
Saga juga merasa senang karena akan bisa menikahi Juni, gadis yang sudah meluluhkan hatinya. Pak Bram mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Pak Saga namun Pak Saga malah segera memeluk calon mertuanya walaupun pertunangan belum terjadi dan itu hanya sebatas awal dari rencana Saga dan Pak Bram.
Merekapun berpelukan karena merasa senang, Pak Saga senang akan segera bertunangan dengan anak dari Pak Bram, dan Pak Bram juga senang karena satu masalah keluarganya untuk menikahkan anaknya bisa terselesaikan apalagi calon tunangan anaknya dari keluarga yang ternama dan terpandang.
"Berarti kita sudah sepakat akan hal ini Pak?" tanya Saga yang sangat senang akan pembicaraannya dengan Pak Bram yang sudah menjadi tujuan awalnya mendekati Pak Bram.
"Iya pak" jawab pendek Pak Bram yang juga menyepakati hal tersebut.
"Nanti malam tolong bawa calon tunangan saya untuk makan malam berdua Pak. Bolehkan?" tanya Pak Saga kepada Pak Bram yang akan menjadi keluarganya. Saga memberikan kertas kecil yang berisi alamat restauran yang akan menjadi tempat pertemuan dirinya dengan Juni. Saga juga meminta agar Pak Bram memberikannya nomer ponsel dari anaknya agar bisa berkirim pesan, juga bisa saling menghubungi agar lebih dekat lagi.
Pak Bram mengambil catatan kecil yang diserahkan oleh Saga dan membaca catatan tersebut. Senyum dari bibir Pak Bram sangat tergambar jelas, senyum yang tak kunjung hilang dari raut wajah orang tua itu. Hanya anggukan kepala yang bisa dia perlihatkan kepada Pak Saga karena merasa sangat senang.
Pak Bram segera memberikan nomer kontak anaknnya dan berpamitan kepada Pak Saga untuk segera memberitahukan keluarganya tentang kabar dari rencana dirinya dengan Pak Saga terutama pada istrinya yang juga merasa sedih akibat pertunangan yang mendadak dibatalkan oleh Pak Wijaya kemarin.
Hari itu sangat cepat berlalu, Saga yang dari rumahnya mempersiapkan diri untuk pertemuan pertamanya dengan Juni. Sebelum itu Saga menyuruh Angga utuk mencari restauran yang terkenal untuk dirinya bisa makan malam berdua dengan juni, dan yang dia dapatkan adalah restauran yang sudah diberikan kepada Pak Bram melalui catatan kertas kecil.
Saga berdandan tidak seperti biasanya, tatanan rambut klimis dengan pakaian jas biru membuat dirinya terlihat seperti orang yang berbeda dari sebelumnya walaupun hari- hari biasanya Saga juga terlihat rapi. Mungkin hari itu hari yang spesial bagi dirinya membuat kharisma seorang Saga tambah terlihat jelas. Saga bagaikan pangeran dari negeri dongeng yang akan bertemu dengan pujaan hatinya.
__ADS_1
Angga yang sudah berada diparkiran mobilnya untuk menunggu kedatangan Saga dan mengantar Saga menuju restauran malam itu. Angga memang sengaja mengantar Saga karena pikirnya dia harus mengantar temannya itu mendatangi wanita yang dia suka sejak pandangan pertama.
Sagapun sudah keluar dari pintu rumahnya dan melangkah menuju tempat Angga berdiri.
"Woit" sapa saga mengagetkan temannya yang sedang menghisap rokok ditangannya sambil melihat arah bintang dilangit yang gelap.
"Kampret, kaget aku" sontak Angga membuang rokok yang ada ditangannya karena dikagetkan oleh Saga. Saga tertawa melihat kalau Angga sampai sekaget itu karena ulahnya.
"Ganteng amet pak bos" lanjut Angga melihat Saga dari ujung rambut yang klimis sampai sepatu yang hitam mengkilap.
"Lah emang ganteng dari dulu kali" Saga menyombongkan dirinya kepada Angga dan Saga segera memasuki mobilnya untuk bergegas diantar oleh Angga yang hari itu ingin mengantarkan temannya.
Didalam mobil, Saga meminta Angga untuk menghidupkan music mobilnya dan mencarikan lagu lagu yang bisa membuatnya tambah bersemangat. Angga hanya bisa tertawa melihat temannya yang sudah seperti orang gila, gila karena cinta tepatnya.
