Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Kemungkinan Lain


__ADS_3

Jam lima sore membuat Sakura merasa dirinya dipenuhi akan keraguan. Dirinya berdiri di depan toko seraya memegang tali tas selempang begitu kuat, lantaran pikirannya yang terarah pada Dirga, mengingat pesan yang tertulis di balik foto mantan kekasihnya. Tapi, pasalnya dia terlalu sering mendatangi rumah laki-laki itu, membuatnya terlihat seperti bersemangat untuk bertemu dengan Dirga.


Wanita itu masih berpikir seorang diri, namun pada akhirnya dia memutuskan untuk membatalkan niatannya itu. Dia membawa kedua tungkainya guna mencari transportasi umum yang akan membawanya pulang. Ya, walau pikirannya terus mengatakan untuk memberitahu Dirga, Sakura menahannya. Toh, masih ada waktu esok hari untuk bertemu laki-laki itu.


Sakura menyadarkan tubuh, membuat dirinya lebih rileks dari biasanya. Sungguh, dia sangat lelah hari ini. Memilih untuk memejamkan matanya sejenak, lantaran perjalanan ke rumahnya juga terbilang cukup lama. Hanya saja, sesuatu yang mengenai tangannya sukses membuatnya terkejut, hingga ia kembali membuka netranya.


"Waah~ ngagetin,"


Dirinya sampai mengusap dada, bahkan sopir dari taksi tersebut melihat dari kaca spion tengah, menanyakan keadaannya. Sakura memeriksa seluruh jarinya, tak ada satupun cincin yang melingkar di sana. Tapi, kenapa arwah perempuan yang selalu menempel dengan Dirga malah ada di sebelahnya saat ini, menatapnya dengan wajah seram. Sakura benci mengatakannya, tapi juga penasaran dengan tujuannya.


Yang lebih membuat Sakura kesulitan adalah ketika dia ingin berbicara dengan arwah tersebut. Sakura harus berkali-kali melihat ke arah sopir, lantaran tak ingin sopir itu mengira jika dirinya gila karena berbicara sendiri. Namun percuma saja, mau sebesar apa usahanya mengajak arwah itu dengan gerakan tangannya, dia tetap tak menjawabnya. Entah karena memang ingin bungkam, atau tak paham dengan gerakan tangan Sakura.


Sampai lelah sendiri, dirinya mengibaskan tangan di samping wajahnya. Sulit berbicara dengan hantu seperti arwah itu. Pun ia memilih untuk mengabaikannya sampai taksi tersebut berhenti di depan rumahnya.


"Astaga, kenapa masih ngikutin, sih? Mau apa? Rumah gue nggak ada Dirganya," kesal Sakura.


Wanita itu melihat arwah di depannya menengok, membuatnya ikut menoleh ke arah kirinya. Maniknya membola, melihat Dirga dan mobilnya terparkir di sana. Sakura kembali menatap arwah tersebut yang saat ini berjalan ke arah laki-laki itu.


"Wah, kenapa alurnya jadi komedi begini?"


Sakura melangkah guna menghampiri laki-laki itu yang sedang duduk di atas kap mesin mobilnya. Ia berhenti tepat di hadapan Dirga tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Kenapa dateng ke sini?" tanya Sakura.

__ADS_1


"Ada yang mau gue omong—"


"Kebetulan banget, gue juga ada. Ayo masuk," sela Sakura seraya menarik pergelangan tangan Dirga.


Hingga di depan pintu rumah, Sakura justru melepas tangan laki-laki itu dengan cepat. Tubuhnya mendadak kaku saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan.


"Kenapa dilepas?" tanya Dirga.


"Takut dia cemburu," jawab Sakura.


Dirga mengerti maksud Sakura, lantas dia menoleh ke sebelah kirinya. Memang tak ada siapapun yang tertangkap maniknya, namun dengan sedikit gugup, Dirga menganggukkan kepalanya beberapa kali. Barulah keduanya masuk ke dalam rumah Sakura usai dibuka.


Dia menyuruh laki-laki itu untuk duduk, disusul dengan dirinya yang duduk di lain sofa. Sakura membiarkan Dirga untuk memulai ceritanya lebih dulu.


"Mungkin dia kena cakar hewan peliharaan," Sakura mencoba untuk berpikir positif.


