AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Tamu Tak Diharapkan


__ADS_3

Saga segera menaiki anak tangga menyusul Juni yang mungkin sudah ada didalam kamar. Langkahnya terasa ringan ingin langsung menemui istrinya.


Senyum kebahagian terus terpancar diwajah Saga.


Sesekali dia berjalan sambil menari dan berputar mengikuti alunan musik yang terdengar ditelinganya sendiri.


Saga sengaja menyuruh satpam berjaga agar dirinya tidak diganggu oleh siapapun saat sedang bersama Juni.


Tas miliknya dan milik Junipun sengaja tak dibawa kedalam kamar supaya suara ponsel tak mengganggu mereka seperti yang sudah-sudah. Pikiran piciknya sebagai seorang lelaki seolah sudah paham harus berbuat apa setelah nanti menemui Juni.


Saga berdiri sejenak tepat didepan pintu. Menarik napas panjangnya dan menghembuskannya selama beberapa waktu untuk menenangkan dirinya.


Saga membuka pintu kamar dan menemukan tubuh Juni sudah terbaring merasa lelah.


Saga yang sudah merencanakan malam yang indah serta sempurna kembali lagi dikecewakan karena hanya melihat Juni terbaring.


Pikiran Saga kembali tersadar, suami macam apa yang sudah tahu istrinya bersedih malah merencanakan sesuatu yang sudah dia inginkan dari istrinya sejak dulu.


Saga mendekat kearah Juni, dia membelai rambut Juni dengan pelan. Pipi Juni, Saga elus-elus menunjukan rasa sayangnya.


Kening Juni dia kecup dan tak mau melakukan hal yang lebih dalam lagi. Saga beranjak dari duduknya dan akan melangkah pergi.


Tiba-tiba tangan Saga digapai oleh Juni sendiri. Juni menahan tangan itu pergi dari dirinya.


"Om jangan pergi," ucap Juni gemetar terdengar seperti ingin disayang lagi oleh Saga.


"Aku gak pergi yank" kata Saga.


"Sini" pinta Juni agar Saga tak meninggalkannya dan menemaninya.


Saga tak bsa menolak pinta istrinya yang terdengar butuh disayang. Saga duduk diranjang disamping Juni.


Juni mengangkat kepalanya untuk tidur dipaha Saga. Paha Saga terasa nyaman saat memangku kepala Juni.


"Kamu lelah yank? " tanya Saga.


"Iya Om,,, lelah banget" jawab Saga sambil memejamkan matanya.


Saga memandangi wajah Juni.


Saga kembali menggerakkan tangannya dan menyibakkan rambut panjang Juni agar dirinya lebih leluasa menatap wajah cantik istrinya.

__ADS_1


Juni yang mengetahui kalau dirinya sedang ditatap bukannya merasa malu, dirinya juga ikut menatap wajah suaminya dengan dalam.


Mereka saling tatap dan saling pandang penuh rasa yang hanya mereka yang bisa merasakan.


Saga berusaha menahan nafs*nya yang kembali mencuat setelah saling tatap dengan Juni.


Ini bukan waktunya, itulah yang selalu Saga pikirkan setelah menatap wajah istrinya.


Berbeda dari saat dirinya belum masuk kamar dan melihat wajah sendu Juni.


Saat diluar kamar Saga yang sudah siap dengan rencananya malah merasa tak bisa menggoda Juni yang terlihat sangat sedih karena rasa kangennya kepada orang tuanya.


Dia tak mau menyakiti Juni hari ini, namun bibir mungil Juni seakan terus memanggil dirinya.


Entah kapan itu terjadi bibir Saga sudah menempel di bibir Juni.


Hanya menempel tak mencoba dan berusaha lebih. Saga menatap kedua mata Juni dengan penuh sayang.


Saga yang seakan tidak setia dengan pikirannya malah mencium dua mata Juni secara bergilir pelan. Setelah dua mata Saga kembali mencium hidung Juni. Lalu dagu Juni.


Darahnya kembali berdesir.


Juni hanya diam menikmati ci*man Saga sambil terus menatap wajah Saga namun tubuhnya juga merasakan sesuatu yang menyenangkan.


