
Sejak kapan staminanya kembali secepat itu?
Itu salah pertanyaan yang bercokol di kepala Dirga sejak tadi ketika melihat Sakura telah berjalan layaknya sebuah seterika yang tengah menghaluskan pakaian. Dirga dan ibunya sampai lelah melihat wanita itu yang telah melakukannya lebih dari sepuluh menit. Sampai akhirnya terhenti saat tangan ibunda Dirga menahannya untuk tidak bergerak.
Sakura yang menatap manik wanita paruh baya itu nampak melemah. Dirinya duduk di sebelah ibunda Dirga, kepalanya bergerak cepat ke arah Dirga, menatap laki-laki itu dengan tatapan menyalang. Dia juga memutar maniknya jengah, merasa kesal dengan perkataan Dirga pada arwah itu.
"Apa?! Bantu balas dendam?! Yang bener aja,"
Dirga hanya bisa menundukkan kepalanya kala Sakura tengah bersuara. Bahkan, dia sendiri juga tak menyangka dengan perkataan spontannya yang ia lontarkan. "Mau gimana lagi? Nyatanya pakai cara itu, lo masih hidup sekarang," balas Dirga.
"Pakai kalimat lain nggak bisa? Bantuin balas dendam arwah jahat? Lo mau jadi orang jahat juga?" kesal Sakura.
Dikala keduanya saling membalas kalimat, ibunda Dirga menghela nafas panjang. Dua anak muda di sebelahnya ini terlihat tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing memiliki kalimat yang kuat untuk mengalahkan. Pribadi itu menoleh secara bergantian, lantas memegang masing-masing tangan mereka, berharap agar perdebatan diselesaikan dan berbicara dengan kepala dingin. Pasalnya, kejadian ini sudah terlanjur terjadi, yang mana harus dihadapi dengan mencari solusi.
Dengan caranya, Dirga dan Sakura akhirnya berhenti. Tak ada sahut-sahutan lagi guna memperkuat diri. Tapi tetap saja, jika keduanya sama-sama terdiam salam waktu yang lama juga membuat ibunda Dirga pening. Seperti menghadapai dua orang anak kecil.
"Ya udah, terserah kalian mau gimana. Ibu juga bingung sama tingkah kalian berdua," kata ibunda Dirga yang telah menyerah.
Dirga menghela nafasnya panjang, memilih untuk mengalah supaya keduanya bisa melanjutkannya. Wajahnya terarah pada Sakura yang masih membuang muka. "Oke, gue minta maaf karena ngelakuin kesalahan," Dirga menjeda kalimatnya, mencoba untuk bersikap lebih lembut lagi. "Karena lo yang paham soal ini, baiknya gimana supaya semua selesai? Atau minimal nggak ngerugiin kita," tanyanya.
Sakura sungguh pusing untuk memikirkan hal yang harus mereka lakukan ke depannya. Berbicara soal lawannya yang merupakan arwah jahat demi bisa membalaskan dendam pada pelaku yang membuatnya kehilangan nyawa. Sakura memegang pelipisnya, yang menyatakan dirinya masih berpikir keras. Dirinya menarik nafas panjang, menghelanya dengan penuh ketenangan.
"Kita lanjutin," katanya.
Hal itu membuat pertanyaan pada Dirga dan ibunya. Pasalnya, Sakura begitu mudah mengatakannya. Namun, dibandingkan Dirga dan sang ibu, memang Sakura lebih mengerti. Sebab itu, kedua presensi tersebut menyetujui yang dikatakan oleh Sakura.
__ADS_1
...****************...
Seharusnya tidak patut untuk dicontoh bekerja disaat kedua manik terasa berat untuk menutup. Namun, Sakura tetap harus mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Ingin membeli makanan dengan apa jika tidak memiliki uang? Walau masih begitu mengantuk, netranya ia paksakan untuk terbuka lebar.
Pribadi itu duduk bersandar saat melihat pegawai lain tengah memilah seluruh paket si depan mata. Baru Sakura sadari jika hari ini ada banyak paket yang berdatangan. Dia memilih untuk bangkit dari tempatnya, sekilas melihat seluruh paket berdatangan. Setelah ini, Sakura akan mengantarkan paket. Dia harus membuka maniknya dengan segelas kopi. Sakura tidak ingin ada kecelakaan lagi yang terjadi pada dirinya.
Satu sachet kopi instan yang diseduh dengan air panas telah mengepulkan asapnya, menebarkan aroma harum yang menggugah selera. Sakura menyesapnya, merasakan larutan tersebut melewati kerongkongannya. Namun, baru beberapa teguk, Sakura menjauhkan gelasnya dengan manik yang membola. Buru-buru Sakura meletakkan kembali gelasnya, bergerak cepat ke arah tempatnya semula.