"Tadinya, gue juga mikir begitu. Tapi, Ryan nggak punya hewan peliharaan apapun,"


Jelas Sakura juga tidak tahu tentang alasan dibalik luka yang didapat Ryan. Dirinya bukan seseorang yang bisa menerawang, sebab itu Sakura tak memiliki tanggapan lain mengenai hal tersebut. Lantas dia mengeluarkan foto-foto yang ingin dia tunjukkan pada Dirga. Walau dia tahu, hal ini akan membuat Dirga kesal kembali, tapi Sakura tetap akan menunjukkannya. Namun, hanya satu yang akan dia berikan pada Dirga.


"Coba lo balik fotonya. Di sana ada pesan dari orang yang mungkin ngirim semua foto itu ke kita," kata Sakura.


Dirga membacanya, lantas membaliknya kembali. Tulisan tersebut ada pada mantan terakhirnya. Dia menatap Sakura sebelum berujar. "Gue rasa emang Ryan pengirimnya. Secara dia udah berbuat jahat sama arwah perempuan itu,". Dirga menunjukkan tulisan itu pada Sakura. "Siapa orang yang lagi terancam karena hal ini kalau bukan Ryan? Dia yang berbuat jahat, pastinya dia yang sekarang lagi ketakutan kalau kita tau yang sebenarnya," imbuh Dirga.

__ADS_1


Sakura bergeming, tak tahu harus menimpalinya dengan apa. Sejak gambar terakhir itu, Dirga terus yakin jika Ryan adalah pelakunya. Bukannya tak mau percaya, tapi masih belum ada bukti kuat yang mengatakan jika Ryan adalah pelakunya.


"Ga, coba deh lo lihat lebih jelas lagi," jeda Sakura, dia meletakkan semua foto tersebut di atas meja, mensejajarkan demi melihat satu hal yang baru ia sadari. "Semua foto ini kayak diambil di tempat yang sama. Mungkin, lo pernah dateng ke sana?"


Dirga mengamati tiap foto, kontan membuat kedua alisnya tertekuk, lantas dia menggeleng. "Gue nggak tau dimana tempat ini. Bahkan, semua foto ini baru pertama kali gue lihat," tuturnya.


Semakin tak bisa Sakura percaya tentang rumitnya permasalahan ini. Dirga yang menjadi orang terdekat dari semua wanita di dalam foto itu saja tidak mengetahui tentang lokasi dari foto tersebut. Apa kematian semua mantan Dirga juga memilki kasus yang sama dengan kematian arwah perempuan itu? Tunggu, Sakura tak bisa mengatakan hal tersebut secepat ini pada Dirga. Pasalnya, keadaan Dirga saat ini masih mudah tersulut emosi, ia takut jika Dirga akan melangkah sendirian ke orang yang salah.


Karena pemikirannya itu membuat Sakura menelan salivanya, berusaha menutupi pemikiran tersebut sampai dia bisa memastikan kebenarannya. Pun dia mengumpulkan foto itu kembali, memasukkannya ke dalam tas.


"Biar gue pikirin lagi kemungkinan dibalik semua foto ini. Dan lo jangan asal bertindak. Kita lakuin bareng-bareng," kata Sakura yang sekaligus memberikan peringatan pada laki-laki itu.


Keadaan pun menjadi hening, Sakura masih sibuk dengan pemikirannya. Sampai akhirnya, Dirga memecahkan keheningan tersebut saat melontarkan pertanyaan padanya.


"Emangnya, hantu itu nggak bisa ngasih tau ke kita siapa pelakunya? Biar cepet juga kita balas dendamnya," tanya Dirga.


"Kalau gampang ngomong sama dia, udah sejak lama kasus ini selesai," balas Sakura. Raut wajahnya juga mendadak berubah. "Bahkan, waktu tadi gue tanya kenapa dia ada di dalem taksi, dia nggak jawab sama sekali. Malah natap gue dengan wajahnya yang serem itu," katanya lagi, dia juga sedikit melirik ke arah arwah tersebut. Ya, Sakura mulai terbiasa dengan sosok itu.


"Akhir-akhir ini dia sering keluyuran deh. Beberapa kali dia nggak ada di sebelah lo," Sakura menambahkan.


"Kalau begitu, tolong bilangin ke dia, jangan ganggu nyokap lagi. Gue sering khawatir kalau ninggalin nyokap sendirian," pinta Dirga.


"Gue rasa dia paham sama yang lo omongin. Dan mungkin emang udah nggak mau ganggu lagi, karena kita bantuin dia," pungkas Sakura.

__ADS_1


__ADS_2