Panggilan dari istrinya itu tak terdengar ditelinga Saga dia memulai aksi nakalnya sebagai seorang suami yang merasa h*sratnya dipanggil-pangil.


Saga mencium lagi bibir Juni, kali ini tak hanya menempel, Saga me**mat bibir mungil milik Juni secara perlahan dan sekarang menjadi sangat panas.


Tangan Saga meraba dan menyusuri bagian leher Juni. Mengelus perlahan bagian leher Juni yang membuat Juni menggeliat. Kulit putih Juni serta halusnya kulit Juni membuat Saga tak henti memberikan sentuhan-sentuhan kecil pada tubuh Juni.


Baju biru Juni yang bagian atasnya memang sudah terbuka membuat Saga sangat gampang memasukkan tangannya dibaju Juni dan berusaha mencari sesuatu milik Juni lagi.


"Om" Juni kembali memanggil Saga dan sudah menghentikan tangan Saga yang akan bermain dibagian dalam bajunya.


"Yank, aku mohon kali ini jangan bilang stop. Aku lagi mau itu" kata Saga memelas.


"Tapi Om? " kata Juni


"Apa lagi yank" Saga sedikit kesal.


"Aku lagi datang bulan" jawab pelan Juni.

__ADS_1


"Tooooeeengggggg" Saga mendengar perkataan Juni langsung lemas. Sesuatu yang sudah direncanakan dan disiapkan sampai memerintahkan dua satpam menjaga agar tak ada yang naik kelantai atas mengganggu dirinya akhirnya kembali lagi sia-sia.


Saga menepuk keningnya dan melemparkan tubuhnya kebelakang berbaring diranjangnya.


Saga menatap langit-langit kamarnya dan mengingat kejahilannya kepada Juni sampai berakibat kebohongannya yang mengatakan kalau Juni sudah pernah tidur dengannya.


Pikir Saga sepertinya akan ada saja yang mengganggu keinginannya selama Saga terus membohongi Juni.


"Om" panggil Juni lagi, tapi kali ini Juni memutar arah tidurnya. Saga segera merentangkan lengan kirinya, mencoba memberikan lengannya sebagai bantal tidur untuk istrinya.


"Apa yank" suara pelan Saga menyamarkan rasa kecewanya.


"Gak ada, cuman mau manggil Om aja" jawab Juni.


"Dasar" kata Saga sambil menyentil ujung hidung mancung Juni.


Kali ini Saga memanggil nama istrinya "Juni"


"Iya Om" sahut Juni.


"Kalau ada lelaki yang bohongi kamu, kamu akan apakan lelaki itu" tanya Saga.


"Tergantung Om" Juni menjawab setelah lumayan sekian lama matanya menerawang sakbio berpikir. Saga yang merasa tak sabar mendengar jawaban dari istrinya menoleh arah samping wajah istrinya.


"Kok lama jawabnya yank.... Tergantung apa? " tanya Saga lagi.


"Tergantunglah Om,,, kebohongannya apa dulu!" jawab Juni.


"Bohong yang bikin pacarnya berubah jadi sayang sama si lelaki" jawab Saga menyamarkan lelaki yang dimaksud adalah dirinya sendiri.


"Kalau itu buat aku gak bisa dimaafkan. Buat aku kalau lelakinya ingin disayang dengan cara membohongi berarti pada saat wanitanya menyayangi lelaki, sayangnya malah gak akan tulus" jawab Juni.


"Kenapa Om nanyak gitu tiba-tiba ?" tanya Juni.


"Gak ada yank, cuman pingin tahu aja isi pikiran kamu" jawab saga berusaha agar tak kikuk.


"Beneran gak ada apa-apa? mumpung aku baik nich mau dengerin Om ngomong jujur" kata Juni.


"Dih kamu yank, orang gak ada apa-apa malah dipaksa jujur" jawab Saga sambil memeluk erat tubuh Juni.


"Ok Om, kali ini aku bakalan percaya sama Om, tapi suatu saat nanti aku tahu Om bohongi aku, aku gak bakalan maafin Om. Apapun yang terjadi karena aku paling benci dengan pembohong" Juni memperingati suaminya.

__ADS_1


"Ih kamu tuh yank gak bisa aku kasih tahu, masak aku bohongi kamu. Mana tega aku yank" jawab Saga.


__ADS_2