Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Sosok Baru


__ADS_3

"Se-sedikit,"


Itu adalah jawaban Sakura, yang mana membuat Dirga tersenyum dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Pasalnya, wanita yang ia suka itu mengatakannya dengan gaya jual mahalnya. Bahkan, saat ini Sakura tengah membelakanginya. Padahal, Dirga tahu jika wanita itu tengah malu-malu.


"Ah, sayangnya gue masih harus nahan," ucap Dirga dengan sedikit rasa kesalnya. Iya, dia begitu kesal karena berada di posisi ini. "Mau nunggu kan selama apapun itu?" tanya Dirga.


Entah kenapa, Sakura rasanya ingin membalas Dirga. Dia memutar tubuhnya menghadap Dirga kembali, masih dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Ekspresinya juga berubah, seakan terlihat angkuh.


"Kalau kelamaan, kayaknya nggak bisa,"


"Ya kalau gitu, gue cari yang baru," balas Dirga.


Bagaimana ini? Niat awal Sakura yang menyerang, malah ia kembali diserang. Wah, dia memang tak bisa mempercayai Dirga. Ingin memasang wajah kesal, Sakura terlanjur malas. Namun, detik berikutnya ia kembali teringat akan Riana. Bibirnya membeku, terasa sulit untuk bertanya tentang perempuan yang sedang berada di dapur bersama ibunda Dirga.


Iya, dia masih bungkam tanpa berniat untuk membahasnya langsung di hadapan Dirga. Lantas dia hanya membuang nafas panjang, seraya melihat Dirga yang tengah menyeka keringatnya. Tak ada obrolan apapun yang terjadi di antara keduanya, hanya tatapan satu sama lain yang menyertai.


"Kalian mau makan apa nggak?"


Suara itu berasal dari Riana yang berteriak dari balik pintu. Gadis itu berhasil menemukan keberadaan Sakura dan Dirga ketika sedang berduaan. Pun dua insan tersebut segera menoleh ke arah Riana yang masih menunggu jawaban keduanya. Hanya Dirga yang menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.


Bahkan, Sakura tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengikuti apa yang terjadi saat ini, seperti saat Dirga membawanya masuk ke dalam rumahnya lagi. Pribadi itu menyuruhnya untuk kembali bergabung dengan dua wanita di dapur tersebut. Sedangan laki-laki itu bergegas membersihkan dirinya sebelum turut bergabung.


Tentu saja Sakura berusaha untuk menormalkan keadaannya sendiri. Seakan semua bukan masalah besar—kendati ia sulit menutupinya. Sakura benar-benar hanya terdiam ketika Riana dan ibunda Dirga membahas sesuatu yang tidak ia ketahui.


"Riana, periksa Dirga. Suruh cepetan," titah ibunda Dirga pada Riana.


"Iya, tante,"

__ADS_1


Dalam hatinya semakin berkecamuk, namun tak memiliki kuasa apapun untuk mengamuk. Dia hanya melihat Riana yang bahkan mengetahui letak kamar Dirga. Karena saking fokusnya Sakura memperhatikan langkah Riana, ia sampai tak menyadari jika ibunda Dirga telah menyuruhnya untuk duduk seraya menunggu Dirga dan Riana kembali turun.


Wanita itu duduk berhadapan dengan ibunda Dirga. Tak ada obrolan apapun di antara keduanya, yang mana membuat kepala Sakura terasa begitu berisik. Sekali lagi Sakura melihat ke arah kamar Dirga, dia masih belum melihat keberadaan Dirga dan Riana. Dengan sedikit keberaniannya, dia membuka mulut guna bertanya pada ibunda Dirga secara langsung. Ya, Sakura ingin memastikannya sendiri.


"Tante," panggilnya.


"Iya, kenapa?"


"Aku mau tanya. Riana itu bener mantan Dirga?" tanya Sakura. Hanya saja, wanita di hadapannya itu malah tertawa. "Kenapa ketawa, tante?" tanyanya lagi.


Perlahan tawa itu semakin reda, membuat Sakura merasa tidak sabar dengan jawaban ibunda Dirga. Padahal, Sakura sama sekali tak merasa pertanyaan itu menggelikan.


"Riana bukan mantan Dirga. Dia itu adik sepupunya. Adeknya Ryan," jelas ibunda Dirga.


