
Semburat jingga telah memenuhi bentangan cakrawala. Menampilkan betapa indahnya langit senja yang sebentar lagi akan berganti malam. Di sana Sakura tengah berada di depan minimarket usai membuang sampah. Namun, karena penampakan langit yang indah, membuatnya menunda untuk masuk ke dalam. Dirinya menarik nafas panjang, merasakan udara segar di sore hari. Sayangnya, semua itu harus buyar ketika melihat mobil itu lagi. Iya, mobil Dirga yang paling sering dia lihat akhir-akhir ini.
Apa lagi yang bisa dilakukannya selain menemui laki-laki itu? Padahal, hari ini tak ada rencana keduanya untuk bertemu dan membahas tentang kisah horor yang terjadi pada Dirga. Namun, dirinya tetap menunggu sampai presensi itu akhirnya menampilkan dirinya di hadapan Sakura dengan tangan yang membawa amplop cokelat. Entahlah, tapi ia yakin jika Dirga akan memberikannya padanya.
"Apa ini?" tanya Sakura usai memegang amplop tersebut.
"Itu semua bayangan yang gue dapet selama ini,"
Wah, Sakura langsung menaikkan kedua alisnya secara bersamaan. Dia juga penasaran dengan isi amplop tersebut, lantaran tak pernah tahu apa bayangan yang didapat oleh Dirga. Dengan sedikit tidak sabaran, Sakura berhasil mengeluarkan seluruh lembar kertas tersebut. Dia tak mampu bersuara usai melihat semua gambar yang dibawa Dirga ini. Sekilas melihat ke arah laki-laki itu, lantaran atensinya terarah perempuan yang ada di semua gambar tersebut.
"Iya, ini perempuan yang selalu ngikutin lo,"
Mereka sama-sama terdiam sejemang, sebelum Dirga kembali membahas tentang gambar yang ia bawa. "Ada satu gambar yang mungkin terlalu erotis buat dilihat, tapi itu bayangan terakhir waktu kita di rumah arwah perempuan itu," tuturnya.
Sakura sendiri mencoba untuk mencarinya, namun tak ada satupun gambar yang dimaksud Dirga. Semua gambar yang ada di tangannya kini hanyalah gambar kecelakaan dengan arwah perempuan itu di setiap tempat lokasi kecelakaannya. Membuat Sakura menekuk kedua alisnya, menunjukkan semua gambar itu pada sang pemilik, seakan mengatakan jika tak ada satupun gambar yang dimaksud.
"Tunggu dulu,"
__ADS_1
Dirga mengambil semua gambarnya, mencarinya lembar demi lembar dengan manik yang terfokus tajam. Dia ingat jelas jika sudah menggambar semua sekelebat bayangan itu. Lantas dia bergegas kembali menuju mobil, mencari di seluruh bagian di sana. Namun, memang tak ada lembar gambar yang ia cari. Dia kebingungan, tapi juga langsung mengarah pada satu orang yang tahu tentang gambar itu.
"Ryan," ucapnya lirih. Lantas bangkit dari sana dan kembali menghampiri Sakura. "Gue pergi dulu, itu gambar lo bawa aja. Disimpen," tandasnya yang langsung meninggalkan tempat.
Dirinya sedikit diliputi rasa kesal, karena sebelum dia pergi, hanya Ryan yang melihat bahkan mengambil gambarnya itu. Tapi, untuk apa sepupunya mengambil gambar itu? Padahal, Ryan tak mengerti makna dibalik semua gambarnya, terlebih Dirga tak ingin Ryan terlibat. Ini adalah urusan pribadinya, yang mana tak mau melibatkan orang-orang disekitarnya. Sepupunya itu bisa terkena dampaknya, jika berani untuk masuk ke dalam lingkar masalah ini.
Laki-laki itu sampai menancapkan gas mobilnya, melaju cepat menuju rumah Ryan. Dia tak banyak waktu untuk menunda semuanya. Secepatnya Dirga harus menemukan gambar tersebut.
Hingga akhirnya, mobil tersebut telah berada di pelataran rumah Ryan. Dirga segera bergegas turun, memasuki rumah sepupunya dengan pintu yang terbuka setengah. Dia berkali-kali memanggil nama Ryan, mencari keberadaan laki-laki itu di dalam rumah ini. Mencari begitu lama, dia melihat perawakan Ryan yang baru memasuki rumah.
