Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Hembusan Nafas Berat


__ADS_3

Wajah Dirga sama sekali tak menampilkan raut yang memuaskan dikala seharian ia berusaha melihat dan memastikan bekas luka itu tapi tak menghasilkan apapun. Laki-laki itu merebahkan diri di atas tempat tidur seraya menatap langit-langit kamar. Kedua kakinya tergantung di atas kasur. Kedua tangannya telentang, melepaskan penatnya seharian ini. Rasanya begitu lelah, ingin benar-benar beristirahat total, akan tetapi suara ketukan pintu mengalihkan atensinya.


Dirga bangkit, berniat untuk membuka pintu, sayangnya sang ibu telah masuk lebih dulu. Pun ia hanya menunggu langkah sang ibu sampai berhenti tepat di hadapannya dengan senyuman lembut.


"Ibu nggak tau kalau kamu udah pulang. Tau-tau kotak makannya udah ada di atas meja makan," kata sang ibu.


Dirga masih memasang senyumannya, ia mengangguk sejenak sebelum menjawabnya. "Iya, bu. Aku masuk rumah, ibu nggak ada. Jadi, aku taruh aja di sana," katanya.


Tak ada timpalan apapun dari wanita paruh baya. Keduanya mendadak hening ketika sang ibu tengah menatap putra sulungnya dalam tenang. Namun, keheningan itu tak berlangsung lama ketika Dirga menceritakan pada sang ibu tentang alergi sepupunya itu.


"Ibu, tadi siang waktu ibu bawa makanan buat aku dan Ryan, ternyata ada makanan yang mengandung bawang putih," Dirga menjeda kalimatnya, sang ibu mengangguk seraya mendengarkan semua perkataan putranya. "Aku tau, dan aku sadar kalau dimakanan itu ada bawang putih. Aku juga tau, kalau Ryan punya alergi sama bawang putih. Tapi, sengaja nggak aku kasih tau ke dia," imbuhnya.


"Ryan punya alergi bawang putih?! Aduh, ibu sama sekali nggak tau. Terus gimana keadaanya? Parah apa enggak?" tanya sang ibu runtut dengan terburu.


Wajah Dirga tak menampilkan ekspresi apa-apa, hanya diam membisu ketika raut wajah sang ibu tampak begitu khawatir. Padahal, ibunya itu belum mendengar penjelasan lebihnya. Ya, Dirga agak sedikit kecewa mendengarnya. Lantas dia menghela nafasnya sebelum menjawab semua pertanyaan sang ibu.


"Tadinya parah, tapi udah bisa diatasi. Aku buru-buru cari obat buat dia. Tapi, kenapa ibu malah khawatir, sih? Justru aku manfaatin momen ini buat nyelesein masalahku," ucap Dirga.


"Maksudnya?"


Dirga membuang nafasnya begitu berat, lantaran sang ibu sama sekali tidak paham. "Bu, inget waktu Sakura dateng ke sini dan curiga sama Ryan? Bukan Sakura, tapi hantu itu," Dirga melihat sang ibu menganggukkan kepalanya, lantas kembali melanjutkan kalimatnya. "Nah, harusnya aku bisa meriksa bekas luka di punggungnya, sayangnya dia nggak mau buka bajunya sama sekali. Padahal, ini momen yang tepat," pungkasnya.


"Tapi, apa kamu nggak kasian sama sepupu sendiri? Dia alergi, tapi kamu manfaatin supaya bisa menyelesaikan masalah,"

__ADS_1


Dirga mengalihkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap sang ibu dengan hembusan nafas yang berat. Pribadi itu tidak memiliki perasaan, akan tetapi pelaku yang paling dicurigai oleh mereka semua adalah Ryan. Dan semua gangguan yang dapati akhir-akhir ini juga membuat rasa kasihannya sedikit menghilang terhadap sepupunya tersebut.


Mendengar dan memikirkan semua perbuatan putranya itu membuat wanita membayar tersebut terdiam seraya menimang. Jujur saja, sebagai seorang ibu, ia tak ingin putranya terus berada dalam lingkar masalah yang tak kunjung berakhir. Kendati ia juga mengkhawatirkan keponakannya itu akibat kelalaiannya yang tidak mengetahui alergi tersebut. Mungkin, untuk kali ini saja sang ibu akan berpihak pada Dirga.


