Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Bukan Sembarangan


__ADS_3

Ada apa ini? Kenapa mendadak seseorang berharap bisa masuk ke dalam lingkup masalah ini? Dirga dan Sakura sama sekali tak bisa membuka mulutnya ketika melihat Riana yang berjalan dan bergabung bersama mereka. Sakura sendiri memalingkan wajahnya, lantaran ia tak mau menjelaskan pada Riana. Entah bagaimana Dirga.


"Bantu apa?" tanya Dirga.


"Apa aja yang bisa gue bantu," jawab Riana. Dia duduk di sofa tunggal dengan tubuh bersandar dan kaki bertumpu, serta kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapan tajamnya terarah pada dua presensi di hadapannya secara bergantian, senyuman miringnya juga menandakan dirinya bersedia untuk bergabung bersama mereka.


"Kalau gitu, nggak ada," balas Dirga lagi.


Atmosfenya mendadak berubah, Sakura juga sedari tadi tak berniat ikut menimbrung membahas hal yang sangat hati-hati untuk tidak dibicarakan. Akan tetapi, semua itu tak berjalan sesuai kemampuannya, karena pada akhirnya Sakura tetap mendapatkan pertanyaan yang mana membuatnya kebingungan untuk menjawab. Dia sampai melihat ke arah Dirga lantaran tak menemukan jawaban apapun.


Pun situasi seperti ini hanya membuat keadaan semakin canggung, Dirga sendiri segera bertindak. Dia melepaskan kaki Riana yang sedang bertumpu, memasang raut wajah kesal pada gadis yang memiliki usia tujuh tahun lebih muda dari Dirga. Ini rumahnya, Dirga berhak melakukan apapun, sekalipun pada tamu yang tak memiliki sopan santun.


"Dimana sopan santun lo?"


Riana sendiri tak mengubah posisi duduknya, dia justru menatap Dirga dengan tatapan datar. Dirga sendiri juga mampu membaca jika Riana tak memiliki rasa takutnya.


"Berapa tahun kenal gue?"


Wah, Dirga sama sekali tak mengira jika adik sepupunya itu malah menantangnya dengan begitu berani. Tapi, belum saja dia membalas kalimat tersebut, Riana justru menegakkan tubuhnya sebelum berujar kepada Sakura dan Dirga.


"Hantu perempuan, dress merah muda, korban pelecehan?"


Dirga dan Sakura secara bersamaan melihat ke arah Riana. Mereka berdua sama-sama tidak paham bagaimana Riana bisa mengetahui ciri-ciri dari sosok yang selama ini bersama mereka. Pun keduanya juga sempat bertukar pandang, menampilkan air muka penuh kebingungan. Karena pada dasarnya, baik Sakura maupun Dirga tak pernah memberitahu siapapun tutorial sepatu perempuan tersebut selain ibunda Dirga.


"Karena cincin itu, lo terhubung benang merah,"

__ADS_1


"Gue semakin yakin, kalau sebenarnya pelakunya emang Ryan. Dan dia ngirim Riana buat gabung sama kita," ucap Dirga begitu lantang.


"Kapan gue ketemu dia?"


Sakura masih terus bungkam, tak ada satupun yang bisa dia bicarakan mengenai pembicaraan mereka. Wanita itu memilih untuk mendiami seluruh perkataan Riana, kendati semua yang disebutkan memang benar adanya. Dalam diamnya, Sakura juga sempat memperhatikan kondisi yang masih berbincang dengan Dirga. Dalam pengamatannya, ia rasa Riana memang memiliki kemampuan yang sama dengannya. Akan tetapi, dia juga tidak bisa mempercayai seutuhnya. Toh, ini saja pertemuan pertama mereka.


Seraya mengamati, otak Sakura juga berpikir keras, menghadapi gadis dia dapat mereka secara hati-hati daripada salah bertindak dan membuat mereka semakin dirugikan. Lantas wajahnya menyematkan senyuman lembut, dia menahan salah satu tangan Dirga sebagai tanda untuk menghentikan perdebatan diantara mereka.


"Kalau emang mau bantu, gue minta tolong tanyain ke hantu perempuan yang lo lihat itu tentang kejadian detailnya. Sekarang juga,," pinta Sakura.


