
"Hati-hati kenapa ya, bu?" tanya Riana.
Wanita tua itu masih melihat Sakura, kedua alisnya juga tertekuk kala mengamati Sakura dari ujung kepala hingga kaki. Salah satu jarinya juga menunjuk tepat ke arah kedua manik Sakura.
"Roh itu bakal ngejar kamu terus, sampai dia bisa dapetin nyawamu," tutur dukun tersebut.
Baik Sakura maupun Riana cukup terkejut, memang pada dasarnya mereka tahu jika Sakura adalah incaran utama Hanna. Dan mendengar penuturan itu semakin menumbuhkan rasa takut Sakura. Karena jika dirinya lengah sedikit saja, Hanna akan mudah menyerangnya. Apalagi Hanna pastinya juga sudah cukup dalam mengenal sesuatu tentangnya.
"Tapi, kamu punya pelindung yang cukup kuat," jedanya, manik wanita tua itu turun ke arah kalung yang dikenakan oleh Sakura. Dengan tangan kosong dukun tersebut melihatnya lebih dekat. "Selama kamu nggak lalai, kamu aman. Jangan pernah lepas kalung ini," kata dukun itu.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya, dia menuruti apa yang menjadi perintah dari dukun tersebut. Lantas wanita itu menggenggam salah satu tangan dukun itu, dengan wajahnya yang cukup tegang. Dengan sangat memohon, Sakura meminta bantuan pada wanita tua tersebut, lantaran hanya bersama dukun ini Hanna tidak bisa melawannya.
"Apa bisa ibu bersama kami untuk menjauhkan teman kami dari roh jahat itu?" tanya Sakura.
"Siapa nama teman kalian? Siapa nama roh jahat itu? Kalian kenal?" tanya dukun itu.
"Dirga. Sebenarnya, dia sepupu saya, dan roh itu Hanna," jawab Riana.
__ADS_1
Tepat setelah Riana memberikan jawaban itu, dukun itu langsung menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui permintaan Sakura dan Riana untuk membantu mereka. Dan wanita tersebut juga langsung mengatakan jika hari ini kedua perempuan itu bisa menunjukkannya pada dukun tersebut. Lantas ketiganya segera menuju mobil Riana, mereka bergegas menuju dealer Dirga—karena ini adalah jam kerja tempat tersebut.
Sejak mereka meninggalkan lokasi tersebut, Sakura hanya bisa menyatukan kedua tangannya di atas paha. Dia juga menggigit bibir bawahnya, lantaran sedikit gugup dengan apa yang akan dia lihat setelah ini. Pasalnya, dia sudah bersama dengan dukun yang saat itu telah menangkap Hanna sebelum akhirnya dilepaskan karena mempercayai ucapan Dirga. Dalam batinnya, Sakura berharap jika dukun tersebut tidak menolak secara tiba-tiba karena kembali bertemu dengan Dirga dan juga Hanna.
Hingga akhirnya setelah menembus waktu yang tidak terlalu lama, mobil tersebut berhenti di jarak beberapa meter dari dealer Dirga. Ketiganya memang sengaja untuk tidak turun dari mobil, hanya mengawasi dari kejauhan. Dan sedikit kendalanya adalah disaat Dirga tak kunjung menampakkan diri di luar sana. Ditambah Sakura tak bisa mengirim pesan apapun pada laki-laki itu, lantaran dia tak tahu apakah Hanna ada bersama dengan Dirga atau tidak.
Dirinya itu menoleh pada dua wanita lainnya yang berada di dalam mobil ini. Memikirkannya, Sakura justru menggelengkan kepalanya. Baik Riana dan dukun tersebut, bukanlah seseorang yang bisa ditemui Hanna. Sakura juga tidak mau mengambil resiko dan membuat mereka berdua semakin tidak yakin untuk membuat Hanna pergi ke alam semestinya.
"Dirga nggak akan keluar," kata Riana.
