
Suara debuman keras yang berasal dari pintu mobil tertutup itu baru saja mengudara. Sang pemilik berjalan dengan langkah terburu menuju pintu masuk sebuah minimarket. Wajahnya yang tampak begitu serius menandakan dirinya membutuhkan seseorang yang bekerja di minimarket tersebut. Banyak pasang mata yang terarah pada Dirga ketika laki-laki jangkung itu berdiri di depan kasir. Belum disapa oleh karyawan saja, Dirga langsung menyela kalimat mereka semua.
"Apa Sakura ada?" tanyanya yang langsung pada intinya.
Kontan beberapa pegawai wanita yang mendengar hal tersebut spai terdiam beberapa detik, menyadarkan diri lantaran terintimidasi oleh suara bariton laki-laki tersebut. Pun seorang pegawai wanita dengan rambut pendek itu membuka suaranya. Mengatakan pada Dirga jika sosok yang tengah dicari itu sedang tidak berada di sini.
"Maaf, tuan. Hari ini jadwal dia bekerja di toko kue," kata pegawai tersebut. Salah satu tangannya juga menunjukkan alamat di mana lokasi toko kue yang dimaksud itu.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, laki-laki itu segera pergi membawa alamat tersebut. Dirga membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, memecah jalanan menuju alamat di tangannya. Dia tak ingin membuang banyak waktu, saat ini juga Dirga harus bertemu dengan Sakura. Hanya wanita itu yang sudah terlanjur masuk ke dalam inti masalahnya, bahkan Sakura lah yang memulai. Dirga tak akan tahu apa-apa jika saat itu Sakura tidak mencegahnya.
Hingga akhirnya kini Dirga tiba di tempat dimana dia bisa menemukan Sakura. Laki-laki itu berjalan masuk ke sebuah toko dan mendapati presensi yang dicarinya tengah berdiri di balik meja. Tanpa ragu Dirga memegang pergelangan tangan wanita itu, berniat membawa Sakura meninggalkan pekerjaan tanpa izin. Sayangnya, usaha Dirga tak sesuai dengan yang dia bayangkan, karena pada dasarnya tak semudah itu membawa pergi Sakura untuk melepaskan tanggung jawabnya di toko kue ini. Iya, perempuan itu melepas paksa tangan Dirga, dia tak mau diajak pergi begitu saja.
"Jangan sembarangan narik orang, gue masih kerja," kata Sakura.
"Ayo, bantu gue buat ngusir perempuan itu,"
Sakura masih terdiam, meletakkan sorot matanya pada laki-laki yang belum lama dia kenal. Dia terdiam, dengan harapan jika Dirga bisa mengerti keadaannya sekarang yang masih dalam jam kerjanya. Sekalipun Sakura ingin menbantu, dia tetap tak akan meninggalkan pekerjaan ini sampai jam kerjanya benar-benar berakhir. Apalagi cara laki-laki itu meminta bantuan padanya, terlihat seakan Sakura langsung akan menyetujuinya. Bahkan, karena suara mereka yang cukup lantang, sang pemilik toko sampai menghampiri keduanya. Sakura tak bisa menghindari hal ini.
Seakan mati kutu, keduanya sama-sama bungkam melihat presensi pemilik toko yang kini menghampiri mereka. Begitu juga dengan Dirga yang memilih untuk memalingkan wajahnya—rasa takutnya untuk dekat dengan wanita masih ada. Baik Sakura dan Dirga sama-sama memalingkan wajah mereka, enggan bertatap dan memberikan penjelasan. Situasi ini juga membingungkan bagi pemilik toko kue tersebut, hanya menatap dua presensi itu secara bergantian. Entahlah, dirinya tak tahu harus bagaimana usai mereka saling terdiam. Hanya keberadaannya, suasana kembali hening.
Namun, ketika pemilik toko tersebut mengamati perawakan Dirga dalam waktu singkat, membawa ingatannya pada pemilik dealer. Ya, wanita itu tak melupakan paras terbatas Dirga—kendati mereka tak bertemu lama.
__ADS_1
"Bukannya anda pemilik dealer itu?" tanya sang pemilik.
"Iya, saya memang pemiliknya," jawab Dirga sekenanya, tatapannya juga masih menghindar.
Entah kenapa, merasa pemilik toko tersebut mengenalnya, Dirga memiliki rasa lebih percaya diri untuk bisa mengajak Sakura pergi dari sini. Hanya saja, dia harus bisa melawan rasa takutnya itu. Dirga berperang dengan pikirannya sendiri, berusaha mengambil keputusan cepat. Hingga akhirnya Dirga memutuskan untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan. Bahkan, tak ada basa-basi dalam kalimatnya.
"Apa saya bisa membawa Sakura pergi bersama saya?" tanyanya langsung. Karena pertanyaan dadakan itu, sang pemilik toko kue tersebut terdiam. "Saya butuh dia dalam urusan pribadi," katanya lagi.
"Maaf, kalau begitu tidak bisa, Sakura pegawai saya. Dia tidak bisa pergi sebelum jam bekerjanya berakhir. Tolong hargain itu," jelasnya, sang pemilik toko kue.
Memang dasarnya tak pintar untuk berbasa-basi, Dirga sedikit memiringkan tubuhnya, menatap Sakura sebelum membuka suaranya. "Kapan jam kerja lo selesai?" tanyanya.
"Setengah jam lagi," jawab Sakura.
Konversasi singkat yang terjadi diantara Dirga dan Sakura membuat Dirga menunjukkan keseriusannya untuk tetap menunggu Sakura. Sejujurnya, hal itu bukan urusan Sakura untuk membuat Dirga menunggu atau tidak, toh itu pilihan laki-laki itu sendiri. Namun, yang membuat Sakura dan pemilik toko kue tersebut tak habis pikir adalah tempat Dirga menunggu jam kerja Sakura selesai. Laki-laki itu berada di dalam toko kue, seraya memutari setiap rak yang memajang banyak jenis dari makanan manis tersebut. Ya sudah, mau bagaimana lagi? Dirinya harus seperti ini selama tiga puluh menit kedepan.
