
Begitulah pada akhirnya, Sakura tetap akan mengajukan dirinya sebagai umpan untuk Hanna. Entah berapa banyak kalimat yang mencegahnya agar tidak melakukannya pun tak akan berguna. Bahkan, dukun itu sama sekali tidak menolaknya, yang mana pendapat Riana dan Dirga tak akan ada gunanya. Ya, mereka hanya bisa ikut dengan jalan ini, dipenuhi dengan rasa takut dan gugup.
Mobil biru milik Riana telah berhenti di depan rumah Sakura. Bersama dengan Dirga yang duduk di sebelahnya, laki-laki itu menahan sepupunya sebelum mereka keluar guna menjemput Sakura dan dukun itu.
"Lo nggak bisa cegah dia sekali lagi? Lebih baik gue yang ditempelin, daripada Sakura yang celaka," pinta Dirga.
Tangan Riana yang sudah memegang pintu itu langsung terlepas, menatap Dirga dengan tatapan tajam usai dirinya membuang nafas panjang. Riana menyingkirkan tangan Dirga yang masih ada di lengannya sebelum membuka suaranya. "Gue suruh ngomong apalagi? Kalau lo yang khawatir, coba cegah sendiri. Usaha gue nggak berhasil," balas Riana.
Tepat setelah kalimat itu terucap dari mulut Riana, gadis itu langsung keluar meninggalkan sepupunya sendirian di dalam mobil. Sedangkan Dirga hanya bisa menghela nafasnya berat, dirinya menyusul Riana yang lebih dulu masuk ke dalam rumah Sakura.
Di ruang tamu sudah terlihat dua orang wanita yang telah menunggu kedatangan Dirga dan Riana. Dan seseorang yang memiliki peran penting dalam masalah ini sedang berusaha untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. Tidak, Sakura tidak memiliki niatan untuk mundur, dia akan tetap maju guna mengalahkan Hanna yang telah mengusik kehidupannya. Dia melakukan hal ini bukan demi Dirga, melainkan dirinya sendiri.
"Ayo, kita berangkat," kata Sakura.
Riana menganggukkan kepalanya sekali, dia lebih dulu berjalan ke mobil guna menyiapkan mobilnya. Tiga orang lainnya menyusul di belakang. Disaat Dirga hanya bisa berdiri di depan rumah Sakura, wanita itu berjalan melewatinya tanpa meletakkan perhatiannya ke arah laki-laki itu. Entahlah, Dirga tak bisa memikirkan apa-apa lagi. Dia pasrah dengan hal ini.
Pun akhirnya keempat orang tersebut pergi meninggalkan tempat, mereka menuju tempat milik Hanna tersebut. Tempat itu memang telah dipasang garis polisi, yang mana tidak mudah untuk masuk ke dalam sana. Sakura memastikan jika keadaan di sekitar sana benar-benar aman. Lantas dia melepaskan kalung yang selama ini menjadi perlindungannya. Dia menyerahkan kalung tersebut pada Riana sebelum akhirnya keluar dari mobil.
__ADS_1
Dukun yang sejak tadi bersama mereka juga ikut turun, hanya saja dia menjaga jarak dengan Sakura. Membiarkan wanita itu berjalan lebih dulu di depannya.
"Lo jangan turun dulu, kita cari tempat parkir," kata Riana pada Dirga.
"Kenapa? Gue mau nem—"
Belum saja kalimat Dirga selesai, Riana lebih dulu mengunci pintu mobilnya. Dia segera menginjak pedal gas dan menjauh dari rumah tersebut. Laki-laki itu sampai berbicara lantang pada Riana karena bersikap seperti itu. Namun, Riana sama sekali tidak mempedulikannya, dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Toh, tujuannya juga mengawasi keadaan daerah tersebut, berharap tak ada polisi atau warga yang melihatnya.
Mereka memarkirkan mobilnya di jarak sekitar tiga ratus meter dari rumah Hanna. Mereka juga bersikap biasa saja ketika hendak menuju rumah Hanna. Riana juga tak henti melihat keadaan sekitar, lantaran keduanya juga akan memasuki rumah tersebut.
