
Wanita bergaun merah muda selalu terbayang dalam pikiran Ryan. Melihat wanita di kamar Dirga dengan pakaian itu membuatnya teringat akan kejadian dimasa lalu. Entah kenapa, jantungnya saat ini tak bisa berdegup dengan normal. Seperti ada banyak ketakutan dalam dirinya—kendati Ryan juga tak mengerti.
Pribadi itu melepas jaketnya, berjalan masuk ke dalam kamar mandi guna mencuci wajahnya yang terasa begitu kusam. Ryan menatap dirinya dari pantulan cermin, berusaha untuk menghilangkan pikiran buruk itu dari kepalanya. Bersamaan dengan bulir air yang mengalir pada kulit epidermisnya, kedua tangan laki-laki itu bergerak membuka kaos yang saat ini tengah dipakai. Tepat setelah kaos tersebut terlepas, tubuhnya terjingkrak mendapati sosok wanita itu yang telah duduk di atas wastafel—tepat di hadapannya.
Langkahnya terus mundur, berharap dapat keluar dari kamar mandi. Sayangnya, salah satu kakinya justru terpeleset akibat kaos yang jatuh dari tangannya tadi. Pun membuat laki-laki itu menekuk kedua kakinya, menenggelamkan wajah di sana. Tubuhnya gemetar, rasa takutnya telah berada dipuncak. Namun, saat kepalanya terangkat, sosok wanita itu telah menghilang dari hadapannya. Buru-buru Ryan memeriksa ke seluruh sudut kamarnya, tak ada sosok itu. Laki-laki itu merasa begitu lega, dia bisa bernafas lepas saat meletakkan diri di atas ranjang.
"Siapa perempuan yang ada di kamar Dirga sebenarnya?" tanyanya pada diri sendiri.
Nafas Ryan masih tersengal, dia meletakkan tangan kanannya pada dahi. Kedua maniknya tertutup, berusaha menenangkan diri. Semakin waktu berlalu, Ryan semakin bisa mengendalikan dirinya. Tubuhnya telah begitu santai, kini Ryan hanya ingin menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang masih kotor dengan tubuh yang lengket.
Tungkainya sempat terhenti di depan pintu kamar mandi, dia menatap kamar mandinya dengan penuh rasa khawatir. Hanya setengah dari tubuhnya yang dia masukkan ke dalam sana, memastikan tak ada sosok itu lagi yang akan mengganggunya. Hingga seluruh tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi, Ryan masih mengawasi seluruh sudut ruangan itu. Namun, tubuhnya terbentur dan terangkat ke atas dinding secara menadak dengan tangan dari sosok tersebut yang mencekik lehernya.
"HARUS MATI!"
Itu adalah kalimat yang terucap dari sosok tersebut. Ryan yang mulai kehilangan nafasnya masih berusaha keras melepas tangan arwah tersebut dari lehernya. Laki-laki itu sampai mengerang kesakitan, kulitnya juga mulai mengeluarkan darah dari kuku yang menancap.
"PERGI!!"
__ADS_1
...****************...
Memasuki dealer sama sekali tak membuat Dirga meletakkan atensinya pada apapun. Begitu juga dengan Ryan yang selalu ia abaikan usai melihat hal yang telah dilakukannya. Hanya saja, pagi ini melihat Ryan dengan penampilan berbeda cukup menarik atensinya, namun Dirga bersikap abai, seolah tak tertarik dengan hal tersebut. Langkahnya tetap membawa laki-laki itu masuk ke dalam ruangan.
Tubuhnya bersandar, pikirannya masih membawa laki-laki itu pada sepupunya. Ada banyak luka cakaran yang didapat Ryan, yang mana di rumah sepupunya itu tidak terdapat hewan peliharaan apapun. Entahlah, Dirga sendiri juga tak tahu bagaimana Ryan bisa mendapatkan luka itu.
"Paling berantem," gumamnya.
Laki-laki itu duduk tanpa melakukan apapun, hanya kakinya yang bekerja guna menggerakkan kursinya itu. Pandangannya terarah pada langit-langit ruangannya, mengatur nafas beberapa kali. Tidak tahu kenapa, tubuh Dirga rasanya begitu ringan. Dia tak pernah merasakan hal seringan ini sebelumnya. Mungkin, jika ada angin kencang, dia bisa ikut terbawa. Cincin di jari manisnya juga menarik perhatian, diam-diam tersenyum saat menatap benda itu.
