
Dirga duduk di ruang tamu seorang diri. Pandangannya terarah pada kertas yang berisi gambarnya. Memandang lekat gambar yang hampir hilang karena terbakar dan tetesan air hujan. Entah kenapa, melihat gambar yang hancur ini membuat hatinya sakit. Beruntung semua gambar tadi telah dia berikan pada Sakura, setidaknya ada orang lain yang bisa menjaga semua bayangan itu. Padahal, semua gambar itu memiliki makna dan petunjuk.
Mendadak dia mendengar suara derap langkah, Dirga buru-buru menyembunyikan gambar tersebut dari sang ibu. Dia tak bisa membiarkan ibunya melihat gambar semacam ini. Bisa dianggap apa dirinya?
Wanita paruh baya itu menghampiri Dirga, duduk bersama di sofa ruang tamu. Memasang senyuman tipis kala ibunya menatap. Belum ada obrolan apapun yang terjadi di sana, hanya suara derasnya hujan yang menjadi suara latar keduanya.
"Lagi apa di sini?" tanya sang ibu.
"Nggak lagi apa-apa, kok," jawab Dirga disertai dengan gelengan kepala.
"Gimana kelanjutan urusannya? Ibu udah nggak pernah denger lagi,"
Dirga yang semua menunduk itu mengangkat dagunya, menatap sang ibu sejenak sebelum memalingkan wajahnya lagi. "Masih sama aja, bu. Aku sama Sakura juga lagi cari cara lain," jawabnya. Tubuhnya semakin bersandar pada sofa demi menyembunyikan gambar itu dari ibunya.
Ingin sekali Dirga bangkit dari sofa untuk membawa gambar itu menjauh dari sang ibu. Sayangnya, sang ibu masih betah duduk bersamanya di ruang tamu ini. Dirga jadi ragu untuk bangkit, lantaran kertas itu terlalu sulit disembunyikan. Dan mungkin memang keberuntungannya, disaat suara petir terdengar, bersamaan dengan itu listri di rumahnya padam. Di sana Dirga mengambil kesempatan untuk membawa pergi gambarnya.
"Ibu, biar aku ambilin lampu emergency dulu," kata Dirga dikegelapan ini.
Barulah dia menggunakan lampu penerang dari ponselnya. Membawa diri ke kamar bersama dengan gambarnya. Dirga menerangi lembaran tersebut, memandangnya dengan lekat secara detail gambar yang dibuatnya. Hanya saja, dia mendadak mendengar suara gebrakan dari pintu gerbang rumah. Pikirannya hanya tertuju pada sang ibu. Dia meletakkan gambar itu begitu saja, menggotong turun lampu emergency bersamanya.
"Ibuu!!"
__ADS_1
Kedua kakinya bergerak cepat menuruni tiap tangga. Pintu rumah terbuka lebar, buru-buru mencari payung sebelum melanjutkan langkahnya kelua rumah. Sangat terkejut saat tubuh sang ibu basah semua, terjatuh di belakang pintu gerbang. Dirga masih tak tahu kenapa ibunya bisa terjatuh di sana, terpenting Dirga membawa sang ibu masuk kembali ke dalam rumah, mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh basahnya.
Tak bisa dipungkiri, sebesar itu rasa khawatir Dirga terhadap ibunya yang saat ini tengah kedinginan serta air muka yang tampak terkejut. Dirga memilih untuk bungkam, membiarkan sang ibu berada di posisi nyamannya. Barulah, selepas ibunya merasa tenang Dirga melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan ibunya saat ini.
"Ibu kenapa bisa ada di sana?" tanya Dirga dengan suara lembutnya.
Sang ibu menolehkan kepalanya ke belakang, melihat gerbang rumah dengan rasa penuh ketakutan. Dirga turut menoleh, tak menampilkan apapun di sana.
"Tadi, ada perempuan di sana. Dia minta tolong ke ibu, tapi—"
"Nggak usah dilanjut, bu," Dirga memotong kalimat ibunya. Entahlah, dia rasa dia tahu siapa perempuan yang dimaksud ibunya itu.
Dirga menghentikan rasa ingin tahunya, membawa sang ibu masuk ke dalam kamarnya. Hanya saja, mendadak tangan Dirga ditahan, lantaran sang ibu enggan ditinggal sendirian. Namun, Dirga menyadari jika dia adalah laki-laki dewasa, yang mana mustahil untuk menemani ibunya. Lantas dia segera mengambil ponsel, menghubungi Sakura untuk meminta bantuan padanya. Toh, saat ini belum terlalu malam untuk meminta Sakura datang ke rumahnya.