"Hanna, ini gue. Keluar sekarang," kata Sakura.
Wanita itu memberanikan diri untuk berhadapan dengan Hanna tanpa pelindung apapun. Iya, hanya keberanian yang dia bawa untuk bertemu Hanna. Maniknya bergerak ke segala arah, bersikap begitu hati-hati dengan keadaan di sekitarnya. Dia tak mau mendapat serangan tiba-tiba dari roh jahat itu.
"Lo benci kan sama gue? Gue juga benci sama lo. Keluar sekarang, dan kita selesaiin," kata Sakura lagi.
Tak lama, dia terkejut ketika tubuhnya ditarik dengan cepat hingga membentur dinding. Sakura sempat merintih kesakitan. Dia tidak bisa membaca keberadaan Hanna saat ini, yang mana membuat dirinya terancam akan mendapat serangan dadakan. Dan di luar dia mendengar suara dukun tersebut yang memanggil namanya berkali-kali, hanya saja tak dapat masuk lantaran pintunya terkunci.
__ADS_1
Sakura mencoba bangkit, dia terengah-engah. Maniknya akhirnya menangkap Hanna yang berdiri di hadapannya. Dengan penampilan yang sama seperti pertama kali dia bertemu pertama kali. Sakura dengan berani menatap wajah yang dulu sempat dia takutkan, dengan langkahnya mencoba untuk mendekat ke arah Hanna.
"Sakura!! Sakura!!"
Itu adalah suara teriakan dari Dirga, yang mana laki-laki itu memanggil namanya berulang kali. Sakura tak akan menampik, jika dia khawatir Hanna akan marah dengan hal ini.
"Lo sama Dirga udah beda alam. Mau sesuka apapun lo ke dia, kalian tetep nggak akan bisa bersama," kata Sakura. Dirinya tengah mengulur waktu, sampai dukun tersebut bisa masuk ke dalam ruangan ini, dan menangkap Hanna. "Kasihan Dirga harus menderita karena selalu lo ikutin. Dan cara lo itu bukan ngelindungin Dirga, tapi nyiksa dia yang nggak bisa ngerasain kehidupan normal kayak orang-orang," tuturnya lagi.
"Gimana sama kehidupan gue?! Gue juga pengen hidup kayak orang-orang!!" kata Hanna yang akhirnya membalas kalimat Sakura. "Tapi, kenyataannya gue udah mati!!" imbuhnya dengan bentakan nyaring.
Sakura terdiam beberapa saat, dia harus berpikir untuk membuat Hanna lemah. Bahkan, dia juga mengulurkan tangannya, meminta Hanna untuk bersikap tenang. Hanya saja, uluran tangan itu menjadi bencana untuknya, yang mana Hanna menerima uluran tersebut untuk melempar Sakura. Terdengar jelas suara di luar sana yang mengkhawatirkan Sakura di dalam. Jujur saja, Sakura tidak kuat untuk berdiri, lantaran benturan tubuhnya terlalu kuat, membuat dadanya merasa sesak dan sakit.
Namun, wanita itu tidak ingin cepat menyerah, Sakura masih berusaha untuk membangkitkan tubuhnya dengan sisa tenaganya. Dengan tatapan yang tidak terputus dari Hanna, Sakura berhasil bangkit dengan bantuan nakas yang berada di sebelahnya. Sakura tidak bisa menahan diri untuk membalasnya, akan tetapi sangat sulit, lantaran dirinya tidak memiliki kekuatan dan pelindung apapun. Salah satu tangannya hanya memegang sebuah bingkai foto yang pada akhirnya dia lempar pada hantu tersebut.
Bingkai foto tersebut pecah, yang mana Hanna melihat bahwa foto keluarganya yang saat ini berada di lantai bersama dengan pecahan kaca. Kemarahan Hanna semakin tidak terkendali, yang mana membuat roh itu ke arah Sakura, tanpa ragu mencekik Sakura hingga membuat wanita itu terangkat dengan punggungnya yang telah menempel dengan dinding.
"To..long.."
__ADS_1