
Sesuai dengan janji Dirga tadi malam, pagi ini ia akan membawa Sakura pulang ke rumahnya. Tepat setelah Sakura keluar dari kamar, menghampiri Dirga dan ibunya di ruang tamu. Dengan wajahnya yang sedikit tersenyum, wanita itu duduk berseberangan dengan mereka berdua.
"Udah enakan?" tanya ibunda Dirga.
"Sudah, tante," jawabnya.
Wanita paruh baya tersebut menyodorkan teh hangat yang ia buatkan untuk Sakura. Sejak tadi malam, Dirga bercerita perihal Sakura yang tidak makan sama sekali. Tentu saja, setelah ini sang ibu juga tidak akan membiarkan Sakura pulang begitu saja sebelum mengisi perutnya terlebih dahulu. Wanita itu pasti merasa lapar sekarang—setelah perasaannya membaik.
Dengan sikap sopannya, Sakura akhirnya menyeruput minuman hangat tersebut, hangatnya terasa sampai ke seluruh bagian tubuhnya.
Laki-laki yang juga bersama mereka itu hanya terdiam seraya memperhatikan Sakura. Ya, Dirga juga tak ada niatan untuk membuka obrolan di depan sang ibu. Kalau-kalau obrolan itu justru membuat Sakura tak nyaman. Dan untuk memecahkan suasana canggung ketiganya, laki-laki itu bangkit dari tempat duduk, mengajak Sakura dan ibunya untuk menuju ruang makan. Tanpa mengukur waktu lebih lama lagi, mereka bertiga berjalan ke ruang makan.
Di ruangan tersebut, Dirga menyuruh Sakura untuk duduk tepat di sebelahnya, namun wanita itu justru menolak. Lebih memilih untuk duduk tepat di sebelah ibunda Dirga. Laki-laki itu juga tidak berpikiran yang aneh, justru terus membiarkan suasana berjalan senatural mungkin. Toh, yang terpenting sarapan ini berlangsung.
"Sering-sering main ke sini, biar tante ada temennya," kata wanita paruh baya tersebut.
"Iya, tante. Kan emang udah sering banget ke sini," balas Sakura.
"Lebih sering lagi. Kalau bisa setiap hari juga nggak apa-apa,"
"Saya nggak kerja nantinya,"
"Nggak apa-apa, biar Dirga yang kerja. Kamu di rumah sama tante,"
Tepat setelah kalimat ibunda Dirga, suasana mendadak terasa begitu canggung. Tatapan Dirga dan Sakura kompak terarah pada sang ibu yang menatap mereka secara bergantian. Hanya beberapa detik hal itu terjadi, sebelum ibunda Dirga memilih untuk menyudahi sarapannya, lantas membawa piring tersebut ke dapur. Membiarkan Dirga dan Sakura yang sama-sama merasa canggung.
...****************...
Saat ini, Dirga dan Sakura telah berada di dalam mobil, perjalanan menuju rumah Sakura untuk mengantar wanita itu pulang. Di sana Sakura memangku tas berisikan banyak kotak makanan yang dengan sengaja dibawakan oleh ibunda Dirga. Wanita itu sangat berterima kasih karena diperlakukan begitu baik oleh Dirga dan ibunya.
"Padahal, nyokap lo nggak perlu bawain kayak begini. Ditambah, ini terlalu banyak," kata Sakura.
"Nggak apa-apa. Nyokap masak makanan yang nggak gampang basi. Jadi, lo nggak usah susah-susah masak dulu," balas Dirga.
__ADS_1
Kedua mata Sakura tertuju pada beberapa kotak berisi lauk pauk di dalamnya. Namun, secara mendadak Dirga langsung melontarkan pertanyaannya, yang mana membuat Sakura langsung menoleh ke arahnya.
"Kenapa tadi lebih milih duduk sebelah nyokap?" tanya Dirga.
Wanita itu terdiam, bukan tanpa alasan dia melakukan hal yang dipertanyakan oleh Dirga. "Aah, soal itu," Sakura menjeda kalimatnya, ia menutup tas makanan itu sebelum melanjutkan ucapannya. "Di sebelah lo udah ada arwah perempuan itu. Gue nggak mau nyari masalah," katanya.
"Lo masih khawatir hantu itu cemburu? Bahkan, setelah gue cium lo?" tanya Dirga dengan nada sedikit kesal.
Lagi-lagi hanya keheningan yang berada di tengah-tengah mereka. Sakura sendiri terkejut dengan kalimat Dirga itu, lantas dia memalingkan wajahnya enggan menatap manik Dirga. Hanya saja, Sakura kebingungan saat Dirga menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia menoleh cepat, namun tangan besar Dirga telah menyentuh pipinya.
"Buat kenangan baru bareng gue," kata Dirga.
"M-maksudnya?"
