Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan

Aku Dan Kamu Di Bawah Hujan
Rasa Curiga


__ADS_3

"Terima kasih,"


Adalah suara Sakura yang baru saja menerima kembalian usai memesan minuman kopi miliknya. Wanita itu berjalan menuju pintu, akan tetapi sesuatu yang buruk terjadi. Dengan tak sengaja tubuhnya menabrak seseorang yang akan memasuki kedai kopi tersebut. Memang dia akui jika ini salahnya yang terburu-buru menuju tempat kerjanya. Dia tak bisa tidur semalaman, dan malah membuatnya mengantuk di pagi hari. Sebab itu dia membeli minuman kafein tersebut.


"Maaf, saya nggak sengaja," ucapnya seraya membungkuk sopan.


"Sakura?"


Mendengar presensi tersebut mengetahui namanya, Sakura segera menegakkan tubuhnya, melihat siapa sosok yang memanggilnya itu. Dirinya hanya bisa terdiam ketika melihat Ryan yang rupanya dia tabrak. Sakura tersenyum ketika bertemu sepupu Dirga di tempat ini.


"Wah, akhir-akhir ini gue jadi sering ngelihat lo. Mungkin, karena emang lo sedeket itu sama Dirga," kata Ryan lagi.


Sakura tertawa kecil, sedikit merasa asing dengan pertemuan mereka ini. Pasalnya, Sakura dan Ryan juga hampir tak pernah berbicara satu sama lain. Toh, disaat mereka mengobrol selalu ada Dirga. Disamping itu, Sakura sedikit merasa canggung mengingat dia dan Dirga tengah mengincar Ryan.


"Iya, dia baik sama gue. Jadi, itu yang bikin kita deket," balas Sakura sekenanya.


"Jangan bohong," kata Ryan dengan suara yang terdengar begitu berat. Tatapan laki-laki itu terarah pada Sakura yang juga menatapnya. "Gue tau apa yang kalian sembunyiin," katanya lagi.


Mendengarnya saja sudah membuat Sakura tak tenang. Menelan salivanya saja dia kesulitan sendiri, berusaha menghindari tatapan Ryan ketika laki-laki itu mulai mendekatkan wajahnya.


"Nggak ada yang disembunyiin,"


Ryan kembali menegakkan tubuhnya, menarik salah satu sudut bibirnya sebelum membuka mulut. "Kalian itu saling suka. Kenapa nggak jadian aja, sih? Nggak ada yang tau gimana kedepannya. Lebih cepat lebih baik,"


Jantung wanita itu terasa sudah terlepas dari tempatnya, sejajar dengan ginjalnya. Air muka Sakura tampak kelabakan karena kalimat itu. Pun dengan suara yang terbata, Sakura segera bergegas meninggalkan tempat tersebut. Dia tak mau Ryan membahas lebih jauh lagi.


"Ka-kalau begitu, gue pergi dulu. Udah terlambat," kata wanita itu yang langsung pergi dengan langkah besar.


"Gue juga tau hal lainnya," gumam Ryan.

__ADS_1


...****************...


Sakura telah tiba di tempat kerjanya, dia masuk dengan membawa minumannya. Yang semula mengantuk karena kurangnya tidur, kini malah kedua matanya benar-benar terbuka, tak ada rasa kantuk sedikitpun. Iya, semua ini karena obrolannya bersama Ryan tadi yang hampir membuatnya tak bisa menahan rasa takut dan khawatir.


Dirinya dan Dirga pernah membahas ini, perihal Ryan yang pasti mencurigai mereka. Jika bersama Dirga, Sakura tak pernah merasa khawatir, lantaran laki-laki itu selalu menutupinya. Akan tetapi, ketika hanya bertemu berdua dengan Ryan seperti tadi, membuatnya tak yakin Sakura bisa merasa aman. Sepupu Dirga itu tak bisa dianggap remeh, apalagi mengingat hal yang dilakukannya. Sakura sebagai perempuan juga berhak memiliki rasa takut itu—kendati ia juga tak akan mudah terperangkap.


"Wah, dia bener-bener bikin gue jantungngan," katanya seraya mengusap dada sendiri.


Wanita tersebut menyadarkan tubuhnya pada dinding, membuang nafasnya cukup panjang setelah merasa begitu tenang menghindari Ryan. Akan tetapi, sebuah pesan memasuki ponselnya dan membuat wanita itu terjingkrak.


"Astaga, ngagetin aja,"


Walau terkejut, Sakura tetap merogoh ponselnya yang berada di dalam tas. Lantas dia membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Dirga.


