Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Menampakkan Diri


__ADS_3

Mobil berisi dua orang ibu dan anak itu baru saja terparkir pada sebuah pusat perbelanjaan kota. Keduanya turun dengan niatan mengisi kebutuhan rumah yang telah berkurang tiap bulannya. Membuat kegiatan ini menjadi hal rutin bulanan, dimana mereka akan mengeluarkan banyak uang berkeliling pusat perbelanjaan.


Wanita paruh baya tersebut menggandeng lengan putranya, melangkah mengambil sebuah troli belanja. Menggeret Dirga ke sebuah toko buah besar dan lengkap. Apa yang bisa dilakukan laki-laki itu selain membuntuti ibunya, mengambil alih kendali troli saat ibunya mendatangi keranjang berisi buah-buahan lokal. Memilih banyak buah tersebut sebagai persediaan di rumah. Sedangkan Dirga, dirinya menunggu di jarak beberapa meter dari tempat sang ibu. Berdiam diri dengan pandangan yang mengedar ke seluruh penjuru pusat perbelanjaan ini. Barangkali sesuatu menarik perhatiannya.


"Dirga," sang ibu memanggil.


Atensi laki-laki itu terpecahkan, mendorong troli mendekat ke arah sang ibu. Kedua maniknya melihat ibunya memegang sebuah mangga dengan seutas senyuman. Entahlah, Dirga tak tahu apa yang ada dip


ikiran ibunya, tersenyum pada buah tersebut. Pandangan sang ibu teralih padanya, menunjukkan buah itu tepat di bawah indera penciumannya. Hanya aroma wangi buah yang masuk ke dalam hidungnya. Dia melakukannya demi ibunya, yang pasti sangat ingin membeli buah tersebut. Namun, dia melihat ibunya kembali mengambil buah lain.


Buah yang digenggam sang ibu saat ini mengingatkan dirinya pada suatu kenangan yang berkaitan dengan kekasihnya saat mereka datang ke suatu toko buah. Warna oren yang mencolok itu adalah kesukaan kekasihnya. "Nadia suka jeruk. Aku juga mau jeruk, bu," kata Dirga.


Menatap Dirga sekilas, wanita paruh baya itu menuruti keinginan putra semata wayangnya. Hanya dengan satu anggukkan kepala sebelum kedua tangannya bergerak memasukkan buah-buahan yang mereka inginkan ke dalam plastik untuk ditimbang. Bersama dengan putranya, mereka bergerak untuk membayar. Dan Dirga harus menunggu untuk beberapa menit, lantaran terjebak dalam antrian beberapa orang lainnya.


Padahal, baru beberapa menit mereka berada di sini, namun Dirga sudah mulai merasa bosan—apalagi menunggu antrian. Tangannya mengambil ponsel guna menghilangkan rasa bosan tersebut. Maniknya sama sekali tak berpindah dari layar yang berdenyar, sebelum akhirnya sesuatu membuatnya merasa tak nyaman. Seseorang yang tidak dia kenal menatapnya dengan aneh, bahkan orang tersebut sampai berdiri di depannya cukup lama. Pun Dirga menurunkan ponselnya, dimasukkan kembali ke dalam saku.

__ADS_1


"Hati-hati," itu adalah kata yang terucap dari mulut presensi di hadapan Dirga. Salah satu jari telunjuknya juga terarah tepat ke wajah Dirga. "Dia memiliki dendam," kata orang itu lagi.


Dan tepat setelah orang tersebut sukses membuatnya ditelan penasaran, sosok itu telah menghilang dari hadapannya bersamaan dengan sang ibu yang menghampirinya. Dirga kehilangan sosok tersebut sebelum dia banyak bertanya. Namun, satu hal yang membuat laki-laki tersadar adalah dirinya tidak menutupi tangan kirinya. Pun tangan yang tengah digandeng oleh ibunya itu langsung dia masukkan ke dalam saku. Dirga lupa membawa sarung tangan, lantaran bukan kebiasaannya. Bahkan, dirinya mendadak merasa tak nyaman usai kejadian tersebut.


Usai berbelanja buah, keduanya kembali mengitari pusat perbelanjaan tersebut. Mencari lokasi lain yang ingin didatangi ibunya. Laki-laki itu hanya bisa pasrah, tangannya terus dia masukkan ke dalam saku tanpa berniat untuk mengekspos kembali. Semakin hari, Dirga akui dirinya semakin takut dengan hal-hal yang akhir-akhir ini sering terjadi. Dia menyesal mengenakan cincin tersebut hanya karena rasa penasarannya. Pribadi itu juga gagal melepaskan cincin menyeramkan itu setelah menggunakan banyak cara. Dan hari ini dirinya justru mendapatkan kembali yang berkaitan dengan sosok perempuan itu.


