
Saga yang lelah bertanya tentang pin kamar apartemen Juni dengan maksud ingin memindahkan barang-baran Juni yang ada disana ke rumahnya yang sekarang bersama Saga.
Saga menyerah dengan pertanyannya yang tak kunjung dijawab Juni, dia memilih untuk terus berjalan menuju parkiran mobilnya.
Langkah merekapun terhenti sampai pada tujuan yaitu parkiran lantai bawah gedung.
"Om mobilnya yang mana?" tanya Juni.
"Yang putih" jawab pendek Saga.
Juni bergegas menuju mobilnya, Saga yang sudah membuka kunci pintu mobilnya tak lantas segera menuju pintu kemudi mobil.
Saga membukakan terlebih dahulu pintu mobil untuk Juni. Juni tak mengucapkan kata terimakasinya, dirinya langsung saja duduk dikursi depan.
Merekapun berada dalam satu mobil yang dikemudikan oleh Saga dengan Juni berada duduk tepat di sebelah kursi Saga.
Mobil putih Saga sudah berjalan keluar dari area parkiran, mobil itu melaju dijalan raya dengan kecepatan yang biasa saja tidak cepat dan tidak juga terlalu pelan.
\=\=> CONTOH VISUAL MOBIL SAGA
"Kita makan dulu yuk jun!" ajak Saga sambil matanya melihat arah kanan dan kiri.
Juni yang sedari tadi fokus melihat ponselnya dan mengotak-atik galeri fotonya setelah mendengar ajakan Saga langsung melihat Saga dengan tatapan tajamnya namun tak berbicara dia hanya menunjuk dengan jari tangannya arah jam tangan seolah memberikan kode kalau dirinya tidak punya waktu untuk makan pagi itu.
"Oke oke oke, kita gak makan tapi aku mau mampir bentar ke mini market" Saga memperhatikan pinggir jalan dan berusaha mencari mini market.
Juni hanya mengangkat dua bahunya sebagai tanda kalau dirinya seolah berkata terserah kepada Saga yang minta untuk mampir sebentar karena Sagalah sang punya mobil serta yang mengemudi mobil putihnya sendiri saat itu.
Saga yang sudah dekat dengan sekolah Juni melihat ada sebuah mini market 24 jam didekat sekokah Juni.
Saga segera memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan
"Yank, tunggu bentar disini! aku mau beli sesuatu" kata Saga
Juni tetap tak menjawab perkataan Saga, dia lebih fokus melihat dan memainkan ponselnya saat itu.
Baginya ponselnya adalah sesuatu yang lebih menarik dibandingkah harus menyahuti perkataan Saga.
Saga membuka shitbeltnya dan keluar dari mobil menuju mini market.
Juni melihat Saga memasuki mini market dan sedang mencari sesuatu didalam toko terlihat dari dalam mobilnnya, kebetulan mini market itu berdinding kaca transparan.
Juni merasa Saga terlalu lama berada ditoko, ponselnyapun dia lihat lagi untuk melihat jam dan kembali melihat Saga yang sudah berada dikasir untuk membayar.
Saga akhirnya keluar dari mini market dan kembali menuju mobilnya.
"Maaf lama yank " kata Saga sambil membawa sebuah tas coklat yang entah isinya apa, namun juni tidak sama sekali penasaran dengan apa yang saga beli pagi itu.
__ADS_1
"Cepetan om, aku benaran udah telat nech" Juni lagi-lagi membesarkan intonasi nada suaranya.
"Iya iya iya, inikan kita lagi mau jalan" Saga yang sudah menyalakan mesin mobilnya segera melajukan mobilnya menuju sekolah Juni yang sebenarnya sudah terlihat oleh mata Juni.
Para murid banyak yang berjalan kaki menuju sekolah.
Ada yang berjalan pelan dan ada juga yang berlari seperti Juni karena takut kalau- kalau terlambat. Saga mengantar Juni tak hanya didepan gerbang sekolah tapi Saga memilih untuk masuk
kedalam area halaman sekolahnya..
Juni membuka shitbeltnya dan bergegas akan turun begitu saja dari dalam mobilnya.
Saga kembali menghentikan Juni yang sudah akan bergerak membuka pintu mobilnya.
Saga memanggil nama Juni dan menyodorkan tangannya untuk Juni cium dan pamiti oleh istrinya.
Juni mengerti dengan maksud Saga namun Juni malah hanya memandang sekilas tangan Saga yang dia dekatkan.
Juni tak lantas mengikuti kemauan Saga, Juni turun dari dalam mobil dan sudah ditunggu oleh sahabatnya Trala.
Melihat Juni tak merespons tangannya yang Saga sodorkan, Saga hanya tersenyum sambil mengerakkan tangannya kearah bibirnya dan mencium tangannya sendiri.
Saga menyadari ada sesuatu yang kurang, dia melihat tas coklat yang dia beli masih berada satu mobil dengannya.
"Juni" panggil trala yang menunggu Juni sedari tadi di sekolah.
Dari arah belakang punggungnya ada Saga yang memanggil namanya keras.
Sontak bukan hanya Juni tapi semua murid disana memperhatikan sosok lelaki yang sudah memanggil nama Juni.
Saga membuat para murid yang melihatnya pagi itu begitu sangar terpesona.
