
"Riana ngajak ketemuan,"
Baru saja Sakura membuka ponselnya dan mendapati terdapat sebuah pesan yang berasal dari Riana. Pun wanita itu menunjukkan pesan yang dia dapat dari adik Ryan itu pada Dirga. Namun, laki-laki itu melarang Sakura untuk menemui gadis itu. Pasalnya, setiap Sakura bersama Riana, pasti dia akan mendapat masalah. Lebih baik Riana biarkan begitu saja, toh mereka berdua telah mendapat bukti kuat yang mereka butuhkan. Ditambah, Riana hampir tidak pernah membantu Sakura lagi, padahal permintaan gadis itu sangat sederhana untuk mengetahui pergerakan Ryan. Ya, memang sejak awal Riana tak bisa diajak untuk bekerja sama.
"Nggak usah dibales. Dia udah bukan urusan kita," kata Dirga seraya mengembalikan ponsel Sakura.
Sakura hanya menurut dengan apa yang diperintahkan oleh laki-laki itu. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas, mengabaikan pesan yang dikirimkan oleh gadis itu. Dirinya hanya akan fokus untuk melakukan hal yang harus dilakukannya bersama dengan Dirga. Tentunya juga bersama dengan arwah perempuan yang berada di kursi belakang.
Ini adalah hal yang paling membuat Sakura terheran dengan Hanna. Setelah kencannya dengan Dirga, kenapa Hanna mempertahankan penampilannya seperti wanita pada umumnya. Ya, sudah tidak ada lagi darah yang terlihat menempel di kulit hantu perempuan itu. Namun, baik Sakura maupun Dirga sama sekali tidak berniat untuk menanyakannya. Toh, yang paling penting bukan dari penampilan hantu itu.
Bersama-sama, mereka bertiga saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Ryan. Di rumah yang biasa Dirga datangi dulu, sudah tidak pernah dihuni. Bahkan, sudah ada banyak debu di kaca rumah sepupunya itu. Dan saat ini mereka akan mendatangi rumah yang memiliki risiko paling besar. Sebenarnya juga tidak ingin, tapi mereka dengan nekat mendatangi tempat tersebut.
"Hanna, inget ya, gue nggak masalah kalau lo mau marah. Tapi, kontak fisik cuma sampai cakaran, bukan nyawanya," tutur Sakura yang memberikan peringatan pada hantu perempuan itu.
"Iya. Tapi, kenapa nggak boleh?" tanya Hanna.
Sakura menarik nafasnya cukup panjang, dia sekali lagi harus menjelaskannya secara rinci pada arwah perempuan tersebut. "Kalau sampai dia meninggal, dan polisi nemuin banyak sidik jari gue sama Dirga, bisa-bisa kita berdua yang jadi tersangka. Polisi nggak akan percaya kalau yang bunuh itu arwah yang mau balas dendam," jelas Sakura.
Hanna menuruti apa yang dikatakan oleh Sakura. Arwah perempuan itu sekilas melirik ke arah Dirga, yang mana laki-laki itu sudah tidak bisa melihatnya. Ya, karena tidak setiap hari Dirga bisa melihat keberadaannya di sini. Dan yang bisa melihatnya hanyalah Sakura.
__ADS_1
"Boleh nyentuh, nggak?" tanya Hanna pada Dirga. Iya, dia juga tahu jika laki-laki itu tidak bisa mendengar kalimatnya. Namun, Hanna sama sekali tidak memperdulikan hal itu. "Nggak dijawab, aku anggap 'boleh'," kata Hanna lagi.
Sakura yang sedang meletakkan atensinya pada layar ponsel itu hanya bisa menahan tawanya. Jujur saja, Sakura sebenarnya merasa kasihan pada hantu perempuan itu, lantaran tidak bisa berinteraksi langsung dengan Dirga. Dan bisa dia lihat jelas sebesar itu rasa suka Hanna pada Dirga. Namun, yang menyukai laki-laki itu bukan hanya Hanna, tapi Sakura yang dengan jelas bisa dilihat oleh Dirga. Tidak masalah, bukan, jika Sakura juga ingin bersikap egois terhadap rasa sukanya pada laki-laki itu.
