
Dirga pikir dia sudah kehabisan efek dari cincin tersebut yang membuatnya tidak bisa melihat keberadaan Hanna. Namun, ternyata dia salah, kenaikan saat ini dia masih bisa melihat dan merasakan sentuhan dari arwah perempuan itu. Dan saat ini laki-laki itu hanya bisa terdiam ketika tubuhnya dipeluk oleh sosok tersebut. Sampai beberapa menit, akhirnya Hanna melepaskan pelukannya, membuat Dirga merasa bebas untuk bernafas kembali.
"H-hai," itu adalah kata yang bisa Dirga keluarkan.
Hanna menatap manik Dirga tanpa bersuara apapun. Sejujurnya, hantu itu merasa senang saat Dirga mencarinya. Bahkan dia belum mendengar apa yang ingin dikatakan oleh laki-laki itu, dan langsung memeluknya—saking senangnya.
"Diulangi lagi. Tadi, kamu mau ngomong apa?"
Mendadak Dirga yang gelagapan, maniknya mengerjap beberapa kali. Dia bahkan tak bisa meletakkan fokusnya sendiri. Entahlah, Dirga sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya ini. Namun, dia dengan cepat menyadarkan dirinya dan mencoba untuk berbicara dengan benar pada hantu tersebut yang sedang menertawai kegugupannya. Lantas untuk apa gugup? Dia hantu, bukan gadis yang disukainya.
"Lo marah sama gue?" tanya Dirga.
"Marah, sih, enggak. Tapi, kesel," jawab Hanna.
Tahu, apa yang ada dipikiran Dirga saat ini? Bagaimana cara bicara Hanna yang sama sekali tidak berbeda dengan manusia biasa. Bahkan, beberapa kali hantu perempuan itu bisa terlihat seperti seorang wanita yang manja, atau bersikap lebih dewasa daripada Dirga. Dan berkat rencana kencan hari ini, Hanna mengubah penampilannya layaknya manusia tanpa luka. Namun, tidak dia pungkiri ketika arwah perempuan itu marah, yang mana bisa lebih menakutkan dari penampilan awalnya. Ditambah, ini adalah pertama kalinya dia mendengar suara Hanna.
Dirga menggelengkan kepalanya dengan cepat saat menyadari apa yang sedang dipikirkannya. Pribadi itu kembali pada niat awalnya yang untuk meminta maaf pada sosok tersebut.
"Gue mau ngomong sesuatu, tapi lo jangan marah," kata Dirga yang meminta hantu perempuan itu untuk tidak salah paham dengannya. Pun laki-laki itu langsung menarik nafasnya usai melihat Hanna menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya, gue lihat lo waktu lagi makan siang tadi. Gue juga sengaja pura-pura buat nggak lihat lo," jelasnya.
Terlihat Hanna yang sama sekali tidak bersuara, hanya terdiam seraya menatap laki-laki di hadapannya itu. Pasalnya, Hanna tidak mengetahui jika Dirga melakukan hal itu padanya. Namun, hantu perempuan itu sama sekali tidak merasa kesal dengan apa yang sudah dilakukan Dirga. Dia bahkan kebingungan harus membalas kalimat Dirga dengan ekspresi seperti apa. Pun hanya berakhir dengan anggukan kepala, serta mengatakan jika dirinya sama sekali tidak marah akan hal tersebut.
Dirga sampai kebingungan dengan Hanna. Padahal, dia sempat sedikit merasakan takut jika saja hantu perempuan itu akan marah padanya karena telah mengabaikan. Laki-laki itu hanya tersenyum kaku, dan juga merasa lega di waktu yang bersamaan.
__ADS_1
"Tapi, gue bener-bener minta maaf sama lo," kata Dirga yang memang benar-benar menyesali perbuatannya.
"Nggak masalah, sih. Semua manusia yang nggak pengen keganggu, pasti juga ngelakuin hal yang sama kayak kamu," balas Hanna.
Dirga tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai rasa terima kasihnya karena Hanna bisa membuatnya berada dalam masalah. Ya, walaupun belum benar-benar lega, lantaran urusannya dengan Sakura belum selesai. Namun, karena dirinya masih bisa melihat hantu perempuan itu, disana Dirga aku juga mau minta satu hal pada sosok tersebut untuk memperbaiki hubungannya dengan Sakura. Bukan hanya Hanna dan Sakura, tetapi juga dirinya. Dirga hanya ingin mereka bertiga bisa kembali pada hubungan yang baik—seperti semula.