Iya, Sakura juga tahu akan hal itu, bahkan sejak tadi dia telah memikirkannya. Namun, dia tidak tahu harus melakukan apa untuk memancing Dirga keluar. Apalagi dia tak bisa menggunakan seorang wanita untuk bertemu dengan Dirga—laki-laki itu masih menjalankan perannya. Hanya saja, tanpa dia duga jika Riana langsung membuka kaca mobilnya dan memanggil salah satu pegawai Dirga.
"Iya, mbak," balas pegawai tersebut.
Mereka melihat pegawai Dirga yang langsung menurut, dan Riana hanya perlu memajukan mobilnya lebih dekat dengan dealer tersebut. Dia yakin jika Dirga akan melihat keberadaan mobilnya. Dan rencana ini berhasil membuat Dirga keluar, Riana menggerakkan spion mobilnya guna menarik perhatian Dirga secara tak langsung. Laki-laki itu sampai berdiri di depan dealernya, seakan-akan mencari pembeli yang menawar dengan harga rendah.
"Itu, bu. Dirga dan roh jahat itu," seru Sakura yang menunjukkannya pada dukun tersebut.
__ADS_1
Dukun itu tampak terdiam beberapa saat, membuat Sakura berdebar karena gugup setelah melihat raut wajah dari dukun tersebut.
"Laki-laki itu yang pernah bilang kalau roh jahat itu nggak akan ngelakuin hal yang buruk," kata dukun tersebut. Sakura melakukan kepalanya dengan sangat yakin. "Dia juga yang ngajamin kalau roh jahat itu nggak akan ngelakuin hal yang buruk. Tapi kenyataannya, hal yang lebih buruk udah terjadi," kata dukun itu lagi.
"Tapi, ibu tetep mau bantu kami, kan?" tanya Sakura yang ingin memastikannya.
"Buat apa?"
Dari kalimat tersebut, harapan Sakura seperti hilang begitu saja. Wanita itu tidak menyangka jika dukun yang dia temui ini akan menolaknya setelah kembali melihat Dirga dan roh jahat itu. Kedua matanya terpejam, dia tidak tahu harus bagaimana, karena saat itu Dirga sudah membuat Hanna kembali terlepas setelah dukun itu bersusah payah untuk menangkapnya.
"Bu, supaya ibu bantuin kami. Ini adalah cara terakhir untuk membuat roh itu pergi dari dunia ini," kata Riana yang juga kumohon pada dukun tersebut.
Sayangnya, dukun itu menggelengkan kepalanya dan enggan untuk membantu mereka. Pasalnya, Dirga sendiri yang saat itu sudah menjamin jika Hanna sesuatu yang buruk lagi. Tapi, saat ini justru keadaannya berubah drastis, sampai-sampai mereka mendatangi dukun itu supaya kembali menangkap Hanna.
Selepas menolak, dukun tersebut langsung keluar dari mobil Riana tanpa sepatah kata. Dibandingkan Riana, Sakura terlihat lebih frustasi karena rencananya tidak berhasil. Bagaimanapun juga, hanya dukun itu yang bisa menangkap Hanna—sekalipun Sakura memiliki pelindung yang kuat. Dia membenturkan kepalanya beberapa kali, kehilangan akalnya setelah satu-satunya rencannya gagal dilakukan.
"Apa sebelumnya dukun itu udah pernah ketemu sama mereka? Kenapa dia nggak ragu buat nolak?" tanya Riana.
__ADS_1
"Waktu itu, Hanna udah sempat ketangkap sama dukun tadi, tapi Dirga minta supaya Hanna dilepasin cuma karena Dirga percaya sama omongan Hanna yang pengen dikenang manis sama orang lain," jelas Sakura.
Mendengar penjelasan itu, Riana sampai tidak menduganya jika sepupunya itu akan mudah percaya dengan kalimat dari roh jahat. Pun dia juga menggelengkan kepalanya disertai dengan decakan. "Dirga emang sebodoh itu. Astaga!!" katanya yang menjambak rambut sendiri—turut kesal dengan Dirga.