Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Menyinggung


__ADS_3

Tatapan itu masih terlihat begitu biasa saja, Dirga membawa dirinya masuk ke dalam ruangan. Akan tetapi, ketika tubuhnya telah berada di atas kursi, wajahnya mendadak terlihat begitu dingin dengan bola mata yang menyalang. Dibalik pupilnya, tersimpan hal yang dilakukan oleh Riana sejak kemarin. Dia menahan rasa kesal, memikirkan semua hal yang bisa dia gunakan untuk berbicara dengan Ryan. Walaupun tak menyukainya, Dirga tetap akan membicarakan hal tersebut pada sepupunya itu.


"Kemungkinan besar, dia nggak bakal ngaku," ucapnya. Laki-laki itu masih berpikir, kedua tangannya berada di atas meja, bergerak secara tak sadar mengikuti apa yang dikatakannya. "Tapi, kalau kenyataan memang mereka nggak sekongkol, gimana?"


Dirga sama sekali tidak percaya jika urusannya semakin rumit karena adanya orang baru yang harus mengganggu. Pasalnya, semua datang di waktu yang berdekatan setelah mereka mulai memperjelas masalahnya. Bukankah wajar jika Dirga dan Sakura akan beranggapan bahwa pelaku yang membunuh arwah perempuan itu adalah Ryan?


Laki-laki itu menyadarkan punya pada sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada seraya menarik nafas cukup panjang. Hanya beberapa detik kedua matanya terpejam, laki-laki itu kembali bangkit dari kursi dan bergerak keluar ruangannya. Langkahnya berakhir pada salah satu kursi yang mana menampilkan pemandangan di luar tempat kerjanya.


Dirga duduk dengan kaki yang saling bertumpu. Alasannya dia duduk di sini adalah untuk memancing kedatangan sepupunya. Ya, semenjak Dirga memberanikan diri untuk duduk bersama dengan para pegawai lainnya, dan berani untuk melayani setiap calon pembeli yang datang, Ryan selalu saja duduk tepat di sebelahnya—walau hanya ikut memandang jalanan. Dirga hanya ingin semua berjalan sangat natural, seakan apa yang akan dia bicarakan nanti tidak terlihat seperti telah direncanakan.


"Gue harap dia juga duduk di sini," ucapnya dalam batin.


Selagi menunggu hal tersebut terjadi, Dirga menyibukkan dirinya dengan bermain pada ponsel sendiri. Dia akan terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki pekerjaan di saat semua pegawainya bergerak ketika melihat keberadaannya. Pun hal itu juga dia lakukan demi menghilangkan rasa bosannya. Padahal, Dirga sendiri juga tak berpikiran untuk membuat para pegawainya merasa tertekan dengan keberadaannya. Toh, tujuan Dirga sebenarnya bukan untuk mereka.


Lantas dari ekor matanya, dia menangkap sosok tidak asing dari postur tubuhnya. Dirga masih menganggapnya jika dirinya tidak fokus terhadap keadaan sebenarnya. Dan hanya menunggu waktu beberapa detik saja sampai akhirnya dia melihat Ryan yang duduk bersebelahan.


"Wah, gue masih nggak nyangka kalau akhirnya lo mau duduk di sini. Padahal juga udah berkali-kali gue ngeliat lo," kata Ryan yang memulai obrolan mereka berdua.

__ADS_1


Mendengar kalimat tersebut, Dirga makan dengan kegiatan yang menatap layar ponsel dan memilih untuk memasukkan benda tersebut pada salah satu sakunya. Dia tersenyum datar tanpa menoleh ke arah sepupunya itu. Lantas melakukan kepalanya beberapa kali sebelum menimpali kalimat tersebut.


"Ya, kadang gue sendiri juga masih nggak percaya kalau berani buat ngelakuin hal ini. Selama bertahun-tahun, gue selalu ngurung diri di dalam ruangan," balasnya.


Pun akhirnya mereka berdua sama-sama terdiam seraya memperhatikan para pegawai yang terlalu lama untuk mengurus mobil-mobil yang berada di sana. Sebagian ada yang mencucinya, sebagian lagi sedang memeriksa bagian mesinnya. Ah, pemandangan ini bukan pemandangan yang Dirga butuhkan. Akan tetapi, laki-laki itu masih menahan dirinya untuk waktu beberapa menit sebelum akhirnya menanyakan Riana pada sepupunya itu.


