AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Terabaikan


__ADS_3

Mata mereka bertemu, Saga memejamkan matanya seakan dia menghayati ciuman yang dia layangkan pada Juni, tapi berbeda dengan Juni matanya melotot, raut wajahnya terlihat kaget. Juni tak menyangka akan mendapatkan ciuman dari Saga dengan cepat. Juni terdiam beberapa detik dan setelah sadar Juni sangat tidak suka kalau Saga berbuat seenaknya pada dirinya


Juni mendorong tubuh Saga hingga terperosok jatuh ketempat tidur. Muka Juni memerah bukan karena suka tapi lebih kepada marah. Dia marah dengan Saga.


"Apa yang Om lakukan?"


"Kenapa?"


"Haaaaaah,,, Om nanyak kenapa? dihhh saraf ne Om Om. Aku gak suka sama Om jadi jangan lakukan hal yang gak aku suka. Mengerti"


"Tapi aku cinta sama kamu"


"Itu urusan Om bukan aku"


Saga bangun dari kasurnya dan kembali mendekat kearah Juni. Bukannya tidak melakukan apa apa lagi tapi Saga kembali dengan cepat memeluk tubuh istrinya. Saga memeluk tubuh Juni dengan sangat erat, seakan tidak mau berpisah dengan istrinya itu. Tubuh yang Saga peluk erat meronta ingin dilepaskan. Semakin Juni meronta semakin erat pelukan Saga pada tubuh istrinya. Juni yang sudah jijik dengan tingkah Saga menginjak kaki kanan Saga hingga saga refleks melepaskan pelukannya dan mengaduh kesakitan. Tak hanya itu setelah tangan Saga melepaskan pelukan dari tubuh juni, Juni segera menampar lagi pipi Saga dan menendang tepat dikemaluan Saga, Juni juga mendorong tubuh Saga hingga kembali jatuh ke ranjang mereka. Juni berlari menjauhi Saga dan masuk kedalam kamar mandi. Juni tak lupa mengunci pintu kamar mandi agar Saga tak bisa masuk untuk membalas dirinya atas perbuatan Juni saat itu. Juni benar benar benci dengan Saga setelah tahu kalau dia dibohongi. Sikap Junipun berubah 180 derajat kepada suaminya. Yang tadinya sangat manis menjadi kasar.


Saga mengaduh kesakitan sambil memegang miliknya dengan kedua telapak tangannya.


"Rasain" teriak Juni dari dalam kamar mandi setelah mendengar Saga mengaduh kesakitan.


Saga membiarkan saja apa yang sudah Juni lakukan padanya. Selama Juni berada dikamar mandi Saga membersihkan luka kening miliknya dengan mengolesi sendiri alkohol dan memberikan salep serta menempelkannya dengan perban.


Setelah beberapa menit berlalu dan Juni masih saja ada didalam kamar mandi. Dia tak kunjung keluar walaupun sesekali Saga menyuruhnya untuk keluar.


Saga yang tak juga mendapati Juni keluar dari kamar mandi mendekat kearah kamar mandi, dia berbicara pelan, lembut dan terdengar manis.

__ADS_1


"Jun, keluar dari sana yuk! "


"Aku gak mau, ini tempat teraman buat aku saat ini"


"Aku gak bakalan bales kok! kamu belum makan dari tadi. Kita makan dulu yuk! nanti kamu sakit"


"Biarin, biar mati sekalian. Untung di aku, bakalan gak ketemu sama Om lagi"


"Kamu kira aku bakalan diem aja! aku bakalan kejar kamu sampai kemanapun. Dan sekali lagi kamu nyebut mati, aku bakalan murka"


"Dih,,, bodo amet dach"


"Keluar sendiri atau aku yang masuk?" Saga memainkan kunci hingga berbunyi dam bisa didengar oleh Juni bahwa Saga memegang kunci kamar mandi dan dengan mudahnya dia bisa masuk tanpa harus meminta ijin padanya.


"Aku hitung sampai 3, kalau kamu gak buka, aku bakalan masuk paksa"


Saga memegang tangan Juni dan mengajaknya untuk makan, makanan ternyata sudah ada dikamarnya. Beberapa menit yang lalu ternyata Saga sudah menyuruh beberapa pelayan untuk menyiapkan makanan dikamarnya agar Juni bisa makan didalam kamar mereka.


