Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Serangan


__ADS_3

"Lo nggak bisa ngobrol sama arwah itu?"


Itu adalah satu-satunya pertanyaan yang keluar dari mulut Dirga, lantaran dirinya merasa tidak sabar dengan semua misteri yang muncul secara berkala. Seakan-akan Dirga harus memecahkan teka-teki untuk menjadi pemenang. Dia hanya ingin segera terlepas, lantas kembali pada kehidupan lamanya sebelum semua ini terjadi. Apalagi semua sudah berlangsung bertahun-tahun. Bukankah lebih cepat selesai karena lebih banyak mengetahui penyebabnya?


"Gue nggak tau, nggak pernah nyoba juga," jawab Sakura.


Terdengar helaan nafas berat dari laki-laki itu, seperti tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Sakura. Bukan itu jawaban yang dia inginkan. Lantas usai diam beberapa detik, sebuah ide melintas di kepalanya. "Kalau begitu, kita coba. Tutup mata," kata Dirga.


Begitu mendadak? Melihat tanpa interaksi saja Sakura masih tidak mau, kenapa sekarang Dirga menyuruhnya untuk mencoba berkomunikasi dengan sosok itu? Air muka Sakura telah mengatakan jika dirinya tidak setuju, namun Dirga seperti tak memiliki perasaan yang memikirkan keinginan dirinya sendiri. Dan karena Sakura juga sudah menyanggupi untuk membantu, dia akhirnya mau melakukannya.


Pun kedua maniknya telah tertutup sempurna, dibarengi dengan bibir bawah yang digigit sengaja. Sedikit takut dengan apa yang akan dia hadapi nantinya. Namun, rasa takutnya itu tak lebih besar ketika dia merasakan tangannya digenggam oleh wanita paruh baya yang sedari tadi bersama dirinya dan Dirga.


"Buka matanya sekarang," titah Dirga.


Maniknya terbuka, genggaman tangannya pada ibunda Durga semakin kuat usai arwah itu tertangkap kedua netranya. Nafasnya tercekat lantaran dirinya dan arwah itu saling menatap. Cukup lama keadaan hening menyambar ruang tamu itu, Dirga dan ibunya membaca air muka Sakura dengan begitu serius. Namun, memang belum ada interaksi apapun antara dirinya dengan arwah perempuan itu. Sakura sampai menelan ludahnya kesulitan, bulir keringat juga mulai bermunculan pada permukaan kulitnya. Lantas dia hanya memberikan satu kali tundukkan kepala, seperti memberikan rasa hormatnya pada arwah tersebut.


Selepasnya, Sakura menatap Dirga dan ibunya secara bergantian. Entah apa makna dibalik tatapan yang dia berikan, tetapi Dirga mencoba untuk menyuruhnya mengatakan sesuatu pada arwah tersebut.


"Bilang ke dia, supaya dia pergi jauh dan nggak usah ganggu kehidupan gue lagi" pintanya.

__ADS_1


Tatapan Sakura kembali pada arwah perempuan itu, namun baru beberapa detik mereka kembali bertatap, Sakura melihat adanya guratan kemarahan dari sosok perempuan yang hanya bisa dilihatnya. "Kayaknya itu bukan permintaan yang bagus. Dia kelihatan nggak suka waktu lo ngomong itu," balas Sakura.


"Dirga, jangan terburu-buru. Sakura menghadapinya sendiran," sela ibunda Dirga.


Dengan helaan nafas yang panjang, akhirnya Dirga mengalah untuk mengubah permintaannya. "Kalau gitu, gue mau cincin ini lepas dari jari gue," kata Dirga usai mengubah permintaannya.


Telat setelah kalimat Dirga selesai terlontar, dia merasakan tangan kirinya terangkat sendirian dengan telapak tangan yang terbuka lebar. Dia sedikit senang lantaran permintaannya akan terkabul. Padahal, Sakura belum mengatakan permintaan itu pada arwah perempuan di sebelah Dirga, namun dirinya juga merasa lega jika memang permintaan Dirga akan terkabul. Namun, hanya beberapa detik pikiran itu bercokol di kepala mereka. Sakura justru terkejut dengan perubahan wajah arwah perempuan itu yang mendadak akan melepaskan amarahnya—lebih besar dari sebelumnya.


"Lho?"


Dirga terkejut karena tubuhnya ikut bergerak mendekat ke arah Sakura. Telapak tangan yang terbuka itu telah berada di leher jenjang wanita itu, memberikan cengkraman yang semakin lama semakin kuat. Dirinya sampai mendapat banyak pukulan dari ibunya ketika melihat Sakura tengah menahan cengkraman tangan Dirga agar tak semakin mencekik lehernya.


