
Tiba di dealer, Dirga berjalan melewati jalan pintas yang mana menghindarinya dari kerumunan orang, terutama para wanita. Senang rasanya melihat tempat ini diisi penuh orang yang akan membeli atau menyewa, namun juga membuat Dirga sesak diwaktu yang bersamaan. Sampai akhirnya nafas laki-laki itu bisa terasa begitu lega kala berhasil masuk ke dalam ruangan. Dia melepas jaketnya sebelum meletakkan bantalan duduknya pada kursinya. Sandaran tersebut sampai memantul kala tubuhnya menubruk.
Maniknya bergerak mengamati isi dari mejanya. Tangannya bermain dengan pulpen di antara jari-jarinya. Manik itu berhenti sampai melihat kunci mobil yang selalu berada di sana. Dirga sama sekali tak pernah meletakkan kunci mobil tersebut di tempat yang tertutup. Dia juga menarik tangan kirinya guna melihat cincin yang hingga saat ini masih melingkar di jari manisnya. Ada dua keinginannya saat ini. Pertama, dia ingin cincin ini terlepas, dan yang kedua adalah hilangnya arwah perempuan itu dari kehidupannya.
"Kapan cincin ini lepas?"
Hanya terus membatin, tanpa mengetahui batasan waktunya. Dia sampai memijat pelipis, maniknya terpejam seakan menandakan rasa lelahnya dan ingin beristirahat. Pandangannya yang buram justru terfokus pada selembar kertas di atas mejanya. Dirga mengambil ponsel, membuka aplikasi belanja online untuk membeli sesuatu yang dia butuhkan saat ini. Tak memakan waktu lama untuknya kembali duduk bersandar seraya menunggu pesanannya datang.
Dirinya melipat kedua tangan, memandang langit-langit ruangan. Di gipsum yang putih bersih itu, rangkuman sekelebat bayangan yang ia dapati selama ini teringat jelas. Namun, yang paling membuatnya terganggu adalah bayangan terakhir yang ia dapati. Iya, lantaran Dirga dibuat penasaran dengan pelaku yang telah melakukan hal kejam itu pada arwah wanita yang saat ini malah menempel padanya. Dia mengusap wajahnya penuh gusar, perasaan kasihan dan kesal tercampur jadi satu. Melepas perasaan itu hanya dengan menyelesaikan masalah arwah wanita itu.
Sampai maniknya kembali ke arah layar ponsel, dia menemukan lokasi kurir pengantar itu yang telah mendekati dealer mobilnya. Dengan segera Dirga bangkit guna membawa kedua tungkainya keluar ruangan. Dirga menunggu di pinggir dealernya sampai kurir tersebut berhenti tepat di depannya. Sejenak memeriksa seluruh pesanannya, Dirga segera membawa masuk barang pembeliannya tersebut.
Semua barang itu telah dia letakkan di atas meja, Dirga memposisikan diri untuk memulai menggambar. Laki-laki itu akan menggambar semua bayangan yang ia dapati. Baginya, akan lebih memudahkannya jika ada fisiknya. Ruangan itu hening tanpa adanya banyak suara, hanya suara dari kertas yang saling bergesekan. Saking fokusnya, Dirga sama sekali tak terganggu dengan adanya suara pengunjung di luar.
Semenjak dia mendapatkan barang pembelian, hingga detik ini Driga sama sekali tak beranjak dari kursinya itu. Bahkan, banyak peralatan gambar yang telah berserakan di atas meja juga tak merusak atensinya untuk menjadikan bayangannya dalam bentuk dua dimensi itu. Sekalipun ponselnya yang telah berdenting berkali-kali, tetap dia abaikan. Dirga memakan waktu hingga dua jam untuk menggambar dengan cepat semua bayangan tersebut. Itupun tak akan selesai jika saja Ryan tak membuka pintu ruangannya.
__ADS_1
"Ga, lo dari tadi gue chat nggak dibales, ada pembeli yang mau nawar harga mobil, tuh," kata Ryan bersamaan membawa diri untuk masuk ke dalam ruangan sepupunya itu.
"Maaf, gue nggak denger," jawab Dirga. "Kalau mau kasih potongan, jangan terlalu banyak. Kita bisa rugi," katanya lagi.
