Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Hubungan Buruk


__ADS_3

Bagaimana bisa Dirga mengatakan hal itu tepat di depan Hanna disaat hantu perempuan itu baru saja diajaknya berkencan. Dan tepat setelah kalimat Dirga itu terlontar, Hanna menghilang secara tiba-tiba, yang mana membuat Sakura teralihkan mencari sosok itu. Kepalanya sampai menoleh ke segala arah, barangkali arwah tersebut masih berkeliaran di daerah sana. Namun, setelah cukup lama melihat ke sekeliling, Sakura sama sekali tidak terlihat adanya sosok tersebut. Dia rasa, Hanna benar-benar sudah menghilang dari lokasi tersebut.


Wanita itu menolak ke arah Dirga yang masih menatapnya tanpa bersuara. Dirinya juga dengan jelas memperlihatkan raut wajah kebingungan. Akan tetapi, Dirga justru terlihat begitu santai, tidak ingin bertanya dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Lo tau nggak sih, kalau Hanna hilang dari sini?" tanya Sakura.


"Tau, kok," jawab Dirga dengan pandangan yang terarah pada makanannya.


Sakuranya bisa terdiam dengan tatapan yang tidak terartikan. Bahkan, obrolan mereka berdua yang terakhir kali, juga mendadak lenyap begitu saja. "Jadi, dari tadi sebenarnya lo itu sadar kalau Hanna sama kita?" tanya Sakura.


"Hm," jawab Dirga hanya dengan dehaman.


Sungguh, Sakura tidak tahu harus berkata apalagi ketika mendengar jawaban itu. Iya, Dia sangat paham jika Dirga pastinya kesal karena sesuatu yang terjadi hari ini. Tapi, jika Sakura pikir kembali, cara Dirga untuk pura-pura tidak melihat keberadaan hantu perempuan itu juga cukup menyebalkan. Bukan hanya untuk Hanna, tetapi juga untuk dirinya yang mengira Dirga tidak berpura-pura.


Wah, secara mendadak nafsu makan Sakura hilang begitu saja. Iya, dia juga kehilangan satu kalimatnya Dirga yang seperti ini. Sakura memijat pelipisnya guna meredakan rasa pusing yang mendatangkan diri di kepalanya.


"Berarti, yang tadi lo omongin juga cuma pura-pura?" tanya Sakura lagi.

__ADS_1


Tepat setelah pertanyaan itu terlontar dari mulut Sakura, seluruh pergerakan Dirga terhenti begitu saja. Pandangan laki-laki itu juga langsung diarahkan tempat ke arah manik wanita yang ada di hadapannya. "Kalau itu, gue sama sekali nggak bercanda," jawab Dirga menggunakan suara beratnya.


"Lo nggak takut kalau nanti dia tiba-tiba marah?" tanya wanita itu.


"Tapi, tadi lo juga ngelakuin ya tanpa mikir kalau dia bakal marah, 'kan?"


Sakura semakin menekuk kedua alisnya, lantaran Dirga membahas hal yang sudah terjadi beberapa jam yang lalu. Wanita itu tidak akan berbohong jika dirinya cukup tersinggung dengan perkataan Dirga. Iya, dia akan mengakuinya jika Sakura yang meminta laki-laki itu untuk melepaskan Hanna. Tapi, bukan berarti Sakura tidak memikirkannya terlebih dahulu. Dia menghela nafas pasrah, dan rasa tidak ada gunanya membahas hal ini kembali.


Tanpa berniat menyelesaikan acara makan siang mereka, Sakura pergi dan meninggalkan laki-laki itu di sana seorang diri. Entahlah, melihat kepergian hantu itu, membuat Sakura bisa merasakan bagaimana kesalnya Hanna. Dia juga tidak akan menampik hubungannya dengan arwah perempuan itu tidak dalam kondisi baik, namun karena sikap kekanak-kanakan Dirga, Sakura juga tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan kesalnya terhadap laki-laki tersebut.


