan melihat langit langit kamarnya, matanya sudah dibanjiri oleh air mata nyata. Saga melihat sekelilingnya dan benar saja dia berada didalam kamarnya dan saat itulah Saga menyadari kalau yang tadi dia alami hanyalah sebuah bunga tidur. Dia bermimpi seorang anak, dan mimpi yang dia alami seperti nyata adanya.
"Aku hanya mimpi"
"Mimpi yang membahagiakan dan sekaligus menyedihkan buat aku" ucap Saga sambil menghapus pipinya yang dipenuhi dengan air mata.
Bunyi ponsel pun kembali berbunyi, Saga yang sudah sadar dari tidurnya segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan ponsel yang dilakukan oleh sahabatnya.
"Dimana? "
"Dirumah, Ngga kenapa? "
"Kamu gak masuk kerja, ini udah jam berapa?"
__ADS_1
Saga melihat jam di layar ponsel miliknya dan waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Dia tertidur dari sejak dia pulang mengantarkan Juni kesekolah hingga siang hari. Saga meletakkan ponselnya diranjang dan menekan tombol mode speker ponselnya.
"Astaga ini udah siang, aku ketiduran Ngaa"
"Pantesan Aku hubungi kamu dari tadi pagi gak nyambung nyambung, coba kamu lihat panggilan tak terjawab aku mungkin sudah ada puluhan kali diponsel kamu"
Saga bangun dari ranjang sambil tetap berbicara,
"Maaf Ngaa,"
"Kita ada meeting lho,, meeting hasil kerja per 3 bulan"
"Aku lagi gak enak badan Ngga, ne aja kepala aku masih berat"
Mendengar itu Angga menjadi sangat khawatir,
"Kamu sakit? kenapa gak bilang? aku panggilan dokter kerumah"
"Udah gak usah Nggaa, aku udah baikan kok. Dari tadi pagi istirahat ampe sekarang pusingku agak mendingan"
"Ya udah gini aja, kamu istirahat aja dirumah nanti masalah meeting jangan dipikirin aku yang urus. Kamu beneran gak ingin dokter buat periksa kamu? "
"Gak usah ngga, pikiran aku lagi banyak aja makanya pusing"
"Kalau urusan kantor jangan diambil pusing, aku bantuin"
"Iya Ngga, makasi ya"
"Kamu udah kayak siapa aja pakai ucapan makasi, kamu ini sahabat sekaligus bos aku jadi udah kewajibanku begitu"
"Ok brow"
"Ya udah istirahat aja lagi"
"Ya"
Panggilan ponsel mereka berakhir, Saga yang sudah berdiri membiarkan saja ponselnya mati dengan sendirinya. Dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1