Dengan segera sang ibu membalut jari manis putranya dengan kain seadanya, menolong Sakura lebih dulu dari cengkraman tersebut. Sakura sampai terbatuk usai cengkraman tangan Dirga bisa terlepas dari lehernya, pun air matanya juga mulai keluar dari pelupuk matanya. Dirinya masih berusaha mengatur nafas yang tidak karuan, dadanya naik-turun dengan jantung yang berdegup kencang. Dilihatnya ibunda Dirga yang berlari mengambil segelas air mineral untuknya.


"Udah cukup, jangan paksa Sakura lagi untuk berkomunikasi," kata wanita paruh baya itu.


Dirga perlahan menjauhkan dirinya, tangan kiri tersembunyi di balik punggung. Rasa takutnya kembali muncul ke permukaan, dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan dirinya hampir mencelakai seorang wanita lagi. Dibalik sana, tangannya bergetar hebat, begitu juga terasa dingin yang menjalar ke seluruh jari-jarinya. Tanpa sepatah kata, Dirga menghalau meninggalkan dua wanita tersebut menuju kamarnya. Pandangannya hanya terfokuskan pada tangan yang hingga kini masih membuatnya syok.


Dikala masih mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, mendadak terdengar suara deritan pintu yang terbuka. Menampilkan sosok sang ibu dengan tatapan menyedihkan teruju pada laki-laki itu. Dirga hanya membuang muka, masih menggenggam tangan kirinya yang perlahan mulai membaik. Sampai dia mendengar suara per tempat tidurnya yang menandakan jika sang ibu meletakkan diri di sana.

__ADS_1


"Ibu tau kamu cuma mau semua ini selesai, tapi mungkin nggak ajan selesai dengan cepat sesuai kemauanmu. Lihat Sakura, nyawanya hampir terancam karena kamu terlalu cepat meminta supaya lepas dari arwah itu," tutur sang ibu. Terlihat Dirga yang masih diam dengan tatapan ke lain arah. "Tolong bersabar. Ibu juga tau, kamu nggak mau ada korban lagi," pungkas wanita paruh baya tersebut sebelum pergi meninggalkan kamar putranya.


Sedangkan di ruang tamu, Sakura tengah memandang ke seluruh sudut di ruang ini. Pasalnya, dia sama sekali tak melihat sosok apapun. Hanya bersama Dirga arwah itu berada. Karena cincin yang mengikat mereka, Dirga selalu pergi bersama arwah wanita yang tak mereka kenal sama sekali.


"Semua kecelakaan itu terjadi sebelum Dirga pakai cincin, arwah perempuan itu harusnya punya dendam buat orang yang pakai itu mobil. Anehnya, nggak ada satupun dari mantan Dirga yang kecelakaan karena mobil itu," Sakura masih mencoba untuk memikirkannya, menghubungkan dengan kejadian lama yang telah berlalu. "Emang paling jelas karena arwah perempuan itu suka sama Dirga. Daripada Dirga nyingkirin mobil itu, dan dia nggak bisa ketemu Dirga lagi, arwah itu lebih milih buat nyingkirin semua perempuan yang deket sama Dirga,"


Karena sejak tadi bergelut dengan pikirannya sendiri, Sakura terkejut kala mendengar suara langkah kaki yang menuruni tangga. Pribadi bertubuh jangkung itu terlihat berjalan keluar rumah dengan tangan memegang kunci mobil. Hanya saja, Dirga melewati dirinya begitu saja, membuat Sakura menautkan kedua alisnya. Bukan apa-apa, tapi bukankah Dirga seharusnya membawa dia pergi dari sini? Bahkan, taj sedikitpun Sakura menoleh ke arahnya.


"Wah, sikapnya kasar banget," cicitnya lirih.


Sampai sulit untuk berkata-kata, Sakura menggelengkan kepalanya, lantaran tak menyangka jika dirinya akan ditelantarkan begini. Wajah kesal itu langsung luntur saat seorang wanita menghampirinya—ibunda Dirga. Senyumannya tersemat, memberikan sikap sopannya pada wanita tersebut.


"Tolong maklumi sikapnya yang begitu, ya. Dia cuma takut ngelukain kamu," kata ibunda Dirga.


"Nggak apa-apa, tante. Soal itu, saya juga bisa paham," timpalnya, lantas dia membawa barang bawaannya sebelum berpamitan pada ibunda Dirga. "Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, tante,"


Sebelum Sakura benar-benar pergi, pergelangan tangannya sempat ditahan oleh wanita paruh baya tersebut. Dengan tatapan yang terarah pada ibunda Dirga, dia mendengarkan dengan seksama kalimat yang terucap dari mulut seorang ibu.


"Tolong bantu Dirga sampai dia benar-benar terlepas dari arwah perempuan itu," pintanya dan langsung mendapat anggukkan dari Sakura.

__ADS_1


__ADS_2