AKU CINTA OM SAGA

AKU CINTA OM SAGA
Menyadari


__ADS_3

Juni menatap wajah Saga yang sudah pucat. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Saga sampai seperti itu namun dirinya berusaha untuk tetap menenangkan suaminya. Dia merasa pernah mengalami kejadian yang serupa, menolong orang dengan gejala yang sama namun Juni masih tak tahu kalau yang dia tolong dengan yang dia coba tenangkan sekarang adalah orang yang sama


"Kalian, bisa mundur gak? " kata Juni kepada semua teman-temannya yang mengerumuni tubuh Saga.


"Kenapa Jun? " tanya Trala yang juga melihat Saga tidak dalam keadaan baik-baik saja saat itu. Tidak hanya Trala semua orang juga merasakan hal yang sama.


"Om aku lagi gak enak badan mungkin" kata Juni.


"Bawa kedalam saja" kata Tomi.


"Gak usah, aku langsung bawa Om Saga ke rumah sakit aja" kata Juni.


"Kalian gak apa-apakan merayakan ulang tahun Tomi tanpa aku?" imbuh Juni bertanya pada temannya yang lain.


"Gak apa apalah Jun, Om kamu lagi sakit masak kita larang kamu ke rumah sakit" kata Tomi. mewakili suara teman yang lain.


"Iya Jun, " imbuh Trala.


"Maaf tom, aku gak bisa ngerayain acara kamu sampai akhir" kata Juni.


"Gak apa-apa" ucap Tomi.


"Aku pamit semua" kata Juni sambil terus memeluk pinggan suaminya.


"Om cepet sembuh" teriak beberapa orang teman perempuan Juni kepada Saga. Saga sebenarnya sudah merasa baikan. Dia bisa saja berjalan dengan kakinya sendiri tapi Saga lagi-lagi berpura -pura tetap tidak merasa baikkan hanya untuk tetap dipeluk Juni. Saga ingin tetap disayang oleh Juni.


"Om sabar sebentar, kita kerumah sakit " kata Juni yang sudah membantu Saga berjalan meninggalkan temannya yang lain.


"Jun, kita jangan kerumah sakit " kata Saga


"Terus kita mau kemana?" tanya Juni


"Om mau pulang?" imbuh lanjut Juni


"Gak Yank" kata Saga.


"Terus om mau kemana? " tamya Juni

__ADS_1


"Kita ke kamar aku aja! istirahat bentar" kata Saga.


"Kamar? Om nginep disini " kata Juni.


"Gak nginep, tadi habis olahraga golf sama ayah mampir kesini buat istirahat dan tidur sebentar" kata Saga


"Ya udah, kita pulang setelah om baikkan" kata Juni. Saga merasa sangat senang hari itu bisa berduaan didalam kamar hotel dengan Juni. Pikiran Saga sudah melebar kemana-mana. Imajinasi yang terlalu tinggi hingga menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


"Om kamar nomer berapa? " tanya Juni.


"Nomer XXX" jawab Saga sambil menyenderkan kepalanya dipundak Juni. Tangan Saga juga melingkar dipinggang mungil Juni. Pikir Saga kapan lagi dia bisa leluasa memeluk pinggang istrinya kalau tidak saat itu.


Mereka sudah berada didepan kamar hotel yang Saga katakan. Juni merasa ada yang sedikit aneh menurutnya. Saga membuka pintu kamarnya dengan bantuan Juni. Mereka masuk kedalam kamar. Juni masih berpikir kalau kamar itu adalah tempat dia melihat kakaknya sedang memeluk punggung seorang pria. Juni yang masih memeluk pinggang suaminya segera melepaskan pinggang suaminya dan memperhatikan Saga dari ujung atas hingga ujung bawah kakinya.


"Kenapa yank? " tanya Saga kepada Juni yang merasa aneh Juni melihatnya dengan pandangan seperti itu.


Juni mendorong tubuh Saga, tubuh Saga terjatuh dirangjangnya. Saga merasa ada yang janggal tiba-tiba Juni bersikap kasar lagi kepadanya.


"Auuu. Pelan- pelan yank aku masih sakit" kata Saga yang tetap berpura- pura masih sakit padahal sudah merasa baikan sejak tadi. Saga tak tahu kenapa Juni berubah sikap lagi kepadanya.


