
Baru saja mobil Dirga berhenti di lahan parkir, laki-laki itu langsung keluar dan berlari menuju tempat dimana dia biasa meletakkan mobil milik arwah perempuan itu. Pasalnya, secara tiba-tiba mobil tersebut sudah tidak berada di tempatnya. Tentu saja ada yang membawanya keluar tanpa seizin Dirga. Pun dia langsung bertanya pada seluruh pegawainya di sana. Hanya saja, tak ada satupun pegawai yang berani membawanya selain Ryan.
"Kemana Ryan sekarang?!" tanya Dirga dengan suara lantang.
"Pak Ryan nggak bilang, pak. Cuma tadi dia pergi ke arah Selatan. Sekitar lima menit lalu," kata salah seorang pegawai.
Tanpa penuh keraguan, Dirga sekarang bergegas mencari Ryan yang telah membawa mobil tersebut tanpa seisinya. Bukan termasuk tidak mengizinkan sepupunya itu untuk menyentuh mobil tersebut, akan tetapi Dirga masih belum bisa percaya pada sepupunya itu akibat masalah yang saat ini berada di tengah-tengah mereka. Tentunya, ada rasa khawatir di dalam diri Dirga ketika mobil tersebut secara mendadak dibawa oleh Ryan.
Bagaimana tidak? Masalah ini saja formula karena mobil tersebut, dan lagi Dirga juga pasti masih membutuhkan mobil itu untuk mencari sesuatu yang mungkin terlewatkan olehnya.
Laki-laki itu melaju membaca jalanan komplek dengan kedua bola mata yang begitu teliti mengamati setiap tempat serta mobil berada di depannya. Lima menit yang lalu itu masih belum lama, dengan mobilnya yang dengan sengaja dia laju dengan kecepatan lebih cepat daripada biasanya, Dirga yakin akan berhasil menemui Ryan.
__ADS_1
"Ryan emang kurang ajar! Berani-beraninya dia bawa lari mobil itu!" kesalnya dengan kedua tangan yang meremat roda setir.
Jantung Dirga berdebar dua kali lipat lebih cepat, dengan amarah yang sedang dia tahan dengan sekuat mungkin. Jangan salahkan jika nanti dia akan meluapkan semua emosi yang terpendam itu pada sepupunya sendiri yang bersikap lantang dan tidak menghargai posisinya sebagai pemilik dealer tersebut. Apalagi sampai membawa barang yang bukan miliknya tanpa seizin dari atasannya sendiri.
Hampir sepuluh kilometer Dirga melaju mencari sepupunya itu. Namun, laki-laki itu masih belum menjumpai mobil yang dicarinya. Sampai pada akhirnya ketika dia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam yang berhenti pada salah satu toko yang menjual perlengkapan mobil. Entah apa yang akan dibeli oleh sepupunya di tempat itu, Dirga tak peduli. Dia hanya butuh mobil yang dibawanya.
Pribadi itu meletakkan mobilnya tepat di belakang mobil yang saat ini dia cari, lantas berjalan keluar bunda menghampiri Rian yang sudah berada di dalam toko tersebut. Laki-laki itu masih bersikap begitu tempat lantaran dia sadar jika keduanya masih berada di dalam toko.
"Dirga? Kenapa—"
Ucapan Ryan langsung terpotong begitu saja ketika Dirga tanpa ragu melayangkan sebuah pukulan di wajahnya kapan ketika mereka berdua keluar dari toko tersebut. Pun Dirga tak merasa bersalah sedikitpun untuk memberikan pukulan tersebut pada Ryan. Memang hal itu pantas dia dapatkan.
__ADS_1
"Apa-apaan sih, lo?!" kesal Ryan.
Laki-laki itu memegang wajahnya yang baru saja mengeluarkan darah ketika mendapat pukulan dari sepupunya sendiri. Tak kalah kesal, Ryan juga memberikan pukulan pada hidung Dirga sampai membuat sepupunya itu kesakitan.
"Ngapain bawa pergi mobil ini?! Mau coba ngilangin bukti!?"
Ryan masih menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia rasanya miring ketika mendengar kalimat tersebut dari mulut Dirga. Ryan masih belum menyangkal kalimat apapun yang dikatakan oleh sepupunya itu, bahkan dia kembali mendengarkan suara Dirga.
"Lo itu orang yang patut dicurigai!! Kesalahan lo di masa lalu berimbas ke gue!!" kata Dirga.
Dirga tapi saya penahan kekesalannya dan perkataannya ketika dia sudah berada di batas kesabaran akibat permasalahan yang selama ini dia coba untuk selesaikan—walaupun belum mendapatkan hasil yang diinginkan.
__ADS_1
"Oh, jadi emang selama ini target kalian berdua itu gue? Akhirnya, lo ngomong itu langsung ke gue!" timpal Ryan dengan wajah angkuhnya. Laki-laki itu menunjuk ke arah Dirga sebelum dia kembali bersuara. "Lihat aja, Dirga. Gue bakal ngehancurin lo lebih dari sebelumnya!" ucapnya sebelum pergi dan meludahi Dirga.