AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Runyam


__ADS_3

"Ihhh lepas gak" Juni kembali berteriak kepada Saga yang ada didepan matanya. Juni menarik tangan yang Saga pegang.


"Okey" ucap singkat Saga.


Saga yang saat itu sebenarnya sedang sakit, dia demam sejak tadi malam. kepalanya terasa sudah ingin pecah mungkin karena pikirannya juga yang sedang runyam memikirkan masalah rumah tangganya. Badannya sudah terasa berat ingin sekali terkapar ditempat tidur. Tapi Saga menguatkan diri untuk mengantar istrinya pagi ini, perasaan bersalahnya karena telah berbohong adalah salah satu alasannya.


Saga terdiam sejenak dan menundukan kepala merasa kepalanya berat, tangannya memijat keningnya.


"Om kenapa? " tetap dengan tatapan tak peduli dan intonasi nada tinggi.


"Gak ada yank"


"Trus ngapain diem, jalan! atau aku tinggalin aja Om disini, aku bisa pakai bus kok kesekolah. Ya sebenarnya gak perlu Om anter juga aku bisa sendiri kok"


Saga diam dan sesekali menghela nafas panjang didepan Juni. Juni yang mendengar Saga seperti itu lantas tambah marah. Juni merasa seakan dirinya adalah beban hidup, beban hidup yang sebenernya dia juga sendiri tidak mau. Juni kembali menyalahkan suaminya atas awal pernikahan hingga sekarang.


"Gak usah sok terbeban dech Om, bukan aku yang minta Om buat anter aku kesekolah tapi Om sendiri yang maksa" Juni terus berbicara panjang lebar.


"Lagian, kalau merasa gak sehat jangan sok kuat dech! urus diri sendiri dulu baru ngurusin orang" ucap Juni menyakiti hayi Saga lagi dan lagi.


Tanpa mendengar sepatah kata dari seorang Saga Juni membuka pintu mobil sambil berkata tanpa melihat wajah Saga "Aku turun disini saja, Om meningan pulang"


Saat Juni akan turun dari mobil, Saga kembali menarik tangan Juni


"Yank, aku gak mau jawab kamu yang lagi marah kayak gini bukan karena gimana-gimana tapi aku gak mau kalau aku lagi lagi menyakiti kamu walaupun itu hanya dari perkataan saja. Aku minta maaf atas kesalahan aku yang lalu, tapi semua aku lakukan hanya untuk dekat dengan kamu. Kalau kamu gak suka, aku minta maaf sekali lagi tapi aku mohon kamu jangan pergi, tetap disini temani aku. Sebentaaaaaaaar saja"


Saga saat itu berbicara panjang lebar dengan mata memerah berlinang air mata dan menahan rasa sakit yang lagi dia rasakan. Saga memelas, seolah meminta Juni untuk selalu disisinya. Dia membutuhkan sang istri dalam keadaan seperti ini. Ingin dipeluk, dibelai, dicium, dan diperhatikan namun Juni tak berpikir demikian. Semakin Saga memelas semakin dia tak ingin bersama lelaki yang menjadi suaminya itu.


Juni duduk kembali didalam mobil, dia tetap tak melihat Saga sambil menaruh tas yanh diberikan padanya dibawah.


"Yank, lihat aku"


"Om jangan ngelunjak, kita jalan cepetan. Aku udah telat"


Saga kembali kecewa, beberapa detik dia tetap melihat Juni yang tak menoleh padanya. Saga kemudian melepaskan pandangannya dari arah Juni dan kembali menatap arah depan. Saga menghidupkan mesin mobil kembali dan melajukan kendaraannya. Juni masih terlihat sangat kesal.

__ADS_1


***


Sekolah Juni sudah terlihat, seperti biasa banyak murid yang berjalan menuju dalam gerbang sekolah.


"Stop stop stop, aku turun disini saja, malu aku dilihatin temen pakai diantar kedalam halaman sekolah" sembari menepuk nepuk kaca pintu memberikan kode pada Saga agar menghentikan mobilnya.


Saga menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang, dia keluar lebih dahulu berinisiatif untuk membukakan pintu istrinya. Saga berlari kesamping pintu yang ditempati Juni, saat sudah sampai pintu dan ingin membuka, pintu itu sudah terbuka dan Juni keluar dari mobil sambil berkata kepada Saga "Iangan sok romantis,Om kira aku suka? gak sama sekali" ucap Juni sadis dengan expresi wajah dajalnya.