Sampai akhirnya ketiganya telah tiba di jarak beberapa meter dari rumah yang menjadi incaran mereka. Belum ada sedikitpun niatan untuk keluar dari mobil tersebut, mereka masih mencoba untuk memantau dari kejauhan. Iya, mereka juga melihat dengan jelas banyaknya laki-laki bertubuh besar yang sedang menjaga rumah itu. Tak pernah terlewatkan satu hari pun untuk menjaga rumah tuan mereka.
"Siap?" tanya Dirga.
"Siap," jawab Hanna.
"Percuma, dia nggak bisa dengerin lo," kata Sakura.
"Walau gue nggak bisa denger, tapi nggak ada pasti tau jawaban lo," kata laki-laki itu.
Wajah Hanna tersenyum sumringah, merasa bahagia ketika laki-laki itu bisa mengerti dirinya. "Manis banget," kata Hanna lagi.
Samurai yang bisa mendengar dengan jelas itu hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Lantas setelah mereka bertiga merasa yakin untuk keluar dari mobil, akhirnya mereka berjalan dengan penuh yakin untuk memasuki rumah itu. Tentunya, sebelum berhasil masuk, mereka berhadapan dengan laki-laki bertubuh besar itu. Sayangnya, kedatangan mereka hari ini bukan lah hari yang baik. Pasalnya, para penjaga itu mengatakan jika Ryan sedang tidak berada di rumah.
Hal itu tidak langsung dipercaya oleh Dirga. Bahkan, laki-laki itu juga meminta bukti jika Ryan tidak berada di sana. Dan ya, tanpa ragu mereka menunjukkannya, yang mana tidak terdapat mobil Ryan di sana. Di sebelahnya, Sakura hanya terdiam, pandangan wanita itu hanya terarah pada Hanna yang telah menerobos tanpa ragu. Iya, Hanna emang dengan sengaja kena menerobos ke dalam rumah itu guna memindai hal yang bisa dia tangkap di sana.
__ADS_1
Tak sampai lima menit, santai akhirnya hantu itu keluar dari rumah Ryan. Dia memberikan tanda isyarat untuk kembali ke dalam mobil.
"Ya udah, kalau emang Ryan nggak ada di rumah. Kita pergi sekarang," kata Sakura yang menggenggam pergelangan tangan Dirga guna menarik laki-laki itu dari sana. "Tapi, tolong kasih tau sama tuan kalian, kalau kita berdua datang ke sini," kata Sakura lagi.
Lantas dirinya dan juga Dirga akhirnya berjalan menuju ke mobil menyusul Hanna yang lebih dulu berada di sana. Supaya tidak meletakkan rasa curiga, Dirga sekarang melanjutkan mobilnya meninggalkan area itu. Dan di sana mereka mulai berbicara, dimana Hanna telah memeriksa seisi rumah Ryan.
"Apa aja yang ada di dalam rumah itu?" tanya Dirga.
Padahal, laki-laki itu tidak bisa berinteraksi langsung dengan Hanna. Namun, dia memposisikan dirinya seakan-akan melihat keberadaan hantu perempuan itu.
"Nggak ada sesuatu yang aneh dari rumahnya," Hanna menjeda kalimatnya. Tapi, tatapan hantu itu justru terarah pada Sakura. "Tapi, ada foto kamu di meja dia," katanya lagi.
"Foto gue?" tanya Sakura guna memastikan pendengarannya.
"Foto apa?" Dirga ikut bertanya.
"Bukan foto apa-apa, sih. Cuma foto yang ditaruh di atas meja," jawab Hanna.
Sakura memberitahu jawaban Hanna pada Dirga. Keduanya hanya bisa terdiam dengan kedua alis yang bertautan, serta kepala yang sedang berpikir dengan keras. Dan Dirga sendiri justru mengingat masa lalunya, yang mana semua perempuan yang dia sayang meninggal setelah seseorang mengincarnya. Lantas laki-laki itu menoleh ke arah wanita yang ada di sebelahnya. Jujur saja, dia tidak ingin memiliki pikiran negatif seperti ini, tapi hanya ini pikiran yang masuk akal.
__ADS_1
"Ryan pasti ngincer lo. Sama kayak yang dilakuin ke semua mantan gue," kata Dirga.