"Lagi apa?"


Hanya pertanyaan itu sudah membuat Sakura tak bisa menahan senyumannya. Ditambah, secara mendadak hatinya membaik dari sebelumnya. Pesan Dirga sangat membuatnya nyaman saat ini.


"Cepet banget balesnya," gumamnya sendiri.


Ya, mereka kini disibukkan dengan saling melempar pesan. Sakura merasa begitu bersyukur lantaran waktunya begitu tepat. Entah kenapa, dia merasa jika memang dia sangat membutuhkan Dirga. Laki-laki itu selalu datang diwaktu yang tepat ketika Sakura tengah mengalami hal yang sulit.


Dia pikir, tak perlu ada yang ditutupi dari Dirga—kendati mereka masih belum memiliki hubungan yang jelas. Bahkan, pertemuannya bersama dengan Ryan tadi juga ia ceritakan. Mungkin, hanya sedikit yang tak dia beri tahu. Belum selesai mengetik, Dirga mendadak menghubunginya langsung. Pun Sakura segera menjawabnya.


"Kebiasaan, deh. Orang belum selesai ngetik, udah nelpon duluan," kesal Sakura.


"Kelamaan. Makanya, langsung aja ceritanya," kata Dirga dari balik telepon.


"Gue tadi ketemu Ryan waktu beli kopi. Dan gue rasa, dia semakin curiga sama kita," ucapnya.

__ADS_1


"Curiga kenapa?"


Sakura menghela nafasnya cukup panjang, tatapannya juga sedikit turun ke atas meja kasir. "Ya, intinya jantung gue nggak bisa tenang waktu dia bilang kalau ada yang kita sembunyiin," kata wanita itu.


Dirga tak langsung menjawabnya, membuat Sakura menyadari hal tersebut. Ya, Dirga lagi-lagi terdiam ketika sedang diajak bicara olehnya. Sampai-sampai Sakura memanggil nama laki-laki itu beberapa kali.


"Nah kan. Kebiasaan lo,"


"Iya, gue denger, kok," Dirga menjeda ucapannya, lantas menarik nafas panjang sebelum kembali bersuara. "Kita anggap kayak biasanya aja dulu. Karena bahaya kalau— Iya, nanti gue bilangin nyokap kalau lo mau ketemu nyokap gue,"


Kontan Sakura menjauhkan ponselnya dari telinga. Wajahnya kebingungan mendengar kalimat Dirga yang mendadak berubah. Padahal, kalimat sebelumnya belum selesai, tapi Dirga membahas sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan topik pembicaraan mereka. Pun Sakura kembali menempelkan ponselnya, ia mendengar adanya suara Ryan di sana. Tepat saat itulah Sakura menyadari jika Dirga sengaja mengubah obrolan mereka.


Selagi menunggu Dirga, dia sama sekali tak bersuara. Sakura sendiri juga tidak tahu, apakah Dirga sadar dengan panggilan mereka yang masih terhubung atau tidak. Akan tetapi, dia mendengar semua isi percakapan Dirga dan Ryan di sana. Sakura sendiri juga mengetahui dirinya tidak perlu turut bersuara.


Sebenarnya, bisa saja Sakura mematikan panggilan tersebut, tapi dia terkadang penasaran dengan obrolan yang terjadi di antara dua laki-laki tersebut. Beberapa kali tersenyum ketika mendengar obrolan yang tak ada gunanya.


"Dasar laki-laki," gumamnya.


Beberapa menit berlalu, sepertinya Dirga memang tidak menyadari panggilan mereka tersambung. Sakura hendak memutuskannya saat itu juga, tapi topik pembicaraan dua laki-laki itu mendadak membuatnya membatalkan niatannya.


"Soal hantu yang suka sama lo oti, siapa nama dia?" tanya Ryan.


"Nggak tau. Gue sendiri juga nggak bisa lihat dia. Cuma Sakura yang bisa," jawab Dirga.


"Ciri-cirinya?"


"Jangan dijawab. Jangan dijawab," Sakura merapalkan kalimat itu terus-menerus.


"Tingginya hampir sama kayak Nadia, rambutnya juga panjang. Dan kata Sakura, bagian kakinya ada banyak darah,"

__ADS_1


Sakura menepuk dahinya sendiri, lantaran tak bisa mengandalkan Dirga untuk menutup mulutnya terlebih dahulu. "Kenapa nggak bisa tutup mulut dulu, sih, Dirga?"


__ADS_2