Wanita itu pergi menggunakan taksi, dia juga dengan sengaja mematikan ponselnya, lantaran enggan menerima panggilan dari siapapun—termasuk Dirga. Entahlah, Sakura sendiri juga tidak paham apa yang terjadi dengan dirinya hari ini. Beberapa kali mencoba untuk memikirkannya, wanita itu seperti itu mendapat jawaban sama sekali. Dan saat ini, antara dirinya, Dirga, dan juga arwah perempuan itu, tidak terdapat hubungan yang baik satu sama lain. Tidak tahu bagaimana nanti kedepannya. Namun, hal yang paling ditakuti oleh Sakura adalah ketika arwah perempuan itu memutuskan untuk tidak membantu mereka.


"Runyam semua," gumamnya.


Demi apapun itu, kepala Sakura mendadak sulit digunakan untuk berpikir. Pikiran wanita itu benar-benar berhenti begitu saja, bahkan sulit untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya jika hubungan mereka bertiga tidak membaik sama sekali. Dia hanya bisa mengerang kesal sendirian.


* * *

__ADS_1


Dirga baru saja tiba di rumahnya, namun dia belum ada niatan untuk keluar dari mobil. Laki-laki itu menatap cincin yang ada di tangan kirinya. Saat ini dia sama sekali tidak melihat keberadaan arwah perempuan itu. Memang, besar kemungkinan jika Dirga sudah tidak bisa melihat keberadaan Hanna lagi. Tapi, entah kenapa dia merasa jika Hanna memang tidak ingin menemuinya.


Pun dengan hembusan nafas berat, akhirnya laki-laki itu turun dari mobilnya. Dia berjalan memasuki rumahnya yang tampak sepi—mungkin ibunya sedang berada di kamar. Lantas tanpa berniat menghampiri wanita paruh baya itu, pribadi itu langsung membawa dirinya menuju kamar. Dia merebahkan diri di atas kasur, pandangannya terarah pada langit-langit kamar. Lagi-lagi laki-laki tertarik pada cincin yang melingkar di tangannya. Menatapnya cukup lama tanpa berbicara apapun.


"Hanna," panggilnya masih dengan menatap cincin tersebut. "Lo marah sama gue?" tanya Dirga.


Dirga tahu dirinya tidak akan menjamin bisa mendengar suara Hanna, namun tetap saja dia berbicara seorang diri, seakan-akan Hanna akan membalas kalimatnya.


"Apa lo juga tadi dengerin semua obrolan antara gue sama Sakura? Gue harus buat pengakuan ke lo," kata laki-laki itu.


Dengan satu tarikan nafas panjang, Dirga tanpa ragu mengatakan hal yang sebenarnya pada arwah tersebut—entah hantu itu akan mendengarnya atau tidak.


"Sebenarnya, dari tadi gue masih bisa ngelihat lo. Tapi, gue emang sengaja bersikap layaknya kalau nggak ada di sana," kata Dirga. Laki-laki itu mencoba untuk melihat ke sekeliling kamarnya, akan tetapi dia masih belum bisa melihat keberadaan arwah perempuan itu. "Kalau li mau tau alasannya, tolong keluar dan hadapi gue," kata Dirga lagi yang ingin memancing agar Hanna keluar dan berhadapan dengannya.


Tempat setelah kalimatnya terlontar, Dirga memasang kedua bola matanya untuk melihat dengan teliti dimana keberadaan hantu perempuan itu. Bahkan, laki-laki itu sudah beberapa menit melakukannya, namun dia masih belum bisa melihat Hanna. Ya, dia pikir memang efek dari cincin itu sudah menghilang, yang mana membuat dirinya sudah tidak bisa melihat keberadaan Hanna.


"Oke, emang gue udah nggak bisa ngelihat lo lagi. Tapi, yang jelas gue—"

__ADS_1


Belum saja kalimat Dirga diselesaikan, laki-laki itu terkejut ketika tubuhnya terasa ditubruk oleh sesuatu, yang mana merupakan Hanna secara tiba-tiba memeluk dirinya. Dirga sampai kehabisan seluruh kalimatnya.


__ADS_2