"Maksud kamu apa? jelasin yank? " kata Saga.


"Dasar lelaki hidung belang" kata Juni


"Cabul sudah, pedofilia sudah dan sekarang aku dapat predikat hidung belang secara tiba-tiba. Salah aku apa lagi yank? " kata Saga yang tidak tahu salahnya apa.


"Om kan yang peluk pelukan sama kakak lisa. disini" kata Juni.


"Aku lihat lisa lagi meluk seorang pria dan aku gak nyangka pria itu adalah suami aku sendiri" kata Juni.


"Suami?" kata Saga dalam hati mendengar perkatan Juni. Saga begitu senang karena Juni sudah mengakuinya sebagai suami tapi ia tahu kalau semua yang Juni pikirkan salah tentang dirinya.


"Kejadiannya gak gitu Jun" kata Saga.


"Berarti bener pria itu Om sendiri" kata Juni. Juni berbalik arah. Juni melangkah akan meninggalkan Saga lagi. Tangannya di gapai oleh Saga dan ditarik pelan. Juni sudah berada dipangkuan suaminya. Juni beranjak ingin berdiri namun dua tangan Juni dipegang oleh Saga dan disilangkan menyilang ketubuh Juni sendiri sehingga Juni tak bisa berdiri lagi.


"Om lepasin" kata Juni

__ADS_1


"Biarin kita kayak gini sejenak yank" kata Saga. Juni hanya menghela nafas panjang.


"Aku memang ketemu sama Lisa didepan kamar hotel tapi tidak seperti yang kamu bayangkan" imbuh Saga


"Udahlah om," kata Juni ingin membantah semua perkataan Saga.


"Serius Jun, Aku sudah mengirimi kamu pesan tapi masih kepending sampai sekarang. Aku terus mencoba menghubungi kamu tapi ponsel kamu gak aktif. Aku ketemu sama Lisa itu kebetulan didepan lorong saat aku mencoba menghubungi kamu lagi"


"Pakai acara peluk-pelukan segala" kata Juni


"Kamu lihat siapa yang meluk " tanya Saga


"Ya Kak Lisa" jawab Juni.


"Kecuali kamu lihat aku meluk Lisa wajar kamu cemburu" kata Saga.


"Cemburu? kata siapa aku cemburu" kata Juni.


"Kamu gak cemburu yank, ya udah kalau kamu gak cemburu kenapa dipermasalahin" kata Saga sambil tersenyum mendengar perkataan Juni. Saga merasa gemas melihat Juni yang seperti itu. Saga memeluk erat tubuh Juni dan mencium punggung Juni berkali-kali.


"Om apaan sich? Geli. lepas gak" kata Juni.


"Gak mau" kata Saga.


"Oh iya kamu bilang sedang ada direstauran dengan teman tapi kenapa aku malah lihat kamu ke hotel sama si bocah ingusan itu" kata Saga


Juni menjawab perkataan Saga menjelaskan kalau dirinya diberi tugas oleh Trala untuk mengajak Tomi makan direstauran dilantai bawah berusaha untuk mengundur- undur waktu dan dia juga menceritakan kalau batrai ponselnya habis jadi tak bisa mengabari lebih lanjut pada suaminya itu.


Mendengar penjelas panjang lebar dari Juni, Saga hanya membalasnya dengan tawa yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa Om tertawa. Ada yang lucu? " tanya Juni yang menoleh arah belakang melihat wajah Saga tertawa.


"Aku gak minta kamu buat jelasin panjang lebar seperti itu" kata Saga.


Juni terdiam baru menyadari kalau saat itu mulutnya tak henti berbicara menjelaskan sesuatu yang sebenarnya penjelasannya hanya bisa dipersingkat. Dia tak menyadari dirinya sendiri karena bersikap aneh dengan suaminya yang dulu sangat dia benci. Sejak kapan Juni berubah memperlakukan Saga, jika pertanyaan itu ditanyakan kepada Juni mungkin dirinya juga tak bisa menjawab.


Saga yang masih memeluk erat tubuh Juni dari arah belakang merasa sangat berbeda. Juni sudah mulai menerima dirinya dan tak membentengin diri untuk terus menolaknya. Dia juga bersyukur sudah menjahili Juni karena sejak saat itu Juni berubah didepannya.

__ADS_1


__ADS_2