"Lo ada bawa gambar gue? Yang tadi lo bilang terlalu erotis," tanya Dirga tanpa basa-basi.
Kontan membuat kedua alis Ryan tertekuk bersamaan, merasa kebingungan dengan pertanyaan itu. Lantas dia menggeleng dengan begitu yakin. "Sumpah, gue nggak ngambil gambar lo," jawab Ryan.
Dirga tak bisa berkata-kata, hanya terdiam dalam kebingungannya. Mencoba untuk berpikir keras dimana gambar itu berada, lantaran kunci dari permasalahan ini ada pada bayangan terakhirnya. Dengan mengetahui sosok laki-laki itu, setidaknya mampu membuat dendam arwah perempuan itu hilang. Dia menatap lekat sepupunya, lantas segera meninggalkan rumah Ryan.
"Ya udah, gue pergi dulu. Maaf, kalau gue ganggu,"
__ADS_1
Ryan menatap punggung Dirga yang meninggalkan rumahnya. Pandangan itu berakhir saat mobil Dirga telah meninggalkan pelataran rumahnya. Nafasnya berhembus panjang, lantas membawa dirinya kembali masuk ke dalam. Meletakkan belanjaan yang dia beli dari warung, sebelum akhirnya membawa diri memasuki kamar. Hanya saja, kedua tungkainya tediam di tempat usai melihat sebuah gambar yang dicari oleh Dirga. Mendadak tangan Ryan gemetar kala ingin mengambil lembar gambar itu dari atas kasurnya.
Kepalanya berpikir keras, untuk menyingkirkan kertas itu darinya. Dia ragu untuk menghubungi sepupunya kembali. Demi menutupinya, Ryan mengambil korek untuk membakar kertas tersebut. Lebih baik, kertas itu dilenyapkan dari tempatnya. Dia tak mau dituduh lagi karena mengambil gambar tersebut, serta Ryan tak mau jika Dirga menemukan pelaku yang ada di dalam gambar itu.
"Gambar itu harus dihilangkan," kata Ryan seraya mengambil gambar tersebut.
Sejak dirinya melihat gambar tersebut untuk pertama kalinya di ruangan Dirga tadi siang, perasaannya mulai tak karuan saat dirinya teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Ryan tak bisa melupakan gambar yang sama persis yang membuka kejadian masa lalunya. Sudah seharusnya kejadian itu ditutup sejak lama, tanpa perlu muncul kembali.
Ryan akhirnya menyadari, kenapa saat itu dia terjebak di dalam mobil itu dan membuatnya hampir kehilangan nyawa. Namun, satu hal yang membuat dirinya bertanya, dari mana Dirga bisa menggambar kejadian yang sama persis dengan kejadian kama tersebut? Bahkan, di tahun itu, Ryan pergi seorang diri untuk mencari mobil.
Saat ini, laki-laki itu telah berada di jarak beberapa meter dari rumahnya. Dia segera membakar gambar tersebut, lantas menjauh dari sana, yang mana Ryan tak ingin ada yang melihatnya. Dirinya berlari secepat mungkin, guna menghilangkan jejaknya. Apalagi jika Dirga melihat keberadaannya yang telah membakar gambar yang dicarinya. Namun, karena gerimis yang mulai turun, membuat gambar itu tidak terbakar sempurna, masih menyisakan dua sosok yang ada di sana.
"Ternyata dia yang ngambil gambarnya," kata Dirga.
Dirga turun dari mobilnya, berjalan menuju tempat pembakaran itu. Dia mengambil kertas yang belum hangus seutuhnya. Ya, walau sudah rusak, serta warna dari gambar tersebut hampir luntur seutuhnya, tetapi Dirga masih bisa melihatnya dengan jelas. Lantas dirinya segera kembali ke dalam mobil guna mengamankan lembar terakhirnya itu. Laki-laki itu tak akan menampik, jika ada rasa kesal dalam dirinya karena Ryan tak mau berkata jujur, jika dirinya lah yang telah mengambil barangnya. Tanpa membuang waktu, Dirga segera meninggalkan lokasi itu.
Di dalam mobil, Dirga masih berusaha untuk mengendalikan emosinya. Pasalnya, sikap Ryan keterlaluan karena mengambil dan merusak barang miliknya. "Padahal, dia bisa ngomong baik-baik kalau emang dia yang ngambil," ucapnya pada diri sendiri.
__ADS_1