Rambut klimis. Sorot mata tajam. Tinggi badannya yang bagaikan model.
Penampilan Saga walaupun hanya Juni yang tahu kalau baju yang dia gunakan masih baju yang dipakai kemarin tapi Saga memang sangat terlihat berwibawa dengan jas hitamnya.
Apalagi mobil putih yang Saga pakai menambah cita rasa ketampanannya.
"Waahhhh, lelaki dewasa yang ganteng" tatapan mata melongo seorang murid wanita tepat berada didepan Juni berkata seperti itu.
Juni yang mendengar perkataan murid wanita itu melihat disekelilingnya dan banyak sekali wanita termasuk Trala yang sudah ada disampingnya juga memperhatikan Saga dengan tatapan terpukau dan terpesona.
Juni merasa sangat malu, bukan karena Saga yang menjadi pusat perhatain pagi itu namun malunya Juni lebih kepada karena Saga memanggil namanya. Saga menggunakan tangannya memberikan kode agar Juni mendekat lagi kearahnya. Juni tidak mau lebih lama menjadi pusat perhatian satu sekolah, dirinya langsung berlari mendekat kearah Saga dan berkata dengan kesalnya
"Apa lagi om, jangan teriak disini bikin malu aja" kata Juni
"Punya suami ganteng kok malu" kata Saga. Juni dengan cepat menutup mulut Saga agar tak ada yang mendengar perkatan Saga.
"Diam om! Om mau satu sekolah tahu terus aku bakalan dikeluarin dari sekolah" kata Juni yang berhasil menutup mulut Saga dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Siapa yang berani keluarin kamu dari sini, berhadapan sama aku sekarang" ucap Saga.
"Ihhhhh" Juni merasa sangat kesal dan melepas tangannya dengan sendirinya.
"Oke oke oke" Saga tahu kalau istrinya itu tidak suka dengan ucapannya.
"Tunggu bentar" lanjut Saga
Saga kembali kedalam mobilnya untuk mengambil sesuatu. Dia mengambil tas coklat yang dia beli di mini market dan memberikannya kepada Juni.
"Ini apa om?" tanya Juni.
Saga hanya berucap "Inget nanti dimakan" kata Saga yang membuat Juni sadar kalau saat Saga pergi ke mini market itu ternyata Saga ingin membeli makanan untuk dirinya makan.
Saga yang melihat Juni masih terdiam sambil melihat tas coklat yang baru dia berikan langsung mengangkat tangannya kearah poni Juni, Saga mengacak-acak poni Juni dengan sangat lembut.
"Aku pergi yank" kata Saga sambil berbalik arah lagi menuju mobilnya. Hingga mobil sagaa pergi dari halaman sekolahpun juni masih bengong, dia tersadar setelah mobil Saga benar-benar menghilang dari sekolah.
Juni meniup lagi rambut poni yang Saga acak dan berjalan mencari Trala yang masih memperhatikannya dari arah jauh.
Trala memeluk Juni yang sudah berada didepannya, begitu juga Juni membalas pelukan kangen temannya dengan sangat erat.
"Siapa jun? lelaki ganteng kok gak kamu kenalin sama aku" kata Trala menggoda Juni
"Yang mana?" Juni berpura- pura tidak tahu siapa yang dimaksud Trala.
"Itu" Trala menunjuk arah mobil Saga yang baru menghilang
"Ooooo itu, temen Mami Sintia" jawab Juni sambil membuka isi tas yang baru saja Saga berikan.
Juni sengaja berbohong agar Trala tidak tahu bahwa Saga itu adalah suaminya yang baru saja menikahinya dan lebih tepatnya agar trala tidak tahu kalau Juni menikah tanpa memberitahukannya.
"Kook bunda gak bilang punya temen lelaki yang ganteng begitu" kata Trala sambil melihat Juni yang masih membuka tas coklat.
"Dih ganteng? cabul iya!" dalam hati Juni mendesis merasa kalau Saga tidak ada ganteng- gantengnya.
"Emang bunda harus ya kenalin semua temannya sama kamu" imbuh Juni
"Gaklah cuman kalau ganteng gitu kan lumayan buat obat mata" sahut Trala sambil tertawa renyah.
"Namanya siapa jun? udah nikah belum?" tanya lagi Trala.
"Oooo namanya om Saga, kalau itu mening tanyak langsung sama orangnya udah nikah atau belum?" Juni melihat lagi isi tas yang diberikan Saga untuk mengalihkan Trala agar tak bertanya lagi tentang Saga.
"Jun kayaknya aku pernah liat si Om Saga itu dech, mukanya familiar tapi dimana ya! Aku lupa" kata Trala yang sontak membuat Juni berhenti berjalan dan menoleh kearah Trala yang masih terus melihat langit cerah, berharap agar mendapatkan jawaban dari atas.
"Tuhhh benarkan! Aku juga mikir hal yang sama pernah liat Om Saga tapi dimana, aku juga lupa" kata Juni yang sontak membuat Trala tertawa.
Hati kecil Juni juga sempat berpikir kalau dirinya juga pernah melihat wajah teman Saga yang menurutnya sangat familiar, tapi Juni mencari lagi dalam ingatannya dan tak menemukan sosok dua orang itu.
__ADS_1