"Lo mau, 'kan?"
...****************...
Sakura baru saja tiba di rumahnya, wanita itu langsung melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ya, walaupun dengan hati yang sedikit berantakan, wanita itu tetap memaksakan dirinya untuk melakukan pekerjaan rumahnya. Entah itu menyapu, mencuci piring, atau merendam pakaian kotor. Namun, dia juga masih belum bisa melepaskan pikiran yang mengganggunya.
Saat tangannya baru saja selesai menuangkan air mineral ke dalam gelas, tubuhnya terdiam dalam waktu beberapa saat. Wanita itu hanya mengingat hal yang dilakukan oleh Dirga hanya karena enggan melihat Hanna. Bukan perlakukan laki-laki itu terhadap arwah perempuan tersebut, melainkan cara Dirga yang dengan mudah mengaitkannya dengan hubungan mereka. Iya, ini soal mereka berdua.
Wanita itu menghembuskan nafasnya begitu berat, dia menarik salah satu kursi yang akan dia duduki. Seraya mengurutkan air mineral tersebut, Sakura membawa lamunannya keputusan yang tidak disukai Dirga. Bahkan, dirinya jadi bertanya-tanya sendiri, apa yang membuat Dirga lebih memilih untuk mendung melepaskan Hanna dari dukun itu, dibandingkan keputusannya yang menginginkan Hanna bersama dengan dukun itu? Padahal, semua informasi ini dianggap kutukannya akan hilang jika Hanna tidak ada di dunia ini untuk membalas dendamnya.
Cukup lama wanita itu berada di posisinya, sampai akhirnya dia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Lamunannya terbuyarkan, kata dia berjalan keluar guna melihat siapa tamu yang datang malam ini. Tubuhnya mematung, dia melihat dua presensi secara bergantian.
"Kenapa ke sini? Kalian kalau masih mau kencan, silakan," kata Sakura.
Hendak menutup pintu, Dirga menahan menggunakan lengan kirinya, meminta agar mereka dibiarkan masuk terlebih dahulu. Dengan pertimbangan yang singkat, akhirnya Sakura membuka pintu rumahnya, membiarkan laki-laki dan arwah perempuan itu memasuki ruang tamunya.
"Bentar, gue ambilin minum," kata Sakura.
__ADS_1
"Aku nggak perlu," sela Hanna.
"Mau sajen?" balas Sakura.
Konversasi singkat itu sedikit membuat Dirga tersenyum dengan interaksi Hanna dan Sakura. Namun, dengan cepat juga laki-laki gitu menormalkan raut wajahnya. Dirga dan Hanna menunggu seraya melihat-lihat seisi ruang tamu rumah Sakura.
"Itu keluarga Sakura. Orang tua sama adik laki-lakinya," ucap Dirga yang peka dengan tatapan Hanna terhadap foto keluarga Sakura.
"Aku nggak penasaran, kok," sanggahnya seraya mengalihkan pandangan.
Sampai akhirnya Sakura membawa segelas minuman untuk Dirga. Dia duduk menatap Dirga dan Hanna secara bergantian, meminta agar mereka berdua menjelaskan tujuan datang ke rumahnya.
"Kita berdua mau minta maaf, karena—"
"Sebenarnya, aku yang mau minta maaf ke kalian berdua. Aku bakal jelasin semuanya," kata Hanna yang menyela ucapan Dirga.
Bukan hanya Dirga, tetapi Sakura juga terkejut setelah mendengar kalimat tersebut. Bahkan, wanita itu sampai menekuk kedua alisnya. Pun menunggu kalimat berikutnya yang akan dikatakan oleh Hanna.
"Apa yang dibilang sama dukun tadi siang, bener semuanya. Bahkan, sampai sebelum aku sama Dirga pergi berdua, aku masih punya rencana itu," Hanna menjeda kalimatnya. Dia menatap Dirga dan Sakura secara bergantian. "Tapi, setelah dari museum, aku jadi mikir buat batalin rencana jahat itu. Aku mau jadi hantu atau arwah yang bisa dikenang dengan baik,"
Jujur saja, baik Dirga maupun Sakura sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa, lantaran terkejut dengan seluruh pengakuan Hanna. Namun, Sakura sendiri juga mencoba untuk memahami niat baik Hanna. Wanita itu menganggukkan kepalanya beberapa kali, menyetujui apa yang diinginkan oleh arwah perempuan itu.
"Itu jauh lebih baik," kata Sakura yang tersenyum.
__ADS_1