Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Pernah Melihat


__ADS_3

"Aku belum makan,"


Itu adalah kalimat yang terucap dari mulut Dirga. Laki-laki itu bersama dengan wanitanya sedang terduduk nyaman seraya menghabiskan waktu istirahatnya di toko kue milik kekasihnya itu. Rasanya menenangkan untuk laki-laki tersebut, serasa penatnya menghilang begitu saja.


Mendengar keluhan kekasihnya itu, membuat Sakura tergerak memberikan perhatiannya pada Dirga. Alih-alih membuatkan makanan untuk laki-laki itu, Dirga malah menyuruh Sakura untuk memesan, lantaran Dirga juga tahu jika Sakura pasti lelah bekerja seharian. Pun wanita itu hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Dirga, dan mengambil ponselnya guna memesan makanan untuk mereka berdua.


Selagi wanita tersebut meletakkan seluruh fokusnya pada layar ponsel, kedua manik Dirga mengedarkan pandangannya ke segala arah—termasuk Sakura. Pandangan laki-laki itu juga tidak terlepas pada beberapa pembeli yang mendatangi toko kue ini. Ada senyuman bangga yang Dirga tunjukkan. Tubuhnya dia sandarkan dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, tanpa memikirkan apapun, pikiran dan terasa begitu—setidaknya untuk saat ini.


Masih menunggu sang kekasih untuk memesan makanan, laki-laki itu melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dimana kedua alisnya langsung tertekuk dengan pupil yang membesar. Dirga melihat seorang pembeli yang berjalan keluar dari toko dengan menenteng sebuah paper bag. Tentu saja, dia merasa tidak asing dengan paper bag tersebut.


"Ra," bagi laki-laki itu tanpa menolehkan kepalanya. "Aku mau nanya,"


"Tanya apa?"


"Paper bag yang dibawa pembeli itu, dari toko ini?" tanya Dirga.


Pandangan Sakura terlarang pada pembeli yang baru saja keluar dari tokonya itu, lantas menganggukkan kepalanya beberapa kali guna mengiyakan pertanyaan kekasihnya tersebut. Pun wanita itu menolak ke arah sang kekasih, mempertanyakan alasan kekasihnya bertanya seperti itu.


"Kamu inget siapa aja yang pesen?" tanya Dirga.


Sakura hanya terdiam, dia menggelengkan kepalanya sebelum jawab pertanyaan itu dengan logikanya. "Yang di toko ini nggak cuma satu, aku jelas nggak tau siapa yang kamu maksud," jawabnya.

__ADS_1


Dirga mencoba untuk mengingat hal yang tadi pagi telah dia alami. Pasalnya, tidak sempat memeriksa isi dari paper bag yang tadi pagi sudah ada di kantornya. Tujuannya hanya wanita di rumah sakit itu. Dia tidak tahu jika paper bag yang sempat di tangannya berasal dari toko kue Sakura. Maniknya mengerjap beberapa kali, udah tahu apa yang ingin ditanyakan tentang paper bag tersebut dengan Sakura. Dirga khawatir Sakura akan mencari tahu sendiri.


Untuk mengakhirinya, Dirga memilih untuk menggelengkan kepalanya berusaha untuk menahan diri agar dia tidak banyak berbicara yang memiliki kaitan dengan wanita di rumah sakit tersebut. "Nggak, kok. Tadi di kantor, Herman itu dibawain kue sama istrinya. Aku nggak tau, siapa istrinya ibu beli kue di sini," alibinya yang jelas sebuah kebohongan.


Sakura menganggukkan kepalanya beberapa kali usai mempercayai perkataan laki-laki itu. Memang wajar saja jika teman satu kantor kekasihnya itu ada yang membeli kue atau roti dari tokonya. Bukankah itu sebuah berita bagus? Pasalnya, toko ini dan kantor Dirga memiliki jarak yang cukup jauh. Dan seseorang dari sana, ada yang mengetahui tokonya.