Anggukan kepala ibunya itu cukup membuatnya lega, dan Dirga harus tetap memberikan handuk tambahan untuk membuat ibunya lebih hangat. Apalagi listrik yang masih belum nyala itu, membuat dia tak ingin meninggalkan ibunya—khawatir jika sesuatu terjadi lagi.
Dirga begitu setia bersama sang ibu, sampai akhirnya mereka berdua mendengar suara ketukan pintu. Namun, tak ada suara apapun. Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi, akhirnya Dirga memberanikan diri untuk membuka pintu rumahnya—bersama dengan sang ibu di belakang tubuhnya. Rupanya, tak ada yang perlu dikhawatirkan, lantaran sosok tersebut adalah Sakura. Baik Dirga dan ibunya merasa sangat lega, pun segera memberikan izin pada Sakura untuk memasuki rumah.
Bisa tertangkap jelas kedua manik Dirga, sang ibu yang terus menempel pada Sakura. Laki-laki itu menjelaskan ulang pada Sakura tentang bantuan yang dia butuhkan. Dirga juga memohon pada wanita itu untuk menginap di sini, sampai besok pagi.
"Kalau ibu udah tidur, temuin gue di sini," kata Dirga dengan suaranya yang begitu lirih.
__ADS_1
Sakura segera membawa wanita paruh baya itu menuju kamarnya. Ya, dia sendiri yang menemani serta membantu ibunda Dirga. Salah satu alasannya mau membantu Dirga, selain ibunda Dirga selalu bersikap baik padanya, Sakura juga teringat akan sosok ibunya. Sebab itu, tanpa pikir panjang dirinya mau membantu Dirga. Sakura tulus untuk membantu wanita paruh baya tersebut yang enggan untuk ditinggal olehnya.
Dirinya masih belum mengetahui alasan jelas kenapa Dirga membutuhkan bantuannya untuk menemani ibunya. Namun, dia rasa hal ini bukanlah hal yang biasa, tercetak jelas pada raut wajah Dirga tadi.
Beberapa menit selepasnya, Sakura melihat ibunda Dirga telah terlelap nyaman, ia bergegas keluar dari kamar tersebut guna menghampiri Dirga di ruang tamu. Baru saja menutup pintu kamar, Sakura melihat punggung Dirga yang duduk membelakanginya. Wanita itu menghampirinya, sedikit berdeham guna memberi tanda keberadaannya di sini. Pun Dirga menyadarinya, melihat perawakan Sakura yang duduk berseberangan dengannya.
"Ada yang mau diomongin?" tanya Sakura.
"Hm," dehamnya sebagai jawaban. Dia memberikan lembar gambar yang ia temukan tadi di dekat rumah Ryan. "Itu gambar terakhir yang tadi ilang," katanya.
"Tapi, kenapa udah kebakar gini?"
"Ryan yang bakar. Dia ngambil gambar ini, tapi nggak ngaku. Mungkin, buat ngehilangin jejaknya, dia milih untuk bakar," jelas Dirga.
Sakura terdiam, belum berniat menimpali kalimat Dirga. Wanita itu memperhatikan gambar di sana. Rasa prihatinnya muncul, mengasihani wanita malang dalam gambar tersebut. Sampai-sampai Sakura tak mampu melihatnya lebih lama—kendati hanya sebuah gambar. Dia diminta untuk menyimpannya, lantaran khawatir jika akan hilang kembali.
"Arwah perempuan itu juga yang bikin ibu kayak gitu. Gue takut, kalau dia bakalan ganggu nyokap gue lagi," kata Dirga yang meluapkan ketakutannya.
"Iya, gue bisa ngerti ketakutan lo. Kita juga masih usaha buat nyari pelakunya dulu," balas Sakura.
Tepat setelah Sakura selesai berucap, pandangannya terarah pada tangan kiri Dirga yang tak tertutup sama sekali, menampilkan cincinnya begitu jelas. Namun, maniknya membola, merasa sesuatu ada yang aneh di sana. Pun pandangan Sakura beredar ke seluruh sudut ruangan ini, dengan bantuan lampu ponselnya Sakura mencari sosok perempuan yang selalu menempel bersama Dirga.
__ADS_1
"Ga!! Kemana arwah perempuan itu?!"