Laki-laki itu tersenyum singkat, menatap lekat tepat wanita di hadapannya itu. "Kurangin kerjaan lo, dan perbanyak waktu buat gue," jawab Dirga.
"Udah gue lakuin," katanya seraya melengos.
"Yang mana?"
...****************...
Setibanya di rumah Sakura, wanita itu turun dari mobil Dirga. Di belakangnya, ternyata Dirga turut bersamanya memasuki rumah itu. Membuat Sakura sedikit kebingungan dengan tingkah Dirga. Wanita itu menatap Dirga, seakan bertanya-tanya perihal maksud dari laki-laki tersebut.
"Kan tadi udah setuju, mau buat kenangan baru bareng gue," kata Dirga.
"Sekarang banget? Mending lo pulang aja,"
Tepat usai kalimat itu terucap, mendadak hujan deras turun begitu saja. Kontan membuat kedua sudut bibir Dirga terangkat, menatap Sakura seperti memperlihatkan sebuah kemenangan.
"Lihat, hujan deres. Lo juga tau, kalau gue benci hujan," alibinya supaya tetap bisa berada di sana.
"Tapi, lo bawa mobil, Dirga,"
__ADS_1
Mengabaikan perkataan Sakura, laki-laki jangkung itu justru meletakkan dirinya di atas sofa. Dengan wajah tak merasa bersalahnya, ia saling menumpu kedua kakinya, serta melipat tangan di depan dada. Itu adalah bentuk penolakan yang Dirga lakukan agar tidak diusir dari rumah Sakura. Sampai-sampai ia melihat Sakura yang membuang nafas panjang.
Tak bisa mencegahnya lagi, Sakura segera membawa tas berisi makanan itu ke dapurnya. Namun, ketika langkahnya baru beberapa meter, dia kembali ke ruang tamu guna memberi peringatan pada Dirga.
"Jangan coba-coba masuk. Gue mau mandi," katanya dengan tatapan tajam.
"Iya,"
Tepat setelah Sakura menghilang dari pandangannya, senyuman Dirga luntur begitu saja. Dia juga melepaskan kedua tangannya yang terlipat. Pribadi itu menatap keadaan luar yang cukup gelap akibat hujan deras dengan awan gelap yang menutupi langit. Cukup lama berada diposisi nya saat ini, entah apa yang ada dipikirannya, tetapi Dirga serius dengan pemikirannya tersebut. Terbukti jelas dari kedua alis yang tertekuk bersamaan.
Hanya saja, fokusnya mendadak terpecah ketika mendengar suara Sakura yang memukul dinding. Maniknya menangkap sosok wanita itu yang sepertinya telah selesai dengan acara mandinya.
"Kalau mau ambil minum, ambil sendiri ya ke dapur," kata Sakura.
"Katanya nggak boleh masuk?"
"Boleh,"
Dirga langsung mengangkat salah satu sudut bibirnya, terlihat seperti seseorang yang memiliki niatan jahat. Bahkan, saat ini dia telah berdiri, berdeham singkat sebelum membawa kedua tungkainya masuk.
Masih ada Sakura di sana, hanya menampilkan setengah dari tubuhnya dengan kepala yang terbungkus oleh handuk. Wanita itu masih memperhatikan pergerakan Dirga yang berjalan mendekat ke arahnya. Dirga hanya tersenyum singkat disaat Sakura tengah mengawasinya. Namun, pada akhirnya dia turut membuntuti Dirga yang berjalan ke dapur.
"Kenapa ngikutin?" tanya Dirga.
Sakura sama sekali tak menjawabnya, dan malah dia yang mengambilkan minum untuk Dirga. Walau diselimuti kebingungan, Dirga juga hanya melihat wanita itu dari sebelah meja makan.
"Ra, masih ada rasa takut?"
Suara air yang dituang itu mendadak berhenti, Sakura meletakkan kembali teko air tersebut ke atas meja. Dia mengangguk tanpa memberikan jawaban lisan, lantas menyerahkan gelas minuman itu pada Dirga.
"Perempuan mana yang nggak bakal takut, kalau dia jadi korban. Bahkan, gue ngerasa jijik sama tubuh gue sendiri. Semua dia sentuh," tuturnya.
Dirga meletakkan gelasnya di atas meja, berjalan mendekati Sakura tepat di belakang tubuh wanita itu. Iya, Dirga memeluk wanita tersebut dari belakang, dengan kedua tangannya yang juga memegang tangan Sakura. "Masih ada yang nggak dia sentuh. Gue lihat, kok," timpal Dirga.
__ADS_1
Tidak tahu kenapa, tubuh Sakura terasa begitu kaku ketika Dirga memeluknya. Pandangannya juga tak bisa fokus pada satu hal, selalu bergerak acak dengan pikiran yang mendadak kosong. Dia merasa hangat berada di dalam dekapan laki-laki itu, serta merasa ketenangannya tak terusik.