Sakura sampai tak bisa berkata-kata, ia tak menyangka jika ternyata Riana adalah adik Ryan. Memang selama ini dia hanya mengetahui Ryan, tidak dengan keluarganya. Ditambah jika ia perhatikan kembali, Riana tak memiliki wajah serupa dengan Ryan. Sebab itu, tak terpikirkan olehnya jika mereka adalah saudara.


"Riana emang anaknya berani, sama Dirga pun juga kayak seumuran. Tante sendiri juga nggak ngebatasin keakraban mereka," jelas ibunda Dirga lagi.


Entah sejak kapan Dirga dan Riana telah berada di ruang makan. Tapi, Sakura yakin jika Dirga telah mendengar obrolannya dengan wanita paruh baya tersebut. Astaga, Sakura harus menutupi rasa malunya. Lantas wanita tersebut hanya berdeham singkat sebelum akhirnya kembali duduk dengan tegap.


Dua orang yang tersebut juga mengambil posisi mereka dengan duduk saling berhadapan. Sedangkan Sakura sama sekali tak melirik ke arah mereka berdua—walaupun Dirga berada tepat di sebelahnya.


...****************...


Sakura masih belum bisa menghilangkan rasa malunya yang kepergok bertanya pada ibunda Dirga tentang Riana. Tepat setelah makan siang mereka berakhir, dan membantu ibunda Dirga membersihkan semua peralatan kotornya, Sakura memilih untuk duduk di ruang tamu. Rasanya lebih nyaman di sana, karena dia merupakan seorang tamu.


Saat menikmati waktunya sendiri, secara mendadak dia dikejutkan dengan kedatangan Dirga yang membawakannya segelas minuman segar. Sakura menerima pemberian tersebut, namun pandangannya masih betah terarah pada luar rumah tersebut. Selain rasa malu, dia masih memikirkan Riana yang merupakan adik Ryan.

__ADS_1


"Mikirin apa, sih?" tanya Dirga.


"Gimana caranya gue bisa melarikan diri dari sini," jawab Sakura yang sengaja menjawab dengan asal.


"Ada banyak cara, dan silahkan dicoba semua," balas Dirga. Jawabannya sempat membuat Sakura memutar bola matanya, terasa menyebalkan memasuki rungu wanita tersebut. Namun, rupanya Dirga masih belum selesai mengatakan kalimatnya. "Tapi, kemanapun lo pergi, gue tetep bakal ngejar lo," katanya.


"Gue mau balik ke Jepang aja,"


"Nggak apa-apa, tetep gue kejar,"


Sakura hanya mendengus dengan tawanya yang juga turut keluar. Dia menyesap minumannya, lantas meletakkannya di atas meja.


"Gue nggak tau, kalau ternyata Ryan punya adek. Wajah mereka juga nggak mirip," kata Sakura.


"Emang, gue sendiri masih nggak percaya sampai sekarang kalau Ryan punya adik yang wajahnya sama sekali nggak mirip," timpal Dirga.


Beberapa menit mereka terdiam, Sakura menoleh ke arah Dirga yang juga segera menoleh ke arahnya dengan kedua alis yang terangkat bersamaan. Wanita itu mengerjap beberapa kali, seperti akan mengatakan sesuatu yang masih ia tahan.


"Ngomong aja kalau mau ngomong," titah Dirga.


"Kayaknya bakal kelamaan kalau kita nunggu sampai bisa lihat bekas lukanya. Kenapa nggak kita tanyain langsung?" tanya Sakura.


"Emang, sih. Gue sendiri juga udah nyerah kalau suruh nunggu lebih lama lagi,"


"Gue cuma kasihan sama orang-orang yang nggak terlibat, justru juga ikut kena imbasnya,"


Keduanya sama-sama terdiam seraya berpikir, seakan tengah mencari solusi cepat menyelesaikan masalah yang sudah membuatnya lelah. Akan tetapi, tidak tahu bagaimana ceritanya, secara mendadak mereka mendapat hal yang sulit untuk dipercaya. Selama ini, permasalahan mereka tak pernah membutuhkan campur tangan orang lain. Hanya saja, walau mereka benar-benar menutupinya, ada orang lain yang mengetahui hal tersebut.

__ADS_1


"Biar gue bantu,"


Itu adalah suara Riana.


__ADS_2