"Sag, lebay kamu" kata Angga mengolok temannya yang ada dibelakang dirinya.
"Nikmati aja kalau teman lagi senang ga" sahut Saga sambil terus mendendangkan lagu dan tangannya memainkan layar ponsel mencari nomor dari anak Bram yang sebelumnya sudah saling mengirim pesan singkat melalaui Wa. Walaupun terlihat dari pesan yang dikirm Saga, anak dari Bram terkesan jutek dan agak sombong tapi Saga tetap merasa sangat senang kalau pesannya sesekali dibalas oleh anaknya Bram yaitu Juni
__ADS_1
Angga menghentikan mobilnya setelah berada tepat didepan restauran, Saga yang juga sudah mengetahui kalau dirinya sudah sampai direstauran segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju arah dalam restoran setelah berpamitan terlebih dahulu dengan Angga. Saga tak lupa mengucapkan rasa terimakasinya kepada temannya karena hari ini bersedia mengantarnya.
Saga yang sudah datang kedalam restauran disambut oleh pihak pelayan restauran karena saga adalah pelangagan Vip yang malam itu memboking semua meja hingga tidak ada satupun pelanggan yang ada di restauran. Saga sengaja memboking restauran malam itu untuk bisa lebih nyaman berbincang dengan calon tunangannya. Pelayan mengantarkan Saga kelantai paling atas tempat dirinya akan menunggu Juni.
Saga sudah berada diatap gedung dan melihat meja yang akan dia tempati dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Pemandangan bawah gedung dengan kondisi lampu-lampu kuning yang menghiasi jalanan. Dengan banyak lalu lalang mobil dari kejauhan yang terlihat kecil, dilihat dari atas atap.
Saga menunggu kedatangan Juni, dengan sangat antusias sambil dirinya duduk menempati salah satu kursi yang sudah disiapkan oleh pihak restauran.
Saga duduk menunggu kedatangan Juni, dirinya melihat jam ditangannya dan waktu janji temu mereka sudah hampir lewat 15 menit tapi Saga tetap menunggu kedatangan Juni. Saga memang tidak mendapatkan respons yang baik saat dirinya mencoba mengirimi Juni pesan singkat, dari pikirannya Juni tidak suka kalau dirinya dijodohkan dengan rekan ayahnya. Segencar-gencarnya Saga mengirimi pesan kepada Juni mungkin pesan darinya bisa dihitung dengan jari mendapat balasan dari pihak seberang. Tapi saga tidak merasa keberatan atas hal tersebut, dia tetap mengirimi pesan kepada Juni walaupun tidak mendapatkan respons dari gadis itu.
Malam sudah hampir larut, pelayan restauran terus bertanya apakah Saga sudah bisa mereka layani karena hari itu sudah lewat setengah jam tapi karena gadis yang ditunggu belum juga datang Saga menyuruh agar kalau nanti sudah siap dirinya sendiri yang akan memanggil pelayan untuk melayaninya.
Saga sudah mulai khawatir kalau Juni tidak akan datang. Setelah menunggu lumayan lama Saga akhirnya dipanggil oleh seorang gadis yang menepuk pundaknya dari arah belakang.
"Pak Saga" kata gadis itu yang sudah berada dibelakang Saga. Saga melihat kearah gadis itu bukannya Juni yang ada dihadapannya melainkan dirinya melihat sosok gadis yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Siapa?" tanya Saga.
__ADS_1
"Saya Lisa anak Bramanto yang akan dijodohkan dengan anda" jawab Lisa sambil terus tersenyum kegirangan. Betapa kagetnya Saga melihat sosok gadis yang sudah dia minta akan dijodohkan dengannya bukan sosok Juni melainkan gadis yang bernama Lisa yang ada dihadapannya saat ini.
"Haaa Lisa." matanya saga terbelalak kaget, melihat sosok Lisa calon tunangannya. Saga dalam hati hanya berpikir kalau mungkin ini kesalahan yang terjadi. Dirinya mengingat kalau Pak Wijaya hanya mengatakan kau Pak Bram mempunyai satu anak. Dan setahu dirinya anak Pak Bramanto adalah Juni karena Angga juga sempat melihat kalau Juni memanggil Bram dengan sebutan ayah. Bram sendiri juga melihat kalau kemarin Bram bersama Juni dalam satu mobil akan menemui Pak Wijaya membicarakan masalah pertunangan yang walaupun belum dirinya tahu pasti juga.