Dia mengambil salah satu paket yang sempat tertangkap kedua matanya sebelum ke dapur. Kedua alis yang tertekuk menyatakan jika Sakura kembali membaca paket tersebut dengan seksama. "Bukannya ini alamat dealer yang terkenal itu, ya?" tanya Sakura.
"Iya, kenapa emangnya?"
"Biar gue aja yang nganter," katanya, dan langsung disetujui.
Motornya terparkir di pelataran, berjalan dengan tangan membawa sebuah kotak yang akan diberikan pada mereka. Maniknya berpendar ke segala arah, melihat ada banyak pegawai yang sibuk melayani pembeli. Sampai seorang laki-laki menghampirinya dengan senyuman halus.
"Cari siapa, mbak?" tanya laki-laki itu.
Ah, Sakura ingat, laki-laki di hadapannya itu adalah seseorang yang saat itu memberikan izin padanya untuk masuk ke dalam ruangan Dirga. Sakura membalas senyuman lembut itu, membaca nama penerima paket yang tertera.
"Paket atas nama Ryan," katanya.
"Oh, saya sendiri. Terima kasih,"
Sakura tak langsung pergi, dia melihat ke arah lain yang membuatnya penasaran sedari tadi. Sampai-sampai tangan Ryan melambai tepat di depan wajahnya, membuat Sakura kembali tersadar dengan air muka laki-laki itu. "Saya mau ketemu Dirga. Apa dia ada di ruangannya?" tanya Sakura.
__ADS_1
Ryan menoleh singkat ke arah ruangan sepupunya itu, dia menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Ada, sih. Tapi, Dirga nggak pernah mau buat ketemu sama perempuan. Maaf ya," ucap Ryan.
"Oh, tapi dari semalam saya sama Dirga, kok. Atau minta tolong panggilkan dia aja,"
"Maaf ya, mbak. Nggak bisa," balas Ryan.
Sakura dikeluarkan dari sana. Rasanya sungguh kesal terhadap laki-laki bernama Ryan itu. Dirinya juga tahu jika Dirga tidak pernah mau untuk bertemu perempuan, tapi dirinya ini yang selalu membantu laki-laki itu. Pun dia merogoh sakunya guna mengambil ponsel, mencari nomor Dirga untuk memanggilnya keluar. Bukan tanpa alasan Sakura melakukan hal ini, dia ingin bertemu dengan laki-laki itu sekarang juga.
Hingga beberapa menit setelahnya, dia mendengar suara Dirga yang baru saja keluar dari ruangannya—salah satu tangannya masih memegang kenop pintu. Tampak Dirga yang berjalan menghampirinya, menyingkirkan Ryan yang menghalangi langkahnya. Tatapan Dirga juga tak terputus dari Sakura, sampai laki-laki itu membawa Sakura ikut bersamanya dalam genggaman.
Sakura dan Dirga melewati Ryan begitu saja, tatapan mereka sama sekali tak terarah pada Ryan sedikitpun. Apalagi setelah keduanya tahu, jika Ryan berusaha menghilangkan benda yang penting baginya. Dan sebab itu juga, membuat Dirga enggan untuk berbicara pada sepupunya.
Keduanya telah berada di dalam ruangan Dirga, wanita itu mengelap telapak tangannya yang mendadak basah selepas digenggam Dirga. Lantas berdeham singkat sebelum membuka mulutnya.
"Begini, gambar yang sem—" ucapan Sakura mendadak terhenti saat Dirga meletakkan telapak tangannya di mulut. Laki-laki itu juga memberi isyarat untuk tidak bersuara, membuat Sakura bertanya-tanya.
Dari arah telunjuk Dirga pada pintu ruangannya, Sakura menyadari jika seseorang tengah berdiri di sana. Dirinya mengangguk beberapa kali, kembali bersuara guna mengalihkan topik pembicaraan tersebut.
"Tolong bilang ke nyokap lo kalau gue minta maaf, karena semalem sempet emosi karena hal itu. Gue beneran nggak sadar," kata Sakura lagi yang telah mengubah arah pembicaraan mereka.
"Gue sama nyokap juga paham. Yang penting, lo ngaku kalau lo salah," balas Dirga, sengaja dengan suara yang lantang dan tegas.
Sedangkan di luar ruangan, Ryan mendengar jelas semua yang dikatakan di dalam ruangan. Wajahnya mendadak masam, menghela nafas panjang lantaran dia tahu jika sindiran itu untuknya. Laki-laki itu berdecak singkat, hendak pergi meninggalkan ruangan Dirga. Hanya saja, secara tiba-tiba pintu terbuka.
"Udah ngerti, kan?"
__ADS_1