Hanya beberapa detik senyuman itu tersemat sebelum akhirnya dia menyadari hal yang dia lakukan. Kedua alis Dirga tertekuk kontan, merasa aneh dengan diri sendiri yang tidak bersikap seperti biasanya. Kepalanya menggeleng, mengenyahkan apa yang ada dipikirannya saat ini. Dan sedikit membuatnya gelagapan—lantaran bingung untuk melakukan sesuatu.
Suara pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu membuat Dirga bergerak cepat meraih gawai tersebut yang tergeletak di atas meja. Sebuah pesan yang berasal dari ibunya itu sukses membuat Dirga menegakkan tubuhnya.
"Sakura dapat kiriman teror dari orang tak dikenal"
Dia segera bangkit dan meraih kunci mobilnya, membawa dirinya keluar dari sana. Pergerakannya begitu cepat, menitipkan dealer pada pegawai lain sebelum tubuhnya masuk ke dalam mobil. Melajukan kendaraan tersebut memecah jalanan yang bisa dilalui dengan kecepatan tinggi. Pikiran laki-laki itu hanya terarah pada Sakura yang mendadak mendapat teror tak mendasar ini.
__ADS_1
Aneh, bukan? Bukan dia pelakunya, tetapi Sakura yang mendapat teror tersebut. Memang belum ia ketahui teror apa yang Sakura dapatkan, namun masih belum mampu ia terima di kepala.
Dirga semakin cepat melaju, berharap lebih cepat sampai dari yang ia harapkan. Bagaimanapun juga, Sakura terlibat karena dirinya. Dia akan sangat menyesal jika sesuatu terjadi pada wanita itu. Apalagi mereka semakin dekat dengan akhir permasalahan ini.
"Jangan buka barangnya sebelum gue sampai," kata Dirga saat menghubungi Sakura.
Hingga akhirnya Dirga tiba di depan rumah Sakura, dia melihat wanita itu yang masih berdiri di dekat benda mencurigakan yang ada di lantai rumahnya. Dirga berlari keluar dari mobil menghampiri Sakura yang telah melihat keberadaannya. Hal pertama yang Dirga lakukan adalah memastikan keadaan Sakura terlebih dahulu, barulah dia menyuruh Sakura untuk berdiri di belakangnya.
Dirga melangkah mendekati benda aneh itu. Tak akan dia pungkiri jika ada rasa takut pada benda tersebut. Namun, dia melawannya dengan memberanikan mengangkat kotak cokelat yang begitu ringan. Bahkan, seperti tidak terdapat apapun di dalam sana. Laki-laki itu sekilas melihat Sakura sebelum akhirnya mereka membuka bersama.
Sakura langsung tercengang, maniknya membola begitu besar usai melihat isi dari kotak tersebut. Dia melihat ke arah Dirga yang diam dengan kilatan mata begitu tajam. Walau belum pernah bertemu, Sakura tahu jika foto-foto yang ada di dalam sana adalah semua mantan Dirga yang meninggal. Sungguh, Sakura tak sanggup berbicara apapun.
"Ryan sialan!!" geram Dirga.
Tangan Dirga meremat salah satu foto yang ada di sana. Hanya saja, Sakura menahan dan meredam emosi laki-laki itu. Dugaan pelaku yang terarah pada Ryan baru dugaan keduanya, lantaran bekas luka yang dimiliki oleh laki-laki itu. Sakura juga tak bisa membiarkan Dirga untuk menuduh orang sembarangan, terlebih Ryan adalah sepupu Dirga. Wanita itu memegang tangan Dirga yang terasa begitu keras, menenangkan laki-laki itu untuk tidak lepas diri.
"Dirga," panggil Sakura dengan suara yang begitu lembut. "Kita fokus sama tujuan utama kita. Gue yakin, pelakunya cuma mau ngalihin perhatian kita dari tujuan utama," tuturnya yang menjauhkan benda-benda tersebut dari tangan Dirga.
__ADS_1
Sakura bisa merasakan amarah yang tengah ditahan oleh laki-laki itu. Dia terus membuat Dirga bisa menghilangkan emosi tersebut. "Setelah kita selesai sama tujuan utama, baru kita urus masalah ini. Gue janji bakal bantu lo nyelesein masalah ini," kata Sakura lagi.
Perlahan seluruh otot Dirga mulai merenggang, dia mulai bisa mengendalikan emosinya kembali. Melihat Sakura sekilas, lantas menganggukkan kepalanya, mengikuti perkataan Sakura. Tepat setelah emosi itu benar-benar hilang, Sakura memeluknya, membuat Dirga memiliki seseorang yang bisa memahaminya.