
"Ceritain tentang masa lalu lo,"
Kalimat itu membuat Sakura mengangkat wajahnya, melihat Dirga dengan tatapan datar, merasa kebingungan dengan ucapannya. Namun, yang Sakura lihat dari Dirga saat ini hanyalah tawa kecil.
"Kenapa tiba-tiba?" tanyanya.
"Ya nggak apa-apa, daripada suasananya sepi. Lagian, gue juga pengen tau semua tentang lo," kata Dirga.
Sakura masih terdiam, dia sendiri juga tak tahu harus memulai darimana tentang masa lalunya. Akan tetapi, laki-laki dihadapannya itu justru membantunya dengan bertanya sesuatu yang membuatnya tertarik untuk menceritakannya.
"Apa yang ngebuat lo suka dari diri lo sendiri? Dari kecil sampai sekarang,"
Pandangan Sakura teralihkan, mencoba untuk mengingat kembali hal-hal indahnya. Wajahnya sedikit menampilkan senyuman, seakan merasa sejuk ketika kembali mengingat kejadian lampau tersebut. Perlahan bayangan masa lalunya telah terkumpul, siap untuk dikatakan pada Dirga yang masih menanti jawaban itu.
"Sebenarnya, dibanding diri gue sendiri, gue jauh lebih suka anggota keluarga gue. Nyokap, bokap, adek gue," Sakura menjeda kalimatnya, senyumannya semakin lebar sebelum kembali bersuara. "Mereka tempat dimana gue bisa ngerasa dunia itu indah. Dimana gue sama sekali nggak ngerasa kesepian. Gue juga bisa ngerasain kehangatan mereka waktu gue lagi diposisi yang nyakitin buat diri gue," katanya dengan senyuman di matanya.
Dirga tersenyum ketika melihat wajah bahagia Sakura terarah padanya. Bahkan, dia masih setia untuk mendengarkan cerita kelanjutan tentang keluarga wanita itu. Ya, memang sengaja dia melakukan hal ini demi mengubah suasana hati Sakura. Kendati dia sendiri tidak merasakan apa yang dirasakan olehnya.
"Hampir setiap hari gue selalu ditelpon bokap kalau lagi keluar sama temen. Selalu ada batasan waktu di mana gue harus pulang jam itu juga," kata Sakura lagi.
"Itu udah jelas karena lo anak perempuan. Mana ada seorang ayah yang mau kehilangan anak perempuannya," timpal Dirga.
__ADS_1
Wanita tersebut menganggukkan kepalanya, dia memang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dirga. Dia masih tersenyum ketika mengingat kisah lamanya. Walau sudah bertahun-tahun yang lalu, Sakura sangat sulit dan bahkan tidak akan pernah melupakan kejadian yang membuatnya merasa bahagia dan rindu akan masa itu.
"Suatu hari nanti, gue mau anak gue ngerasain apa yang gue rasain waktu gue kecil. Sekalian lanjutin kalau nyokapnya ini pernah merasa bahagia itu sama kakek dan neneknya," kata Sakura yang sedang berharap untuk kebahagiaan suatu hari nanti.
Dirga ntar diam sejenak ketika maha perhatikan raut wajah sakura yang terlihat begitu senang dalam damai dengan kedua mata yang terpejam. "Suatu hari nanti, gue mau wujudin kemauan istri gue," katanya.
Tepat setelah kalimat itu terucap, Sakura membuka kedua matanya. Ia menoleh ke arah Dirga dengan gerakan kepala yang patah-patah. Mendadak wanita itu merasa malu dengan perkataan Dirga barusan. Dia sampai mengerjap beberapa kali sebelum menghindari tatapan Dirga.
"Kenapa jelas banget ngomongnya?"
Sakura tanpa malu-malu ketika mendengar kalimat Dirga. Memang tidak disebut dengan jelas pada siapa kalimat itu ditujukan, akan tetapi Sakura sendiri yang merasa jika memang Dirga berbicara tentang dirinya.
...****************...