"Ya udah, iya. Ibu ada di pihak kamu,"


...****************...


Sakura sejak pulang dari tempat kerjanya hanya melihat pada layar ponsel yang tidak menampilkan notifikasi apapun. Berkali-kali membuka layar kunci, berharap sesuatu mendatangi ponselnya ini.


"Percuma, hp baru tapi nggak ada yang nyariin. Minimal kirim pesan, gitu," celotehnya sendirian.


Wanita itu membating tubuhnya di atas kasur hingga memantul. Kedua tangannya telentang di atas ranjang, dengan ponsel berada tepat di sebelah kiri kepalanya. Kembali menoleh, sayangnya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Saking kesalnya, Sakura membalikkan tubuhnya, menyambar ponsel dengan cepat.


Dirga dan atasan di tempat kerjanya.


Wanita itu kembali mengatakan ponselnya pada ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan perasan penuh kesal. Boleh atau tidak, sih, jika Sakura mengatakan dia rindu dengan Dirga? Beberapa hari ini keduanya belum bertemu kembali.


"Masa iya gue yang nyariin duluan, sih? Kenapa nggak dia yang telpon atau kirim pesan, gitu?"


Wajahnya mendadak tampak begitu lesu, lantaran rindu yang semakin membara. Dia merasa jika perlu menurunkan gengsinya untuk membuat obrolan bersama laki-laki yang saat ini dengan dia rindukan. Pun dengan satu tarikan nafas panjang, akhirnya Sakura memberanikan diri untuk membuka pesan dan mengetikkan pesannya.


Memang tak mudah, karena ia harus berkali-kali mengetik dan menghapus semua kalimatnya. Walau sudah berusaha untuk menurunkan gengsinya, Sakura tetap tidak ingin terlihat seperti seseorang yang merindukan laki-laki itu. Yang ada, Sakura akan jadi bulan-bulanan Dirga.

__ADS_1


Akan tetapi, ketika dia akan kembali memulai mengetikkan kalimat baru, secara menendang wanita itu dikejutkan dengan panggilan yang mendadak masuk. Iya, panggilan tersebut berasal dari laki-laki yang sejak tadi mengusik ketenangannya.


"Dia telfon," katanya sedikit panik. Sakura sampai bersiap-siap dan menetralkan tenggorokannya sebelum menjawab panggilan tersebut. "Halo,"


"Lama banget ngetiknya, mau ngomong apa sih?"


Sungguh Sakura tak bisa berkata-kata, antara kesal dan malu bercampur jadi satu. Itu berarti, sejak tadi Dirga memang sudah mengamatinya. Lalu, kenapa tidak ditelpon? Menunggu sampai Sakura harus berkali-kali menghapus ketikannya.


"Terus, kenapa lo telpon gue? Kan gue belum selesai ngetik," tanya Sakura.


"Karena gue nggak tahan. Kelamaan nunggu ketikan lo. Kalau begini, gue bisa sekalian denger suara lo,"


Mendengar kalimat itu, Sakura tak bisa menahan senyumannya. Ia merasa tersipu, dan rasa rindunya juga sudah terbayarkan dengan obrolan ini. Memang, walau obrolan ini terkesan sedang berdebat, namun sukses membuat kedua pipinya menimbulkan semburat merah.


"Lo kangen ya sama gue?" tanya Sakura.


Pertanyaan itu tak dijawab oleh Dirga cukup lama, membuat Sakura berpikir jika panggilan tersebut terputus. Beberapa kali ia memanggil nama Dirga, tak ada jawaban apapun darinya. Sakura sendiri sampai kebingungan dan sedikit kesal.


"Dirga? Lo masih denger suara gue, 'kan? Halo? Kok nggak ada suaranya?" heran Sakura.


Dia kembali memeriksa ponselnya yang mana panggilan keduanya masih tersambung. Bahkan, Sakura tak mampu mendengar suara deru nafas Dirga dari balik panggilan tersebut. Akan tetapi, secara mendadak Sakura dibuat bungkam usai mendengar kalimat Dirga yang cukup mengejutkannya.


"Kalau gue jawab 'iya', apa gue bakal dapet sesuatu yang sama kayak jawaban gue?"

__ADS_1


__ADS_2