Saga menggigit bibirnya merasakan hati terluka namun tak berdarah, nyesek banget. Juni hanya berjalan mengabaikannya tanpa pamit kepada suaminya. Saga sadat ada sesuatu yang kurang saat itu, dia mengambil tas ponsel yang tidak dibawa oleh Juni dan berlari kecil mengejar Juni, Saga tak memanggil Juni untuk berbalik atau menunggunya dia hanya mendahului Juni dan berbalik menghadapnya, Tanpa kata kata Saga mengambil tangan kanan Juni, Juni kaget tapi hanya bisa bereaksi diam melotot. Juni kira Saga akan berbuat yang tidak tidak pagi itu, didepan sekolah yang banyak anak anak dan teman temannya yang mungkin akan melihatnya serta belum lagi ada guru yang mungkin saja kenal Saga dan dirinya.


Pikiran Juni ternyata salah, dia hanya melihat Saga terdiam lemas dan pucat, dengan tatapan mata kosong memberikan tas ponsel yang ternyata dirinya lupakan. Saga berlalu tanpa memberikan sepatah kata kepada istrinya, dia tidak mau membuat Juni berargumen dengan dirinya lantaran hal sepele.


Saga kembali kedalam mobil dan menghidupkan mesin mobilnya, dia melajukan mobilnya dan secepat itu mobilnya sudah tak terlihat dipandangan Juni yang menoleh kearahnya.


"Dihhh dasar Om labil, pergi aja sono. Emang aku butuh Om apa" Ucap Juni


"Duar" dari arah belakang tanpak seorang trala sedang mengagetkan Juni yang berbicara seorang diri.


"Dih, ne orang lagi datang"


"Kenapa sist.... pagi pagi tuch mulut udah lemes"


"Gak ada gimana? kamu lagi marah marah. Marahin sapose?"


"Siapa yang marah? kalau aku bilang gak ada ya gak ada" sambil. membentak.


"Dih,,, ditanya baik baik. kamu sarapan apa? ganas banget"


"Ahhh diem trala, aku lagi pusing"


"Makanya cerita, udah beberapa hari ini aku gak tahu kabar kamu"


Juni berjalan meninggalkan Trala dengan tatapan penuh rasa ingin tahu tentang kabar temannya.


"Lah kok pergi,,, Juni"

__ADS_1


"Ntra kalau aku udah siap tak ceritain semua, sekarang mening kita masuk kelas dulu" ucap Juni sambil menoleh kebelakangan dan menjulurkan lidahnya seakan mengejek trala yang masih berdiri menunggu jawaban dari dirinya.


"Ahh dasar,,, tunggui sist"


Trala mengejar Juni dan berjalan berdampingan memasuki kelas.


***


Dirumah ada Saga yang baru saja datang setelah mengantar Juni, dia terlihat sangat pucat lebih pucat dari sebelumnya. Matanya merah, jalannya pun lemas. Saga menguatkan diri untuk tetap berjalan kekamarnya.


Perlahan langkah demi langkah hingga dia sudah memasuki kamar dan melemparkan tubuhnya diatas ranjang. Saga tertidur, dalam tidur saga dia berada disebuah rumah sakit. Saga melihat kiri dan kanan hanya melihat kegiatan yang ada dirumah sakit. Para perawat lalu lalang didepannya. Dia tak tahu dirinya ada dimana, yang jelas dia ada dirumah sakit tapi entah apa yang dia lakukan disana hanya seorang diri. Saga berbalik arah melihat tulisan ruang operasi.


"Kenapa aku disini?"


"Operasi?"


"Siapa? "


Saga bertanya seorang diri, tangannya ditarik oleh seseorang, tak lain dan tak bukan sosok Angga. Angga menarik tangan Saga sambil berkata "Ngapain disana Saga, sini duduk disamping. Kamu gangguin lalu lalang dokter dan perawat"


"Haaaaa..... " masih dalam keadaan kaget dan tak mengerti kenapa tiba tiba dia dirumah sakit. Saga kembali mengingat terakhir dirinya berada didalam kamar sedang tidur. Walaupun dalam keadaan sakit


"Oh iya sakit,, aku sakit. Mungkin karena sakit aku berada disini. tapi kenapa malah aku berada didepan ruang operasi" diam lagi.


"Kenapa aku gak merasakan sakit lagi?" kembali bertanya pada diri sendiri.


"Angga kita ngapain disini? jangan bilang kamu mau ........" Saga berhenti berbicara sejenak


"Mau apa? kamu lupa hari ini hari apa? "


"Emang hari apa? "


"Hari ini hari istri kamu operasi? "


"Siapa? "

__ADS_1


"istri kamu, Juni "


Sontak saga khawatir, mukanya pucat. mendengar kalau Juni akan operasi. Yang Saga tahu. Juni tidak kenapa napa lalu kenapa dia membutuhkan operasi. Yang jelas sakit itu dirinya tapi anehnya dia tidak merasakan sakit lagi. Tambah merasa aneh lagi tiba tiba dia berada disini dengan keadaan akan menunggui Juni operasi.


__ADS_2