"Yan," panggil Dirga. "Lo udah ketemu Riana?" tanyanya.


"Buat apa ketemu? Lo sendiri tahu dia suka ngelakuin hal yang dia mau tanpa pikir panjang. Dan mana mau dia dateng jauh-jauh cuma buat ketemu gue," jawab Dirga.


"Jawaban lo seakan kalian berdua itu pacaran," kata Dirga dengan tubuh yang mendadak merinding mendengar kalimat tersebut.


"Kemarin gue ketemu dia," Dirga menjeda kalimatnya serta membuang nafasnya begitu kasar ketika kembali mengingat kejadian kemarin. "Gue sama Sakura lagi kencan, tapi secara tiba-tiba dia dateng gangguin kencan gue," katanya lagi.


Lagi-lagi Ryan terkekeh mendengar cerita tersebut dari sepupunya sendiri. Ya, pasalnya dia cuma tidak merasa terheran dengan tingkah laku adiknya yang semacam. Itu menjadi salah satu alasannya kenapa dia jarang mengakui Riana sebagai adiknya sendiri.


"Jangan heran, dia emang tengil," tutur Ryan.

__ADS_1


"Iya, gue juga tau kalau dia itu tengil. Tapi, gue sama Sakura jadi nggak bisa kencan. Mana wajahnya Sakura udah nggak enak banget waktu Riana datang tiba-tiba aja,"


Dirga masih belum bisa menanyakan hal seputar masalahnya. Pasalnya, rasa curiga terhadap Ryan. Sebab itu, obrolan ini dia lengkap sebagai awal untuk memberitahu jika dirinya telah bertemu Riana yang mengganggu acara kencannya bersama dengan Sakura. Lantas untuk mengakhiri obrolan tersebut, Dirga kembali layar ponselnya. Dan secara tiba-tiba dia juga mendapat lemparan pertanyaan dari Ryan.


"Cincin itu masih belum lepas?"


Mengerti arah pembicaraan laki-laki itu, Dirga membalik telapak tangannya dan melihat cincin yang masih melingkar pada jari manisnya. Dia pengakuan kepalanya dengan sedikit kepasrahan akan nasibnya sendiri. Bagiamana tidak? Selamat berbulan-bulan cincin itu tetap menempel pada jarinya tanpa terlihat tanda-tanda terlepas sedikitpun.


"Gue juga udah bosan sama cincin ini. Nggak nyaman. Dan masalahnya, cincin ini bisa terlepas kalau gue berhasil nemuin seseorang," jelas Dirga yang dengan sengaja sedikit menyinggung sepupunya tersebut.


"Siapa yang lo cari?" tanya Ryan.


Entah bagaimana Dirga mendeskripsikannya, pasalnya kamu punya informasi terlihat begitu tenang. Dia rasa Ryan berusaha untuk menutupi dirinya agar tidak terlihat mencurigakan di matanya—kendati Dirga juga telah mengetahuinya.


"Ada. Seseorang yang punya bekas luka cakar selama bertahun-tahun," jawab Dirga. Ponselnya kembali dia masukkan ke dalam saku sebelum melanjutkan ucapannya. "Anehnya, yang namanya luka cakar itu pasti sembuh dalam waktu beberapa hari. Tapi, bekas luka itu justru ada selama bertahun-tahun. Banyak orang yang punya bekas luka cakar semacam itu, dan nggak tahu siapa salah satu dari mereka yang ternyata pelakunya," pungkasnya.


Dirga merasa jika kalimatnya itu sudah cukup banyak menyinggung sepupunya yang diduga sebagai pelaku dari arwah perempuan itu. Pun dia memilih untuk bangkit dari tempatnya duduk dan berniat untuk kembali masuk ke dalam ruangannya. Tentu saja, Dirga juga perlu mengamankan dirinya dari pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin saja keluar dari mulut Ryan—karena rasa penasarannya atau rasa bersalahnya.

__ADS_1


Pribadi itu meninggalkan sepupunya dengan senyuman di wajah. Seakan merasa puas dengan obrolan mereka siang hari ini.


__ADS_2