Atau mungkin itu jadi hal baik untuk toko tersebut? Pasalnya, baru beberapa menit Dirga menelusuri tiap rak, sudah ada banyak pelanggan yang datang. Semua didominasi oleh wanita.
"Apa kita biarin aja dia di sini? Dia narik banyak perempuan," bisik sang pemilik toko pada Sakura.
"Tapi dia nggak tertarik sama mereka," balas Sakura.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya. Sakura tak memberikan jawaban jelas, dia hanya menatap bosnya itu. "Ah, dia suka sama yang ganteng?"
Begitulah kesimpulan yang diambil oleh pemilik toko kue tersebut, pun wanita berusia empat puluh tahunan itu berjalan masuk dengan kepala yang mengangguk. Yang mana membuat Sakura sedikit tertawa dengan kalimat bosnya tadi. Dan dari tempatnya berada, dengan jelas dia menyaksikan bagaimana Dirga menghindari beberapa wanita yang mendekatinya. Bahkan laki-laki itu tak menimpali satupun pertanyaan para wanita di sana. Berakhirlah Dirga yang tak betah, laki-laki itu pergi meninggalkan toko.
Sakura hanya melihat laki-laki itu yang memasuki mobilnya. Awalnya ia kira Dirga akan menyerah dan memilih untuk meninggalkan lokasi ini, hanya saja mobilnya tak melaju sama sekali. Ya, perempuan itu rasa Dirga serius dengan ucapannya. Tidak tahu kenapa malah menimbulkan rasa kasihan, mendorongnya untuk memberikan bantuan pada Dirga. Walau dia tahu, jika dirinya akan berurusan dengan arwah perempuan itu.
Sampai tiga puluh menit berlalu, Dirga masih setia menunggu di sana. Pandangan laki-laki itu terarah pada sepasang kekasih yang sedang bersama. Saking lekatnya memandang, pribadi itu terjingkrak usai seseorang mengetuk jendela kacanya. Dan sosok tersebut yang membuatnya menunggu di tempat ini. Akhirnya, Dirga sangat senang karena usahanya menunggu di sini tidak menjadi sia-sia. Terbukti dengan kedatangan Sakura yang mengatakan dengan jelas jika dirinya mau memberikan uluran tangannya membuatnya terlepas dari arwah perempuan tersebut.
"Pertama, pakai sarung tangan lo. Gue ngeri lihat dia," pintanya.
Tentu saja hal sederhana itu kontan dituruti oleh Dirga. Sakura benar-benar menunggu Dirga untuk memasang sarung tangan tersebut. Walau dia tahu arwah itu duduk bersebelahan dengan Dirga, setidaknya keberadaannya tak terlihat—sekalipun olehnya—ketika laki-laki itu mengenakan sarung tangannya. Barulah Sakura mau memasuki mobil Dirga dan ikut dengan laki-laki itu pergi meninggalkan toko kue ini.
Selama di dalam mobil, Dirga menjelaskan apa yang terjadi padanya kemarin. Bagaimana sosok arwah perempuan itu terpampang jelas di sebelahnya, serta sentuhan dingin dari pelukan wanita tersebut di tubuhnya. Ini adalah hal yang benar-benar diluar Dirga sendiri. Namun, dugaan Sakura memang benar adanya jika arwah perempuan itu telah menyukai Dirga. Sebab itu, Dirga hanya menganggap jika dirinya pembawa sial bagi perempuan.
Sampai pada akhirnya mobil Dirga berhenti di rumahnya, semakin membuat Sakura terkejut karena laki-laki itu tidak mengatakan akan membawanya ke sini. Wah, Sakura terkejut bukan main, rasanya Sakura ingin memukul Dirga. Wanita itu sudah tak bisa menolak, lantaran Dirga juga sudah berjalan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan dirinya yang masih di dalam mobil. Pun dengan helaan nafasnya yang berat, Sakura turut keluar dari sana, menyusul laki-laki itu. Padahal, baru saja meletakkan diri di sofa ruang tamu, suara lain telah memecahkan atensinya. Suara seorang wanita yang merupakan ibunda Dirga.
"Sore, ibu," sapa Sakura lebih dulu.
"Sore. Ini pertama kalinya setelah lima tahun berlalu Dirga bawa perempuan lagi ke rumah," ucap ibunda Dirga.
"Itu Sakura, yang bakal ngebantu aku, bu," sela Dirga disaat laki-laki itu turut duduk bersama dua wanita di sana.
__ADS_1
Karena rasa penasarannya kembali muncul, akhirnya sang ibu kembali membahas permasalahan yang dihadapi oleh Dirga. Wanita paruh baya itu banyak bertanya perihal apa yang bisa dilakukan untuk menghilangkan arwah perempuan itu dari sisi Dirga. Namun, karena Sakura juga tak memiliki kekuatan sekuat itu, dia hanya menggelengkan kepalanya, lantaran tak memiliki solusi apapun untuk menghilangkan dengan cepat. Melihat sosok itu saja Sakura masih sering takut dan menghindar. Di sanalah semua cerita yang berdasarkan kisah nyata Dirga dimulai, yang mana menjadikan Sakura berpikir lebih panjang untuk mencoba menyimpulkannya.
"Pusat masalah lo bukan ada di cincin itu, tapi mobil yang jadi tempat dimana cincin itu di simpen. Arwah itu nunggu momen dimana lo nemuin cincin itu," kata Sakura.