Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Menyadarkan Diri


__ADS_3

Semakin banyak melewati waktu, semakin membuat Dirga bertanya-tanya. Sebenarnya, kesalahan apa yang tidak dia sadari? Sampai-sampai membuat semua keadaan memburuk. Dia terus memikirkannya sepanjang hari. Kedatangan Riana beberapa hari lalu menjadi sebuah batu yang mengganjal dalam hatinya. Sulit untuk dilupakan ketika Dirga sendiri juga harus sadar diri.


Pandangannya mengarah pada layar komputer yang mati, dia hanya bisa menatap dirinya sendiri dari pantulan bayangannya. Kepalanya tak berhenti untuk berpikir, mencari kesalahannya sendiri. Pun hanya beberapa menit dia seperti itu, hingga akhirnya Dirga bangkit dari tempat duduknya, menyambar kunci mobil yang berada di atas meja. Langkahnya membawa laki-laki itu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan dealernya.


Manik Dirga terlihat begitu datar, namun dibalik pupil tersebut terdapat sesuatu yang hingga saat ini dia pikirkan. Bisa benar atau salah, dia hanya akan tahu setelah mobilnya ini sampai di tujuan.


"Sesuatu yang nggak gue sadari," ucapnya dalam hati.


Laju kendaraan itu semakin cepat, lantaran tidak ingin membuang waktu lebih lama untuk bertemu seseorang yang sangat dia butuhkan. Dan perjalanannya tidak banyak memakan waktu, hingga akhirnya dia berhenti di sebuah lahan parkir pusat perbelanjaan. Iya, pada akhirnya Dirga menyadari hal yang dikatakan oleh Riana. Sebab itu, tujuan pertamanya adalah pusat perbelanjaan ini, tempat dimana dia bertemu dukun itu untuk pertama kalinya.


Dia berlari seorang diri menuju bioskop, menggunakan kedua maniknya untuk mengamati setiap sudut di sana. Hanya saja, dia tak bisa menemukan dukun tersebut. Padahal, seharusnya waktu ini sangatlah tepat, lantaran tak ada banyak orang yang berkunjung—karena bukan akhir pekan. Akan tetapi, dia sama sekali tak menemukannya.


"Mana gue nggak tau dimana dia tinggal," ucapnya sedikit kesal.


Selain itu, Dirga juga tidak tahu, apakah Hanna ada di sebelahnya atau tidak. Dia ingin bertemu dengan dukun tersebut tanpa sepengetahuan Hanna, namun mustahil kenyataannya. Dirga seharusnya menyusun rencananya terlebih dahulu, bukan langsung melakukan pencarian ini. Sungguh, Dirga menyesal sekarang, lantaran terlalu memikirkan perkataan Riana. Ditambah dia tak menemukan dukun itu hari ini. Sepertinya, memang wanita tua itu tidak berada di sini.


Menyerah dengan usahanya, Dirga segera membawa dirinya pergi dari tempat itu. Dia bergegas menuju rumah Riana, yang mana laki-laki tersebut membutuhkan bantuannya. Masa bodoh dengan hantu perempuan yang akan mengikutinya itu, Dirga sudah tidak tahan lagi untuk melepaskannya.

__ADS_1


Mobil hitam itu melaju memecah jalanan dengan kecepatan sedang. Dia tak akan melakukan ini lagi, seharusnya Dirga sudah terbebas, tetapi harus terjebak dengan Hanna. Itu menjadi pikiran yang sejak tadi bercokol di kepalanya. Hanya saja apa yang ada di hadapannya saat ini tidak sesuai dengan yang dia pikirkan. Ingin mendatangi sepupunya saja, rumahnya tampak kosong.


"Apa dia masih kerja?" tanyanya.


Dirga menggigit bibir bawahnya disaat dirinya dilanda keraguan. Laki-laki itu merogoh sakunya guna mengambil ponsel dan menghubungi Riana. Sayangnya, panggilannya ditolak beberapa kali, menandakan jika Riana tak bisa berbicara dengan Dirga. Pun Dirga akhirnya mengirimkan pesan pada gadis itu supaya mereka bisa bertemu. Dan ya, akhirnya Dirga telah berhasil mengatur waktu untuk bertemu dengan sepupunya itu.


...****************...