Hingga beberapa menit berlalu, Sakura mendapat notifikasi jika pesanan makanan mereka berdua telah datang. Lantas wanita itu segera keluar udah di tokonya guna menghampiri kurir yang mengantarkan pesanannya. Namun, usai meninggalkan Dirga, laki-laki tersebut kembali tediam dengan kedua alis yang tertekuk bersamaan. Dirinya menghubungkan dengan perkataan wanita itu, yang memasukkan Sakura ke dalam urusan mereka.


"Siapa yang dateng ke sini? Nggak mungkin perempuan itu?" tanyanya pada diri sendiri.


Lantas Dirga kembali menormalkan raut wajahnya, yang mana dirinya telah melihat Sakura kembali dengan tangan yang menenteng plastik berisi makanan mereka. Dirga dengan cepat memasang senyuman tipisnya.


"Biar aku ambil piring dulu," ucap Sakura yang menghalau.


"Dirga!!" panggil seseorang.


Memilih nama itu langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara, dia mendapati kekasihnya melambaikan tangan ke arahnya. Hanya dalam hitungan detik, Dirga langsung bangkit dari teman orangnya guna menghampiri sang kekasih.


...****************...


"Rasanya seneng, bisa pulang kerja sama pacar sendiri," kata Dirga.

__ADS_1


Mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang. Dirga bahkan mau menunggu berapa jam setelah dia tiba di toko kue kekasihnya sampai toko tersebut tutup—supaya laki-laki itu bisa pulang bersama dengan kekasihnya. Dan mendengar kalimat tersebut, Sakura hanya tersenyum, merasa Dirga terlalu berlebihan.


Lantas keadaan di dalam mobil terasa begitu hening, tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka obrolan kembali. Hal tersebut berlangsung sampai mereka menempuh jarak beberapa kilometer. Dan pada akhirnya, Sakura lah yang membuka suaranya.


"Apa kamu sering nggak makan siang?" tanya Sakura secara tiba-tiba.


Hanya sekilas menoleh, laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Iya, aku males keluar ruangan buat beli makan," jawabnya.


"Kan bisa minta tolong OB,"


Laki-laki itu kembali menggelengkan kepalanya. Menurutnya, OB juga sudah lelah bekerja di kantornya. Kendati itu adalah sesuatu yang luka karena termasuk pekerjaan OB, bisa dikatakan Dirga hampir tidak pernah meminta pekerja itu untuk membawa atau membelikan makanan untuknya. Entahlah, Dirga hanya melakukan sesuai kata hatinya.


Dengan satu tarikan nafasnya yang panjang, Sakura rasa hanya ada satu cara supaya kekasihnya itu bisa makan siang dengan teratur, walaupun ditelan oleh kesibukan pekerjaannya. Dia tersenyum datar sebelum mengatakan hal tersebut.


"Kalau begitu, biar aku yang bawain makan siang," Sakura menjeda kalimatnya. Kepalanya juga sedang membayangkan idenya tersebut. "Kalau aku bisa dateng ke kantor, ya aku dateng. Kalau nggak bisa, aku titip aja ke kurir," kata Sakura.


"Boleh aja. Aku setuju. Tapi, syaratnya harusnya makan kamu yang dateng ke kantorku," kata Dirga.


Sakura tertawa, dia menatap Dirga dari sampingnya. "Wah, kalau kayak gitu, Herman bisa kalah dari kamu. Kita yang belum nikah, tapi kamu udah pengen bekal masakanku," katanya masih tertawa.


"Emang itu tujuanku. Pamer ke Herman," balas Dirga.

__ADS_1


Keduanya sama-sama tertawa, menghidupkan suasana hening di dalam mobil ini. Begitu juga dengan Dirga yang menghilangkan kekhawatirannya sejenak. Semua perasaan itu bisa dia dapatkan hanya dengan bersama Sakura. Namun, kekhawatirannya juga mengarah pada Sakura. Bahkan, dia belum tahu apa yang akan terjadi pada wanita tersebut jika Dirga mengabaikannya sedikit saja.


__ADS_2