Namun, Ryan sama sekali tak menimpalinya, dia berjalan guna melihat apa yang dilakukan oleh Dirga sedari tadi. Laki-laki itu sempat menertawai Dirga, lantaran dia mengisi kekosongannya dengan menggambar layaknya anak sekolah yang bosan saat berada ditengah-tengah jam pelajaran. Diambilnya salah satu gambar tersebut, mengamatinya dengan seksama.
"Kenapa nggak jadiin uang aja? Gambarnya bagus-bagus, walaupun isinya cuma gambar kecelakaan,"
"Nggak ah. Gambar itu cuma gue jadiin hobi aja. Lagian, kalau salah sedikit aja gue bisa frustasi," balas Dirga.
"Karena itu gue nggak bisa disebut seniman," balas Dirga lagi.
Ryan hanya berdecak singkat, dia juga menggelengkan kepalanya lantaran Dirga begitu keras kepala ketika dia memberikan saran. Ya, tapi terserah apa yang diinginkan oleh sepupunya itu. Dirinya juga tak akan memaksa kehendak Dirga. Lagipula, dia bisa bekerja di tempat ini juga berkat sepupu sekaligus atasannya itu.
Lantas manik Ryan kembali menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Salah satu gambar yang masih Dirga gambar itu membuatnya tertarik untuk melihat lebih jelas lagi. Ryan meminta sepupunya untuk menjeda kegiatannya sejenak, dia mengambil lembar gambar yang tertindih oleh siku Dirga. Dan lagi-lagi ia tertawa disertai dengan senyuman menggoda sepupunya.
__ADS_1
"Ya ampun, Dirga," Ryan menutup mulutnya yang terbuka, menatap sepupunya dengan manik yang menyipit. "Lo lagi pengen ngelakuin 'sesuatu', kah? Gambarnya terlalu erotis," tanyanya.
Karena kesal, Dirga bangkit dan merebut kembali gambar yang belum selesai itu. "Nggak usah ganggu, balik sana," kata Dirga yang menyuruh sepupunya itu untuk keluar dari ruangannya.
Belum benar-benar pergi, lantaran Ryan masih membuka pintu dan menunjukkan kepalanya guna menggoda Dirga kembali, membuat sang pemilik ruangan itu melempar bantal sofa ke arah pintu—tepat ke arah wajah Ryan. Walau tak kena, setidaknya cara itu berhasil untuk membuat Ryan benar-benar pergi dari ruangannya. Dirga meletakkan gambar tersebut di atas meja, memandangnya lekat dalam beningnya. Dia pun setuju dengan perkataan Ryan tentang gambar ini, dan itulah yang mengganggunya.
Disaat dirinya menginginkan wanita dihidupnya untuk dilindungi dan rela untuk memberikan segalanya, justru ada laki-laki yang memperlakukan seorang wanita begitu buruknya sampai kehilangan nyawa. Dirga terus memikirkan hal ini semenjak bayangan terakhirnya terus menempel kuat. Setiap hembusan nafasnya terasa begitu berat, seperti dirinya yang menyesal dengan apa yang terjadi pada arwah tersebut. Lantas Dirga melanjutkan gambar itu hingga benar-benar selesai.
Selama penyelesaian pun Dirga satu demi satu mengingat seluruh detail yang sempat terlewatkan olehnya. Mungkin tak terbentuk serupa pada gambarnya, tapi setidaknya Dirga mampu mengingat detail aslinya. Dia menggigit jarinya, memandang semua gambar yang telah dia selesaikan.
"Bakal gue bantu sampai pelakunya ketemu,"
Dirga menata secara urut semua gambar itu, lantas ia masukkan ke dalam amplop coklat sebelum dia letakkan ke dalam laci mejanya. Rencananya, dia akan menunjukkan gambar itu pada Sakura. Sebab itu, Dirga segera menyelesaikan urusannya hari ini dengan cepat sebelum nantinya ia akan bertemu dengan Sakura untuk memberikan semua gambarnya. Laki-laki itu beranjak dari kursinya, mengambil kunci mobil sebelum akhirnya keluar ruangan. Tepat sekali Ryan berada di dekat ruangannya, dia berpamitan untuk pergi menyelesaikan urusan.
"Yan, titip dealer. Gue ada urusan," kata Dirga yang berjalan menuju mobilnya, serta mendapat anggukkan kepala dari sepupunya itu.
__ADS_1
Ryan menatap kepergian Dirga yang telah melakukan mobilnya meninggalkan tempat. Sekilas memperhatikan ruangan Dirga yang lupa ditutup. "Sebenarnya, buat apa semua gambar itu?"