Hal ini membuat Dirga menoleh cepat ke arah Sakura, seakan wanita tersebut dengan mudah membuka masalah yang mereka hadapi. Akan tetapi, Sakura masih terlihat begitu tenang ketika berbicara, lantaran ia tak mau memperumit keadaan mereka. Walau dia tahu betul, jika Dirga diselimuti rasa bingung.


Terlihat jelas bagaimana Riana tersenyum menerima permintaan Sakura. Lantas tatapan garis itu terarah pada sosok yang berada di sebelah kiri Dirga. Iya, sosok yang memang selalu menempel pada laki-laki tersebut demi menyelesaikan masalahnya. Sakura dan Dirga hanya memperhatikan dalam diam, begitu tenang tanpa bersuara apapun.


Sore hari, Dirga mengantar Sakura pulang ke rumah. Selama perjalanan di dalam mobil, tak ada obrolan apapun di antara mereka berdua. Sakura tampak begitu tenang melihat jalanan di luar jendela. Padahal, Dirga saja tak begitu tenang dengan permintaan Sakura pada sosok hantu itu. Bagaimana jika Riana sungguh akan mengetahui akar permasalahannya?


"Lo nggak takut?" tanya Dirga.


"Udah banyak hantu yang gue temuin, jadi rasa takut itu mulai hilang," jawab Sakura.


Dirga terdiam sejemang, melihat Sakura yang masih menanggapinya begitu tenang. Mungkin Dirga bisa mengandalkan ketenangan tersebut, namun dia ingin memastikan hal yang membuat wanita yang ia sukai itu tampak tenang.


"Kenapa nggak takut kalau Riana tau?"


Barulah Sakura menoleh guna membalas tatapan Dirga. Dia memasang senyuman tipis, terlihat seperti mengatakan hal yang membuat keadaan membaik.

__ADS_1


"Karena hantu itu nggak akan segampang itu buat ngasih tau kejadiannya," jawab Sakura.


Dirga kembali bungkam, dia melihat ke arah Sakura dengan kedua alis yang terangkat bersamaan. Lantas salah satu sudut bibirnya terangkat, melihat air muka Sakura begitu menenangkannya.


"Tadi lihat, 'kan, Riana lumayan kesusahan buat ngajak ngobrol hantu perempuan itu. Karena hantu itu sama sekali nggak ngelihat ke arah Riana," jelas Sakura.


Wanita itu menoleh ke arah belakang, melihat sosok arwah tersebut yang diam. Sakura paham, tak akan pernah ada senyuman pada hantu wanita itu. Dia berterima kasih pada sosok tersebut untuk tetap menyembunyikannya dari orang baru.


"Tenang aja, masalah itu bakalan selesai," kata Sakura pada sosok tersebut.


Dia kembali pada posisinya, menatap jalanan dengan sedikit senyuman. Kepalanya semakin bekerja keras untuk menghadapi Ryan suatu hari nanti. Dia telah memikirkan sebuah ide yang masih harus ia pikirkan terlebih dahulu. Sakura masih belum mengetahui resiko melakukannya. Ada ketakutannya juga pada rencananya itu.


"Siapa namamu?" tanya Sakura.


"Dirga,"


Sakura menoleh cepat ke arah Dirga, dia menepuk lengan kiri laki-laki itu dengan sedikit keras. Iya, itu semua karena Sakura tidak bertanya pada Dirga, melainkan sosok yang ada di bangku belakang.


"Maaf, gue nggak tau kalau lo lagi nanya ke dia. Gue pikir, lo nanya gue," ucap Dirga.


Sakura kembali fokus pada sosok di belakangnya, dia berhasil mendapatkan nama dari hantu tersebut—karena memang selama ini, dia tak pernah bertanya. Dan karena telah berhasil mengetahui nama sosok tersebut, dia meminta satu hal pada arwah perempuan itu untuk tidak menghilang dari sisi mereka.


"Tolong jangan pergi dari kita berdua. Gue mohon kerja samanya," pinta Sakura.


Sejak tadi, Sakura memang berbicara pada sosok perempuan itu, tapi dimata Dirga, Sakura hanya berbicara sendiri. Memang karena dirinya yang tak memiliki kemampuan melihat makhluk halus, yang mana membuatnya tak bisa berkata-kata melihat Sakura. Mungkin, jika orang lain yang melihatnya, Sakura akan dianggap perempuan aneh. Atau mungkin memang karena hal tersebut yang membuat banyak orang tak mengetahui kemampuan yang Sakura miliki.

__ADS_1


__ADS_2