"Gue seneng, karena lo bisa ceritain hal sekecil apapun itu ke gue. Kedepannya, jangan ragu buat cerita hal-hal semacam itu. Tolong ceritain semuanya, sekalipun tentang karet kuncir rambut lo yang hilang," tutur Dirga.
"Iya. Dan gue makasih banget, karena lu mau dengerin cerita itu. Nggak tau kenapa, rasanya bahagia, seneng karena ada orang yang bisa dan nerima cerita gue. Walaupun itu nggak penting buat lo," balas Sakura.
"Penting. Semua cerita lo penting buat gue," pungkas Dirga.
Mendadak Sakura berdecak, pandangannya juga terlihat begitu kesal dengan kedua alis yang tertekuk bersamaan. Tatapan itu terarah pada Dirga, membuat laki-laki tersebut sedikit terkejut dan kebingungan dengan tingkah dadakan Sakura.
__ADS_1
"Kenapa harus nunggu, sih? Masih lama banget padahal," ucap wanita itu. "Emang nggak bisa kita resmiin sekarang hubungannya? Kita nggak tau apa yang bakal terjadi kedepannya," ucapnya dari dalam hati.
Dirga terkejut dan tertawa mendengar curahan hati Sakura. Dalam diamnya, Dirga juga merasa gemas dengan wanita itu. Namun, laki-laki itu masih tetap menahan dirinya. Dia juga menjelaskan alasannya yang tak mau menjalani hubungan resmi dengan Sakura sebelum masalah mereka selesai.
"Iya, karena kita nggak tau apa yang bakal terjadi kedepannya, gue mohon buat lo nunggu. Karena masalah kita ini bisa aja ngerugiin kita, dan gue juga bisa jadi luka buat lo. Gue nggak mau, suatu hari nanti lo bakal terluka waktu nginget masa lalu kita," jelasnya.
Terdengar suara helaan nafas berat dari wanita itu. Tatapannya juga jengah, dia merasa pasrah dengan penuturan laki-laki tersebut. Padahal, jika memang suatu hari nanti Dirga bisa menjadi luka baginya, kenapa saat itu dia harus mengaku jika menyukai Sakura? Bukankah nantinya akan sama menyakitkannya?
Ketika sedang terdiam, Sakura melihat Dirga yang mendekat ke arahnya. Laki-laki itu langsung merentangkan kedua tangan guna memeluk wanita tersebut. Tanpa ragu, Sakura menerimanya, dia memeluk erat tubuh besar laki-laki itu. Menghirup kuat aroma parfum yang menyeruak ke dalam indera penciumannya.
Memang sih, Sakura juga menyadari jika hubungan keduanya masih belum resmi. Tapi, dia sadar hubungan ini sudah jauh melampaui ekspektasi mereka yang semula hanya untuk saling membantu. Dan sekarang malah saling menyukai, berharap lebih dari sekedar teman. Rasanya seperti tidak mungkin hal ini terjadi, tapi inilah kenyataannya, mereka saling membutuhkan satu sama lain.
"Boleh gue nginep malam ini?" tanya Dirga dengan suara yang lirih tepat ke arah rungu Sakura.
Sakura cukup terkejut mendengarnya, dia membolakan kedua mata dengan berkedip beberapa kali. Mendadak jantungnya juga berdebar kencang, dia merasakan pelukan Dirga begitu kuat sampai membuatnya sulit untuk menjauh dari tubuh laki-laki itu.
"M-mau apa?" tanya Sakura dengan suara yang terbata.
Dirga masih memeluk kuat tubuh Sakura, dia menarik nafas panjang guna menjawab pertanyaan itu. "Tidur sama lo," ucapnya dengan suara berat.
Pikiran Sakura juga secara tiba-tiba langsung kosong. Dia tak bisa berpikir apapun usai mendengar kalimat tersebut—bahkan, kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. Entahlah, Sakura tak bisa menemukan kalimat apapun untuk menimpali ucapan Dirga itu.
__ADS_1
"Boleh, ya? Malam ini aja," tanya Dirga untuk terakhir kalinya.