"Ihhh,,, apaan sich pegang pegang" Juni menepis tangan Saga yang menggandengnya.


Saga memegang lagi pergelangan tangan Juni sambil berkata "Aku cuman ingin kamu makan, dari tadikan kamu belum makan yankl


"Om itu gak tahu diri ya! aku gak suka dipegang. Lepasin" Juni menepis kasar lagi dan medekat kearah meja kecil yang berada diatas ranjang. Meja kecil yang sengaja ditaruh diatas ranjang dan dipenuhi dengan makanan untuk Juni.


"Ini apa lagi? " menunjuk kearah makanan.

__ADS_1


"Makanan buat kamu yank" sambil tersenyum kearah Juni.


Tanpa pikir panjang lagi, juni yang tak suka dengan apa yang dilakukan Saga padanya mengambil bantal dan melemparkannya tepat dimeja makanan. Tak cukup sampai disitu Juni memgambil ujung meja dan membuangnya kelantai. Makanan yang sudah dipersiapkan oleh Saga berserakan dilantai. Gelas pecah dan piringpun terbang kepojok dinding. Jus orangepun membasahi ranjang.


Saga kaget melihat reaksi istrinya, baru pertama kali reaksi Juni seperti itu.


"Kenapa yank? kalau gak suka makanannya tinggal bilang. Jangan kayak gini, diluar sana masih banyak yang kekurangan makanan"


"Terus" dengan santainya Juni menjawab pendek perkataan Saga.


"Kalo kamu gak suka, aku bisa ganti. Jangan kayak gini yank" Saga segera jongkok dan merapikan pecahan gelas yang memang berserakan dilantai. Juni yang tak suka dengan senyum Saga saat dia berbicara padanya dan tetap saja berbunyi manis serta sopan padanya segera mengangkat kakinya dan ingin meninggalkan kamar.


"Stop yank" Saga menghentikan langkah kaki Juni dengan melapisi telapak kaki Juni dan membiarkan telapak tangannya diinjak Juni.


"Apaan sich!" kata Juni gak peduli sambil benar benar menjadikan tangan Saga sebagai pijakan kakinya.


"Auuuuuu sakit" teriak Saga.


"Cengeng amet" ketus Juni.


Juni yang sudah melangkah dan berada dibelakang punggung Saga yang sedang jongkok berbalik arah sambil berkata "Dasar Om cengeng"


Juni terkejut saat dia melihat tangan Saga berdarah, Telapak tangan Saga tertusuk pecahan gelas. Dia baru tahu kalau ternyata Saga sengaja menghentikan langkah kakinya dan membiarkan telapak tangannya menjadi pijakan, itu semua tak lain dan tak bukan karena ada pecahan gelas yang akan dirinya injak kalau Saga tidak berbuat seperti itu.


Juni merasa bersalah setelah melihat darah merah dan segar mengalir dari tangan Saga. Sontak dia ikut duduk dan mengambil tangan Saga. Saga merasa tersipu, karena Juni masih perhatian padanya. Yang Juni lakukan malah diluar dugaan, Juni memegang tangan Saga, dia tersenyum sinis sambil berkata "Syukurin, makanya Om jangan ganjen" tangan Juni membanting tangan Saga kembali. Juni berdiri dalam duduknya dan pergi meninggalkan Saga yang masih terluka seorang diri.

__ADS_1


Juni tak mau lagi kemakan dengan akal licik seorang Saga, Pikir Juni mungkin itu adalah salah satu cara agar dirinya mau memaafkan kesalahan Saga. Junipun hilang dari pandangan Saga, suara kaki berjalan dari Junipun sudah tak terdengar lagi. Dan Saga merasakan perasaan yang sangat miris, inikah yang pantas Saga terima karena kebohongannya. Perasaan terabaikan. Perasaan yang lebih sakit dari rasa apapun.


"Pantaskah aku mendapatkan rasa ini?" ucap Saga dalam hati. Saga yang merasa sangat menyedihkan menggenggam tangannya dan memukul mukul dadanya sendiri dengan tangan yang terluka. Tangan yang masih ditancap pecahan beling, tangan yang masih mengalirkan darah merah. Saga seakan ingin mengeluarkan rasa pedih didadanya yang dia rasakan karena Juni.


__ADS_2