...****************...


Setibanya di rumah Dirga bergegas menuju dapur guna mencari sesuatu yang bisa berguna melepaskan cincin tersebut darinya. Menuangkan cukup banyak pada jari manisnya. Berdiri di atas wastafel seraya menarik cincin tersebut. Bukannya terlepas, justru salah satu jarinya terkilir, membuatnya menahan rasa sakit itu dengan suara yang juga turut dia tahan. Tangannya telah berlumuran banyak minyak, berjongkok di bawah wastafel lantaran menyembunyikan tangannya sendiri pada lipatan tubuh—saat berjongkok.


"Kenapa tangannya penuh minyak?" tanya sang ibu.


Dirga segera membalikkan kedua telapak tangannya, dia menunjukkan tangan yang terdapat sebuah cincin. Dirga menjelaskan pada sang ibu tentang apa yang akhir-akhir ini membuatnya memikirkan hal tersebut sepanjang hari. Yang mana membuat sang ibu juga terkejut mendengarnya. Selama bertahun-tahun mereka tak memiliki petunjuk tentang sesuatu yang dialami Dirga, dan ditahun ini ada banyak hal yang menjadi jalan untuk meluruskan semua masalah ini.


"Itu sebabnya kamu tanya tentang benang merah?"

__ADS_1


"Iya," jawab Dirga dengan anggukkan.


Bohong jika sang ibu tidak terkejut serta diselimuti rasa kekhawatiran. Putranya telah terhubung oleh seseorang yang tak kasat mata dan memiliki dendam—entah pada siapa dendam itu ditujukan. Bahkan, usai mendengar penjelasan tersebut, sang ibu mencoba untuk membantu putranya mengeluarkan cincin tersebut dengan seluruh tenaganya. Namun, memang hasilnya nihil. Sekalipun menggunakan minyak yang begitu licin, tak mampu membuat jari manis putranya terbebas dari cincin itu. Mustahil juga jika mereka menggunakan alat penghancur, alih-alih menghancurkan cincin, justru tangan Dirga yang akan menjadi korbannya.


Dirga justru tak tega melihat raut wajah sang ibu yang mulai mengkhawatirkan dirinya. Dia katakan, Dirga sedikit menyesal mengatakan yang sebenarnya pada sang ibu jika akan berakhir membuat ibunya tak tenang. Lantas salah satu tangannya tergerak guna memberikan genggaman hangat pada wanita yang sangat dia hormati itu. "Ibu nggak usah terlalu khawatir. Aku juga lagi usaha buat cari tau semua yang aku alamin beberapa tahun ini. Tahan sebentar aja, sudah baik kita dapat banyak petunjuk," tutur Dirga yang hanya ingin ibunya tenang.


"Tolong kasih tau ibu semua yang kamu dapat. Ibu juga mau tau siapa sosok perempuan yang sudah mengganggu kamu. Apa sebenarnya yang dia mau sampai membuat kamu seperti ini selama bertahun-tahun," pinta sang ibu.


"Iya, bu. Aku pasti kasih tau semua ke ibu,"


...****************...


Seluruh tubuhnya telah terkena minyak, dia memutuskan untuk segera membawa diri ke kamar mandi untuk membersihkannya. Pakaiannya juga sangat kotor akibat minyak yang menempel. Laki-laki itu membuka seluruh pakaiannya, menyisakan celana pendek hitam. Lantas menyalakan keran air guna mencuci kedua tangannya dengan sabun yang berada di sana. Seluruh sela-sela jari tangannya juga tak terlewati. Bahkan, Dirga juga sekaligus membasuh wajahnya usai tangannya bebas dari minyak.


Tangan kanannya berada di salah satu sisi wastafel, tangannya yang lain menyugar rambutnya ke belakang. Hanya saja, ketika kedua maniknya terbuka, dari pantulan cermin dia melihat dengan jelas kedua tangan yang melingkari tubuhnya. Kepalanya menunduk guna melihat secara langsung, dan menyadarkan diri jika pandangannya itu salah. Dan memang tak ada apapun di tubuhnya. Hanya saja, kala dagunya kembali terangkat, Dirga tak bisa menahan teriakannya secara spontan ketika melihat sosok perempuan berpakaian merah muda itu dari pantulan cermin, berada tepat di sebelah kiri tubuhnya.

__ADS_1


"Aaa!!"


__ADS_2