Di sebuah kafe di tengah kota, Riana tengah menunggu kedatangan sepupunya yang bersikeras untuk bertemu dengannya. Tentunya, hari ini dia juga meletakkan harapan jika Dirga akan sadar dengan kesalahannya. Namun, dia hanya akan mendengarkan apa yang diinginkan laki-laki itu tanpa membahas hal yang sedang mereka hadapi.


Sampai akhirnya dia melihat seorang laki-laki yang berlari menerobos hujan memasuki pintu utama kafe ini. Riana hanya terdiam sampai Dirga berhasil menemukan keberadaannya. Barulah keduanya duduk bersebelahan, dimana Dirga memasang raut wajah penuh harap dengan sedikit senyuman di sana. Wah, baru kali ini Riana merasa sepupunya selemah ini.


"Gue sadar kesalahan gue. Iya, gue akui gue salah waktu itu. Dan sekarang gue butuh bantuan lo," kata Dirga.


Gadis itu masih terdiam, dia melipat kedua tangannya di depan dada, masih dengan menatap Dirga. Dia mencoba untuk mencari kalimat yang tak akan mengarah ke permasalahan mereka. Hanya saja, Riana tidak bisa bersuara lagi ketika Dirga dengan begitu tidak peduli mengatakannya secara gamblang.


"Gue bakal cari kemana dukun itu pergi, tapi lo harus ikut gue. Karena lo yang bisa lihat hantu," kata Dirga.

__ADS_1


"Dirga! Lo—" tangan Riana hendak menutup mulut laki-laki itu. Akan tetapi tidak dia lakukan, lantaran Dirga sudah terlanjur mengatakannya tanpa ia duga. "Nggak bisa lo nggak usah ngomong sejelas itu? Percuma," kata Riana yang memperjelas Dirga.


"Gue udah nggak peduli. Gue bener-bener udah capek kayak gini terus," kata Dirga.


Riana sampai menggigit kuku ibu jarinya, kedua alisnya juga tertekuk, serta kebingungan yang melanda gadis itu. Di sana dia mulai berpikir untuk menghadapi situasi semacam ini, barulah Riana menganggukkan kepalanya.


"Oke, apa yang mau gue bantu?" tanya Riana.


"Sederhana, lo cuma butuh pergi sama gue selama kita cari dukun itu. Kasih tau gue apa yang dilakuin hantu itu. Dan satu lagi, pancing dia," jelas laki-laki itu.


"Pancing? Pancing apa?" tanya Riana yang terkejut.


"Gue nggak bisa ngasih tau sekarang. Nanti aja kalau gue udah butuhin hal itu," jawab Dirga.


Demi apapun, mendengar ide Dirga ini membuat Riana cukup khawatir. Pasalnya, Dirga tidak menjelaskannya secara rinci, yang mana membuat Riana tidak bisa memperkirakannya. Apalagi hantu perempuan itu selalu berada di sebelah Dirga. Berbeda dengan Sakura yang tidak pernah membuatnya harus berhubungan langsung dengan hantu tersebut.


Di tempat ini, tidak hanya ada mereka berdua, karena sebenarnya Sakura juga berada di lokasi yang sama. Hanya saja dia sengaja memesan meja yang berbeda dan jauh dari Dirga dan juga Riana. Semua obrolan yang terjadi di antara mereka berdua juga dapat terdengar oleh Sakura. Entahlah, wanita itu tidak memiliki perasaan apapun dengan rencana yang sudah ditambahkan oleh laki-laki. Dia juga tidak tahu apakah rencana Dirga akan berhasil atau tidak.

__ADS_1


Namun, di sana wanita itu juga bisa melihat jika arwah perempuan yang selalu bersama Dirga itu seperti tidak bisa melepaskan kemana Dirga akan pergi. Pasalnya, dari pengamatannya Hanna sudah bisa merasakan hal-hal yang direncanakan oleh mereka. Di sana Sakura juga tidak hanya diam, yang mana kepalanya berpikir keras untuk mencari solusi yang tepat. Ya, walaupun semua solusi yang dia pikirkan belum tentu mendapatkan hasil yang baik.


"Apa bisa pakai cara itu berhasil? Tapi, Dirga sama Hanna udah terlanjur terikat benang merah," gumamnya sendirian, tatapannya juga terarah pada mereka yang ada di bawah—Dirga, Riana, dan juga Hanna.


__ADS_2